Chapter 6: That day

1835 Words
Dia memperhatikan kami. Aku mungkin saja hanya berimajinasi. Tapi laki-laki itu, terus mengikuti setiap pergerakan ku dengan matanya. Tatapannya begitu kental, aku tidak bisa tidak menyadarinya. Bahkan jika aku mencoba, aku tidak bisa mengabaikannya. Keberadaannya terlalu kental, membuat udara di sekelilingku memberat. Aku lupa caranya bernafas. “Anna, ada apa?” Kinan menjentikkan jari nya, tepat di depan wajah ku. Berusaha mendapatkan perhatian ku. “I-iya, Mbak?” Sial. Aku terdengar gugup. Pipi ku memerah. “Ada apa?” Kinan mengerutkan kening nya, mengulang perkataannya. “Itu…” Mataku tidak bisa lepas dari sosok laki-laki itu. ‘Aku pernah melihatnya… di suatu tempat’. Entah di mana, dan kapan, aku tidak yakin. Tapi aku yakin, ini bukan pertama kalinya kami bertemu. Kinan membawa tangannya ke kepalanya, lalu menyisir kan jari-jarinya di rambutnya. Menariknya ke belakang, sambil menoleh ke belakang. Mencuri pandang. Kasual. Sangat natural. Lalu mengembangkan bibirnya, sambil mengerutkan hidungnya.  “Ah~~” Goda nya. Sebelum kemudian memutar bola matanya ke arah laki-laki itu.  “Kamu punya selera yang tinggi untuk laki-laki. Dia benar-benar…" ehm… Kinan berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya "menggoda.”  Pipi ku terbakar. Darahku mendidih di balik kulitku. “Bu-bukan, bukan itu maksud—” Mata kami bertemu. Kalimat ku menggantung di udara. Laki-laki itu, menatap mataku dalam. Kemudian menajamkan matanya, sambil memperlihatkan deretan giginya. Memikat. Jantungku berdenyut, lebih cepat dari yang seharusnya. Dan untuk sesaat waktu berhenti berputar. “—ku…” lanjut ku, hampir tidak bernafas. “Hai.” Aku tidak mengenalnya. Tapi aku suka suaranya, dalam dan menggoda, seperti Nik— ‘akh sudahlah’. “Ha-hai.” Sial! Aku pasti terlihat canggung. Kalau tidak, kenapa laki-laki itu tertawa geli, sambil menahan kening nya, di kepalan tangannya. Wajah ku terbakar. Darahku berpacu di dalam tubuhku. Laki-laki itu, kemudian membuat isyarat ‘kamu’ dengan jari telunjuk nya, setelah berhasil berhenti tertawa. Lalu mengusapkan ibu jarinya di sudut bibir kanannya. Secara spontan, aku mengikuti gerakannya. Mendapati noda cokelat berlumuran di ujung bibirku.  Pupil mataku melebar. ‘F*ck, F*ck, F*ck! Screw it! I hate myself!’ Darahku mendidih. Malu. Aku menunduk. Membuang pandanganku ke lantai. Menggigit bibirku. Rasanya seperti mau mati saja. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Kinan yang tersenyum geli sambil menyesapi kopinya. Pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak mendengar. mataku terpaku ke ujung jari-jari kakiku. Aku tidak tahu semerah apa pipi ku sekarang.  Tapi rasanya seperti terbakar, jadi mungkin terlihat sama. Memikirkan nya saja, mataku hampir basah. ‘Just let me die, already…’. “…Maaf… Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman…”  Suaranya terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Aku, masih tidak bisa mengangkat wajah ku. Tetapi aku melihat, ada tiga pasang sepatu di lantai. Satu adalah milikku, satu milik Kinan, dan yang lainnya... pasti milik laki-laki itu. Iya. Aku mengangguk kecil, membenarkan diriku. ‘Tunggu… ada tiga?’ Aku bergeming. Berusaha memproses apa yang terjadi. s**t! Jantung ku melompat, jatuh ke perutku.  ‘Dia…’ spontan, aku menutupi bibir ku dengan jari-jariku. ‘Dia datang ke meja kami! apa yang harus aku lakukan sekarang’ “Aku senang melihatmu baik-baik saja.” Lanjutnya. Aku mengerutkan kening ku, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan laki-laki itu. “Maaf, apakah kita saling mengenal?” Aku akhirnya memberanikan diri menatap wajahnya. Entah kenapa aku merasa, dia tidak asing. Satu set mata hijau-cokelat Hazel terang. Sepasang alis tebal, khas timur. Garis rahang yang kuat, dengan rambut halus yang seksi. Kulit cokelat yang tercium matahari. Bersih dan lembut. 'Aku ingin menyentuhnya' aku tertegun. Dia tidak terlihat seperti orang Jawa asli. Ia memiliki fitur timur yang kuat, dan tidak mudah dilupakan. ‘Berpikir Anna! Kamu pernah melihatnya. Di mana?’ Otak ku terdengar frustasi padaku. Aku tidak bisa mengingatnya. Tapi wajahnya, membawa pusaran perasaan yang tidak biasa. Ah yeah! Seketika udara di sekeliling ku memberat. ‘Hari itu…’ ucap ku untuk diriku sendiri. Tanpa diundang, potongan-potongan kejadian yang berusaha aku kunci dalam-dalam. Kembali melarikan diri dari tempatnya, dan sekali lagi, membawa ku  ke sana. Ke hari itu. FLASH BACK ON Daerah Istimewa Yogyakarta, Januari 2027   Telapak kakiku basah dan dingin. Jantung ku berdetak di kepalaku. kepalaku terkulai ke bawah. Langsung menatap tanah. Semua di bawahku terlihat seperti kerucut terbalik. Bangunan-bangunan perkantoran. Apartemen, perumahan. Begitu kecil, dan semakin kecil ke bawah. Untuk sesaat, pandanganku kabur. Lututku bergetar. Dan nafasku berhenti. Rasa dingin menghampiri tengkuk dan punggungku. Aku, tidak mengerti, bagaimana ini terjadi. Berdiri di atas lantai beton. Dengan ujung jari-jariku, tidak lagi menapak. Berpegangan pada sebuah pagar besi di belakangku. Menjaga keseimbangan ku. Angin kencang berhembus, menerbangkan kain putih, penutup kepalaku. Aku bergeming. Menelan air liur ku. ‘Satu langkah, dan semuanya akan berakhir’. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai pada titik keputus asaan ini. Tidak tahu bagaimana ini berawal, seperti kapal yang bocor, aku tidak menyadarinya, sampai air masuk, dan kapal mulai tenggelam. Lucu, bagaimana hidup bisa terbalik, begitu saja. Ketika aku bangun pagi ini, aku tidak tahu aku akan berakhir di sini. Aku bangun dengan senyum paling cerah, mengenakan pakaianku dengan bunga yang mekar di hatiku. Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Hidupku sempurna, hampir. Aku memiliki seorang ibu yang lembut dan penyayang. Tidak kaya, tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik, yang ia mereka berikan, sebagai seorang orang tua tunggal. Aku dikelilingi teman-teman paling gila yang pernah ada. Tidak pernah menghakimi ku, apa pun yang aku lakukan. Bahkan hal bodoh sekali pun. Aku bekerja dengan giat. Membantu panti asuhan. Melakukan yoga. Dan menjalani hidupku dengan baik, sepenuhnya. Memiliki pacar yang sangat manis dan penyayang, yang segera akan menjadi suamiku. Seharusnya, hari ini, aku melengkapi kebahagiaan ku sebagai seorang wanita. Memulai keluarga kecil ku sendiri, dengan laki-laki yang paling aku cintai. Seperti yang aku damba-dambakan sejak kecil. Aku, begitu dekat. Begitu dekat dengan mimpiku. Dan kemudian, itu terjadi begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa aba-aba…. Tidak, sebenarnya aku melihatnya… Aku tahu ada yang salah. Tapi memilih untuk tidak melihatnya. Memilih untuk mengabaikannya. Sampai kemudian air mulai masuk, dan sebelum aku menyadarinya, kapal mulai tenggelam. Aku membiarkannya terjadi. Sekarang aku sedalam leher. Terengah-engah. Dan terus tenggelam. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Hanya masalah waktu, sampai akhirnya aku benar-benar tenggelam dan mati. Aku mengangkat satu kakiku. Membiarkannya menggantung di udara. Ada rasa sesak di dadaku. Tangan dan kakiku basah, berkeringat. Mataku awas. Jantungku berpacu semakin cepat, seperti bom yang hampir meledak. Bertanya-tanya, bagaimana rasanya, jatuh dari sini? Bukan bagian ketika tengkorak ku jatuh membentur tanah, dengan darah mengalir dari kepalaku yang pecah. Dan mungkin remuk. Yang itu sudah jelas. Tapi yang detik, di mana kakiku tidak lagi menapak. Tubuhku jatuh bebas di udara. Apakah akan terasa enak. Apakah rasa sakit di dalam dadaku akan berhenti? Apakah aku akhirnya merasakan damai dan lega. Atau apakah aku akan mengutuki diriku sendiri. Menyesali setiap keputusan yang aku ambil. Semua yang membawa ku ke titik putus asa ini. Memohon untuk kesempatan kedua, dan harap aku dapat kembali ke masa lalu. Dan memilih untuk tidak mencintai Nikolas. Laki-laki yang meninggalkanku, di hari pernikahan kami. Setelah semua yang aku berikan untuknya, setelah semua yang kami lalui bersama. Laki-laki itu, pergi, tanpa kata. Jangankan penjelasan, bahkan ‘selamat tinggal’ pun tidak, hampir seperti, kami tidak pernah ada. Tidak cukup sampai di situ, hampir seperti dia ingin mempermalukan aku, dan mencoreng wajah ku. Dia menikahi seorang p*****r. Perebut laki-laki orang, tepat di hari pernikahan kami, dan menyiarkannya, langsung. Hampir seperti dia ingin aku tahu, kalau tidak ada yang tersisa untukku. Setelah semua yang aku berikan untuknya. Bertahun-tahun bersama. Nikolas tidak hanya mematahkan hatiku, tapi juga merusak nama baik ku. Hatiku hancur. Dan orang-orang akan mengejekku. Perempuan yang gagal menikah. Flawed women. Perawan tua yang mungkin sudah tidak perawan, Perempuan bekas. Barang rusak. Aku memejamkan mataku yang terbakar. Membiarkan butiran air hangat mengalir di pipi ku. Berharap ini, bisa sedikit saja, membawa rasa perih di dadaku. Mereka bilang aku akan baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja. Aku mau mati.  ‘Apa aku masih ada muka untuk hidup?’ Aku mendengus. Memejamkan mataku, menarik nafas dalam. bersiap melepaskan tanganku. ‘Ini akan berakhir dengan cepat. Tanpa rasa sakit’. Aku menarik nafas dalam, bersiap menjatuhkan tubuhku ke bawah. “Hei.” Aku tersentak. Membuka mataku dan menoleh ke belakang. “Apa yang sedang kamu lakukan di sana?” Seorang laki-laki, yang tidak aku kenal, dalam setelan jas, berjalan mendekat ke arah ku. ‘Aku kira aku sendiri’. Aku memalingkan wajah ku. Menarik nafas dalam. Mengabaikannya. “Hei, jangan berdiri di situ. Ini berbahaya. Kamu bisa jatuh.” Suaranya bergetar. Semakin dekat. ‘Justru itu yang aku mau’. “C’mon. Aku tahu, kamu melewati hari yang buruk….” Oh great… “Tapi kamu tidak harus melakukan ini. Apa kamu bisa turun dari sana?” Suaranya semakin mendekat. Bergetar... “Aku mohon turunlah.” ‘Tentu saja. ke tanah’. “Jangan mendekat.” Bisikku. “Apa?” “Jangan mendekat.” Aku menoleh ke belakang. “Aku akan lompat.” Laki-laki itu membeku. Menghentikan langkahnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar. Takut. ‘Kenapa kamu takut, aku bahkan tidak mengenalmu. Kalau aku mati, tidak akan ada pengaruhnya untukmu’ “Jangan aku mohon jangan. Ini tidak menyelesaikan apa pun. Apa kamu bisa berbicara denganku? Aku tahu, kamu tidak menginginkan ini… aku mohon…” laki-laki itu mengendap-endap. Mengulurkan tangannya. Memohon. ‘Hah! kamu tahu apa?’ Aku membuang pandanganku. Menatap lurus ke depan. “Hidup ini terlalu sulit. Mati jauh lebih mudah.” Aku memejamkan mataku. Dadaku melepuh, mendengar kata-kata yang terlontar dari bibirku. Mataku basah. “Biarkan aku mati.” Supaya rasa sakit di dadaku berhenti. “Demi Tuhan. Pegang tanganku dan turun. Aku tahu kamu putus asa, aku bisa membantumu, aku janji. Kamu butuh pekerjaan, Done. Kamu butuh uang, Done." suaranya bergetar. Panik. Takut. Tapi kenapa? "Aku akan menolongmu. Kamu hanya perlu turun. Demi tuhan turun”  ‘Menolong ku? Seperti Nikolas, menolongku? membawa aku ke bulan, untuk menghempaskan ku ke bumi? Tidak, terima kasih’. Aku menatap laki-laki itu dari bahuku. Melihatnya mengulurkan tangannya. Bergetar. Aku menarik ujung bibir ku, mengembangkan senyuman penuh. Aku bisa melihat sedikit kelegaan di wajahnya. Sesaat. Sebelum kemudian berganti dengan teror yang nyata, ketika aku bilang “Tidak.” Dengan suara dingin. Datar. Lalu memusatkan berat ku ke depan. Mengikuti gravitasi. Tiba-tiba, sekumpulan orang berlari keluar melalui pintu atap. “ANNA!” Suara khas Ridho, menggelegar. Panik. Teror. Disusul dengan Kinan dan orang-orang lain di sana, tidak tahu, siapa saja. Bersamaan dengan keseimbangan ku yang menghilang. Dan mengikuti gravitasi, terjatuh ke depan. Dalam kurang dari sepersekian detik, kakiku tidak lagi menapak. Dan tubuhku jatuh dengan bebas ke bawah. Rasanya, hampir seperti, sesaat sebelum tertidur. Jantung ku jatuh ke perutku. Dan nafasku berhenti untuk sesaat, dan kemudian kamu tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya. Dan…. ‘Is that it?’ Ini… tidak seburuk yang aku kira. Ada yang aneh. Aku tidak merasakan sakit sama sekali. Aku bahkan tidak merasakan tubuhku membentur lantai. Perlahan aku membuka mataku, memastikan aku sudah mati. Tapi hal berikutnya yang aku tahu, tubuhku menggantung di atas gedung tinggi. Seseorang menggenggam pergelangan tanganku kuat. “Tidak! Jangan mati… aku mohon jangan! Jangan di sini.” Laki-laki di belakangku, pucat. Berteriak dengan suara lantang. Menahan tubuhku dengan beratnya sendiri. “Lepaskan.” Seperti tidak mendengar kata-kataku, laki-laki itu mengeratkan genggaman nya. Orang-orang berlarian di belakangnya. Ridho, wajah familiar pertama yang aku lihat, berusaha menggenggam tanganku yang lain. “Anna, berikan tanganmu.” Kengerian tergambar jelas di wajahnya yang lebih pucat dari pada biasanya. “Aku mohon.” Ridho setengah menangis. 'Apakah kamu akan sedih kalau aku mati?' “Aku mohon jangan mati.” Laki-laki itu, juga menangis. “Jangan mati. Aku mohon jangan.” Why do even you care? FLASH BACK OFF “K-kamu…” Mataku hampir jatuh dari rongga nya. Rahang ku jatuh ke lantai. Dari semua orang yang ada di kota ini. ‘Kenapa aku harus bertemu dengan DIA?’ “AH… KAMU?!” Kinan, yang tadinya hanya diam, seperti seekor tikus mati, tidak kalah terkejut nya denganku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD