Membara Bersama Luna

1545 Words

Lampu-lampu neon berwarna ungu dan biru menari di dinding, memantul di lantai yang licin oleh tumpahan minuman. Dentuman bass menghentak dari arah DJ booth, membuat d**a siapa pun terasa bergetar setiap kali musik berubah nada. Di tengah hiruk pikuk itu, Arfa meneguk minumannya tanpa rasa. Pahitnya alkohol mengalir cepat di tenggorokan, tapi sama sekali tidak mampu menenggelamkan kekesalan di dadanya. Ia mencondongkan tubuh ke meja bar, memandangi gelas bening di tangannya. “Sial…” gumamnya pelan. Sejak siang, hari itu terasa seperti kutukan. Proyek besar yang seharusnya rampung minggu lalu malah berantakan karena kesalahan anak baru di divisi desain. Surya—ayahnya—langsung memanggilnya ke ruang kerja dan menghujani dengan amarah. Kalimat terakhir Surya bahkan masih terngiang jelas di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD