Chapter 30: Bom Rasa

1292 Words

Sekarang jam satu pagi, aku berbaring dengan tubuh yang bermandi keringat, napas terengah-engah dan berbau seperti seks. Alunan butir-butir hujan, berpadu dengan hembusan nafas, lembut b*******h. Nathan mengulurkan tangannya, membelai rambutku dengan jari-jarinya. Terus ke cupingku lalu turun menyusuri garis rahangku. Sementara lengan lainnya melingkar di pinggangku lembut. Tubuhnya menekan tubuhku, aku bisa merasakan dadanya yang bidang dan otot-otot perutnya yang kencang di punggungku. Kulitnya menyentuh kulitku. Hampir seperti jiwa kami terhubung. Hal-hal kecil dalam hidup justru membuatku tidak mampu menahan diriku untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh.  “Aku berharap aku bisa bertemu denganmu lebih cepat.” bisiknya di telingaku, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku tidak yakin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD