BAB 5
Arumi POV
Saat Remaja aku di undang teman dekatku, sebenarnya aku males tapi tidak enak yang ngundangku teman sebangku, dia mengadakan acara syukuran kelulusan kakaknya di rumahnya, acaranya jam dua sore, hanya saya yang diminta datang karena teman sebangku, sebelum magrib baru pulang, rumah dia cukup jauh dari rumahku.
Ketika aku mengambil jalan pintas setapak tiba-tiba hujan deras, aku mencari tempat berteduh. Alhamdulillah tidak jauh dari situ ada gubuk yang cukup bersih mungkin suka dipakai oleh
orang-orang untuk beristirahat sejenak.
Aku kedinginan, tidak menyangka akan hujan, siang tadi terlihat cerah, kaca mataku basah, ketika sedang mengelap kaca mata ada laki-laki berlari menuju gubuk, aku takut bagaimanapun tempat
ini sepi, menyesal sebelum berangkat tidak minta dijemput bapak.
Ketakutanku terbukti dia mulai mendekat ketika aku mengelap kaca mata ke tiga kalinya karena berembun dan kecipratan air hujan dari gubuk yang banyak bocornya, aku tidak berani menatap
wajah orang tersebut.
Tiba-tiba dia memelukku dan berbisik untuk jangan teriak, dia mendekapku dengan erat, apalah tenaga seorang gadis kecil, dia begitu kuat, akhirnya terjadilah hubungan intim.
Setelah melakukannya dia berpakaian lalu tertidur, sedang aku langsung pergi dalam keadaan hujan.
Tahu begini dari tadi aku berhujan-hujanan, tidak perlu nunggu reda, saat itu aku masih kalut tidak merasakan sakit yang begitu dalam. Tetapi ketika sampai rumah, membersihkan badan, dan merebahkannya di kasur baru terbayang seperti video yang diputar slow motion, baru merasakan sakit hati yang mendalam.
Aku akhirnya sakit deman dan terus-terusan mengigau. Beberapa hari kemudian aku di bawa ke rumah sakit,
tak sengaja di rumah sakit kaca mata jatuh dan pecah, semuanya terlihat buram.
Kebetulan poli dokter mata dekat, perawat menyarankan sekalian ke dokter mata.
Setelah diperiksa dokter mata, mengatakan minusnya bisa diperbaiki dengan operasi laser.
“Arumi, apa mau buat kaca mata atau dioperasi laser.” Dokter memberi dua pilihan.
Setelah dokter menerangkan plus minusnya operasi dan dinyatakan aman, karena teknologi sudah canggih, akhirnya orangtuaku memutuskan untuk operasi laser ke rumah sakit mata besar.
Dokter memberi surat rujukan untuk ke rumah sakit mata terbesar di Bandung.
Setelah tiga hari aku sehat, kami berangkat ke Bandung yang hanya membutuhkan waktu dari
setengah jam dari tempatku kalau dalam keadaan normal, tapi kalau dalam keadaan macet jangan tanya bisa berjam-jam.
Aku tersiksa tanpa kaca mata wajah orang tidak terlihat jelas, karena minusku sudah 15.
Betapa senangnya setelah dioperasi hanya minus 0,5, jadi sudah nggak pakai kaca mata lagi.
Setiap malam aku sering mengigau kejadian terkutuk tersebut yang membuatku menjadi gadis
pendiam, walaupun aku cukup pendiam tapi sebelum dipenodaan aku masih bisa bergaul, tapi setelah dinodai aku benar-benar jadi penyendiri, semua temanku heran tapi tidak mungkin aku
mengatakannya pada orang lain.
Aku sangat membenci orang tersebut.
Setelah lulus SLTA, aku kuliah di akademi jurusan Food and Beverage karena hobiku masak.
Setelah lulus, bekerja di Bandung di Café yang terkenal, belum setahun kerja tiba-tiba bapak menyuruhku pulang, ternyata aku dijodohkan dengan Hendra, Aku tak kuasa menolak.
Sebenarnya aku tidak mau menikah, tetapi Bapak tidak memberiku pilihan, tidak menanyakan dulu mau atau tidaknya langsung menerima dan menentukan tanggal pernikahan. Mau gimana lagi.
Malam pertama benar-benar membuatku degdegan, semoga Kang Hendra menerima keadaanku yang tidak perawan, aku tak kuasa untuk mengatakannya.
Kalau dia menanyakannya aku baru akan menceritakan padanya kejadian yang sebenarnya. Saat ini sulit untk bicara.
Ternyata malam pertama menjadi malam terakhir pernikahanku, kang Hendra menolak, tanpa mendengar penjelasanku mengembalikanku pada orangtuaku, sialnya Bapak tidak terima dan menyiksaku lalu mengusirku.
Apa salahku, karena tidak jujur ? tapi kan bisa minta penjelasan kenapa aku tidak bisa jujur !
Aku kecewa pada laki-laki, kang Hendra membuatku sakit hati dan bapak menambah parah sakit hati, aku bertekad untuk tidak menikah. Semua laki-laki egois.
= = = = =
Turun dari bis Arumi bingung, karena memang tidak ada tujuan kemana, dia menuju tempat duduk di sekitar terminal setidaknya untuk berfikir akan kemana melangkah, walaupun dari naik bis
sudah berfikir tetap saja buntu, Arumi ingin mendatangi saudara yang di Jakarta, tapi bagaimana memberitahu keadaanku yang ada membuat makin malu saja.
Seharusnya Arumi balik ke Bandung ke tempat kerja tapi kang Hendra tahu tempat itu, karena tidak jauh dari tempat kerjanya, Arumi takut dipermalukan kalau kang Hendra datang.
Arumi akan mencari klinik untuk mengobati luka di punggungnya, ternyata di dekat terminal ada klinik, Arumi pun masuk dan minta diobati, dokter sampai kaget dan tahu itu adalah cambukan, tidak bisa berbohong.
Dokter bilang lukanya akan mengering dalam 3 hari asal jangan kena air, mandi pun lebih baik dilap. Dia memberiku salep.
Keluar dari klinik Arumi mencari tempat kost tetapi belum dapat tempat kost dia limbung dan tak sadarkan diri di depan pasar.
= = = =
“Aku ada dimana ?” ketika sadar Arumi ada di rumah kumuh, terlihat sangat berantakan.
“tenang dek, kamu ada di rumahku, tadi kamu pingsan didepan pasar kebetulan aku melihatnya.”
Arumi mengangguk, “Terima kasih telah menolongku.”
“Kamu mau kemana ?
”Aku tidak tahu.” Jawab Arumi sambil menggelengkan kepala.
***TBC