Arfa menatap layar laptopnya, tapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada laporan yang terbuka di depannya. Angka-angka yang biasanya ia teliti dengan cermat kini hanya tampak seperti deretan kode tak bermakna. Ada sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang—yang sejak rapat kemarin terus menempel di benaknya.
Nada.
Sejak pertama kali ia melihat cara gadis itu menyampaikan presentasi dengan suara mantap, sorot mata yakin, dan penjelasan yang membuat ruang rapat seketika hening, Arfa tahu ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sekadar kecerdasan. Ada semacam... daya tarik yang sulit dijelaskan.
Tapi yang membuat Arfa lebih terguncang adalah caranya menahan diri. Bukan berarti ia jatuh cinta begitu saja—Arfa terlalu rasional untuk itu. Namun, ada rasa ingin tahu yang begitu mengganggu, seolah setiap gerak-gerik Nada adalah teka-teki yang menantang untuk dipecahkan.
Dan rasa itu semakin kuat ketika ia melihat betapa dinginnya Nada bersikap di luar forum resmi. Tidak ada basa-basi berlebihan, tidak ada upaya untuk mendekat. Hanya profesionalitas yang kaku.
Itulah sebabnya sore ini, ketika ia melihat Nada duduk sendirian di balkon lantai dua puluh dengan segelas kopi di tangannya, Arfa tak bisa menahan langkahnya.
“Nada,” sapa Arfa pelan.
Nada mendongak sebentar, lalu kembali menatap jauh ke ujung kota Jakarta yang terlihat sangat kecil dari sana. Angin sore menyibakkan sedikit helai rambut yang dibiarkan tergerai indah.
“Pak Arfa,” jawabnya singkat. Suaranya datar, tanpa ekspresi.
Arfa tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Lepas kerja begini, rasanya butuh udara segar, ya?”
Nada hanya mengangkat bahu. Tidak ada respon lain.
Keheningan menggantung di antara mereka. Arfa menatapnya beberapa detik, lalu dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan, ia duduk di kursi sebelahnya. “Aku boleh duduk?”
Nada menoleh sekilas, lalu meneguk kopinya. “Anda sudah melakukannya, jadi bua tapa tanya.”
Arfa terkekeh pelan. Ia bisa merasakan dinding yang dibangun Nada. “Aku penasaran, sebenarnya... apa yang membuatmu begitu yakin setiap kali berbicara di depan orang banyak? Tidak semua orang punya kemampuan seperti itu.”
Nada menoleh. Tatapannya dingin, tapi bukan berarti kasar. “Kalau Anda ingin memuji, lebih baik langsung saja. Saya tidak pandai berterima kasih untuk kalimat berputar-putar.”
Arfa sedikit terkejut, tapi justru semakin tertarik. “Baiklah. Kau memang luar biasa. Dan aku sungguh mengagumi itu.”
Sekilas, mata Nada berkedip, tapi ia segera menegakkan tubuhnya. “Terima kasih. Tapi sebaiknya jangan berlebihan. Kita rekan kerja, Pak Arfa. Tidak lebih.”
Ada penekanan di kalimat terakhir.
Arfa menelan ludah. Ia tahu batasan itu, tapi entah kenapa, bagian dalam dirinya tidak bisa berhenti. “Aku tahu. Aku hanya merasa... ingin mengenalmu lebih jauh. Di luar ruang rapat.”
Nada meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menoleh padanya dengan tatapan menusuk. “Untuk apa?”
Pertanyaan itu begitu sederhana, tapi menghantam Arfa seperti pukulan telak. Ia tidak punya jawaban yang benar-benar logis. Yang ia tahu hanya satu, ada sesuatu pada diri Nada yang tak bisa ia abaikan. Ada sebuah perasaan yang sulit ia ungkapkan. Ada penyesalan yang ia sendiri tidak mengerti darimana perasaan itu berasal
“Aku hanya ingin tahu siapa Nada di balik semua kecerdasan itu,” jawab Arfa jujur.
Nada menahan tatapannya beberapa detik. Senyumnya tipis, hampir sinis. “Mungkin lebih baik Anda tidak tahu. Kadang, terlalu banyak tahu justru berbahaya.”
Arfa terdiam. Hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Kamu bicara seolah ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
Nada berdiri, merapikan blazer hitamnya. “Semua orang punya sesuatu untuk disembunyikan, Pak Arfa. Bahkan Anda.”
Sebelum Arfa sempat menahan, Nada melangkah pergi. Suara langkah hak sepatunya terdengar tegas, meninggalkan jejak dingin yang sulit dihapus.
Arfa masih duduk di sana beberapa menit setelah Nada menghilang. Kata-katanya berputar di kepala. Semua orang punya sesuatu untuk disembunyikan.
Ia menggenggam gelas kosong di depannya. Ada perasaan aneh—antara frustrasi karena ditolak begitu dingin, sekaligus rasa penasaran yang justru semakin menjadi-jadi.
Baginya, sikap Nada bukanlah bentuk penolakan total. Ada sesuatu di balik ketegarannya. Sesuatu yang mungkin rapuh, tapi sengaja ia lindungi dengan dinding tinggi.
Dan Arfa, entah kenapa, ingin sekali melihat apa yang ada di balik dinding itu. Ingin mengetahui lebih dalam tentang Nada. Wanita yang sejak pertama ia lihat, membuat perasaannya merasa aneh.
***
Nada merebahkan tubuhnya di sofa. Perasaan jenuh tiba-tiba saja menyelimuti. Hampir enam bulan ia tinggal di Jakarta, meniti karier di sebuah perusahaan besar dengan jabatan sekaligus tanggung jawab yang tak ringan. Semua itu mulai membuatnya lelah.
Ia rindu kampung halaman. Ia rindu ibunya.
Tanpa banyak pikir, Nada meraih ponsel dari dalam tas. Jari-jarinya langsung menekan nomor seseorang yang paling berarti dalam hidupnya—seseorang yang selalu ia panggil ibu.
Tak lama, terdengar suara dari seberang. Bukan hanya suara, tapi juga wajah teduh seorang perempuan paruh baya yang tampak baru saja selesai beribadah.
“Bu, Nada kangen,” ucapnya lirih tanpa basa-basi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Senyum hangat muncul di wajah Damini, meski matanya ikut berkaca-kaca. “Kamu pasti capek, ya? Apa pekerjaanmu begitu menyulitkan di sana, Nak?” tanyanya, berusaha terdengar tenang. Enam bulan tanpa kehadiran buah hati satu-satunya jelas membuat hatinya hampa.
Nada mengangguk lemah. “Nada pengen pulang, Bu.”
“Memangnya kamu bisa minta cuti? Kalau bisa, coba ambil beberapa hari. Tenangkan pikiranmu di sini, sama Ibu,” jawab Damini lembut, berusaha menenangkan.
Nada menggeleng. “Nggak bisa, Bu. Kerjaan lagi banyak, tanggung jawabnya besar. Nada capek… bukan karena kerjaan, tapi karena—”
Kalimat itu terputus begitu saja. Ia menunduk, memegangi kepala sambil mengusap air mata yang sulit terbendung.
Damini menghela napas. Ia ikut terbawa suasana, tapi sebagai seorang ibu, ia harus menahan diri. Ia tak ingin kesedihan Nada semakin dalam.
“Kamu kenapa, Nak? Apa ada yang menyakiti kamu di sana?” tanyanya pelan.
“Nggak ada, Bu. Semua orang baik di sini. Apalagi Pak Surya, beliau sangat percaya sama Nada,” jawab Nada cepat, berusaha meyakinkan.
“Lalu, apa yang membuatmu gelisah?”
Nada kembali terdiam. Napasnya berat.
Aku nggak mungkin cerita soal reinkarnasi ini pada Ibu. Aku nggak mungkin cerita tentang Arya, Ratih, Rangga… atau kejadian malam itu. Tidak mungkin.
Ia hanya bisa menyimpannya rapat-rapat dalam hati.
“Nak…” suara Damini terdengar khawatir. Keningnya berkerut. Ia tahu ada yang disembunyikan putrinya.
Nada tersenyum, meski jelas terlihat dipaksakan.
“Kalau kamu belum bisa cerita sekarang, nggak apa-apa. Ibu nggak akan memaksa. Tapi ingat, kamu harus kuat, Nak. Hidup di perantauan memang nggak mudah, apalagi kamu sendirian di sana,” ucap Damini, memilih untuk menenangkan daripada menekan.
Nada mengangguk pelan. “Bu… Ibu bisa ke sini nggak? Beberapa hari aja, nggak lama kok. Nada kangen banget. Nanti Nada ajak jalan-jalan.”
Senyum tipis muncul di wajah Damini. “Kalau kamu mau Ibu ke sana, ya Ibu ke sana. Besok pagi Ibu berangkat. Kamu jaga diri baik-baik dulu, ya. Mau Ibu masakin apa nanti?”
Nada ikut tersenyum. “Apa aja, Bu. Yang penting Ibu ke sini. Nada beneran kangen banget sama Ibu.”
Percakapan itu berakhir. Layar ponsel perlahan meredup, menyisakan bayangan wajah Damini yang masih menempel di hati Nada. Hening kembali menyelimuti kamar, hanya menyisakan isak yang ia coba tahan sendirian.