BAB 8
Rena kaget dan berdiri menuju kamar mandi.
“Arumi kamu tidak apa-apa ?” Rena memutar handle pintu ternyata tidak dikunci.
Rena mendekat Arumi yang sedang berjongkok. Dan melihat tangan Arumi yang sedang memegang testpack dan gadis gempal itu mengerti apa yang terjadi pada Aisya.
“Arumi kamu hamil ?” Rena bertanya dengan pelan.
Arumi mengangguk.
Rena mengangkat bahu Arumi dan membimbingnya keluar dari kamar dan mendudukan di kasur karena memang hanya ada kasur dan kabinet plastik untuk pakaian.
Arumi makin terisak, Rena memeluknya. Rena yakin ada sesuatu yang belum diceritakan pada Rena.
“Menangislah kalau itu membuat kamu lebih lega.” Rena menepuk-nepuk punggung Arumi.
Setelah tenang, Arumi pun menceritakan dari ketika dia diperkosa, sampai dia diusir sama bapaknya.
“Kamu jangan khawatir, sekarang ada aku yang akan melindungimu, kita berdua berjuang membesarkan anakmu. Aku senang akan mempunyai keponakan.” Rena berusaha membuat Arumi tenang.
“Terima kasih Rena.” Arumi memeluk Rena dengan erat.
“Arumi mulai bulan depan kita sewa petak yang dua kamar selain irit biaya listrik dan sewa aku bisa menjagamu kalau malam. Uangnya bisa ditabung untuk lahiran. Kamu jangan sedih kita besarkan anakmu.”
Rena makin kasihan sama Arumi.
“Katakan kehamilanmu ini lebih awal supaya orang tidak berprasangka buruk padamu, terutama sama bossmu, supaya dia memaklumi kalau kerjamu tidak maksimal.”
Arumi mengangguk.
= = = = =
Tok… tok… tok.
“Ya masuk.” Zaky menyuruh Aisya masuk.
“Selamat pagi Pak.” Arumi menunduk.
“Ada apa pagi-pagi sudah menemuiku ?” Zaky heran tidak biasa Aisya murung begitu.
“Pak, maaf sebelumnya mungkin mulai saat ini kerja saya nggak maksimal, saya tidak enak baru saja kerja sebulan.” Arumi bicara pelan.
“Langsung saja Arumi, aku nggak mengerti maksudnya.” Zaky sedikit kesal.
“Saya hamil Pak.” Arumi makin pelan.
“Di KTP mu kamu belum nikah.”
“Iya Pak saya baru sehari menikah di talak.” Arumi terisak rasanya dengan beban kehamilan ke depan hidup makin berat.
“WHAT, baru sehari dicerai. Kesalahan apa yang dilakukan sampai segitunya.”
Arumi pun sedikit menceritakan garis besar suaminya menalaknya.
“Maaf Arumi, aku banyak bertanya. Sekarang bekerjalah semampu kamu bekerja, katakan pada rekan kerjamu supaya mereka memaklumi tidak nuntut kamu bekerja melewati batas.”
“Terima kasih Pak.” Arumi pun undur diri.
Zaky mengangguk.
“Masih ada laki-laki yang seperti itu, walaupun kecewa mestinya tanya dulu selama bukan karena gaya hidup bebas ya mestinya memaklumi.” Gumam Zaky pada diri sendiri, karena memang Aisya sudah tidak ada di ruangannya.
“Kasihan gegara kelakuan orang lain menghancurkan hidup wanita baik-baik. Bayar wanita panggilan juga nggak seberapa kenapa harus memperkosa perawan.” Zaky geleng-geleng kepala.
Rena belanja ke minimarket, beli s**u hamil dan camilan, dia dulu pernah hamil jadi ngerti kebutuhan ibu hamil, sampai rumah petak Arumi, disimpannya diatas kasur, lalu merebahkan diri.
Dia menerawang masa remajanya menikah dengan laki-laki jalang, yang mengubah hidupnya menjadi seorang yang tidak berperasaan, karena membunuh suaminya, akhirnya dia dipenjara belasan tahun.
Sekeluar dari penjara dia merantau ke Jakarta.
Rena sangat merasakan pedihnya hati teman barunya, “Arumi, aku akan melindungimu.”
Setegarnya Rena dia menitikan air mata. Dia mengingat anaknya yang diasuh oleh ibunya mungkin sekarang tidak jauh dengan Arumi, paling beda beberapa tahun.
Ceklek pintu dibuka, Arumi masuk, “Kak Rena tadi aku beli makan ayo kita makan berdua.”
Arumi menyodorkan nasi bungkus.
“Wah Kak Rena belanja apa itu ?” Arumi melihat kresek diatas kasur.
“s**u buatmu.” Rena menggeser kresek supaya Arumi duduk sebelahnya.
“Kak Rena, uangku masih lumayan untuk hidup beberapa bulan ke depan, tadipun ketika aku ambil uang ada yang masuk beberapa juta entah dari siapa, mungkin saja ibuku nggak tega takut aku terlantar mungkin."
Uang itu ditransfer oleh Hendra, dia berjanji pada ibunya akan mengirimnya tiap bulan untuk membayar rasa bersalahnya.
= = = =
Hari berlalu, bulanpun terlewati, Rena dan Arumi sudah sewa rumah petak yang kamar dua.
Perut Arumi pun makin terlihat. Sekarang kandungannya sudah 5 bulan ketika di USG dokter bilang diperkirakan bayinya laki-laki. walaupun masih perkiraan kasarnya
***TBC