BAB 13
“Mas aku berangkat sekarang. Terima kasih mobil dan mau menunggui anakku. Titip Rasya dan Rena ya Mas.” Arumi tidak bersemagat.
Ardan dan Zaky mengangguk.
Walaupun berat meninggalkan Rasya tapi bagaimana lagi nggak mungkin menyuruh orang lain menemui Hendra.
Kalau sampai Hendra menolaknya, Arumi akan berlutut sampai mantan suaminya itu mau mendonorkan darahnya.
Tak terasa mobil sudah mencapai Bandung, kebetulan jalan tidak macet secara dari Jakarta ke Bandung macetnya sering horor saat ini cukup ramai lancar karena belum melewati jam bubaran kantor.
Arumi degdegan harus menghadapi Hendra, dia sangat takut kalau sampai menolaknya, apalagi kalau sudah punya istri lagi, entah harus bagaimana Arumi mendapatkan donor, kalau tidak bisa minta darah mantan suaminya, Arumi akan ke PMI cabang Bandung.
Sesampainya di depan rumah mantan suaminya, Arumi ragu, dia berusaha menarik nafas dalam-dalam berulang kali untuk menenangkan.
Terlihat mobil Hendra sudah ada di car port, suasana sudah senyap karena menjelang maghrib.
Ting tong… ting tong… ting tong…
Setelah memantapkan hati, Arumi menekan tombol bell.
Tak lama pembantu membuka pintu pagar, “Neng Rumi… ? Ya Allah kemana saja Neng ?”
“Bapak ada Bi ?” Arumi ragu melangkah.
“Ada, masuk Neng.” Ijah membuka pintu depan rumah.
“Bi, Bapak sudah nikah lagi ?” Arumi menarik lengan pembantunya Hendra.
Ijah menggeleng.
"Neng, kelihatannya dia sangat menderita ditinggal Neng." Ijah memperlihatkan raut sedih
Arumi duduk di kursi tamu gelisah memilin-milin ujung kemejanya, matanya terus melirik pintu ruang keluarga, antara takut dan tak sabar ingin tahu reaksinya bertemu dengan mantan belahan jiwanya.
Dejavu, beberapa tahun lalu posisis seperti ini pernah terjadi.
“Den Hendra…” Ijah mengetuk pintu.
“Ya... tadi yang pijit bell siapa ?” Hendra membuka pintu kamarnya.
Arumi gemetar mendengar suara Hendra.
“Anu Den.. itu… itu…” Ijah tergagap saking masih kaget.
Hendra tidak menunggu jawaban Ijah pembantunya, dia langsung ke ruang tamu.
Hendra bergeming beberapa saat di hadapan Arumi.
“Arumi…” ucapnya bergetar.
Hendra hendak berlutut memohon maaf dan ampunan pada Arumi tapi disaat kesadarannya belum pulih, Arumi langsung menubruk berlutut di kaki Hendra dan menangis.
“Arumi… kenapa harus berlutut.” Suara Hendra masih bergetar serasa masih halusinasi. Setelah sadar mengangkat bahu Arumi.
“Ayo duduk.” Hendra membimbing Arumi duduk, hatinya sangat membuncah bertemu dengan wanita yang selalu menganggu fikiran dan mimpinya.
“Kang Hendra, aku perlu darah untuk anak, golongan darahnya O rhesus negatif.” Arumi terbata.
“Kamu… kamu… punya anak.” Hendra ternganga.
Saat ini ingin teriak saking bahagianya berhadapan dengan pujaan hatinya.
Hendra hendak memeluk tetapi ketika tangannya sudah berkembang kesadarannya pulih kembali diturunkan.
“Iya anak kita, dia besok harus dioperasi, kecelakaan, ceritanya aku pun belum tahu.” Arumi belum mendengar bagaimana kecelakaan itu terjadi.
“Iya… iya… tunggu sebentar.” Hendra ke kamar bawa barang-barang yang diperlukan untuk beberapa hari dimasukan pada travel bag, Hendra mengerjakan dengan hati dan fikiran yang tidak menentu.
“Aku punya anak.” Hatinya mendesir membayangkan anaknya sedang tak berdaya. Membayangkan wajahnya apa mirip dirinya atau Arumi atau campuran antara mereka. Beruntung dia kirim uang tiap bulan.
“Bi ijah, aku ke Jakarta dulu ya,” ucap Hendra saat Ijah bawa nampan menuju ruang tamu.
“Neng Rumi, ayo diminum dulu, baru berangkat.” Ijah sebenarnya penasaran tapi nggak mungkin menanyakan karena terlihat tuannya terburu-buru.
Arumi dan Hendra minum teh hangat sampai tandas, lumayan cukup menenangkan deburan ombak di hati mereka berdua.
“Ayo kita berangkat.” Hendra mendahului langkah diikuti Arumi.
“Arumi punya mobil memakai supir jangan-jangan sudah menikah.” Batin Hendra nggak tenang.
“Arumi, maafkan selama kamu pergi aku sangat menderita memikirkanmu sampai saat ini. Sangat berdosa, jahat, egois sekali, aku minta maaf” Hendra sangat ingin memegang tangannya, ingin memeluknya.
“Kang Hendra tidak perlu minta maaf sewajarnya kalau kecewa padaku.” Sahut Arumi, mau tidak mau fikirannya menarik mundur kembali pada saat dia dikembalikan pada orang tua.
“Seharusnya kamu memberitahu ketika tahu hamil, dia pun kan anakku Arumi.” Hendra menyayangkan Arumi tak memberitahukan soal kehamilannya.
“Sudahlah yang terpenting saat ini Rasya bisa terselamatkan.” Arumi memotong untuk tidak membicarakan masa lalunya.
“Kamu sudah menikah lagi ?” Hendra degdegan menanyakannya.
“Bagaimana bisa menikah, kan belum ngurus perceraian. Buku nikah nya juga ada di rumahmu. Apa Akang sudah mengurus perceraian kita ?” Arumi balik bertanya.
“Hmm... Akang menyesal telah menalakmu Arumi, sangat menyesal makanya Akang tidak mengurus perceraian kita. Aku mencarimu ke tiap sudut kota, aku menyesal” Ujar Hendrra pelan.
Mereka terdiam, hanya deru suara mesin dan gesekan ban yang terdengar.
“Arumi, bolehkah aku memberitahu tentang anak kita pada ibuku ?” Hendra hati-hati.
“Silahkan bagaimanapun dia cucunya.” Arumi tidak mungkin menolak disaat memerlukan darah mantan suaminya.
Hendra pun menelpon ibunya.
Ketika telpon tersambung, “Bu, Hendra sedang menuju Jakarta, kalau bisa Ibu ke Jakarta, aku sedang bersama Arumi. Anaku sedang di rawat di rumah sakit Karya Husada.”
“Apa ? Hendra yang jelas bicaranya. Kamu punya anak dari Arumi ?” Zaenab ternganga, serasa mimpi Arumi sedang bareng dengan anaknya.
“Ya ya aku besok subuh kesana ? Apa perlu mengajak orangtuanya Arumi ?”
Hendra melirik Arumi, “Apa orangtuamu perlu dikasih tau.”
Arumi bergeming.
“Arumi ayahmu sangat menyesal telah mengusirmu, dia sekarang sakit-sakitan. Semua ini karena salahku Arumi.” Hendra tidak tahu harus bagaimana caranya supaya mendapat maaf dari Arumi.
Di sebrang, Zaenab tak sabar menunggu jawaban telpon.
Arumi mengangguk.
“Ya Bu, ajak orang tuanya Arumi”
Zaenab tergesa nelpon mantan besannya, lalu beres-beres apa yang diperlukan untuk dibawa ke Jakarta, hatinya membuncah sangat bahagia akan bertemu mantan mantunya. Janjian sama mantan besan setelah subuh pergi ke Jakarta.
Dengan pertemuan mereka, Zaenab berharap hidup Hendra lebih tenang.
Setelah selesai beres-beres menyiapkan untuk beberapa hari di Jakarta, tak sabar menunggu subuh sampai sulit untuk tidur.
Ardan sudah memberi tahu Arumi kalau Rasya sudah dipindah di ruang rawat inap dan besok pagi sudah siap di operasi.
Sampai di ruangan Rasya, Arumi membuka pintu, Ardan duduk di sebelah brankar Rasya.
“Mas, bagaimana Rasya dan Rena ?” Arumi terlihat cemas.
“Seperti ketika kamu pergi tidak ada perubahan, Rena sudah siuman, dia cederanya sedikit setelah diobati diperbolehkan pulang.”
“Mas kenalkan papanya Rasya.” Arumi melirik Hendra yang diam terpaku menatap tajam Ardan dengan penuh cemburu, dan Ardan sangat merasakan aura cemburu tatapan yang mengintimidasi.
“Ardan.”
“Hendra.”
Mereka kembali terdiam.
“Mas Ardan pulang dulu yaa, pasti sangat lelah.” Arumi nggak tega melihat Ardan kelelahan.
“Nggak apa-apa, aku tunggu saja sampai operasi besok.”
“Mas jangan semuanya cape, kalau ada apa-apa siapa nanti yang bantu kalau semua kelelahan."
“Oke, aku tinggal dulu yaa, kamu baik-baik.” Ardan mengecup kepala Arumi lalu ngelus rambutnya dengan lembut.
Sengaja Ardan memperlihatkan kemesraan di depan mantan suami Arumi, Ardan nggak tenang meninggalkan Arumi berduaan semalaman dengan Hendra, Dia melihat tatapan Hendra padanya yang begitu memuja.
Melihat kemesraan itu Hendra menegang, tangannya mengepal dan sikap itu terbaca oleh Ardan.
“Ayo aku antar ke depan.” Arumi berdiri,
“Kang Hendra titip Rasya ya.”
Arumi dan Ardan keluar diikuti tatapan nanar Hendra.
“Aku cemburu kamu berduaan sama dia.” Ardan mengatupkan mulutnya dengan kencang.
“Jangan begitu, keadaannya sedang tidak normal Mas.”
“Aku mengerti Arumi, tapi bagaimana rasa cemburu kan normal adanya, kamu jangan terayu ya kalau dia minta balik.” Ardan merasa insecure, karena baru saja menyatakan cinta, jawaban Arumi belum jelas hubungannya belum kokoh, dia sedikit menyesal menyuruh Arumi menemui mantannya. Seharusnya dia nyari dulu ke semua PMI yang ada di seluruh jawa barat, Banten dan Jakarta.
Arumi mengangguk.
Setelah Ardan menjalankan mobilnya, Arumi pun balik lagi ke ruang rawat inap Rasya.
Sampai di ruang Rasya,
“Kang coba ke perawat apa darahnya bisa diambil sekarang biar besok sudah siap.” Arumi mengingatkan.
“Oh iya, kalau gitu aku ke ruangan perawat dulu nanyain.”
Hendra berat meninggalkan Arumi walau hanya sedetik, saat ini ingin terus berduaan tanpa ada orang lain.
Pagi-pagi jam tujuh perawat sibuk menyiapkan operasi untuk Rasya, darah sudah tersedia. Rasya pun dibawa ke ruang operasi, Hendra dan Arumi menunggu dengan gelisah.
“Arumi bagaimana Rasya ?” Ardan baru datang, belum juga duduk sudah bertanya.
Ardan menyodorkan teh panas di cup pada Arumi dan Hendra.
“Terima kasih.” Hendra menerima tehnya.
“Baru masuk ruang operasi.” Arumi menggeser duduknya memberi tempat Ardan duduk sebelahnya.
Sebrangnya Hendra tidak nyaman melihat mereka duduk berduaan sesak rasa didada melihat perhatian Ardan pada Arumi.
Tak lama rombongan Zaenab dan kedua orangtua Arumi sampai rumah sakit, lorong rumah sakit sangat terlihat sedikit sibuk yang hilir mudik orang-orang tanpa ada keceriaan di wajahnya.
“Arumiii…” Tiba-tiba terdengar jerit tertahan.
Arumi menoleh. Bergeming sesaat.
“Ibu…” Arumi memeluk ibunya tersedu.
“Kamu seharusnya bertahan ketika bapakmu mengusirmu, dia hanya emosi sesaat. Setelah kamu pergi bapak menyesali terus-menerus.”
***TBC