BAB 6

387 Words
BAB 6 Dia yang Menodaiku "Kamu mau kemana ?" “Aku tidak tahu.” Jawab Arumi sambil menggelengkan kepala. “Kok tidak tahu ?” “Namaku Arumi.” Arumi mengulurkan tangannya. “Rena.” Mereka saling menjabat tangan. “Kamu ke Jakarta ada perlu apa ?” Rena heran dengan sikap Arumi yang membingungkan. “Aku diusir bapakku.” Arumi bercakap dengan pelan. “Kamu diusir ? Kamu nggak ada tampang nakal sama sekali Arumi.” Rena makin heran. “Panjang ceritanya, aku tidak bisa menceritakannya padamu, bisakah kamu mencarikan aku kontrakan seperti ini yang murah, siapa tahu ada yang kosong.” “Ada di ujung sana tapi ya seperti ini sumpek.” Rena sedikit ragu, melihat penampilan Arumi dari gesture dan auranya bukan orang miskin. “Nggak apa-apa kecil juga aku butuh cepat dan yang murah. Arumi sedikit takut melihat tampang Rena yang sangar dan penuh tato. Rena menyadari itu,“Arumi jangan takut dengan tampangku, hidupku sangat keras, dari kecil di jalanan, tapi sekarang aku hanya penjaga parkir di pasar. Sekarang sudah insyaf nggak hidup di dunia gelap lagi.” Arumi mengangguk, “Aku percaya Rena, kamu baik kok, mau menolongku.” Arumi terdiam sejenak. “Kalau ke pasar dari sini dekat ? Aku mau membeli beberapa helai baju dan kasur lipat untuk saat ini saja dulu.” “Dekat, sekarang istirahat dulu, nanti aku antar ke pasar.” Rena menyodorkan nasi bungkus. “Makasih Rena kamu baik.” Arumi menerima nasi bungkus yang memang saat ini dia sangat lapar. Rena mengantar Arumi ke tempat induk semang pemilik kontrakan, lalu ke pasar membeli yang sangat penting seperti kasur dan peralatan makan dan minum. Setelah semuanya beres, Aisya dan Rena selonjoran di kasur yang telah di beli Arumi. “Kalau perlu apa-apa bilang saja siapa tahu aku bisa menolongmu, kamu jangan sungkan.” Rena pun berdiri pamit. “Rena, nanti malam aku minta tolong olesin salep di punggungku ya, aku tidak bisa sendiri.” Arumi memohon. “Tentu saja Rum nanti malam aku ke sini.” Rena pun berlalu. Arumi mencuci baju yang baru dibeli di pasar, saat ini mau tidak mau masih memakai baju yang tadi pagi berangkat dari rumahnya. Malam-malam Rena datang, “Arumi, mana yang akan diberi salep.” “Masuk Rena dan tutup pintunya.” Arumi menyodorkan salep dan membuka punggungnya. “Astagfirullah Arumi kamu diapakan ini ? oleh siapa ?” Rena kaget melihat punggung dan lengan Arumi penuh lecet. “aku di pukulin Bapak oleh ikat pinggang Ren.” Arumi tidak berbohong. “Aku nggak percaya kamu nakal, wajahmu alim banget gitu, nggak mungkin ayahmu nyiksa begitu kalau nggak ada hal yang membuat dia marah.” Keukeuh Rena nggak percaya. “Aku bingung menceritakannya darimana. Nantipun kamu akan tahu.” Arumi meringis ketika yang lukanya kena salep. “Ya sudah kalau kamu belum nyaman cerita sampai kamu nyaman saja, aku akan mendengarkan, percayalah aku bukan tipe orang ember.” Rena memberi ketenangan pada Arumi. “Rena, maukah kamu jadi saudaraku, aku tidak punya saudara.” Arumi terisak. Rena memeluknya, “ Iya sekarang kita saudara.” “Rena aku kuliah di jurusan F and B. dan kerja di café, tapi saat ini aku hanya membawa KTP, apa kira-kira yang bisa aku kerjakan ?” “F and B itu apa ? maklum aku nggak sekolah tinggi cuma lulusan SD." Rena tidak tahu. “Food and Beverage. Ya pokoknya makanan dan minuman.” Aisya sedikit menjelaskan. “Kamu bisa kerja di Café, disini banyak Café.” “Aku nggak bawa ijazah.” Arumi ragu. “Nanti aku bantu, ada beberapa tukang parkir Café kenal, siapa tahu mau bantu.” “Atau kamu kalau pinter buat kue bikin saja, nanti aku yang masukan ke warung-warung.” Arumi langsung memeluk Rena, “Kamu benar-benar saudaraku.” “Sudah… sudah sekarang kamu jangan cengeng, hidup sangat keras, kamu harus terbiasa mulai saat ini menghadapi kerasnya ibu kota.” Arumi mengangguk. Besoknya Arumi ke pasar lagi membeli hal yang sangat diperlukan. Dan Rena mendatangi café-café yang dekat sekitar tempatnya kerja. Akhirnya nemu café yang mau menerima tapi harus ditest dulu karena tidak bawa ijazah. Sorenya Rena teriak-teriak dari jauh, “Arumi… Arumi... “ “Ada apa Kak ?” Arumi nongol dibalik pintu kamar kostnya. “Besok ada yang mau nerima tapi café kecil, dan ditest dulu karena nggak bawa ijazah.” Rena terengah menjelaskannya karena barusan lari. “Makasih Kak.” Arumi memeluk kakak angkatnya. Malaikat pelindungnya saat ini. ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD