Chapter 7: Benang Merah

1344 Words
“Well, aku tidak menyangka, akan bertemu kalian disini” Laki-laki itu menggaruk tengkuknya canggung. Kinan memberi tatapan kami juga tidak menyangka. “Aku harap kalian tidak keberatan, aku ber—" “Tidak, tentu saja tidak.” Kinan mengumpulkan rahang nya dari lantai. Dan berpura-pura tidak terkejut. “Kinan.” Kinan mengulurkan tangannya lebih dulu. Anggun dan percaya diri. Kinan menjatuhkan kepalanya sedikit ke kiri, Manis. Memperlihatkan garis rahang nya yang tegas, dan senyum malaikatnya.  Mata bulatnya berbinar, menatap laki-laki itu melalui bulu matanya yang lentik. Dia tidak mencobanya, tapi harus diakui, dia… menggoda. Untuk sesaat, aku kira ada sihir, atau Snapchat filter  di sekelilingnya, lengkap dengan musik latar. Hampir seperti mereka berada di dunia yang berbeda. “Nathan.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Dan aku bersumpah demi tuhan, pipinya memerah. Tersipu, malu. Seorang laki-laki dewasa yang mungkin di awal tiga-puluhan, tersipu? Poor Man. Aku berdecak. Tentu saja, bagaimana tidak? Kalau saja aku tidak mengenal Kinan, aku pasti berpikir dia sedang menggoda laki-laki itu. Dan bukan salahnya laki-laki itu tergoda, pesona nya memang, tidak dapat ditolak. Ada sesuatu tentang gadis Bali ini, yang sulit untuk dijelaskan. Ceria dan misterius, pada saat yang bersamaan. Terlihat sangat rapuh, membuat laki-laki ingin melindunginya, tapi kuat seperti neraka, kalau diperlukan. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti dia. “Dan ini Anna…” Laki-laki yang menyebut dirinya Nathan itu, terdiam untuk sesaat. Menatapku aku dalam-dalam. Seolah-olah dia sedang mencoba membaca ku. Aku tidak bisa menahan diri, untuk tidak melakukan hal yang sama. “Jangan malu-malu.” Goda Kinan. Kami berdua tersentak. Lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya, canggung. Tersenyum kaku. Seperti anak sekolah, yang baru pertama kalinya berbicara dengan anak populer di sekolah. Berusaha agar disukai. Hanya saja, kami sudah lama melewati masa sekolah. Dan tidak ada satupun dari kami, popular. Mataku bertemu, dengan sepasang mata cokelat Hazel terang itu. Lagi. Dan seperti tersihir, tanganku bergerak dengan sendirinya. Dan aku bersumpah, demi tuhan. Ada sengatan kecil yang hampir menyakitkan ketika kulitnya menyentuh kulitku. Aliran listrik statis, mungkin. “Nathan.” Sihir beterbangan di udara. Suaranya menggetarkan sesuatu di dalam ku. “Anna.” Aku hampir tidak bernafas. *** “Kamu tidak harus mengantarku pulang.” Aku ragu. Nathan tersenyum. “Tidak apa-apa. Rumah kita satu arah.” Nathan meletakkan Jasnya diatas kepalanya. Lalu membentangkannya dengan tangannya. Membuat ruang yang cukup untuk dua orang. “Lagi pula, mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri. Di hari hujan seperti ini.” Persetan dengan Kinan yang tiba-tiba harus pergi. Persetan dengan pacar sempurna sialan nya. Melakukan kejutan sempurna yang sialan. Datang dari Mississippi ke Jogja? Huh! Punya-ku bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal, sebelum dia menikah dengan wanita jalang. Hidup kadang, tidak adil. “Ayo?” Nathan memberikan isyarat dengan matanya untuk mendekat. Aku berjalan berjinjit menghindari genangan air, berdiri sampingnya di bawah jas nya. Aku tahu tidak seharusnya melakukan ini. Aku baru saja mengenal laki-laki ini, dan membiarkannya mengantarku pulang, benar-benar bukan tindakan bijak. Tapi tetap saja, tidak menghentikan ku mengikutinya. Berlari di tengah hujan, menuju sebuah sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari café. Aku tahu dia tidak memiliki maksud lain. Tapi tetap saja, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, dan meski udara cukup dingin, darahku mendidih di balik kulitku. Laki laki ini, berdiri begitu dekat denganku. Begitu dekat sehingga aku bisa melihat setiap detail kecil tentangnya. Butir hujan yang menetes dari rambutnya yang basah. Bibirnya yang basah. Rahang nya yang kuat dan tegas. Sebuah bekas luka kecil di bawah matanya. Dan otot nya yang menekan bajunya yang basah. Sesuatu meluap-luap di dadaku. Membuatku lupa caranya bernafas, dan waktu berhenti untuk sesaat. “Kamu tidak apa-apa? Ayo masuk!” Nathan membuka pintu mobil di sisi penumpang untukku. Aku tidak berpikir panjang. Hanya mengikuti perkataannya. Lalu menutup pintu mobil di belakangku, dan memposisikan diriku sebelum mengencangkan sabuk pengaman ku. Sementara Nathan berlari ke sisi yang lain dan menutup pintunya dengan cepat. “Maaf.” Nathan mengulurkan tangannya ke belakang. Mengambil sesuatu. “Aku kira, tidak sederas itu.” Meraih dua buah handuk putih kecil dari sebuah tas gym. “Keringkan kepalamu. Kamu bisa sakit.” Nathan memberikan ku satu handuk nya dan menggunakan yang lainnya, untuk mengeringkan dirinya sendiri. Butuh semua pengendalian diri di dalam diriku, untuk mengalihkan pandanganku dari tubuhnya. Yeah… garis rahang nya, bahu lebar berotot. Atau bisep nya, saat laki-laki itu bergerak, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Aku menelan air liur ku, pelan. Darahku mengalir deras, tak terkendali. Pikiran ku menjadi liar, dan tubuhku terbakar di tengah cuaca dingin. Aku tahu ini gila. Tapi pernahkah kamu bertemu seseorang, dan tanpa diduga menginginkannya? Lapar? Sama seperti ketika kamu melihat gambar setengah telanjang artis K-pop favorit mu? Seperti ada sesuatu yang meluap-luap di dadamu. Aku juga, begitu. Merapatkan kakiku, menahan sensasi aneh, yang dulu hanya aku rasakan untuk Nik—, ah, sudahlah. Persetan! Aku tidak ingin mendengar nama itu lagi. Aku pasti sudah gila, kalau masih memikirkan laki-laki b******k itu, padahal ada makhluk Tuhan yang begitu menggoda di hadapanku. Tapi cinta yang aku rasakan untuk Nikolas itu nyata, begitu juga rasa sakitnya. Jantungku berdenyut, perih. Seperti terbakar di dalam rongga nya. Tanpa sadar aku membawa tanganku ke dadaku. Menyentuh d**a kiri ku. Dan memijatnya perlahan. Memang sakit, tapi entah bagaimana, rasanya tidak begitu menyakitkan, dibandingkan sebelumnya. Entah bagaimana, aku merasa, lebih… hidup. Shoot! Aku kira Kinan benar. Obat terbaik untuk hati yang hancur, adalah jatuh cinta lagi. Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, terburu-buru, dan gegabah. Tapi aku mendapati diriku, tersenyum seperti orang bodoh, untuk seorang laki-laki yang baru saja aku temui. “Kamu tidak apa-apa?” jantung ku jatuh ke perutku. “…T-tidak.” Sial! Nathan tersenyum geli. Aku tidak tahu apa ini hal baik atau buruk. Tapi setidaknya ini sesuatu. “Keringkan rambutmu dulu.” Oh iya, aku hampir lupa. Pelan-pelan aku menyeka rambutku dengan handuk kecil di tanganku. “Mau mendengarkan musik?” Aku mengangguk. Malu-malu. “Okay. Siri, mainkan musik untuk hujan.”  Perintahnya, dengan matanya lurus ke depan. Lalu menyalakan mesin mobil. Bersamaan dengan dengungan suara mesin yang terdengar lembut dan mantap, terdengar alunan musik lembut menyatu dengan harmoni bersama hujan. Mobil yang kami tumpangi melaju, menyusuri bangunan-bangunan tua yang familiar. Tidak ada kata di antara kami. Hanya keheningan yang nyaman, tatapan mata yang menggoda, dan alunan lagu yang seperti sihir. Sunday morning, rain is falling Steal some covers, share some skin Clouds are shrouding us in moments unforgettable You twist to fit the mold that I am in. Mobil yang kami tumpangi terus melaju. Menyusuri jalanan yang basah. Dan alunan lagu dari radio terus mengalun. But things just get so crazy, living life gets hard to do And I would gladly hit the road, get up and go if I knew That someday it would lead me back to you That someday it would lead me back to you (someday) Sunday morning. Maroon 5. Dan hujan. Apa kamu pernah mendengarnya? Ini lagu kesukaanku. Dan dari semua lagu yang ada, dia memilih… lagu ini. ‘Sunday morning, rain is falling’. Aku menyenandungkan lagu itu di kepalaku. ‘Would lead me back to you’ hah! Tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum seperti orang bodoh. Sesekali mencuri-curi pandang. Dan entah kenapa, nafasku berat. Seperti sesuatu menekan dadaku. That may be all I'll need (all I need) In darkness, she is all I see (all I see) Come and rest your bones with me Driving slow on Sunday morning And I never want to leave Apa kamu pernah mendengar cerita tentang benang merah? Katanya, setiap manusia dilahirkan berpasang-pasangan. Mereka merupakan satu jiwa yang dibagi menjadi dua, lalu ditempatkan di bumi. Agar tidak hilang, menurut legenda, dewa mengaitkan sebuah benang merah yang tidak kasat mata, di jari kelingking setiap orang. Dan ujung lainnya, terikat pada kelingking orang yang disebut belahan jiwa. Benang itu bisa jadi sangat panjang. Jiwa yang terhubung bisa jadi terletak di tempat yang sangat berjauhan, bisa saja terpisah ruang dan waktu. Kita tidak pernah tahu. Benang merah itu, juga bisa kusut. Karena itu, kadang kita bertemu seseorang, dan mengira orang itu adalah belahan jiwa kita, padahal bukan. Orang itu hanya singgah. Tapi benang merah tidak pernah bisa dipatahkan. Dewa mengikatnya, agar jiwa yang sudah ditakdirkan bersama, bisa saling jatuh cinta. Mungkin itu alasan, terkadang ada saja orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku sendiri, tidak percaya cerita nenek moyang seperti benang merah. Tapi mungkin saja, yang disebut dengan belahan jiwa, memang awalnya satu jiwa yang terbelah dua. Karena itu, meskipun tubuhmu tidak mengingatnya, dan tidak mengenali nya. Tapi jiwamu tahu, ini bukan pertama kalinya kamu bertemu dengan mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD