Ada tarian dalam langkah ku setelah aku mengucapkan selamat tinggal pada laki-laki itu. Lalu melihat mobil sedan hitam itu melaju, semakin menjauh, lalu menghilang di ujung jalan. Pagi ini, aku menyusuri anak tangga ini, sambil mengutuki diriku sendiri. Tapi sekarang aku kembali dengan hati yang lebih baik. Aku senang Kinan memaksa ku untuk bertemu. Kalau tidak, aku pasti masih mengurung diriku di dalam kamar. Mengasihani diriku sendiri, dan bertanya-tanya apa salahku. Apa yang sudah aku lakukan, sehingga laki-laki itu membuang ku begitu saja. Aku menutup pintu kayu itu di belakangku. Menyandarkan tubuhku ke pintu di belakangku, dengan wajah yang menatap langit-langit. Aku tertawa kecil, dengan sebuah senyum bodoh di sana. Tuhan itu, punya selera humor yang aneh. Bekerja dengan cara yang tidak biasa. Beberapa minggu yang lalu hidupku hampir sempurna. Aku pikir, akhirnya aku bisa menjadi wanita yang seutuhnya, seorang istri. Lalu dalam sekejap, semua yang aku miliki menguap, hancur begitu saja. Saat aku kira aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dia membawa seseorang masuk dalam hidupku, dengan cara yang tidak terduga. Hanya untuk membuktikan, aku salah.
Orang bilang, saat satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Aku sudah sering mendengarnya. Hanya untuk memutar bola mataku, lalu mengejeknya. Kalau kamu melihat, satu pintu tertutup, dan pintu lain terbuka, mungkin, kamu harus berlari, itu bisa jadi hantu. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya. Kalimat itu berbunyi di kepalaku, dan aku tidak memutar bola mataku. Menganggapnya sebagai omong kosong. Kali ini, pertama kalinya, kalimat itu melintas di kepalaku, dan aku tidak memutar bola mataku. Sebaliknya, aku bersenandung, dan berjalan menuju kamar ku. Memasuki ruangan, yang sampai pagi ini, terasa begitu hampa dan menyesakkan. Menanggalkan pakaianku yang setengah basah, satu persatu, di depan sebuah cermin sebadan yang menggantung dengan bangga di dinding. Aku berjalan mendekat ke sana. Menatap perempuan di hadapanku lebih dalam. Lalu duduk di atas sebuah karpet berbulu abu-abu di atas lantai. Tepat di depan cermin. Tidak ada kursi atau meja rias di kamar ku. Aku suka hal yang sederhana. Hanya sebuah lemari pakaian kayu sederhana, tempat tidur, meja lampu, kaca sebadan dan sebuah karpet berbulu yang hangat dan nyaman. Oh ya, dan juga sebuah jendela kaca besar, dengan bingkai kayu yang sedikit ketinggalan jaman.
Perempuan di hadapanku, terlihat sedikit berantakan. Rambut hitam panjangnya yang sedikit mengembang, kusut terkena hujan. Kulit putihnya terlihat kusam dan tidak bersinar. Di tambah mata hitamnya, yang pekat dan dalam. Juga kantong matanya yang menggelap. Membuat kulit putihnya, terlihat lebih pucat. Sial! Kalau saja aku tahu aku akan bertemu laki-laki itu hari ini, setidaknya aku akan memakai sedikit eye concealer di bawah mataku.
“Pft…” Jantung ku jatuh ke perutku. Tersentak. Lagi-lagi, tanpa sepengetahuanku, Maya sudah berada di belakangku. Secara natural, aku menarik selimut di atas ranjang ku kasar. Menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Kenapa aku tidak pernah mendengarnya masuk. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun sekarang. Dan kami sudah hidup bersama selama hampir tiga tahun. Tapi ini pertama kalinya aku bertanya-tanya, kenapa aku tidak pernah melihatnya datang dan pergi. Aku bahkan tidak pernah mendengar suara pintu, atau langkah kakinya. Hampir seperti dia keluar entah dari mana, dan kemudian menghilang di udara tipis. Aku bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan untuk hidup. Aku hanya tahu kalau dia punya banyak uang, dan sangat royal dan teman yang setia.
“Apa ini?” aku mengerutkan kening ku, lalu menarik satu alis ku ke atas. Tidak mengerti apa yang dia katakan. “Apa yang kamu maksud dengan ‘apa’?' Maya memutar bola matanya. Dia paling benci kalau harus mengulang atau menjelaskan dirinya. “Aku mencium bau cinta.” Maya mendengus sambil mengerutkan wajahnya. Jijik. Sekarang, giliran aku yang memutar bola mataku. Aku tahu aku terlihat bodoh. Hampir seperti aku tidak belajar dari kesalahanku sebelumnya. Dan terburu-buru melangkah. Tapi ini tidak seburuk itu, setidaknya aku bisa bernafas tanpa rasa sakit sekarang. “Siapa laki-laki itu?” Lanjutnya, hampir seperti detektif. Menuntut penjelasan. Aku mengangkat bahuku dan membawa kedua telapak tanganku, segaris dengan bahuku. Terbuka, menghadap langit-langit. “Bodoh!”
“Akh…” Aku mengusap kening ku. “Kenapa kamu memukul ku?” protes ku. Maya menyilangkan tangannya di dadanya. Sama sekali tidak terlihat menyesal. Aku mendengus. Tidak mengerti. Entah dari mana, dia mendapatkan bakat seperti itu? bakat untuk menjadi kejam dan berhati dingin. Bisa-bisanya memukul perempuan yang sedang patah hati.
“Dasar bodoh.” Suaranya meninggi. Aku memutar bola mataku. Apa itu hal baru? Sebenarnya, tanpa diberitahu pun aku sudah tahu. “Bisa-bisanya, kamu masuk ke dalam mobil laki-laki yang tidak kamu kenal. Kamu beruntung bisa sampai di rumah.” 'Oh ya. Aku tidak berpikir sampai sejauh itu.'
***
Aku mengeringkan rambut ku dengan sepotong handuk merah jambu pastel. Lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaianku. Sebuah gaun tidur satin, merah fanta, dengan brokat hitam di garis leher dan ujung roknya. Sudah lama aku tidak memakai gaun tidur seperti ini. Sejak Nikolas meninggalkanku begitu saja. Aku tidak melihat gunanya menggunakan pakaian halus seperti ini di malam hari. Tapi sekarang, melihat bagaimana gaun satin itu jatuh di tubuhku, menggantung lembut dan sempurna. Terutama, ketika itu menyentuh kulitku, lembut, nyaman dan ringan. Aku sedikit menyesal. Seharusnya, aku tetap melakukan dan menggunakan hal yang aku sukai, meski sekarang sendiri.
“Lebih baik?” Maya bergumam. Aku mengangguk kecil, lalu menyikat rambut ku di depan cermin. Sedangkan Maya masih duduk di atas ranjang ku. Tidak beranjak satu senti pun, sejak aku meninggalkannya untuk mandi tadi. Fokus dengan laptop dan telepon genggam nya. 'Mencari tahu tentang Nathan'. Katanya.
“Gotcha!” Matanya terlihat berbinar. Sama seperti anak kecil yang melihat permen. “Anna, sini!” Seperti memanggil anak anjing. Aku mengerutkan bibir ku kesal. Apa dia tidak punya etika dasar? Terlepas dari itu, aku tetap aja datang, setiap kali dipanggil. “Ada apa?”
“Coba lihat.” Mataku langsung tertuju pada layar laptop di pangkuan Mata. Ada foto Nathan yang tertera di sana. Tersenyum dalam berbagai posisi. Ada juga beberapa foto candid yang tampak professional. Di sampingnya, ada rangkaian huruf hitam tebal, diikuti sejumlah penjelasan singkat di bawahnya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak membacanya. Teliti dan seksama. Kata demi kata. Membiarkan setiap katanya masuk dalam ku. Kebiasaan profesi.
Nathan Ariotedjo
Public figure
Nathan Ariotedjo, atau yang lebih dikenal dengan nama kak Nat, merupakan pendiri dari Kuicky House, rumah dan pusat pelatihan bagi ratusan online streamer di asia tenggara yang berpusat di Indonesia. (Nikipedia)
'Ehm… Nikipedia? menarik' Aku mengerutkan kening ku. Dia pasti cukup terkenal kalau sampai memiliki halaman di Nikipedia. Aneh, aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
Lahir: 2 Febuary 1995 (umur 32 tahun), Yogyakarta
Tinggi: 1.78 m
Tiga puluh dua tahun. Bukankah dia terlalu muda untuk menjadi pendiri perusahaan? Mataku terus menyusuri setiap informasi yang tertera di sana. Channel Youtube, i********: profile, f*******:. Laki-laki ini memiliki ini kehadiran online yang sangat solid dan kuat. Dan entah bagaimana, aku belum pernah melihat atau mendengar namanya. Aku pasti hidup di bawah batu atau apa. Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku. Terperangah. Dengan rahangku jatuh ke lantai. Tidak percaya, pada ketidaktahuan ku sendiri.
Tapi yang paling tidak bisa aku percaya adalah, entah bagaimana caranya, Maya bisa menemukan laki-laki ini. Seingat ku, Maya belum pernah melihat Nathan. Kalaupun dia melihatnya dari jendela, saat Nathan mengantarku pulang. Pasti hanya sekilas, dan tidak begitu jelas. Aku juga tidak pernah menyebutkan namanya. Kalau pun pernah, aku bahkan tidak tahu nama lengkapnya. Dan tidak mudah menemukan seseorang hanya dengan berbekal nama depan seseorang. For God’s sake! Ada ribuan laki-laki bernama Nathan. Sementara aku menatap perempuan di hadapanku dengan kengerian. Maya mengembangkan pipi kempalnya, yang sedikit terlalu berisi untuk fitur wajahnya yang serba mungil, bangga. Ada sesuatu tentang perempuan ini, yang mengirimkan sensasi dingin ke tengkuk dan tulang belakangku.
“Seleramu tidak buruk.” Maya menarik satu ujung bibirnya yang mungil. Mata almond-nya yang tajam berkilat. Lapar seperti binatang. Mengenal maya selama bertahun-tahun. Aku tahu persis apa yang dia pikirkan. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Maya membuang nafas nya pendek, sambil memutar bola matanya. protes.
“Jangan naif. Kamu dan aku sama-sama tahu. Laki-laki hanya baik, kalau mereka menginginkan sesuatu.” Kita semua memiliki teman yang tidak pernah menjalin hubungan, tapi sangat percaya diri saat memberikan saran tentang hubungan, atau bahkan mengevaluasi perasaan seseorang berdasarkan perilaku mereka, seperti seorang pakar hubungan. Ya. Maya adalah teman ‘itu’. “Aku bertaruh, dia akan mengirimimu pesan, malam ini.” lanjutnya.
“Dari mana kamu tahu?”
“Aku hanya tahu.”
“Sama seperti kamu tahu, siapa itu Nathan?” Maya mengangguk. Dengan mata mengantuk dan rahang yang turun mengikuti gravitasi. Seolah-olah aku baru saja menanyakan pertanyaan bodoh. “Uh-Huh.”
Aku menarik nafas dalam. Melakukan yang terbaik untuk tidak berteriak. Aku tahu Maya Pintar. Tapi melihatnya menunjukan kepintaran nya, rasanya.... errrrrr!