It’s always the thing that we love the most, that hurts us the worst. -Anna
Daerah Istimewa Yogyakarta, Maret 2027
‘Lagi-lagi hujan di minggu pagi’. Hujan dan Jogja, memang perpaduan yang romantis. Kota tua yang basah dan dipenuhi aroma nostalgia. Seperti sihir. Aku menghela nafas pendek. Biasanya aku akan menghabiskan minggu pagi, bersama dengan Nikolas. Duduk santai di ruangan nya, sambil berbincang dan menikmati secangkir kopi. Tapi aku bukan bagian dari hidupnya lagi sekarang. Bahkan sebagai memori pun, tidak. Aku tahu, aku dan dia sudah selesai, dan dia sudah menjadi suami orang lain, sekarang. Tapi aku tidak pernah berpikir, kalau dia akan berpura-pura seperti kami tidak pernah ada, dan aku bukan siapa-siapa.
Rasanya seperti mau mati. Seperti jantung ku terbakar di dalam rongga dadaku, dan udara berhenti mengalir ke paru-paru ku. Dan entah bagaimana, masih hidup. Masih bernafas. Masih berjalan. Dan aku tidak bisa terus mengunci diri di kamar. Menangis seperti pecundang. Aku tidak bisa menunggu seseorang, menyelesaikan masalah ku. Tidak akan ada yang datang. Semua orang punya masalahnya sendiri. Terlalu sibuk, untuk benar-benar peduli.
Jadi, di sini aku, duduk di atas kursi industrialis, di bawah penerangan cahaya redup kekuningan. Menatap jendela kaca besar. Menyaksikan setiap tetes air seperti kristal, dengan bebas jatuh ke tanah. Tidak melakukan apa-apa selain menikmati suasana. Atau setidaknya, mencoba untuk terlihat menikmati suasana. seperti yang mereka katakan. ‘Fake it until you make it’. Hadir. Mendengarkan suara-suara yang mengelilingi ku. Kalau kamu mendengarkan dengan cukup seksama, ada musik dalam segala sesuatu. Apakah kamu mendengarnya? Suara curahan hujan. Gemuruh. Air panas mengalir keluar dari ketel. Dentingan sendok stainless steel, membentur cangkir keramik. Bel pintu. Obrolan orang. Bunyi jari-jari menyentuh keyboard. Dan tentu saja, music Jazz yang diputar di radio. Semua menyatu menjadi sebuah harmoni, harmoni kehidupan. Dan baunya, ‘oh yeah...’ bau kopi yang baru saja di seduh. Kue cokelat panas, menyerbu, keluar dari oven. Bau hujan, sesaat sebelum air menyentuh tanah. Dan sesudahnya. Sulit untuk menjelaskannya, tapi ada sesuatu tentang kedai kopi dan hujan, yang selalu membuatku merasa lebih hidup. Mungkin aroma nya, mungkin keramaian nya, mungkin suasana nya. Entahlah. Yang jelas, ada sesuatu yang membuat hidup, sedikit lebih tertahankan. Dan rasa sakit di dadaku, sedikit lebih kebas.
“Menunggu seseorang lagi, kak?” Suara laki-laki, yang manis menyadarkan ku dari lamunan ku. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan sebuah apron senada dengan kopi s**u, tersenyum. Meletakkan secangkir kopi hangat dan satu porsi lava cake di atas piring kecil putih. Mungil, dan manis. Dengan kepulan asap putih yang menggoda. Aku menarik ujung bibir ku, kosong. Lalu mengangguk kecil. “Iya.”
“Semoga kali ini, yang tunggu cepat datang. Tidak baik membiarkan kakak cantik menunggu lama.” Laki-laki itu mengedipkan satu matanya, lalu kembali ke belakang meja kayu panjang, di counter. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum, menyesapi kopi ku perlahan. membiarkan rasa pahit yang akrab menyapa ku. Aku suka laki-laki itu. Bukan secara intim, tentu saja. Aku hanya suka cara dia memperlakukan ku. Selalu, manis dan ramah. Tanpa berpikir panjang, aku memotong lava cake di hadapanku dengan sendok teh kecil. Membiarkan cairan cokelat kental menggiurkan, mengalir keluar dari adonan renyah dan lembut itu. Pipiku merona. Meneguk air liur ku. Dan dengan bersemangat, menyendok kan sesuap lava cake ke dalam mulutku. Dan… ‘Ohhh… s**t! Panas!’ Spontan, aku menjatuhkan rahang ku ke lantai. Mengipasi rongga mulutku dengan tanganku. Bernafas melalui mulutku, terburu-buru. Membentuk huruf ‘O’ besar. ‘It’s always the thing that we love the most, hurt us the worst. Just. Like. Love. And s**t…’ Dari ujung mataku, aku bisa melihat laki-laki di belakang meja kayu itu, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan tawa nya. Sial!
“Maaf terlambat.” suara parau yang akrab menyentak tubuhku. Sial. Sial. Sial! ‘Apa harus sekarang?’ Aku menutup mulutku, menelan adonan cokelat di mulutku, cepat. Dan menarik ujung bibir ku. “Tidak apa-apa.” Perempuan berambut hitam bergelombang, dengan mata hitam arang yang dalam, di hadapanku melepaskan outer abu-abu gelapnya, yang sedikit basah. Memperlihatkan kulit cokelat keemasan yang bersinar di bawah cahaya lampu. Lalu mengatur rok batik-nya sebelum duduk di atas kursi kayu industrialis di hadapanku. Untuk sesaat aku membatu, terpikat pesona mistik nya. Aku tidak tahu apa, tapi ada sesuatu tentang Kinan, yang membuatku selalu ingin lebih dekat dengannya. Mungkin persona nya. Mungkin kepribadiannya yang ramah dan misterius pada saat yang sama. Atau mungkin, karena pemikirannya yang sederhana. Atau sikap acuh tak acuh nya, yang tidak pernah memperdulikan kata orang. Dua puluh tujuh tahun, dan belum menikah. Entah bagaimana caranya dia bisa menahan semua tekanan sosial di sekelilingnya. mungkin telinganya sudah kebas mendengar kata 'perawan tua'.
“Sudah lama?” Matanya terpaku pada daftar menu, sibuk membolak-balikan halaman hitam yang dipenuhi gambar minuman. “Tidak terlalu.” Aku kembali menyesapi kopi ku. “Kamu minum apa?” Lanjutnya. “Arabica.” Aku tidak tahu apa yang dipikirkan nya. Tapi Kinan menarik satu ujung bibirnya sambil memiringkan kepalanya, kecil. Sebelum mengangkat satu tangannya, memanggil seseorang dengan apron kopi s**u. “Tolong kopi Luwak nya satu, ketan s**u satu, dan Frappuccino, untuk mbak itu, satu.” ‘Untukku?’ Aku mengerutkan kening ku. Bingung. ‘Apa dia buta? Atau tuli…’
“Tidak perlu Mbak Kay.” Sial, suaraku terdengar panik. “Aku sudah pesan.” Mataku melirik cangkir porselen putih yang berisi cairan hitam pekat. “Aku tahu, tapi arabica, terlalu pahit untuk orang yang patah hati.” Bibirnya mengembang sempurna, tapi ada luka di sana. Hampir seperti, dia merasakan apa yang aku rasakan. Aku bergeming. Terdiam untuk sesaat sebelum bersiap membuka mulutku. Ingin mengatakan sesuatu, tapi sesuatu berbisik di telingaku lebih dulu. ‘No, no, no she's got a point’. Aku mengatupkan mulutku lagi. Sebelum aku mengatakan hal bodoh.
“Tenang saja, aku yang bayar.” Lanjutnya. Lalu mengirim pelayan itu pergi.
“Senang melihatmu keluar lagi, Na. Pada saat seperti ini, memang paling baik menghabiskan waktu bersama teman.” Aku menarik satu ujung bibir ku, pahit. “Ingat Na, kamu tidak harus sendiri.” Aku bahkan tidak yakin ini ide yang baik. Aku bahkan harus menyeret p****t ku ke sini hari ini. Mengutuki diriku sendiri, untuk tidak menolak tawaran Kinan, untuk bertemu. Khawatir orang akan melihat betapa berantakan nya aku, lalu mencibir ku. Aku terlalu lelah untuk berpura-pura bahagia. Di sisi lain, terlalu kesepian untuk melewati minggu pagi sendirian. Maya tidak ada di rumah hari ini.
Kinan menatap ku dalam dengan mata hitam arang nya. Mengulurkan tangannya, bebas. Menyentuh tanganku, lalu menggenggam nya, kuat. “… Anna, apa kamu tidak apa-apa?” Semalam aku meringkuk di ranjang ku, menangis sejadi-jadinya sampai aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Menangis seperti ini terakhir kalinya aku akan menangis. Memohon pada diriku sendiri untuk tidak mencoba bunuh diri. Aku berdebat dengan diriku sendiri, dan nyaris saja kalah. Lalu kembali menangis, tertidur dalam tangis ku. Bangun dalam rasa kosong yang menyesakkan. Hatiku sakit. Seperti rusak dan setiap tarikan nafas, terasa seperti membakar paru-paru ku. Jiwaku terus memanggil nama laki-laki b******k itu.
Tapi selain itu, tentu saja, "Aku tidak apa-apa." Kinan mendengus. Hampir seperti mengejek. ‘Sial. Dia pasti melihatnya. Tentu saja dia melihatnya.’
“Anna… It’s okay to not be okay.” Suaranya lembut, pada saat yang sama pasti. Matanya menatap jauh ke dalam ku. Hampir seperti dia sedang melihat jiwaku. terisak di pojokan. Dan tanpa aba-aba, mataku basah. Panas. Terbakar. Sial! Ada banyak hal yang ingin aku katakan. Tapi aku belajar, orang tidak benar-benar ingin tahu apa yang sedang aku rasakan. Orang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar. Karena mereka, tidak siap untuk berurusan dengan sesuatu yang gelap dan menyedihkan. Kalau aku bilang, aku tidak baik-baik saja. Kalau aku bilang, aku menangis semalaman karena rasa sakit di dadaku. Kalau aku bilang, aku mau mati. Apa yang akan perempuan ini katakan, selain menggaruk tengkuknya. Canggung. Lalu mengatakan omong kosong seperti ‘semua akan baik-baik saja pada waktunya.’ Atau ‘sabar ya.’
Karena itu, aku memutar bola mataku ke atas. Menatap langit-langit. Memastikan air mata sialan itu, tidak merusak make up-ku hari ini. Menarik bibirku ke atas, lalu berkata, “Serius, aku tidak apa-apa.” sambil tertawa kecil, menatap langit-langit, lalu menyapu kan jari-jariku di bawah mataku. Kinan membuang nafas nya, pendek. “Ya sudah.” ‘Benarkan?’ Udara di sekelilingku memberat. Hatiku, terasa seperti melepuh di dalam rongga dadaku. Entah kenapa rasanya lebih sakit, ketika aku berpura-pura tidak apa-apa, dan orang percaya.
“Maaf.” Laki-laki dengan apron kopi s**u, memecahkan udara berat di sekeliling kami. “Ini pesanan anda, satu kopi Luwak panas, satu Frappuccino, dan satu ketan susu.” Laki-laki dengan apron kopi s**u itu, menata pesanan kami di atas meja. Lagi-lagi dengan groovy-smile-nya. Aku penasaran, kehidupan macam apa yang dia sembunyikan di balik senyum itu. Atau berapa lama dia berlatih, untuk selalu terlihat se-ceria itu. "Terima kasih." Kinan tersenyum ringan. Lalu menghirup aroma kopi luwak nya dalam, sebelum kemudian menyesap nya. “Ada lagi?” aku menggeleng lemah. Lalu membalas senyumnya yang menyilaukan. Tidak bisa menyamai aura nya. Tapi setidaknya, aku mencoba.
“Minum.” suara Kinan hampir seperti sebuah perintah. Kinan menunjuk segelas Frappuccino dengan gumpalan krim kocok di atasnya, dengan matanya. Datar dan tajam. “Kamu akan merasa lebih baik.” Lalu mengerutkan hidungnya. Manis. Aku menjatuhkan rahang ku, tanpa kata. ‘What a mood swing…’ Bingung. Tapi tetap saja mengikuti kata-katanya. Dan aku bersyukur, aku melakukannya. Mencicipi gumpalan krim kocok manis yang meleleh begitu saja di dalam mulutku. Dia benar. Memang butuh sesuatu yang manis dalam hidup yang pahit.
***
Kinan tertawa lagi. Aku tidak tahu, untuk apa kali ini. Tubuhku mungkin ada di sini, di depannya. Tersenyum kosong. Tapi pikiranku terbagi menjadi dua hal. Pertama, ponsel ku yang terus berdengung, tanpa henti di dalam tas tanganku. Dan kemudian, laki-laki di hadapan kami. Bukan karena wajahnya yang enak dilihat, atau tubuhnya yang tidak tak tertahankan. Maksudku, dia tampan, aku mengakuinya. Dia memiliki mata Hazel yang dalam, yang bersinar bahkan di balik kacamata nya, yang membuatnya terlihat lebih panas, mengingatkan ku pada seseorang. Garis rahang yang kuat, yang ditutupi dengan rambut-rambut halus yang terawat dengan baik. Dan kulit kecoklatan lembutnya dan dengan malu-malu mengintip dari kemeja biru nya, yang dibuka dua kancing. Terlihat agak kekecilan pada bagian biseps dan dadanya, memperlihatkan otot nya yang menonjol dengan bangga, tetapi pas di tempat lain. Tapi bukan itu alasan aku mencuri-curi pandang. Atau mengencangkan otot pinggul ku. Entah kenapa, aku mengenalnya. Tapi...