Chapter 4: Nikolas

1422 Words
Kamu bilang, kamu akan selalu ada. Mungkin kamu lupa. -Anna-  FLASH BACK ON Daerah Istimewa Yogyakarta, Maret 2024   Tidak ada hal yang lebih aku sukai, dari berada di sini. Berdiri di samping sebuah di sebuah jendela kaca besar, familiar, memandangi curahan hujan, jatuh ke tanah. Aku tidak bisa menahan diriku, untuk tidak menyentuh kaca jendela yang berembun, lalu menuliskan namaku di sana. KI-RA-NA. Tersenyum geli. Lalu kemudian menulis sebuah nama lain di sana. NI-KO-LAS. Aku tahu ini bodoh. Tapi tidak pernah gagal membuatku tersenyum. Hujan di minggu pagi. Aku selalu suka hujan. Terlebih di minggu pagi, dan di sini. Tempat yang paling aku sukai di dunia, tempat Nikolas. Ruangan nya hangat dan sederhana, tidak dipenuhi terlalu banyak barang. Ruangan nya di cat putih tulang hangat dengan beberapa lukisan bergantungan di dindingnya. Ada sebuah satu set sofa kulit hitam, meja kopi kecil, karpet berbulu yang hangat, dan jendela besar dengan bingkai kayu antik. Ada juga beberapa rak buku yang berjejer di ruangan. Nikolas suka membaca buku. Dan beberapa vas bunga, untuk membuat suasana lebih hommy, katanya. “Senang kamu bisa datang, hari ini.” Suara bernada rendah yang dalam terdengar dari ambang pintu. Seorang Laki-laki dalam balutan kemeja biru muda, yang sedikit menunjukan tonjolan otot-otot d**a dan tangannya, berjalan mendekat ke arah ku. Membawa dua cangkir putih dengan asap tipis yang mengepul di atasnya, dengan senyum hangat yang tidak pernah bosan aku lihat. Kaki-kakiku bergerak dengan sendirinya, menuju sofa hitam kulit, di tengah ruangan. Bau kopi segar yang baru diseduh, menyeruak memenuhi seisi ruangan. Perpaduan sempurna. Hujan, kopi dan kamu. Pipi ku mengembang penuh, darahku mengalir deras, dan kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. “Ini kopi nya. Hitam, tidak terlalu manis” Nikolas memberikan cangkir itu kepadaku. Lalu menyesap yang lainnya, sebelum meletakkannya di atas meja kopi di hadapannya. Aku menghirup aroma hangat yang menggoda itu, meski tidak se-menggoda laki-laki di hadapanku. Lalu tersenyum dari dasar hatiku. “Sempurna.” ‘Kamu dan kopi nya’. “Jadi, apa kabar kamu hari ini?” Nikolas menyesapi kopinya, lalu meletakkannya kembali. Bibirnya menyimpulkan sebuah senyum tipis. Aku membasahi bibir bawahku, sebelum kemudian menggigit nya. Pura-pura tidak tahu, kalau matanya Hazel manik nya, terus mengikuti setiap pergerakan ku. “Tidak begitu baik” Aku menyesapi kopi ku, yang Ugh… Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengerutkan kening ku. "Ini…" “Terlalu hitam?” Nikolas menyelesaikan kalimat ku. Aku mengangguk. “Biar aku tambahkan gula.” Nikolas meletakkan buku yang ada di tangannya, dan bersiap untuk beranjak. Sebelum kemudian aku mengulurkan tanganku, dengan telapak tangan yang terbuka, menghadap ke arahnya. Memberi tanda tidak usah. “Aku bisa mengambilnya sendiri.” Aku berdiri. “Aku tahu di mana gula nya.” Aku berjalan perlahan ke arah pintu. Dengan ujung mataku, dari balik bahuku, memastikan matanya mengikutiku. Aku menarik ujung bibir ku, puas, mendapati mata Hazel manik nya, mengikutiku, lapar. Aku belajar dari ibuku, kalau perempuan bisa mencuri perhatian laki-laki, hanya dengan bergerak dengan cara yang benar. Lambat, tapi tidak terlalu lambat. Menggoda tapi tidak murahan. “Minggu ini, agak sedikit sulit....” Sambung ku, ketika kembali ke ruangan. Mendapati Nikolas yang masih duduk di posisi yang sama. Tidak bergerak sama sekali.  Hanya matanya yang terus mengikutiku. “Ada apa?” Nikolas memiringkan kepalanya, dan menatap ku dalam dengan mata Hazel manik  nya itu. Hampir seperti ingin memakan ku. Sebelum, kemudian menekan bibir bawahnya, dengan giginya. Mengirimkan rasa lapar di antara kakiku, basah. Nafas ku memberat. Aku merapatkan kakiku, dan mengencangkan otot-otot pinggul dalam ku, hampir seperti menahan air seni. Menjaga wajah ku datar. Dia tidak boleh tahu, aku lapar akan dirinya. Ini benar-benar memalukan. “… A-aku….” Aku berhenti. Tidak yakin bagaimana mengatakan apa yang aku rasakan, tanpa terlihat gila. “…Anna.” Aku suka caranya memanggil namaku. “Kamu tahu, aku ada di sini untukmu kan?” lanjutnya, menyentuh rahang nya yang dipenuhi rambut halus seksi itu. “A-aku, aku tidak merasa baik tentang diriku sendiri.” Nikolas terdiam, seperti menunggu ku melanjutkan kalimat ku. “Aku merasa gagal. Tidak bisa menyelesaikan apa pun. Tapi aku mencoba untuk melakukan sesuatu. Merasa berguna, setidaknya.” Nikolas mendekatkan tubuhnya kepadaku. Mengulurkan tangannya, menyentuh pipi ku, lalu cuping telingaku. “Kamu tahu, apa yang paling aku suka dari kamu?” “Apa?” Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Menghirup bau kayu dan musk yang lembut dan kuat. Ada sesuatu tentang laki-laki ini, yang selalu membuatku ingin bersamanya. Merasa tenang di sisinya. “Kamu kuat. Kamu mau berusaha. Kamu tidak menyerah pada hidup. Sesulit apapun.” Mungkin karena dia, adalah satu satu yang melihat keindahan di dalam semua kekurangan ku. “Tapi kadang, tidak mudah.” “Karena itu, aku di sini untukmu.” Ada getaran yang tidak biasa, ketika jari-jarinya menyentuh jari-jariku. Telapak tangannya yang lebar, menggenggam tanganku. Lalu membawanya ke bibirnya. Nikolas memejamkan matanya, mencium punggung tanganku, dalam. Sebelum kemudian bola mata kami bertemu. “Aku akan selalu ada disisimu. Selalu. Jangan lupa itu.” Jantung ku berdegup lebih cepat dari biasanya. Darahku mendidih di balik kulitku. Untuk sejenak, aku lupa caranya bernafas, dengan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutku. Mataku basah. Bahagia. FLASH BACK OFF “…Mungkin, kamu yang lupa…” Desis ku. Perih. “Ya ampun, Na…” Jantung ku jatuh ke perutku. Tersentak, mendengar suara berat familiar di belakangku. Tubuhku melompat, sontak menoleh ke belakang. Mendapati seorang laki-laki berdiri di belakangku. Kalau bukan karena cahaya TV, yang membantuku mengenali wajahnya, aku pasti sudah berteriak sekuat-kuatnya. “Ridho!?” Protes ku. Aku kira aku sendirian. “Kamu sudah makan?” Suaranya bergetar. Khawatir. Aku menggeleng. Lemah. Lalu kembali mengalihkan mataku darinya. Membungkus tubuhku seperti kepompong. Membentuk sebuah bola manusia di atas sofa. Ridho, menghampiri ku, lalu berdiri di atas lututnya. Wajahnya sejajar dengan wajah ku. Ridho menarik nafas dalam, seperti akan bersiap dengan ceramahnya. Tapi kemudian membuang nafas nya kasar. Kepalanya terkulai ke bawah. Putus asa. “Kamu ini…” Aku tahu ada banyak lagi, yang ingin dia katakan. Seperti betapa berantakannya aku sekarang. Atau bagaimana aku harus tetap menjaga diriku. Aku sudah mengenalnya sejak masih di sekolah menengah. Dia sudah seperti kakak laki-laki yang tidak pernah aku miliki. Bahkan tanpa kata, aku mengerti apa yang ada di pikirannya. “Sudahlah, makan dulu, sudah aku bawakan sate klatak pak pong.” Lanjutnya. Mengangkat sebuah bungkusan plastik hitam, sejajar dengan wajahnya. Bangga. Harum. Tapi tidak cukup untuk membuatku lapar. “Aku tidak lapar.” Lucunya. Ini adalah makanan favorit ku. sate klatak dengan kuah kari gurih. “Aku tahu.” Ridho meletakkan tangannya di kening ku. Telapak tangannya menutupi mataku. Aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa merasakan wajahnya yang mendekat. Begitu dekat sampai-sampai, aku bisa merasakan hembusan nafas nya.  Kehangatan kulitnya. Pipi ku terbakar, dan jantung ku hampir meledak, saat laki-laki di hadapanku, mengecup punggung tangannya di kening ku. Otakku, berhenti berputar untuk sesaat. Mencoba memproses apa yang sedang terjadi. Sementara darahku mendidih. Ini bukan pertama kalinya, dia melakukan itu. Aku tahu, dia hanya menganggapku sebagai adiknya, tapi… ‘What the hell?’ “Tapi tetap saja harus makan.” Lanjutnya ringan, seraya bangkit berdiri, seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara jantungku, berdetak tidak terkendali, seperti bom atom yang hampir meledak. Ridho, tanpa permisi, menyalakan lampu ruangan. Tanpa peringatan, cahaya putih membutakan, menerangi seluruh ruangan. Aku sontak menutupi mataku dengan telapak tanganku. Buta untuk sesaat. “Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?” Ridho yang sedang sibuk menata peralatan makan di atas meja, hanya mengangkat bahunya. “Lewat pintu.” Aku mengerutkan kening ku. Yakin aku sudah mengunci pintu sebelum mandi. “Aku punya kunci cadangan. Ibumu yang memberikannya.” Ridho seperti bisa membaca pikiran ku. Ah tentu saja. Sama seperti aku memahaminya, tanpa kata. Dia juga, sama. “Hanya untuk berjaga-jaga.” Lanjutnya. Meski bibirnya tersenyum dengan sempurna, matanya mengatakan luka yang dalam. Ridho tidak pernah mengatakannya. Tapi aku tahu, semenjak hari itu, setiap kali aku tidak bisa di hubungi. Atau menghilang tanpa kabar. Ridho akan langsung datang ke rumahku, atau ke mana saja, yang muncul di pikirannya. Memastikan aku ada di sana. Baik-baik saja. hanya untuk, berjaga-jaga. “Kenapa kamu begitu baik padaku?” Ridho membatu. Aku tersentak. ‘Apa dia mendengarnya?’ Aku kira, aku hanya memikirkan nya. Tidak mengatakannya. “Kamu adalah bagian dari diriku, konyol.” Ridho tertawa. Lalu bergabung denganku di atas sofa. Dengan dua piring berisi nasi dengan siraman kuah kari dan beberapa tusuk, sate klatak pak pong. Mataku masih terpaku di lantai, saat Ridho memberikan satu piring di tangannya kepadaku. “Tentu saja aku baik padamu." Jawabnya ringan, sambil melahap beberapa potong daging kambing di sebuah batang kayu. "Kamu bagian yang tidak terpisahkan dari aku. And why on earth, Would I be mean to myself?” lanjutnya. Menatapku dalam. Aku memutar bola mataku, berdecak Huh! "Aku punya satu juta alasan". Ridho tertawa kecil. Kemudian menyantap makanan di piring nya. “Makan. Jangan diam saja. Nanti dingin.” Aku membuang nafas pendek. Lalu mulai menyantap potongan daging kambing bakar yang harum dan gurih. Lalu menyuapkan nasi putih yang sudah disirami kuah kari. Gurih dan hangat. Makanan memang tidak bisa mengisi lubang di hatiku. Tapi meski sedikit, aku merasa lebih hidup. Maya benar. Aku bisa membuat laki-laki itu menyesal. Tapi sekarang, aku butuh energi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD