Chapter 3: Oblivious

834 Words
No, I’m not okay. How could I be okay after everything that happened? -Anna- Jam empat lima puluh tujuh. Tiga menit lagi sebelum jam pulang. Tidak buruk. Hari berlalu lebih mudah dari yang aku bayangkan. Semua orang mulai sibuk mematikan laptop, lalu membereskan meja kerja mereka. Aku juga begitu. Mengambil barang-barang pribadi ku dari atas meja dan meletakkannya di dalam tasku. Ponsel, agenda. kunci, pulpen, dompet, tempat pensil. Satu persatu. Dengan tatapan kosong seperti robot. Sebelum seseorang datang meletakkan tangannya di bahuku. “Na…” Aku, secara otomatis, melemparkan sebuah senyum kosong. Lebih mudah untuk tersenyum, daripada terlibat dalam pembicaraan ‘aku baik-baik saja’, padahal tidak. “Kamu mau ikut ke Tugu?” Suara hangat Lydia, terdengar penuh harap. “Untuk apa?” “Tidak untuk apa-apa. Hanya menghabiskan waktu saja. Lebih baik, daripada langsung pulang, kan? Mungkin makan angkringan dan kopi Joss. Jadi nanti, waktu kamu pulang, bisa langsung tidur.” “…Eh, A-aku… Aku tidak tahu…” Aku tersenyum canggung. Aku tahu mereka bermaksud baik. Tapi Tugu, pekat dengan bayangannya. Membawa ku ke Tugu saat ini, sama saja seperti membuka kotak pandora. Atau menggores luka baru, di atas luka yang masih segar. “Tidak mau, ya?” Aku mengangguk lemah. Kinan, seperti biasa, cepat membaca keadaan. “Kalau Malioboro saja, bagaimana?” Sun, bersemangat. Aku menarik satu ujung bibirku, tipis. Tidak tahu harus menjawab apa. “Sama saja.” Jessica memutar bola matanya. Mendengar usul Siti Sundari. “Ya sudah, kita ke tempat yang belum pernah Mbak Anna kunjungi sama Mas Nik—" belum sempat Sun menyelesaikan kalimatnya. Lydia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Dumb-dumb.” Cibir Jessica. Sun, mengerutkan bibirnya. Dia paling tidak suka dipanggil Dumb-dumb -bodoh-, tapi Jessica tidak memanggilnya dumb-dumb tanpa alasan. Sun, adalah yang paling muda di antara kami, editor team. Cemerlang dan cekatan. Paling pandai mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Tapi tidak tahu apa-apa soal dunia. Naif dan bodoh tentang hidup. Sun, di usianya yang ke-dua-puluh satu tahun, masih belum pernah jatuh cinta, kecuali pada tokoh dua dimensi. Tidak heran kalau dia tidak tahu, bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang. Apalagi, yang mengukir kisah di setiap sudut kota. Dan aku harap tetap begitu. Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi, ketika perempuan semanis Sun, tersakiti. Dia mungkin tidak akan pernah memandang dunia, dengan cara yang sama lagi. Ingat film Joker yang sempat heboh beberapa tahun lalu? Iya. Mengerikan bukan?  “Aku lelah.” Aku menarik ujung bibir ku ke atas. Pahit. Hatiku tergores sedikit. “Lain kali saja ya… hari ini, aku mau tidur cepat.” Perempuan-perempuan di sekelilingku, tersenyum tidak nyaman. “Selamat bersenang-senang ya.” Aku pamit, sebelum melangkah pergi. Meninggalkan ruangan putih tulang itu. Berjalan terburu-buru menuju parkiran motor, tidak jauh dari gedung kantor kami. Sudah mau hujan. Aku harus cepat. Tanpa pikir panjang aku menyematkan tali pengaman helm-ku lalu memutar kunci motorku. Dan dengan pikiran yang kosong, entah bagaimana, menyusuri jalan-jalan kota ini, yang terasa sedikit lebih tidak berwarna dari biasanya. Menuju sebuah rumah susun kecil. Menyeret kakiku sendiri, menyusuri setiap anak tangganya. Lebih mudah untuk menghindari kekacauan ini, di siang hari. Di tengah keramaian. Dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Berpura-pura tidak peduli, berpura-pura tidak merasa. Lebih mudah untuk bersembunyi dan mengalihkan perhatian ku dengan apa pun. Benar-benar apa saja, membaca naskah membosankan, yang sama berulang-ulang, mencari kesalahan penulisan. Berbicara dengan orang-orang yang tidak aku suka. Mengatur ulang desktop ku, lagi dan lagi, sampai tidak ada lagi yang bisa dibereskan. Atau membuat secangkir kopi untuk kedua belas kalinya, sampai Kinan marah. ‘Tidak baik untuk lambung’, katanya.  Aku, dengan senang hati, melakukan apa saja. Apa saja yang bisa mengalihkan perhatian ku dari mu. Atau bertanya-tanya, bagaimana kabarmu tanpa aku? Sudah bahagia? Tapi orang tidak bisa bersembunyi selamanya, terus menghindari kenyataan. Cepat atau lambat, semua akan timbul ke permukaan, tanpa bisa dicegah. Sama seperti malam yang datang tanpa diundang. Dan aku benci malam. Karena setelah matahari terbenam, aku harus pulang. Melangkah masuk ke dalam rumahku, dan menutup pintu itu di belakangku. Tidak banyak tersisa untuk dilakukan, kecuali berdiri berlama-lama di dalam pancuran air panas, dan kemudian membungkus diriku dengan selimut dan berbaring di atas sofa. Menyalakan TV, hanya untuk mengabaikannya. Setidaknya, aku tidak merasa sendirian. Setidaknya, keheningan di sekitar ku terasa sedikit lebih tidak menyedihkan. Sementara mataku terpaku pada layar ponsel ku, mencari-cari tentangmu dengan hati yang hancur, hanya untuk mendapati, kamu baik-baik saja tanpa aku. Seharusnya itu aku. berdiri di pelaminan di sampingmu. Berjalan berdua, bergandengan tangan, menikmati matahari sore di pantai Sanur, atau Melasti seperti yang kau janjikan waktu itu. Tersenyum berdua denganmu, menikmati ayam sisit khas Bali. berendam bersamamu di dalam bak pualam putih yang penuhi kelopak mawar merah, di dalam ruangan yang diterangi api lilin aromatik. Seharusnya itu aku. 'Aku. Bukan p*****r itu!'  Sebelum aku menyadarinya, ponsel ku sudah berserakan di atas lantai. ‘Aku juga, baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja…’ Aku terus mengulang kalimat itu seperti mantra, berbaring di dalam balutan selimut. Mengulang kata itu lagi dan lagi. Dan berharap, pada kalimat yang ke sepuluh, aku percaya kalau, aku benar-benar baik-baik saja. “Aku baik-baik saja.” Aku mengulanginya sekali lagi. Dengan nafas yang memberat, dan pipi yang basah.  ‘No, I’m not okay. How could I be okay after everything that happened?’ Jiwaku berteriak.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD