Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga lembut. Awan tipis menggantung, seakan ikut menyambut perasaan riang yang tengah meluap di d**a Nada. Hari ini berbeda dari hari-hari biasanya. Ada sesuatu yang membuat langkahnya lebih ringan, bahkan meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja.
Hari ini, untuk pertama kalinya sejak ia merantau enam bulan lalu, ibunya ada di Jakarta. Bu Damini baru tiba siang tadi, langsung datang ke apartemen sederhana yang Nada sewa. Sejak tadi siang, pikiran Nada tak lepas dari bayangan wajah teduh ibunya. Ada rasa rindu yang akhirnya terobati—sebuah rasa yang selama ini ia pendam diam-diam, bertahan di balik senyum yang ia kenakan di kantor.
Nada hampir setengah berlari saat keluar dari lift menuju lobi Gedung kantor di lantai dasar. Namun belum sampai tubuhnya ke pintu utama, sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Nada.”
Sebuah suara berat, tegas, tapi dibalut kelembutan, membuatnya menoleh. Dan di sana, berdiri dengan pakaian rapi dan wajah teduh, Zevan.
Pria itu menyunggingkan senyum hangat, seolah sudah lama menunggunya. “Kebetulan sekali. Aku memang berniat menemuimu sore ini.”
Nada tertegun sejenak. Hatinya spontan berdegup lebih cepat. Ia berusaha tersenyum sopan, menyembunyikan keterkejutan. “Pak Zevan? Ada perlu apa ya?”
Zevan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, gerakannya tenang, seakan tidak ingin membuat Nada merasa terpojok. “Sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Hari ini sepertinya berat, dan kupikir kamu butuh suasana berbeda. Bagaimana?”
Nada buru-buru menggeleng, sopan tapi tegas. “Terima kasih, Pak. Tapi… hari ini saya tidak bisa. Ada yang harus saya temui di apartemen.”
Zevan menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Tidak ada nada memaksa di suaranya, justru ada ketulusan yang entah kenapa membuat Nada sulit untuk sekadar berbalik dan pergi. “Kalau begitu izinkan aku mengantarmu. Tidak sopan rasanya membiarkan seorang wanita pulang sendirian sore-sore begini. Anggap saja aku memastikan kamu sampai dengan selamat.”
Nada terdiam. Di satu sisi, ia ingin cepat-cepat pulang. Di sisi lain, sikap Zevan yang begitu santun membuatnya sulit menolak. “Pak Zevan, sungguh, tidak perlu repot-repot…”
“Bukan repot, Nada.” Zevan menatapnya serius, lalu sedikit melunak. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Itu saja.”
Nada menunduk. Ada sesuatu dalam nada suara pria itu yang membuatnya tak kuasa melanjutkan penolakan. Akhirnya ia hanya menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Baiklah, kalau begitu…”
Zevan dan Nada berjalan bersamaan ke parkiran kantor. Untuk pertama kalinya Zevan mengantar Nada pulang ke apartemennya. Mobil SUV hitam itu melaju menembus kemacetan ibu kota Jakarta hingga mobil itu pun berhenti di parkiran sebuah apartemen ketika langit kota Jakarta mulai menggelap.
“Terima kasih sudah mengantar saya pulang,” ucap Nada ramah, tanpa berniat menawari Zevan naik ke unitnya.
Zevan tersenyum. “Tidak sopan rasanya jika seorang pria tidak mengantar lagsung ke pintu. Bagaimana kalau nanti di perjalanan menuju unit, terjadi apa-apa sama kamu?” Senyumannya ramah, tertawa kecil, sama sekali tidak menunjukkan niat buruk.
Nada merasa ada yang aneh. Ia tidak lagi merasa terancam. Sebaliknya, ada rasa nyaman yang ia rasakan sejak dekat dengan Zevan, walau hanya sebatas rekan kerja—atasan dan bawahan.
“Saya tidak mau merepotkan anda, Pak.”
“Justru saya yang tidak nyaman kalau mengantar tidak sampai pada tujuannya. Memangnya saya ini sopir taksi.” Zevan tertawa kecil, lembut dan itu membuat pesonanya semakin keluar.
Nada tidak mampu lagi menahan tawanya. Lagi pula ini bukan di kantor, jadi apa salahnya Nada juga menjadi dirinya sendiri? Akhirnya wanita itu ikut tertawa ringan.
“Ternyata di luar kantor dan diluar pekerjaan, anda sangat menyenangkan. Saya hargai tawaran dan niat baik anda. Mari silahkan ikut saya.”
Mereka pun berjalan menuju lift apartemen dan masuk ke salah satu pintu lift yang kebetulan terbuka.
Lift bergerak naik, membawa mereka berdua menuju lantai tujuh. Suasana di dalam lift terasa canggung, tapi tidak kaku. Sesekali Nada mencuri pandang, melihat Zevan yang berdiri tenang di sisinya. Pria itu tampak nyaman, seakan tidak perlu banyak bicara untuk mengisi keheningan.
Nada menggenggam tasnya lebih erat. Dalam hatinya, ia sempat khawatir kalau menerima tawaran ini akan menimbulkan salah paham. Tapi pikirannya sedikit lega mengingat ada ibunya di apartemen. Kehadiran Bu Damini membuatnya merasa aman.
Sampai di depan unit, Nada berhenti. Ia menoleh pada Zevan. “Terima kasih sudah mengantar, Pak. Mungkin—”
“Tidak masalah kalau aku ikut sebentar, kan?” Zevan menyelipkan kata dengan begitu halus, seakan hanya sebuah usulan ringan. “Aku ingin memastikan kamu benar-benar sampai dengan baik. Lagipula, aku tidak datang dengan niat apa-apa.”
Nada menggigit bibir bawahnya. Ia sempat ragu. Tapi kemudian ia teringat pada ibunya. Jika ada tamu, pasti ibu akan menerima dengan hangat. Akhirnya ia membuka pintu dan mempersilakan Zevan masuk.
Aroma masakan sederhana langsung menyambut begitu pintu terbuka. Bau tumisan bawang putih bercampur dengan wangi daun salam yang khas. Nada langsung tersenyum lebar. “Ibu masak…”
Dari dalam dapur mungil, terdengar suara langkah kaki. Bu Damini muncul dengan celemek sederhana, wajahnya cerah melihat putrinya datang. Tapi kemudian tatapannya sedikit terkejut saat menyadari ada seorang pria asing yang ikut masuk.
“Assalamu’alaikum,” sapa Zevan sopan sambil menundukkan kepala.
“Wa’alaikumussalam…” Bu Damini mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa herannya. Ia lalu menoleh ke Nada, seakan bertanya dalam diam.
Nada buru-buru memperkenalkan. “Bu, ini Pak Zevan. Atasan Nada di kantor. Beliau tadi hanya mengantar Nada pulang.”
Zevan segera menimpali dengan rendah hati. “Benar, Bu. Maaf sudah datang tiba-tiba. Saya hanya kebetulan bertemu Nada di lobi. Tidak bermaksud merepotkan.”
Wajah Bu Damini perlahan melunak. Ada keteduhan dalam sikap Zevan yang sulit ditolak. “Oh, begitu… Tidak apa-apa, Nak. Silakan duduk. Mau minum teh? Atau kopi?”
“Teh saja, Bu. Terima kasih banyak.”
Zevan duduk di ruang tamu, sementara Nada membantu ibunya ke dapur. Saat menyiapkan teh, Bu Damini berbisik lirih. “Siapa dia sebenarnya, Nak? Kelihatannya baik sekali.”
Nada tersenyum samar, mencoba meredakan rasa penasaran ibunya. “Beliau atasan Nada, Bu. Itu saja.”
Namun Bu Damini bukan orang yang mudah percaya begitu saja. Ia tahu tatapan seorang pria saat berbicara pada seorang wanita. Ada sesuatu di mata Zevan—sebuah ketulusan, juga kekaguman yang sulit disembunyikan.
Tak lama kemudian, mereka duduk bertiga. Suasana yang awalnya canggung perlahan mencair. Zevan pandai membawa diri. Ia tidak membicarakan pekerjaan, seolah tahu bahwa di depan seorang ibu, Nada butuh ruang untuk sekadar menjadi anak, bukan karyawan.
“Apartemen ini nyaman,” komentar Zevan sopan. “Kecil, tapi hangat. Saya bisa melihat kenapa Nada betah di sini.”
Nada menunduk, tersenyum kecil. “Betah karena sekarang ada ibu…”
Bu Damini terkekeh. “Anak saya ini memang begitu, Pak Zevan. Kalau sudah jauh dari saya, cepat sekali rindunya.”
Zevan menatap Nada sejenak, lalu tersenyum hangat. “Rindu itu tanda hati yang tulus, Bu. Tidak semua orang bisa menjaga rasa itu.”
Nada terdiam. Ucapan itu sederhana, tapi entah kenapa menyentuh hatinya. Ia buru-buru meneguk teh, berusaha menutupi rona merah di wajahnya.
Percakapan berlanjut ringan. Zevan bercerita sedikit tentang keluarganya besarnya di Bandung, tentang ibunya yang suka sekali memasak, dan bagaimana ia sering merasa rindu pada kampung halaman. Bu Damini mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menimpali.
Nada hanya duduk diam, mengamati interaksi mereka. Ada perasaan aneh yang menyeruak di hatinya. Seolah-olah, kehadiran Zevan di sini bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya sedikit takut, tapi juga… hangat.
Hari mulai gelap. Dari jendela, lampu-lampu kota Jakarta mulai berkelip. Zevan akhirnya bangkit, pamit dengan sopan. “Saya tidak ingin mengganggu lebih lama. Terima kasih banyak sudah menerima saya, Bu. Juga kamu, Nada.”
Bu Damini tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, Nak. Hati-hati di jalan, ya.”
Nada mengantar Zevan sampai depan pintu. Saat itu, Zevan menoleh, menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Nada,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Terima kasih sudah memperbolehkan saya masuk ke unitmu. Rasanya… istimewa.”
Nada terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Yang bisa ia lakukan hanya menunduk.
Zevan tersenyum, lalu melangkah pergi. Pintu tertutup, meninggalkan Nada yang masih berdiri terpaku dengan perasaan campur aduk.
Dari dalam, suara Bu Damini terdengar. “Nada… laki-laki itu bukan orang biasa, ya?”
Nada menarik napas panjang. Ia tahu benar ibunya tidak salah. Zevan memang bukan orang biasa, apalagi di masa lalu Kirana. Dan yang lebih menakutkan, Nada bisa merasakan hatinya perlahan goyah.