BAB 7
“Semoga kamu diterima ya, Kakak ikut senang kalau kamu diterima.”
Arumi bersyukur diperantauannya sekarang tidak sendiri lagi. Ada yang melindunginya.
“Ya Allah, apapun yang terjadi, saat ini aku senang ada orang yang Kau kirim untukku.”
Arumi sedang di wawancara di café, walau tidak termasuk besar tetapi tidak kecil juga.
“Namamu Arumi, boleh aku minta KTP nya ?” Zaky memulai bertanya.
Arumi pun menyodorkan KTP pada manager cafe yang bernama Zaky.
“Kenapa anda pergi tidak membawa berkas penting ?” Zaky heran.
“Saya terburu-buru, ada masalah keluarga.” Arumi menjawab spontan yang ada diotaknya tanpa berfikir, karena difikirpun tetap bingung jawabannya harus apa.
“Apa karena anda dijodohkan menolak, lalu kabur ?” Zaky tersenyum.
Arumi menggelengkan kepala, “Saya tidak bisa menceritakannya, tetapi kalau bapak mau tahu kerja saya boleh telpon café tempat saya kerja dulu di Bandung. Namanya Lovebird Café.”
“Ohh saya tahu café itu, saya pernah beberapa kali ke sana.”
“kalau begitu saya test ya kemampuan anda memasak, silahkan ke dapur.” Zaky berdiri diikuti Aisya di belakang.
Sebelum sampe Arumi ingat, “Pak Zaky, saya punya foto ijazah saya di gawai, saya baru ingat di email saya ada juga berkas-berkas yang pernah saya kirim ketika melamar pekerjaan.:
“Ohh bagus kalau begitu," Zaky kembali ke ruangannya.
Arumi minta emailnya Zaky dan membuka email digawainya lalu mengirim berkas berkas yang tersimpan difilenya ke Emailnya Zaky.
“Tapi tetap kamu harus ditest beberapa masakan.” Zaky tetap melihat laptop mengamati berkas yang dikirim Arumi sambil manggut-manggut.
Arumi mengangguk walau sebenarnya Zaky tidak melihatnya.
“Nah sekarang saya sudah lihat berkasmu. Tinggal ditest. Masakan apa Favoritmu Arumi ?”
Arumi pun menyebutnya.
"Walau saya di F and B tetapi saya lebih sukai membuat pastry."
Zaky menyodorkan menu yang ada di buku menu, “Apa yang bisa kamu masak dari buku menu itu ?”
Arumi melihatnya satu persatu dengan teliti.
“Insya Allah saya bisa semua, karena menu ini semua familiar dengan saya.”
“Oke sekarang kita bikin ya salah satunya." Zaky pun berdiri, diikuti Arumi menuju dapur.
Arumi dengan gesit masak, karena jurusan yang diambil passionnya dia, jadi Aisya merasa bukan kerja tapi mengerjakan hobbynya. Dinikmati pekerjaannya.
Zaky mengawasi cara kerja Arumi.
“Arumi terlihat ada passion, berbeda dengan orang yang bekerja tanpa passion.” Batin Zaky.
Setelah masakan selesai Arumi menata dimeja dan mempesilahkan Zaky untuk mencicipinya.
“Sudah kuduga pasti masakannya enak. Mulai besok kamu bekerja disini.” Zaky menerima lamaran kerja Arumi.
“Saya permisi Pak pulang dulu.” Arumi pamit sebelumnya tentu membereskan dulu peralatan yang dipake untuk demo masaknya, langsung ke pasar memberi tahu Rena.
“Rena.. aku diterima kerja.” Arumi memeluk Rena dari belakang.
“Aduh Arumi bikin kaget orang saja sih, gimana coba tadi kalau aku banting.” Rena bersungut.
“Ren aku lupa ternyata di emailku tersimpan berkas-berkas penting. Jadi tadi pak Zaky membaca berkasku juga.”
“Tahu gitu kamu kan bisa melamar di café besar dan lebih bagus.” Imbuh Rena.
“Nggak apa-apa di café Ardan juga sudah senang kok.” Arumi sekalian pamit mau istirahat.
Tak terasa Arumi sudah kerja sebulan, dan kerjaan dia pun disukai bossnya, tapi ada hal yang berubah, dia nggak kuat bau asap. Jadi Arumi kerja pake masker.
“Arumi kamu tuh aneh masa kerja pake masker gitu apa nggak pengap sudah di dapur pengap tambah masker.” Zaky merasa heran.
“Nggak tahu Pak, aku juga tidak mengerti kok nggak kuat bau asap masakan.” Arumi sendiri bingung.
“Kamu tuh kayak yang ngidam saja.” Zaky sambil lalu.
Deg… Arumi langsung lemas, sambil mengingat kapan terakhir haid, dari malam pertama itu sudah lewat sebulan belum haid.
Arumi bergetar, dia sangat ketakutan kalau hamil. Selama kerja dia tidak fokus bekerja.
“Arumi, kamu ada apa kok dari tadi kerja tidak fokus ?” Wilan heran, biasanya Arumi kerjaannya bagus.
“Entahlah Lan, aku sedang ada yang difikirin.” Arumi belum berani bicara sama teman kerjanya.
Sore hari, sebelum ke rumah mampir ke apotek membeli testpack. Arumi bergegas pulang dan masuk rumah.
Rena memanggilnya pun nggak menoleh saking fikirannya sedang kalut.
“Arumi… Arumi…” Rena beranjak ke rumah petak Arumi karena heran melihat Arumi tidak seperti biasa, hari ini terlihat panik.
Rena nunggu di kasur saat Arumi di kamar mandi. Beberapa menit kemudian mendengar isakan Arumi di kamar mandi.
***TBC
maaf kalau ada kesalahan Arumi disebut Aisya. ada pergantian nama mungkin akan ada satu dua yang lolos.