'Nathan Ariotedjo'. Aku berbaring telentang di atas ranjang ku. Menatap langit-langit putih gading, yang diterangi cahaya ke-kuningan fairy light. Menarik nafas dalam. Tanpa sadar, menyentuh d**a kiri ku. Tepat di mana jantungku berdetak. Aku tahu ini terdengar kekanak-kanakan. Tapi nama itu, hampir seperti mantera yang membawa kembali potongan-potongan ingatan segar tadi sore. Lengkap dengan semua rasa yang berasosiasi dengannya. Seperti sesuatu yang menggelitik di perutku. Sesuatu yang meluap-meluap di dadaku. Dan desiran darah panas di seluruh tubuhku. Senyuman-nya yang hangat. Tawa-nya yang renyah…
FLASH BACK ON
kedai kopi, beberapa jam sebelumnya.
Kinan sudah pergi. Ada sesuatu yang tidak terduga, katanya. Jose Manuel, laki-laki berdarah Spanyol-nya itu, tidak terlalu familiar dengan Yogyakarta. Dan dia akan tersesat, jika Kinan tidak menjemputnya di airport. Yang kalau dipikir-pikir, gila. Aku berencana menghabiskan hari, beristirahat di apartemen ku. Lalu Kinan menyeret ku ke sini. Aku akan merasa lebih baik, katanya. Aku tidak harus melalui semua ini sendirian, katanya. Dan dia tidak bisa membiarkan ku mengunci diri, sendirian, di kamar, sepanjang hari. Mengasihani diriku sendiri. Otak kita suka mempermainkan kita, saat kita sendirian, katanya. Di sinilah aku sekarang. Duduk di atas sebuah kursi industrialis dengan segelas Frappuccino di tanganku. Lalu dia pergi. Lucu.
Tapi aku tidak protes. Bagaimana bisa, saat aku duduk di hadapan makhluk Tuhan yang indah ini. “Kamu sering ke sini?” Aku menggeleng. “Ini pertama kalinya. Dan, tidak buruk.” Laki-laki itu menyuapkan potongan pie s**u-nya ke dalam mulutnya. Berdeham dengan mulut penuh. Lalu mengangguk. Setuju. Aku suka melihatnya makan. Dia terlihat hidup. Dan bercahaya. Seperti Niko—. Aku mendapati senyum ku memudar. Udara di sekitarku memberat. Nafas ku memendek. hati masih retak sedikit setiap kali mengingat nama itu. Huh! Setelah apa yang dia lakukan. Seharusnya ilegal untuk terus menyelinap ke dalam pikiran ku, tanpa persetujuan. 'Bernafas Kirana. Jangan bodoh! Lupakan b******n itu!'
“Kamu menarik, dan suara mu bagus.” Aku tersentak. Nathan tiba-tiba menyela percakapan ku dengan diriku. “Kamu pasti pantas jadi penyiar. Online streamer.” Lanjutnya. Apa? Aku? Online streamer, katanya? Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa. “Kenapa?” Nathan menuntut penjelasan. “Tidak mungkin. Aku tidak nyaman berada di depan kamera.”
“Oh ya?”
“Iya, aku lebih suka bekerja di balik layar. Sesuatu yang berhubungan dengan kata.” Nathan berhenti. Dia tidak lagi sibuk menyuapkan pie s**u-nya, atau menyesap kopi-nya. Sebaliknya, dia hanya diam. Memiringkan kepalanya, lalu mengerutkan kening nya. Menatapku ganjil. “Kamu tahu. Editor. Penulis. Blogger.” Nathan mengangguk dengan rahang nya yang jatuh membentuk huruf ‘O’ besar. Wajahnya mengatakan ‘ah… aku mengerti sekarang.’. “Apa yang kamu tulis?” Entah kenapa, aku merasa sedang duduk dalam interview masuk kerja. “Semua tentang hidupku.” Aku menarik ujung bibir ku, meletakkan mengatur ulang kacamata nya. Mungkin ini hanya aku, tapi laki-laki berkacamata itu, menarik.
“Pilihan yang menarik.” Sekarang giliranku yang memasang wajah bodoh. Tidak mengerti. “Ja-jangan salah sangka.” Gugup. “Hanya saja, saat ini, semua orang ingin menjadi sorotan.” Nathan lagi-lagi menyesap kopi nya. Lalu mendesah, nikmat. Hampir seperti iklan. “Kamu tahu, i********: famous, Influencer, Youtuber, Vlogger, beauty dan spiritual Guru. Sebutkan saja. Sekarang perhatian adalah mata uang.”
FLASH BACK OFF
“Anna… Anna… ANNA!” Jantungku melompat. Dan berhenti sesaat sebelum kembali berdetak. Suara lantang Maya, menarikku kembali ke kenyataan. Tidak bisakah semua orang berhenti melakukan ini? Aku tidak akan heran, kalau suatu hari nanti, aku mati karena serangan jantung. “Ada apa?”
“Ada orang di pintu.” Aku mengerutkan kening ku. Lalu memeriksa jam di layar ponsel ku. Delapan tiga puluh lima. “Sekarang?” Maya mengangguk. Sial! Orang tidak beradab mana yang datang bertamu semalam ini? Suara ketukan terdengar semakin nyata dan keras. “Anna, ini aku.” Suara parau yang familiar itu menggema sampai ke kamar ku. Aku menyeret tubuhku, malas ke pintu. Mengulurkan tanganku, membuka pintu kayu di hadapanku
Mendapati Ridho berdiri di sana, terperangah. Dengan mata dan rahang nya jatuh ke lantai. Lalu membatu. Hampir seperti jiwanya meninggalkan tubuhnya. Sementara aku, berdiri di sana terdiam. Tidak mengerti apa yang terjadi. Apa ada sesuatu di waj— oh s**t! Pipi ku memanas. Perih. Rasanya seperti baru saja ditampar sesuatu. Pakaianku! Aku, menjatuhkan rahang dan bola mataku. Hampir tidak bisa bernafas. Tidak kalah kaget nya. Terburu-buru, menyilangkan tanganku, di dadaku. Menutupi bagian dadaku yang terbuka. Sialan. Sialan. Sialan! “Oh My God, Anna!” Ridho, yang akhirnya berhasil mengumpulkan jiwanya kembali, mendorong tubuhku masuk ke dalam. Menutup pintu di belakangnya, terburu-buru. Lalu dengan cepat melepaskan jaket jeans hitamnya. Sebelum kemudian, meletakkannya di pundakku. Menutupi tubuhku. “Anna, sudah berapa kali aku bilang, jangan buka pintu dengan pakaian seperti ini!” Pipi ku memerah. Malu. Aku tahu Ridho tidak melihat ku sebagai perempuan. Dan ini bukan pertama kalinya. Tapi tetap saja… dia melihat ku.
“Maaf.” Ridho menggelengkan kepalanya. Membuang nafas pendek. Putus asa. Atau mungkin tidak tahu harus berkata apa. “Kamu sudah makan?” Ridho mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng. “Aku membawa makanan.” Lanjutnya, lalu berjalan ke arah meja makan. Menata makanan yang dia bawa di atas meja. Menyibukkan dirinya. Berusaha melepaskan matanya dari tubuhku. Tapi insting binatang nya mengkhianati nya. Ujung matanya sesekali, mencuri-curi pandang. Lapar. 'Dia mungkin tidak melihat ku sebagai perempuan. Tapi bagaimanapun, dia laki-laki dan adik nya melihat ku sebagai perempuan'. “Kamu sendiri?” Aku menggeleng kecil. “Ada Maya.” Mungkin ini hanya perasaan ku saja, tapi entah kenapa, wajahnya terlihat sedikit kecewa. “Tidak biasanya dia sudah pulang.” Ridho kembali membuang pandangannya ke lantai. Berusaha terlihat ‘decent’. Padahal aku yakin, insting binatang nya menderu di dalam dirinya. Berteriak. Lapar. Memohon untuk dibebaskan. 'Mungkin saja, sekarang, salah satu anggota tubuhnya, sedang mengejang. Atau mungkin sudah basah'. Aku tidak seharusnya tertawa, tapi, 'peduli setan'.
“Anna.” Ridho membawa tangannya ke tengkuknya, lalu membuang wajahnya. Ke arah yang berlawanan denganku. Tidak nyaman. “Ganti baju dulu. Panggil Maya. Lalu makan.” Ah… Ide bagus. Kalimatnya terdengar seperti instruksi. Singkat. Padat. Jelas. Benar-benar terdengar seperti dirinya. Sebenarnya, aku ingin menggoda nya, sedikit lebih lama. Melihatnya, merasa tidak nyaman, dengan pipi yang bersemu, saat berada di dekatku, entah bagaimana membuatku merasa seperti wanita. Merasa diinginkan.
Tapi sepertinya, ini bukan ide yang bagus. Jangan salah paham. Aku tahu Ridho, terlepas dari penampilannya yang sedikit seperti bad boy, tidak akan menyerang seseorang yang sudah seperti adiknya sendiri. Aku tahu, karena, 'who the hell is in the right mind would f*ck his sister?'
Hanya saja, setiap orang memiliki titik puncaknya, sendiri. Sebelum akhirnya kehilangan kendali. Lalu menyerah sepenuhnya pada insting, seperti binatang. Dan aku, aku tidak mau mengambil resiko, hanya untuk mencari tahu sejauh apa batas pengendalian diri laki-laki yang sudah aku anggap kakak ini. Sebelum akhirnya, dia menyerah pada birahi. Jadi, alih-alih diam, berdiri di dalam gaun tidur yang menyoroti setiap lekuk tubuhku. Memuaskan ego ku yang tidak masuk akal. Aku berjalan menuju kamar ku, tanpa kata.
RIDHO POV
Aku bisa gila. Kakiku berlari menyusuri anak tangga bangun tua itu, terus menyusuri lorongnya. ‘Anna!’ Sekarang sudah jam delapan lewat di hari minggu. Beberapa jam yang lalu Kinan, teman kantornya menghubungiku, katanya dia terpaksa meninggalkan Anna sendiri karena ada urusan lain. ‘Sendiri. Iya sendiri’. Setelah hari itu, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berlari seperti orang gila setiap kali aku tahu dia mengurung dirinya sendiri di apartemennya, terlebih saat ponsel sialannya itu tidak bisa dihubungi. Demi tuhan apartemen itu dipenuhi semua barang yang dibutuhkan kalau-kalau dia berpikir mengakhiri hidupnya lagi. Pisau, tabung gas, racun serangga, bahkan jendela. Arghhhh…
Semua gara-gara laki-laki b******k itu. Darahku mendidih di dalam tubuhku setiap kali aku mengingat betapa hancurnya Anna hari itu. Aku akan memastikan laki-laki itu membayarnya. Demi tuhan kalau sesuatu terjadi pada Anna sekarang. Dia akan membayarnya! “Anna!” tanganku mengetuk pintu kayu di hadapanku, seperti hidupku bergantung padanya. Hening. “Anna!” ‘aku mohon tetaplah hidup, aku mohon’. Mataku seperti akan terbakar kapan saja, ‘oh tuhan!’ “Anna!” aku mengetuk pintu kayu itu lebih keras. Tidak ada jawaban. Perempuan bodoh! Bagaimana bisa dia meninggalkan Anna sendirian, seharusnya dia meneleponku lebih awal. Awas saja kalau terjadi sesuatu. God! Ini benar-benar membunuhku. “Anna ini aku…” sesuatu yang berat menekan dadaku. Aku baru saja kan mendobrak pintu kayu itu ketika pintu terbuka.
Anna! Sesuatu yang berat, keluar meninggalkan dadaku ketika aku melihat Anna berdiri di ambang pintu. Tersenyum, hampir seperti dulu. Sesuatu di dalam ku mencair melihat senyuman itu lagi. Aku benar-benar merindukan senyuman itu. Aku berdiri membatu seperti orang bodoh. Hanya dengan melihat wajahnya saja, aku bisa bernafas, sedikit lebih lega. Tapi entah kenapa, pada saat yang sama, sesuatu mengaum di dalamku. Sesuatu yang tidak biasa. Otot tubuhku mengejang dan wajahku terbakar. ‘Sial! dia terlihat begitu cantik malam ini.’ Rahangku jatuh ke bawah. Detik berikutnya yang aku tahu, tanpa aba-aba, Anna menjerit menutupi tubuhnya dengan tangannya. ‘But why-- tunggu, apa dia...oh s**t!’ jantungku melompat dari tempatnya. ‘Dia practically telanjang. LAGI’ Cukup menjelaskan kenapa darahku mendidih. “Oh My God, Anna!” Aku mendorong pintunya masuk, lalu menutup pintu di belakangku, cepat sebelum seseorang melihatnya. Lalu meletakkan jaketku di pundaknya menutupi tubuhnya. Auto-pilot. Sesuai dengan protokol yang berlaku. “Anna, sudah berapa kali aku bilang, jangan buka pintu dengan pakaian seperti ini!” ‘Apa kamu tahu betapa tali yang harus aku pasang untuk mengikat naluri binatangku agar tidak melahapmu sekarang juga?’
“Maaf.” bisiknya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menggelengkan kepalaku. ‘Apa kamu bahkan tidak melihatku sebagai laki-laki?’ tiga belas tahun. Sudah tiga belas tahun aku mengenal perempuan ini. Dan selama tiga belas tahun, aku merasakan rasa sakit yang sama, setiap kali aku melihatnya. Anehnya, aku tidak bisa mengeluarkannya dari otakku selama tiga belas tahun tahun. Hampir seperti aku kecanduan rasa sakit itu sendiri. ‘Menyedihkan’ Aku membuang nafas pendek. Frustasi. “Kamu sudah makan?” Anna menggeleng, seperti yang aku duga. Anna kehilangan banyak berat badan setelah hari itu, aku bahkan bisa melihat tulang-tulang selangkanya yang menonjol di balik kulit putih bersihnya. ‘Shit.’ Buah zakarku berdenyut. ‘Kendalikan dirimu!’
“Aku membawa makanan.” Aku mengalihkan pandanganku dari Anna, menyibukan diriku sendiri di dapur, sebelum pikiranku menjelajah entah ke mana. ‘Tapi bagaimana? Aku juga laki-laki.’ Aku menelan air liurku perlahan, seorang perempuan yang berarti segalanya bagiku, berdiri di dalam balutan pakaian yang secara khusus dirancang untuk membangkitkan pikiran terliar semua laki-laki. Aku bahkan bisa melihat putingnya yang mengeras dibalik kain tipis itu. Yang melekat di tubuhnya seperti kulit kedua. Menonjolkan setiap lekuknya. Rasa bersalah membanjiriku, pada saat yang sama aku menikmatinya. ‘Ada delapan miliar orang di dunia ini, dan aku jatuh untuk perempuan yang bahkan tidak melihatku sebagai seorang laki-laki’
“Kamu sendiri?” Anna menggeleng kecil. “Ada Maya.”. ‘Kita tidak sendiri di sini, buddy!’ Aku memperingati zakarku, memberinya alasan untuk kembali ke tempatnya. “Tidak biasanya dia sudah pulang.” Aku berusaha menghindari Anna, menghindari tubuhnya yang mengundang. Entah sejak kapan gadis kecil yang aku tahu tumbuh menjadi perempuan yang menggoda. Dan entah bagaimanapun caranya, aku tidak melepaskan mataku dari tubuhnya. Gila! Ini benar-benar gila! “Anna. Ganti baju dulu. Panggil Maya. Lalu makan.” Imanku kuat, tapi dagingku… ah yasudahlah….
ANNA POV
“Maya, ayo keluar. Ridho membawa makan—" kalimat ku menggantung di udara. “–nan” aku mengerutkan kening ku. Menatapi ruangan kosong. Bingung. Maya tidak ada di sana. Tubuhku membatu seperti orang bodoh. Mungkin sudah masuk ke kamarnya? Tapi, bagaimana caranya? “Anna? Ayo ke sini. Makanannya akan jadi dingin.” Suara Ridho menggema dari ruang tengah. Memaksa aku untuk bergerak.
“Beri aku satu menit.” Aku melepaskan gaun tidur ku, terburu-buru. Membiarkannya jatuh ke lantai. Lalu mengenakan pakaian dalam yang pantas. Untuk mencegah Wardrobe malfunction, seperti n****e flashing, sebenarnya aku tidak masalah. Tapi sepertinya Ridho tidak terbiasa melihat perempuan tidak memakai beha. Aku berani bertaruh, tadi ekornya sudah bangun, dan meronta-ronta. Tidak mau mengambil resiko, aku mengambil pakaian yang tidak terlalu menantang: sebuah celana tinggi kain hijau army, menarik elastic ban-nya sampai ke pinggang ku. Untuk atasan, sebuah kaos tumbler hitam dengan huruf blok tertera di atasnya. ‘-The code guide- I love to see your money hanging in my closet.’. Sebelum keluar, aku menggulung rambut ku yang setengah basah ke atas. A messy bun. Lalu melenggang ke ruang makan. Sendirian. Ridho mengerutkan kening nya, lalu menajamkan matanya.
“Jadi… Maya di mana?” Aku mengangkat bahuku dan membawa kedua telapak tanganku, segaris dengan bahuku. “Mungkin di kamarnya.” Sebelum aku tahu, aku sudah berjalan menuju kamar tidur Maya. Auto-pilot. Mencoba membuka pintu kayunya tanpa permisi. s**t! Dikunci. “Maya?” Hening. Tidak ada jawaban. Aneh. “Apa kamu melihat Maya?” Sekarang giliran aku yang bertanya. “Kalau aku melihatnya, apa aku akan bertanya?” Aku membawa tanganku, bertolak di pinggangku. Memutar otak ku. Aneh, ini benar-benar aneh. Apartemen kami, bisa dibilang, kecil. Hanya ada dua kamar tidur berdampingan. Kamar ku, yang menghadap ke balkon. Dan kamar Maya, yang menghadap ke lorong. Lalu sebuah ruangan cukup besar berbentuk huruf L. Ada sebuah dapur kering di salah satu ujungnya, tepat di samping kamar Maya, diikuti kamar mandi lengkap dengan tempat laundry, di ujung dapur. Di ujung yang lain, sebuah ruang duduk dengan satu set sofa dan TV. Dan sebuah ruang makan sederhana, hanya beberapa langkah dari pintu depan, menyatukan ruang duduk dan dapur kering. Untuk berpindah dari kamar ku ke kamarnya, Maya harus melewati ruang duduk. Tidak mungkin, tidak. Kalau dia menyelinap keluar dari rumah, atau masuk ke kamar mandi, dia harus melewati ruang makan, dan Ridho pasti melihatnya. Bagaimana bisa Maya menghilang begitu saja, dan tidak satupun dari kami melihatnya. Aneh. benar-benar aneh. Dia tidak bisa menghilang begitu saja di udara kan?