BAB 14

1422 Words
BAB 14 Arumi meregangkan pelukan pada ibunya, dan mendekati bapaknya, “Maafkan Arumi Pak.” “Bapak yang harus kamu maafkan,” Komar mengelus punggung anaknya yang ada dalam dekapan.Luruh air mata Komar mengingat perlakuan pada amaknya yang tidak memberi kesempatan untuk membela diri. “Ibu..” selepas dari pelukan bapaknya, Arumi memeluk mantan mertuanya. Zaenab langsung mendekap Aisya, “Maafkan Hendra yaa.” Arumi mengangguk. Rena baru saja datang membawa sarapan, “Aduh gimana ini aku hanya membawa sarapan untuk dua orang, untuk Arumi dan mas Ardan.” “Kenalkan ini Kakak Rena yang menemukan aku sedang pingsan di jalanan waktu pertama datang, dia akhirnya membawa ke rumahnya dan sampai sekarang aku bersama dia.” Arumi memperkenalkan Rena pada semua. “Terima kasih Rena telah menolong anakku.” Tati langsung menyambut Rena dan memeluknya. “Bu, bapak, kenalkan ini mas Ardan teman Arumi.” Ardan mengangguk dan menyalami semua yang baru datang. Zaenab mengalihkan pandangan pada anaknya, Hendra terlihat sedih. Mereka belum bisa banyak bicara karena masih cemas menghadapi operasi Rasya. Setelah menunggu selama lebih dari 2 jam Dokter keluar, “Keluarga Rasya.” Semua berdiri. “Saya ayahnya.” Hampir bersamaan Ardan dan Hendra berdiri. Ardan mengalah bagaimanapun tetap Hendra adalah ayah biologisnya. “Operasinya berjalan sesuai perkiraan tidak ada hal yang mengkhawatirkan.” “Alhamdulillah.” Semua berucap. Tak lama brankar Rasya keluar, didorong perawat menuju ruang rawat inap. Rasya masih belum sadar. Semua mengikuti dari belakang. Sepanjang perjalanan Ardan menggenggam tangan Arumi ingin mengukuhkan bahwa dirinya pacarnya walau risih dia tetap diam. Setelah sampai kamar dan orang tua duduk di sofa sedang yang lain disisi brankar karena pasien masih balita jadi brankar serasa lega untuk diduduki. “Arumi, maaf ya. Tadinya aku tidak tega mau ninggalin Rasya sendiri di rumah, karena gula putih habis mau beli ke warung depan. Tetapi ketika nyebrang ada yang bawa mobil ngebut nabrak. Katanya yang bawa mobil mabok sudah diamankan polisi.” Rena menceritakan awal kejadian tertabraknya, tidak enak hati gegara bawa Rasya jadi banyak yang direpotkan. “Namanya musibah Kak.” Arumi menepuk bahu Rena. “Apapun ada hikmahnya, dengan Rasya dapat musibah kami jadi mengetahui. Mau sampai kapan Arumi pergi dari kami kalau Rasya tidak kecelakaan ?” Komar menatap Arumi dalam. “Pak, Arumi nggak pulang pastinya takut sama Bapak.” Tati kesal sama suaminya. “Disini yang salah aku, terlalu ceroboh dan egois pada Arumi. Maafkan aku sungguh aku sangat menyesal. Aku menderita menanggung penyesalan selama ini. Sekali lagi aku sungguh minta maaf.” Hendra tertunduk. “Arumi maafkan Hendra ya.” Zaenab memegang tangan Arumi. “Arumi yang salah Bu nggak jujur dari awal pada kang Hendra.” Zaenab menggeleng. “Sudah nggak usah membahas yang sudah lewat, sekarang fokus dengan kesembuhan Rasya.” Komar memotong pembicaraan. “Kalian belum sarapan? Mau sarapan disini atau di kantin sekalian.” Ardan mengingatkan. “Di kantin saja, disini nanti berisik mengganggu Rasya.” Tati mengajak keluar. “Aku antar.” Rena ikut keluar. Diikuti semua, tinggal Ardan dan Arumi karena sudah dibawakan Rena. “Mas Ardan makasih banget ya sudah bantu Arumi mengurus Rasya di sini.” “Sudah tugasku ngurus anak pacarku.” Ardan tersenyum. “Aku kan belum menerimamu karena Ardita.” Arumi ikut tersenyum. “Tidak Arumi, aku butuh jawaban secepatnya. Aku melihat mantan suamimu masih berharap kembali padamu.” “Dia belum ngobrol apa-apa kok Mas.” “Tapi melihat dari tatapannya padamu, aku yakin dia masih berharap padamu.” Ardan sedikit cemas “Gimana Arumi , aku ingin jawabannya sekarang.” “Bagaimana dengan mantanmu ?” “Seharusnya dia menerima putus. Aku sangat terganggu dengan sikapnya, dia posesif berlebih, sangat mengganggu gerakku.” Ardan mengeluh. Hendra merasa gerah membayangkan Ardan berdua dengan Arumi, inginnya dia ikut di dalam menunggu biar nggak sarapan sekalipun tapi tidak enak sama yang lain kalau maksa tetap di ruangan rawat inap Rasya, pasti semua akan curiga. Hendra tergesa makannya, setelah selesai langsung ke ruang Rasya dirawat tidak menunggu yang lain selesai, mencari alasan ingin ke toilet. Ketika akan masuk mendengar Ardan dan Arumi ngobrol. “Arumi, ayolah hubungan kita jangan ngambang, aku ingin diperjelas. Apalagi sekarang ada mantan suamimu yang sepertinya berharap ingin kembali, aku merasa insecure.” Ardan menghiba. “Mas, kita saat ini sedang menghadapi Rasya, masa membahas masalah hubungan kita.” Arumi mengelak dengan halus. “Apa kamu akan menerima Hendra ?” Ardan sedikit kecewa dengan sikap Arumi. Arumi menggeleng, “Urusanku dengan kang Hendra sudah selesai Mas.” Hendra mematung sesaat, ceklek membuka pintu pura-pura tidak mendengar. Arumi pamit ke kamar mandi untuk mandi, tadi Rena membawakan keperluan mandi dan baju yang bersih. Hendra duduk di sebelah brankar Rasya masih belum sadar tangan nya mengelus elus tangan Rasya. Ardan dan Hendra berdiam tanpa kata, mereka merasa canggung. Arumi keluar dari kamar mandi berbarengan Rena dan rombongan masuk. “Kak Rena antar dulu orangtuaku ke rumah biar mereka mandi dan istirahat.” “Nanti saja kalau cucuku sudah sadar, baru kita ke rumah Arumi.” Zaenab enggan meninggalkan cucu nya yang baru sekarang diketahui keberadaannya. “Nanti kalau sadar, Rumi kasih tahu dan ibu sudah segar di rumah bisa mandi .” “Oh iya, mari ikut saya.” Rena mengajak para orang tua ke luar.” Mereka pun keluar. “Kang Hendra tidak ikut ?” Arumi melirik mantan suaminya. “Aku biar mandi disini, kan bawa baju ganti.” Hendra melirik Travel bag ukuran sedang. “Mas, sekarang kan sudah banyak yang nunggu, Mas kan banyak yang harus dikerjakan.” “Wah kamu ngusir Mas ya.” Ardan nggak suka, Hendra tersenyum senang. “Bukan begitu, jangan sampai karena Rasya urusan Mas terbengkalai.” Arumi nggak enak hati. “Ya nggak apa-apa, namanya juga nungguin anak sendiri.” Arumi dan Hendra terbelalak. Ardan hanya tertawa. “Nanti Mas ke sini lagi kalau urusannya sudah beres.” “Ya sudah ayo antar aku sampai lobby.” Ketika menuju lobby Ardan kembali meminta keputusan, “Arumi tolong aku butuh kepastian, aku ingin tenang ke depannya, apalagi ada Hendra, aku cemburu melihat kalian berdua satu ruangan. “iya Mas, aku terima Mas, tapi tolong jangan cepat-cepat melamar aku ingin semuanya baik-baik, aku kan belum mengenal keluarga Mas dan Aku tidak mau kalau Atdita menggangguku.” “iya Arumi makasih, aku senang sekali akhirnya ada kepastian aku sekarang tenang walaupun disisimu ada Hendra, terima kasih Arumi." Setelah mengantar ke lobby, Arumi kembali ke ruangan Rasya. Setelah saling diam beberapa saat. “Arumi, mari kita menikah kembali, semakin kesini aku semakin tersiksa dengan kesalahan yang aku buat. Kita bersatu kembali demi anak kita, aku menyesal. Aku tidak bisa melupakanmu Arumi.” Hendra menghiba. “Kalau karena Rasya, dia sudah terbiasa tanpa ayahnya.” Arumi dingin menjawab. “Kan lebih baik mempunyai keluarga utuh. Aku pun makin mencintaimu.” Hendra tidak mau menutupi perasaannya. Arumi memalingkan wajahnya ke luar jendela, dia berusaha menahan rasa, tidak mau tergoda lagi. “Arumi maafkan aku, walau sejuta kali maaf tidak akan menghapus sakit hatimu. Kembalilah aku mohon.” “Tidak bisa, aku baru menerima mas Ardan.” Arumi menolak Hendra. “Tolonglah pertimbangkan lagi Rum, aku selama ini tersiksa dengan keadaan ini.” Hendra membayangkan kalau tahu dia yang memperkosa pasti Arumi makin benci padanya. “Terus aku selama ini apa namanya ? Sama Kang aku pun tersiksa, aku merasakan bagaimana tidak mempunyai uang ketika hamil, untung Allah mengirim kak Rena padaku.” “Aku tahu kamu pasti menderita, makanya aku setiap bulan mengirim uang padamu karena aku takut kamu kenapa-kenapa, dan ketakutanku terbukti kamu hamil.” “Ooh jadi yang mengirim uang Akang ? tapi sebelum aku menggunakan uang itu, aku dijambret, aku tidak bisa mengurus ATM ku karena buku tabungan dan KTP ku tidak ada.” “Arrrggghhh.” Hendra mengguarkan rambutnya dengan kasar. “Kamu pasti menderita karena ulahku.” Hendra kesal pada diri sendiri, membayangkan Arumi sedang hamil dan melahirkan harus mencari uang sendiri. “Maafkan aku Arumi, maafkan aku.” Hendra ingin teriak minta pengampunan dari Arumi. “Mama… mama.. aus.” Rasya bergumam tetapi jelas. “Ya sayang sudah bangun, haus yaa.” Arumi berdiri langsung mendekati Nakas sebelah brankar dan memberikan minum pake sedotan. Hendra berdiri sebrang Arumi. “Ciapa Mama ?” Rasya menatap Hendra. “Ini Papamu sayang, baru bisa pulang.” “Papa Lasa ?” Rasya bertanya sama Hendra. “Iya sayang, ini papa Rasya.” Hendra tak tahan menitikan air mata. Dia tidak mendapatkan momen ketika anaknya berkembang. “Papa jangan pelgi lagi, Papa cayang Lasa ?” ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD