Udara Jakarta masih lembap sisa hujan semalam. Langit di luar jendela rumah keluarga Surya tampak kelabu, seolah ikut menahan napas, menunggu sesuatu yang buruk akan terjadi. Di meja makan besar yang terbuat dari kayu jati mengilap, tiga orang duduk tanpa banyak bicara. Sonya, dengan raut wajah lelah namun tetap berusaha tenang, menata potongan buah di piring kecil. Surya, sang kepala keluarga, menatap koran di tangannya, meskipun dari tadi ia tidak membaca satu pun baris. Sementara Arfa, duduk di seberang mereka, hanya memainkan sendok di atas piring tanpa selera. Suara sendok dan garpu yang saling beradu jadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan pagi itu. Arfa tampak kusut—matanya sembab, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat. Ada lingkaran gelap di bawah matanya, tanda

