BAB 15

1448 Words
BAB 15 “Iya sayang, Papa nggak akan pergi lagi. Papa akan bersama Rasya.” Hendra bertekad akan merebut Arumi dari Ardan, toh mereka juga baru mulai pacaran. “Aku akan mengabari Ibu kalau Rasya sudah bangun.” Hendra langsung mengambil gawainya dari saku. “Nanti sore saja Kang, biar mereka istirahat.” Arumi berusaha berdamai menerima Hendra berada di sisi Rasya, bagaimanapun dia papanya, Arumi menceritakan perkembangan Rasya dari bayi. “Arumi, Rasya akan bahagia kalau kita bersatu lagi.” Hendra tidak akan lelah meminta maaf pada Arumi supaya bisa bersatu lagi. “Kang tolong, jangan membuat masalah, aku sudah menerima mas Ardan dan tidak ingin menyakitinya. Kalau Akang mau dekat dengan Rasya jangan ngungkit tentang kita.” Hendra berjanji mulai saat ini dia akan membayar kesalahannya dengan memperhatikan kebutuhan Rasya dan Arumi nggak peduli Aisya mau bareng dengan Ardan sekalipun. “Arumi minggu depan aku kembali ke Bandung, kalau Rasya sudah sehat, ikut ke Bandung urus KTP dan tabunganmu.” “Iya Kang, aku akan urus.” Di saat matahari mulai condong ke barat memancarkan lembayung, orang tua dan mantan mertua datang ke rumah sakit. “Arumi, pindahlah ke Bandung lagi. Biar Bapak dan Ibu bisa membantu mengurus Rasya, kita usaha di Bandung saja.” Komar ayah Arumi ingin mereka berkumpul lagi. Tati sedih ketika datang ke rumah petak kontrakan Arumi, sudah sempit hanya gang, sumpek pencahayaan kurang. Kondisi ini tidak baik untuk perkembangan Rasya. “Iya Arumi, Rasya pun bisa dekat dengan ayahnya.” Zaenab ikut mengompori. “Iya Bu, nanti aku fikirkan lagi.” Arumi nggak enak hati. “Tapi harus cepat mengambil keputusan. Ibu ingin kamu dan Hendra kembali bersatu, Dia sangat menderita dengan kepergianmu, sangat menyesalinya. Kan lebih baik lagi Rasya disisi ayah kandungnya." Zaenab berusaha mempengaruhi Arumi. Tak terasa sudah seminggu, Rasya sudah dibolehkan pulang, perkembangan kesehatannya cukup bagus. Hendra ikut mengantarkan ke rumah Arumi. Terenyuh melihat kontrakan Arumi yang sumpek. “Arumi, aku akan mengontrakan rumah yang agak besar di perumahan dekat sini.” “Nggak usah Kang,” Arumi tidak enak dengan perhatian Hendra. “Arumi tolong jangan membantah kalau untuk kebaikan Rasya.” Hendra sedih melihat rumah kumuh yang disewa Arumi. Sebelum pulang Hendra mencari sewaan rumah yang lebih layak buat anaknya. “Arumi, suka tidak suka kamu harus menerima biarkan aku membayar rasa bersalahku padamu.” “Biarlah Hendra, Cafeku bagian belakang ada beberapa kamar bisa ditempati Arumi.” Ardan ikut nimbrung, disaat mereka ada di waktu yang bersamaan di rumah petaknya Arumi. “Café terlalu bising dengan orang-orang, Ardan sudahlah jangan mempermasalahkan masalah rumah, saya ingin anak saya hidup layak.” Hendra ngotot inginnya dia yang bayar supaya leluasa datang setiap saat tidak merasa sungkan. Beberapa hari kemudian, Hendra memberikan secarik kertas yang tertulis alamat dan nomor telepon yang punya rumah serta seikat anak kunci. Rena terharu ada dua laki-laki yang memperebutkan adik angkatnya Arumi yang keduanya cukup mapan. Setelah beres, Hendra pamit untuk pulang ke Bandung. “Rasya, papa pulang dulu sayang.” Dipeluk anaknya dengan berat hati akan ditinggal. “Minggu depan aku ke sini lagi, dan kamu sudah pindah ke rumah tersebut.” Hendra dongkol harus ninggalin Arumi disaat Ardan ada disisinya. “Rena, titip Arumi dan Rasya, kalau ada apa-apa telpon saya jangan sungkan.” Hendra pun pamit pada semua. “Arumi, walau kita pacaran baru tapi kita kan sudah kenal lama. Bagaimana kalau pernikahan dipercepat saja.” Ardan merasa sudah mantap meminang Arumi. Rena dan Arumi terbelalak. “Mas, pernikahan bukan main-main.” Arumi kaget. “Kamu kira aku main-main ?” Ardan menjawab dengan tegas “Besok kita ketemu Mama.” Ardan nggak mau ditunda lagi, dengan adanya Hendra merasa posisi dia tidak aman, takut keluarga Arumi lebih memilih Hendra. “Mas…” Arumi bingung. “Aku tidak mau Hendra menjadi halangan buat kita.” Tak lama Ardan pamit, untuk menemui mamanya. Sepeninggal Ardan. “Arumi gimana rasanya diperebutkan dua cowok keren ?” “Yang ada pusing Kak.” Arumi mendelik pada Rena. = = = = = Ardan sampai di rumah mamanya, langsung masuk. “Ma, ada yang mau dibicarakan.” “Tentang putus dengan Ardita ?” Sita, ibunya Ardan tidak suka. “Ma urusan dengan Dita sudah selesai tiga bulan lalu. Aku nggak nyaman bareng dia Ma, dia sangat mengangguku.” Ardan berkali-kali mengeluh tentang Ardita, tapi dianggap angin lalu sama ibunya. “Namanya juga cinta Ardan, kamu harus terbiasa.” Sita nggak mau kalah. “Ma, suatu hubungan itu harus nyaman kedua belah pihak. Kalau salah satu sudah nggak nyaman hubungan itu sudah nggak sehat.” “Karena kamu punya pacar baru bukan ?” Sita mendelik. “Mama tahu ?” Ardan yakin Sita diberitahu oleh Ardita. “Apa yang mama tidak tahu tentang kamu, Ardan.” “Ma tolong restui hubunganku dengan Arumi.” “Tidak, kamu harus menikah dengan Ardita.” “Ma, disetujui atau tidak aku akan menikah dengan dia, aku sangat terganggu dengan sifat Ardita.” Ardan langsung pergi keluar tanpa pamit, kesal pada ibunya yang tidak mau mengerti bagaimana merepotkannya Ardita. Sita berpikir akan berpura-pura dulu menyetujuinya supaya anaknya tidak memberontak, Arumi yang akan dikerjai, biar Ardita yang mengganggunya. Sita mencari aman supaya tidak terlihat seperti mama yang buruk. Ardita sudah tahu alamat Arumi, malam-malam datang ke rumahnya. Tok… tok… tok… Rena membukanya. “Silahkan masuk mau bertemu dengan siapa ya ?” Rena baru melihat wanita yang sangat cantik. “Ini rumahnya Arumi, saya mau ketemu dia.” Ardita tidak mau masuk. Belum saja Rena berbalik Arumi keluar dari kamarnya. “Ardita ada apa ke sini ?” Arumi masih ingat dengan mantannya Ardan waktu di café ketemu saat Rasya tertabrak. “Aku ke sini hanya mau mengingatkan kamu untuk tidak dekat-dekat dengan Ardan, Kalau kamu melanggarnya kamu akan tahu akibatnya. Harusnya kamu tih bercermin siapa Ardan dan siapa dirimu. Kamu cantik nggak seberapa miskin iya. Lihat rumahmu jelek kumuh gini saja masih ngontrak lagi.” “Bukan urusan kamu, bukannya kamu sudah tidak ada urusan dengan mas Ardan. Harusnya kamu mikir ada apa dengan dirimu sampai aeorang Ardan memutuskanmu dan memilihku yang katamu miskin dan tidak cantik. Jangan hanya menyalahkan orang lain. Jadi disini yang harus bercermin itu kamu bukan aku." “Ingat baik-baik Arumi, sampai kapanpun dia akan berurusan denganku. Lihat namaku dan Ardan hampir sama karena memang kami dijodohkan dari kecil.” Ardita keukeuh. “Terserah kamu, yang jelas mas Ardan sudah jadi pacarku, kamu jangan mengganggu.” “Wanita miskin kamu bukan sainganku. Aku jentikan jari tanganku kamu akan terbuang ke sampah jadi jangan main-main dengan ku.’ Arumi nggak peduli, ditinggalnya Ardita. “Sialan wanita miskin sombong. Lihat saja kamu berani melawanku akan menyesal seumur hidupmu.” Ardita pun berlalu. Tiga hari kemudian, Arumi pun pindah ke rumah yang lebih layak, di belakang di buat dapur lebih luas untuk membuat kue. Arumi mengirim pesan pada Hendra. Arumi : Kang Hendra, aku sudah pindah. Arumi mengirim foto Rasya yang sedang bermain di ruang keluarga. Hendra : Akang seneng lihatnya, makasih ya sudah menerimanya. Hendra senang banget dikirim pesan Arumi setidaknya dia tidak menyimpan kebencian padanya. Ada sedikit respek untuk dirinya. Ardan ikut membantu kepindahan. “Arumi besok kita ke rumah ibuku ya, kalau dia kurang baik menerima mu jangan dimasukan hati, bagaimanapun ibu sudah dekat dengan Ardita, dia kecewa hubungan kami putus.” “Iya aku mengerti Mas.” Besoknya, Arumi dijemput Ardan untuk ketemu ibunya. “Ma, ini Arumi.” Ardan langsung mengenalkan pada ibunya sesampai di rumah ibunya. “Ohh yaa, Arumi silahkan duduk.” Sita menyambut biasa saja karena tidak mau berkonfrontasi dengan anaknya, lebih baik memperalat Ardita untuk memutuskan Ardan dan Arumi. Tak lama kemudian pembantu membawakan minum. “Silahkan diminum.” “Terima kasih.” Arumi dan Ardan pun minum. “Kalian sudah berapa lama pacaran ?” Sita memperlakukan Arumi biasa saja, Ardan menggernyitkan dahinya heran ibunya tidak memperlihatkan ketidaksukaan pada Arumi. “hampir dua minggu tante.” Arumi menjawab dengan sopan. “Ohh baru dua minggu.” Sita mengangguk anggukan kepala. “Tapi Ma, kenalnya sudah dua tahun.” Ardan menyela. “Jadi putusnya kamu dengan Ardita karena ada Arumi ?” “Tidak begitu Ma. Dari awal Ardan tidak nyaman pacaran dengan Ardita dan mencoba untuk bertahan karena keinginan Mama, tapi ternyata berat.” Ardan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Mamanya. “Ooh begitu.” Sita sedatar mungkin menghadapi anak dan calon menantu walau hati ingin marah. Setelah berbasa basi cukup lama, Arumi pun pamit. “Makasih Mama, sudah menerima Arumi.” Ardan berbisik dengan mata yang berbinar. Mamanya menerima Arumi dengan wajah poker face saja Ardan sudah senang. Yang terpenting tidak membuat Arumi sakit hati, itu sudah cukup buat Ardan. ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD