BAB 12

1393 Words
BAB 12 “Surat nikah, kartu keluarga dan KTP saya, tidak ada.” Arumi sedih rasanya segalanya sulit buat dirinya. “Soal itu nanti saja urusannya, saat ini kamu menerimaku atau tidak.” Ardan sangat berharap. “Mas, ini terlalu cepat. Ini bukan halusinasi ?” Arumi masih kaget. Ardan menggenggam tangan Arumi digenggam sedikit erat. "Masih merasa halusinasi ?" Ardan tersenyum. Arumi tertawa. “Kita kenal sudah lebih dari setahun. Aku merasa kita akan menjadi pasangan yang cocok, sama-sama mengerti usaha yang digeluti. Jadi bisa saling mendukung.” “Ya nanti kita coba ke depan.” Arumi belum mantap menerima. “Arumi aku butuh jawaban ya atau tidak.” Ardan minta kepastian. “Mas, aku butuh waktu untuk memantapkan diri.” “Oke aku beri kamu waktu 1 minggu Arumi” Ardan tersenyum. Setelah lama ngobrol mereka pun pulang. Sampai depan gang Ardan memberhentikan mobil, Arumi mau turun ditahan tangannya oleh Ardan, “Tunggu sebentar.” Tangan Ardan menggapai sebuah totebag di belakang kursi yang diduduki Arumi, “Ini buat Rasya.” “Mas, nggak usah merepotkan begini.” Arumi sungkan. “Nggak seberapa kok. Lain kali aku mampir ya, atau sekali-kali bawa Rasya main di café biar nggak sumpek di rumah saja kasihan.” “Terima kasih Mas.” Arumi pamit lalu keluar dari mobil. Setelah Arumi tidak terlihat Ardan pun pergi sambil tersenyum lega, setahun menahan diri untuk tidak menyatakan cintanya pada Arumi karena harus menyelesaikan urusan dengan tunangannya yang sangat mengganggu karena terlalu posesif. Sekarang Ardan sudah putus dengan pacarnya. Walau dengan susah payah penuh drama. Mantan pacarnya yang mengekang dan terlalu mengatur sangat mengganggu mobilitasnya, sedang melihat Arumi sudah membayangkan akan mendukung usahanya bisa berbagi, walau soal fisik jauh kemana-mana karena Ardita seorang model yang kecantikannya meluber tumpah ruah. Sedangkan hidup wanita tidak melulu hanya sebagai pajangan untuk ditatap. Tidak sekedar itu, yang lebih penting kenyamanan bersama ketika mengarungi kehidupan. = = = = = Selama seminggu Arumi gelisah, dan terbaca oleh Rena. “Arumi kamu beberapa hari ini gelisah, ada apa? kamu tidak mau cerita ?” Rena menyelidiki. Arumi menggeleng. “Kamu tidak bisa membohongiku Arumi kita sudah serumah hampir tiga tahun looh apapun perubahanmu aku mengerti.” Rena bicara sambil menggendong Rasya yang sangat disayanginya. “Kak aku bingung.” Arumi akhirnya mau berbagi. “Nggak biasa kamu bingung berkepanjangan.” Rena curiga. “Hmm. Mas Ardan mengajak aku pacaran, menurut Kakak gimana ?” Arumi mau tidak mau jujur cepat atau lambat akan ketahuan juga. “Aduuh Arumi, kamu nggak usah mikir kenapa sih, pak Ardan orang baik begitu.” Rena kesal mendengar tanggapan Arumi. “Aku belum siap punya pasangan, aku punya anak Kak, jadi harus hati-hati tidak seperti masih single, mas Ardan mungkin nerima saya janda, keluarganya belum tentu. Apalagi aku punya anak.” Arumi bimbang. “Arumi sayang… Ardan pasti sudah memperhitungkan segalanya, jangan dibuat pusing kenapa sih.” Rena gemas, “Emangnya janda tidak boleh bahagia ?” “Kak, aku belum bercerai secara negara, pasti ngurusnya akan butuh waktu, harus bolak balik belum lagi harus ketemu dengan mantan suami. Aku harus ambil buku nikah di rumahnya.” Arumi sangat malas mengurusnya, selama ini tidak diurus karena tidak berniat menikah lagi. “Harusnya, cerai atau tidak, segalanya kamu urus, kamu kan harus punya kartu keluarga dan KTP juga, masa mau jadi penduduk gelap. Rekening tabungan juga harus punya, masa pake namaku, kalau aku kabur bagaimana ? Rena berharap Arumi menikah lagi. Setelah seminggu, Arumi janjian ketemu dengan Ardan di café tempat Arumi mengirimkan kue. “Arumi mau aku jemput,” Ardan menelpon Arumi. “Aku sudah di café Mas.” “Oke aku meluncur ke sana sekarang tunggu paling lambat lima belas menit.” Ardan pun langsung menutup telpon. Seminggu ini Ardan gelisah menunggu jawaban pasti dari Arumi. Tak lama Ardan memarkirkan mobil dan melihat Arumi menunggu di kursi dipelataran café, dengan segelas fruits Funch yang tinggal setengahnya. “Arumi, seminggu terlalu lama, aku sampai gelisah menunggumu.” Ardan menarik kursi lalu duduk. Zaky melihat dari kejauhan, dan mengerti apa yang terjadi antara dua insan, karena Ardan selalu curhat padanya tentang pasangannya. “Bagaimana keputusannu Arumi ?” Ardan harap-harap cemas. “Ya aku menerimamu Mas.” Arumi tersenyum, Ardan menggenggam tangan lalu mencium punggung tangan Arumi. “Terima kasih Arumi, aku akan meyakinkan keluargaku untuk menerimamu.” Ardan sumringah. Tiba-tiba… “Woooww… ternyata kamu memutuskan pertunangan kita sudah ada cadangan wanita lain yaa.” Tiba-tiba ada wanita yang begitu cantik menghampiri meja yang ditempati Ardan dan Arumi. “Ardita, kita sudah putus tiga bulan lalu, wajar saya mencari pasangan lagi.” Ardan nggak enak hati baru saja mengajak pacaran, mantan tunangannya mengganggu. Ternyata Ardita tipe wanita posesif, kemana saja Ardan pergi dikuntit, ini yang membuat Ardan tidak nyaman. “Aku akan terus menganggumu Ardan sampai kamu kembali padaku.” “Mas Ardan, selesaikan dulu urusan sampai mantan Mas mengerti, aku tidak mau berkesan seperti pelakor. Saya pamit dulu.” Arumi langsung berdiri. “Kalau kamu dekat lagi dengan Ardan, kamu akan menderita. Ingat itu.” Ardita mengingatkan Arumi. “Tenang Ardita, aku tidak akan menerima laki-laki yang masih punya masalah dengan wanita lain.” “Ardita, Kita putus sudah lama, kenapa kamu masih saja mengangguku.” Ardan kesal. “Aku tidak mau putus denganmu, itu alasanannya. Kamu jangan main-main denganku, siapapun yang dekat denganmu akan menderita.” Ardita pun pergi. Ardan bergeming memandang dua wanita didepannya pergi. “Kenapa aku harus ketemu wanita psikopat.” Keluh Ardan. Zaky mendekat, melihat keadaan tidak sesuai rencana. Mereka berjalan ke pelataran parkir, melihat Arumi ditarik Ardita. “Boss ada apa dengan Ardita ? Apa dia tidak menerima diputuskan ?” Ardan mengangguk. “Hei, Kamu jangan mengganggu Ardan, kalau tidak mendengarku, kau akan celaka.” Ardita mengancam. “Ardita, sedikit saja kamu nyakiti Arumi, tak segan aku akan membuatmu menyesal.” Ardan teriak bergegas menarik Arumi. “Lihat saja, aku melihat kamu masih bareng dia, aku akan menyakitinya, nggak peduli aku harus mati sekalipun.” Ardita menunjuk Arumi. Arumi merinding mendengar ucapan Ardita. Ketika sedang tegang, telpon Arumi berbunyi. “Hallo…” Arumi mengangkat telpon. Tak lama tubuhnya luruh di aspal. “Arumi…” Ardan dan Zaky berteriak bersamaan. Ardan mengambil alih telpon, “ Halloo…” Ardan bergeming sesaat. “Zaky, aku ke rumah sakit dulu temani Arumi, Rena dan Rasya tertabrak.” Ardan langsung memapah Arumi ke mobil. Mereka langsung meluncur ke rumah sakit. “Hahahaha… belum juga aku mengganggumu Arumi, Tuhan sudah menghukum kamu.” Ardita tertawa. “Jaga mulutmu Ardita, pantas saja Ardan tidak tahan denganmu, ternyata memang hatimu busuk." "Dengan siapapun kau tidak akan langgeng, pasti akan dicampakan” Zaky kesal langsung masuk café setelah Ardan dan Arumipergi. Arumi berjalan menuju IGD, membuka setiap partisi yang menutupi brankar. Setelah melewati empat brankar terlihat Rena tergeletak masih tak sadar diri, di brankar berikutnya, Rasya terlihat kepala dan kakinya diperban. Arumi terduduk diantara dua brankar, menangis. Ardan menepuk-nepuk punggung Arumi untuk memberi kekuatan. Dokter mendatangi Arumi. “Walinya anak ini siapa ?” Arumi mendongak akan menjawab, tetapi terlebih dahulu dijawab Ardan, “Saya.” “Pak, anak ini harus dioperasi tapi butuh darah, kebetulan darah O rhesus negatif agak sulit, Bapak bisa donor ? silahkan ikuti perawat untuk ambil darahnya.” “Hmmm, saya bukan ayahnya dok, dan darah saya juga bukan O tapi A.” Ardan melirik Arumi. Arumi menggeleng. “Dokter apa operasinya harus saat ini ?” Arumi ragu. “Besok pagi bisa Bu.” Dokter lalu pamit meninggalkan Ardan dan Arumi yang terdiam kaku.” “Arumi, apa perlu ketemu ayahnya Rasya ?” Ardan memegang bahu Arumi. Arumi bergeming tegang. “Dia tidak tahu aku punya anak Mas. Ketika aku ditalak, aku pun tidak tahu hamil.” “Cobalah datang mumpung masih ada waktu untuk mencari donor. Siapa tahu dia berbaik hati mau donor. Aku disini akan berusaha mencari dan kamu temui dia, apapun hasilnya kita sudah berusaha.” Arumi mengangguk walaupun ragu. “Aku akan naik travel ke Bandungnya.” Arumi mau telpon travel. “Pake mobilku, aku suruh orang untuk menyupir.” Ardan telpon Zaky. Tak lama diangkat. “Hallo.. Zaky tolong bawa supir ke sini, Arumi harus ke Bandung.” Zaky langsung menuju rumah sakit yang dibilang Ardan barusan membawa supir. Arumi dan Ardan sudah menunggu di lobby karena lobby dan IGD bersebelahan. ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD