BAB 11
“Ayolah Arumi, anggap saja ini pinjaman, nanti kalau kamu sudah maju bisa diganti, kamu pun tidak kehilangan uang penjambret itu kan nggak akan bisa mengambil uang di ATM, uangmu masih tersimpan ditabungan, tinggal ngurus KTP saja. Sudah sekarang aku mau ke toko emas dulu kamu jaga ponakanku. Telpon saja banknya untuk blokir”
Rena langsung setengah berlari meninggalkan Arumi yang masih terbengong.
Kesadarannya kembali ketika mendengar tangisan, jagoannya kalau nangis memang kenceng banget.
“Sayang, jangan rewel yaa, mama sedang kesal.” Arumi memberikan asinya, Rasya langsung lahap menyedot asi dari putting.
Besoknya Arumi ke café untuk mendapat kabar, karena Zaky tidak tahu gawainya ikut hilang.
“Pak Zaky maaf saya mau menanyakan soal konsinyasi itu bagaimana yang punya mengijinkan ?” Arumi langsung bertanya ketika bertemu di depan Café.
“ARUMI” Ardan kaget lihat Arumi sedang ngobrol dengan Zaky.
Arumi menoleh, “Pak Ardan ada disini ?”
“Kalian saling kenal.” Zaky heran.
Mereka berdua mengangguk.
“Pak Ardan, Arumi pernah bekerja disini beberapa bulan tetapi karena melahirkan punya anak berhenti, ingin mengasuh anaknya. Dan tadi yang diceritakan ingin titip kuenya itu Pak.”
Ardan menggut-manggut, Zaky sudah menceritakan masa lalunya Arumi secara singkat supaya Ardan mau dititipi kuenya.
“Yakin kuenya enak Zaky, aku belum nyicip, apa sesuai standart Café ini ?” Ardan bertanya.
“Bapak boleh mencicipi kue yang aku buat untuk ke warung-warung, tetapi tentunya akan disesuaikan kalau untuk di café, kalau ke warung kan tidak bisa dengan standart hotel pak, bisa tekor.”
Arumi menyodorkan kue yang dibawa untuk dimasukan ke warung.
Tadinya Arumi mau ke warung dulu baru ke Café tapi tadi diurungkan, menjadi ke café, bersyukur jadi Ardan bisa mencicipi kuenya.
“Lumayan” Ardan mengunyah kue.
“Ini bahan nya yang standart Pak, bukan yang premium. Untuk masuk café tentunya saya pakai yang premium.”
“Oke, mulai kapan kamu akan masukan kuemu ke sini ?”
Zaky merasa lega, bisa membantu sedikit pada Arumi.“Besok juga bisa, Kira-kira Bapak punya masukan kue apa yang mau di pajang di sini ?”
“Gimana kalau kita hunting dulu di Café bintang lima ?”
“Hunting sama saya Pak ?” Arumi ketakutan plus kaget.
“Ya iyalah masa sama Zaky, kamu kan nanti yang akan buat.” Ardan terkekeh melihat Arumi kaget.
“Nanti sore ke sini ya, jam enam malam kita mulai hunting.”
Arumi bingung tapi mengangguk, lalu pamit.
Tak lama Arumi pun sampai rumah.
“Kak Rena bolehkah aku titip Rasya, aku sudah menyimpan asi di kulkas ya, nanti malam mungkin aku pulang larut malam”
“Tumben, kamu mau kemana selama kenal kamu aku belum pernah lihat kamu keluar malam Arumi ?” Rena heran.
“Aku mau hunting makanan untuk mengisi di café, aku di ajak pemilik café.”
“Owww… asyik dong. Semoga ini jalan kamu untuk maju Aisya.” Rena berharap Arumi mandiri.
“Aamiin, terima kasih doanya. Dan ingat Kak, kita akan bersama dimanapun kita berada.”
Setelah shalat maghrib bergegas Arumi siap-siap.
“Titip Rasya ya Kak.” Arumi mencium Rasya sambil pamit.
Setelah sampai café, Arumi duduk dikursi dekat pintu masuk, terlihat Ardan sedang ngobrol dengan Zaky, sebelum Arumi memanggil mereka sudah duluan menoleh.
“Langsung saja ya kita berangkat.” Ardan mendekati Arumi.
Mereka pun berangkat.
“Arumi kalau proyek percontohan ini sukses, nanti kita buat diseluruh caféku, aku punya empat café.”
“Semoga ya Pak."
Mereka berdua keluar masuk café elite tidak makan yang berat.
“Pak Café ini sambosanya enak sekali dagingnya sepertinya wagyu.” Arumi berbisik.
“Betul ini empuk tapi renyah. Tidak lembek.”
“Kata Zaky kamu lulusan F and B tapi kok kamu fokusnya di pastry ?” Ardan heran.
“Iya aku kursus juga khusus pastry pak ternyata pastry lebih nyaman buatku.”
“Wah ternyata enak hunting dengan orang yang mengerti seluk beluk makanan.”
“Lain kali kita pergi lagi.”
Setelah ke tiga tempat sudah ada pilihan menu yang akan di buat.
Ardan mulai merasa nyaman berada dekat Arumi.
Selama ini dia dekat wanita yang tidak mengerti usahanya, jadi tidak bisa diskusi masalah café, sedang dengan Arumi tidak bosan membicarakan tentang segala hal membahas café, Ardan merasa ada teman sharing sambil bersantai.
“Arumi kamu punya pacar ?”
Arumi kaget ditanyal soal pacar, menggeleng.
“Jangan berfikir yang nggak-nggak Arumi, saya hanya takut kalau kita hunting lagi nanti pacarmu marah.”
Arumi bernafas lega.
“Bagaimana dengan Bapak ? Kalau Bapak punya pacar harus diberitahu daripada mergoki kita nanti dikira selingkuhan.
Ardan tertawa, “Iya… iya… kalau kita jalan lagi nanti dikasih tahu tunanganku, dia tidak lagi di lndonesia kok.”
Tak terasa waktu sudah berjalan hampir tiga tahun, berarti sudah tiga tahun Arumi merantau tanpa kabar berita pada keluarganya.
Dengan berjalannya waktu Arumi memasok kue-kue ke café, Rena pun belajar membuat kue, sudah tidak hidup dijalanan. Dia hanya mendapat setoran uang parkir ilegal dari jatah wilayah pegangannya, parkiran dipegang oleh anak buahnya.
Ardan sekali-kali hunting di café-café hotel bintang lima untuk referensi cafenya, dan selalu mengajak Arumi
Arumi baru saja merebahkan badannya dikasur. Ada pesan masuk,
Zaky : Arumi, sabtu ada pesanan kue banyak untuk acara ultah di Café.
Arumi : Oke, nanti list kuenya kirim.
Zaky : Siap.
“Kak Rena, ada pesanan yang banyak untuk hari Sabtu, tolong yang suka bantuan anak buahmu yang nganggur ingetin yaa kak bantuin hari Jumat.”
“Siap Arumi, ini rejeki Rasya.”
Tak lama telpon masuk.
“Assalamualaikum, Arumi nanti malam kosong ? aku minta ditemani hunting seperti biasa”
Ardan bicara di sebrang sana.
“Wa alaikum salam, iya boleh nanti malam kue sudah mulai dikerjakan para tetangganya yang nganggur.”
“Wah sekarang sudah lumayan dong.” Ardan senang mendengarnya.
“Ya walau keuntungan jadi sedikit tapi lumayan jadi berbagi keuntungan dengan mereka.”
“Sippplaah berbagi rejeki namanya. Oke nanti aku jemput setelah maghrib tunggu ya di depan gang.”
“Iya Pak.”
Setelah magrib mereka pergi ke Café Francheis dari Amerika.
“Kenapa ke sini Pak ?”
“sekali kali beda suasana.” Ardan membukakan pintu mobil buat Arumi.
“Arumi sekarang lebih fresh dari pertama ketemu, Sekarang cara berpakaianpun tidak seperti terakhir ketemu, nggak asal-asalan, makin terpancar aura kecantikannya.” Bathin Ardan sambil menggeser kursi untuk Arumi.
“Kita sudah lama tidak ketemu yaa?” Ardan memulai pembicaraan.
“Iya sudah enam bulan ya. Kemana saja Pak ?” Arumi tersenyum.
“Ada sih, hanya ada beberapa masalah jadi nggak bisa santai seperti ini.”
“Saya pun repot Pak, Alhamdulillah kuenya walau tidak besar tapi pesanan selalu ada.”
“Senang aku mendengarnya. Tapi seharusnya kamu sudah pindah dari situ mencari tempat yang lebih besar.” Ardan memberi saran.
“Untuk rumah tanpa gangguan kerjaan aku sudah sewa sebelah, kebanyakan kue sudah dibuat di rumah tetangga, aku lepas setelah mereka benar-benar mereka sudah mahir. Tiap orang membuat satu macam kue jadi fokus.”
Ardan mengangguk-angguk.
“Arumi, sebenarnya aku mengajak kamu kesini ada yang mau bicarakan sedikit serius.”
Gadis bermata indah itu mulai nggak nyaman melihat tatapan Ardan. Tak tahan dengan tatapannya Ardan, Arumi menunduk. Hatinya berdentum.
“Arumi bagaimana kalau kita pacaran, aku merasa cocok sama kamu selama ketemu dengan kamu obrolan kita selalu nyambung, selama ini aku mencari wanita yang bisa diajak sharing.”
Arumi bergeming, tidak tahu harus menjawab apa, sejenak terdiam.
“Bagaimana dengan pacar Bapak ?” Arumi masih inget Ardan saat itu pernah bilang punya tunangan.
“Sudah putus tiga bulan yang lalu. Tolong jangan panggil aku Bapak, serasa aku sudah tua.”
“Pak eh Mas, aku tak terfikir menjalin hubungan dalam waktu dekat ini.” Arumi merasa belum siap.
“Kita tidak harus terburu-buru kok.”
“Hmmm, Mas tahu aku sudah punya anak kan ?”
“Nggak masalah kok. Itu sudah difikirkan.” Jawab Ardan sambil mengangguk.
“Saya tidak bisa menjawab sekarang Mas, Aku pun belum mengurus perceraian dengan suami. Walaupun sudah ditalak tiga tahun lalu, tapi status negara masih istri dia.”
“Aku bantu mengurus perceraianmu.”
***TBC