BAB 16

1513 Words
BAB 16 “Mas, sepertinya Mama tidak sepenuh hati menerimaku.” Arumi sedih. “Wajar saja Rum, kamu harus memakluminya kan masih baru kenal belum mengerti kamu.” Ardan menghiburnya, Arumi pun mengangguk. Jumat malam Hendra sudah ada di rumah Arumi, Rena membukakan pintu. “Kang, Arumi sedang pergi dengan mas Ardan.” Rena tidak enak mengatakannya. “Saya kesini untuk ketemu Rasya, bagaimana dia sudah sehat ?” “Alhamdulillah sungguh luar biasa.” ucap Rena sumringah. Hendra langsung ke kamarnya Rasya. “Jagoan Papa, gimana kabarnya ?” Hendra langsung memeluk Rasya. “Lasa edong Papa.” Tangan Rasya terulur, Hendra langsung menggendongnya, dibawa.ke ruang tengah sambil nonton berita, Hendra mengajak ngobrol Rasya. Tak lama datang Ardan dan Arumi. “Assalamualaikum.” Ardan dan Arumi sedikit lebih kencang sudah tahu di dalam ada Hendra karena mobilnya terparkir. “Waalaikum salam.” Hendra menyahut. Ardan nggak suka Hendra menginap di rumah Arumi tapi tidak bisa berkutik karena rumah disewakan Hendra, rasa sesal telat tidak mendahuluinya menyewakan sebuah rumah yang layak. Hendra berusaha tidak mengungkit-ungkit ingin kembali walau ada slogan sebelum janur kuning melengkung siapapun ada peluang untuk memiliki. Saat ini buatnya, yang terpenting bisa berdekatan dengan Rasya. Ini sudah hal yang luar biasa. “Maaf aku begitu egois ingin kembali padamu, aku harus punya keberanian untuk melupakanmu Arumi, walau itu akan sangat sulit, rasa bersalahku sudah mengakar sampai tulang sumsum.” Hendra mengungkapkan isi hatinya ketika Ardan baru saja keluar dari rumah. Arumi bergeming. Menggigit bibir bawahnya, bagaimanapun kesalahan bukan semata dari Hendra. Karena memang dirinya wajar diperlakukan seperti itu. “Kang, kamu tidak salah sama sekali berhentilah minta maaf, aku tidak enak terus-terusan mendengar maafmu, aku turut salah juga tidak jujur padamu.” “Andai kamu tahu yang menyebabkan kamu ditalak pun karena aku, aku tidak terbayang kamu akan membenciku.” Batin nya berkecamuk, dua kesalahan besarnya yang mengubah hidup Arumi dan itu karenanya. “Diperkosa, ditalak, terusir dari keluarga, hidup harus berjuang sendiri, melahirkan tanpa keluarga, semua itu berawal dariku. Penderitaanmu terlalu banyak Arumi.” Hendra bergumam hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Hendra sengaja mengontrak rumah yang ada paviliun nya biar tidak jadi fitnah kalau tidur di rumah Arumi, dan ada Rena juga. “Kang ayo makan malam dulu” Arumi duduk dengan Rena, dan Rasya duduk di stroller. “Kang mulai sekarang carilah penggantiku, Akang berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dariku.” Arumi menyendokan nasi untuk Hendra. “Aku saat ini fokus untuk kalian dulu selama kamu belum nikah, jangan takut aku tidak akan menganggumu. Aku hanya ingin membayar semua kesalahanku padamu walau aku tidak menikah seumur hidupku.” Hendra berujar pelan tapi jelas. “Ya ampuuun, so sweet sekali kang Hendra, betapa beruntung Arumi pernah mengenalmu.” Rena terpesona akan kebaikan Hendra. “Nggak gitu juga Ren, sakit hatinya Arumi tidak akan terbayar walau dengan seumur hidupku membantunya. Jadi jangan larang aku dekat dengan kalian, itu meringankan beban batinku.” “Besok aku akan mengajak Rasya keluar, apa kamu keberatan ikut keluar ?” dengan hati-hati Hendra bertanya. “Nanti aku tanyakan pada mas Ardan, apa dia mengijinkan aku pergi. Kalau mengijinkan ayo saja kita pergi. Rena juga ikut saja. Semua pesanan untuk lusa kita selesaikan lebih sore saja ya Ren.” Arumi melirik Rena. Orang yang mengenal Rena yang gempal bertatto banyak yang takut, padahal hatinya sungguh mulia. Awalnya Hendra kaget Arumi bisa dekat dengan orang seperti Rena tapi setelah dekat baru tahu hatinya tak seseram badannya. Jam sebelas siang semua bersiap. “Arumi, kamu sudah minta ijin pada Ardan ?” tanya Hendra. “Sudah Kang, mas Ardan sudah memberi ijin, demi kebahagiaan Rasya, mas Ardan tidak akan menghalangi kebersamaan kita.” “Syukur kalau gitu. Kamu beruntung berjodoh dengan dia yang begitu pengertian.” “Iya Kang, aku pun bersyukur.” Mereka berangkat ke mall berniat mengajak ke taman bermain untuk balita. Sebelumnya mereka mencari resto di mall untuk makan siang dulu. “Rena, Arumi, kalian pilih makan yang kalian mau.” Hendra menyerahkan pilihan pada para wanita. Arumi melirik Rena. “Aku mana tau makanan enak Rum, aku tau kue enak saja karena buatan kamu, mana berani makan ditempat seperti ini.” Rena terkekeh. “Kita makan di resto Jepang atau Korea saja, Rena kan belum pernah.” Saran Arumi. Mereka pun keliling nyari makan. Setelah nemu akhirnya mereka masuk dan pesan yang ada dalam menu. Arumi sudah tidak kaku lagi menghadapi mantan suami semalamnya karena Hendra berusaha membuat Arumi tidak merasa tertekan. “Arumi setelah makan kita ajak Rasya main dulu ya, kalau kamu dan Rena ada yang mau dibeli, beli saja sekalian beli baju buat Rasya, bulan ini aku dapat uang lebih.” “Kalau kamu mau belikan buat Rasya saja. Baju-bajunya sudah mulai kesempitan, dia cepet sekali membesarnya.” Arumi menjawil pipi gembul anaknya. Hendra bangga sekali sama Rasya yang begitu sehat. Arumi sangat mementingkan gizi buat anaknya. Betapa hidupnya akan sempurna andai Arumi kembali padanya, ada anak yang begitu lucu, Arumi yang baik. Allah belum mengijinkan dirinya harus bahagia. Jalan yang harus dilaluinya masih gelap belum terbayang arahnya kemana. Mereka berjalan tak disangka berpapasan dengan Ardita dan calon mertuanya. “Arumi.” Ardita dan Sita memandang dengan horor. “Hmmm… kenalkan ini Papa nya anakku.” Arumi sedikit gugup. “Kang ini bu Sita ibundanya mas Ardan.” Arumi mengenalkan pada Hendra, langsung sungkem pada calon mertuanya. Mereka salaman, Hendra mengajak Ardita salaman juga, diterima sewajarnya oleh wanita cantik tinggi semampai. “Ohhh jadi begini yaa, disaat tidak sedang bareng dengan Ardan, ada yang menggantinya.” Ardita menyindir. Sita hanya diam, sengaja tidak berkomentar berusaha tidak terlihat memusuhi di depan Arumi untuk menjaga nama baiknya dimata Ardan. “Maaf, Arumi pergi dengan saya, sepengetahuan dan seijin Ardan.” Hendra membela mantan istrinya. “Ngomong-ngomong kenapa kalian bercerai ?” Sita tanpa basa basi bertanya. “Ohh kami bercerai karena salah paham, kesalahan murni semuanya ada pada saya. Saya sangat menyesalinya” Hendra nggak enak dengan pertanyaan itu karena ini tempat umum. “Kenapa kalian tidak balik lagi saja, kan sudah ada anak. Lagian kalian sangat serasi ketika bersama seperti ini. Ardan pantasnya nikah dengan gadis , dia kan masih bujangan.” Sindir Ardita. “Jodoh itu ditangan Tuhan bukan karena gadis atau janda.” Rena nyolot maju ke depan Ardita. “Ingat cewek sialan kalau kamu tetap berhubungan dengan Ardan kamu akan membayarnya.” Ardita mengancam lalu menyeret tangan Sita untuk menjauh dari Arumi. “Maaf Kang, dia Ardita mantannya Ardan.” “Pantesan Ardan ninggalin, ternyata atittudenya nggak bagus, sudah putus saja masih marah begitu padamu. Bukan kamu kan yang menyebabkan dia putus kan ? aku khawatir saja kalau karena kamu takut dia dendam.” “Bukan, Kang tahu kan jadiannya aku dengan Ardan waktu Rasya di opnam, sedang putusnya sudah tiga bulan dr saat nyatain padaku dan aku sendiripun jarang sekali ketemu.” “syukurlah kalau gitu semoga dia mengerti.” Arumi mengangguk. “Aku ingin melintirin mulutnya dia.” Rena bersungut. “Sudahlah Kak, dia tidak menyakitiku kok.” “Awas saja kalau dia nyakitimu.” Rena mengepalkan jari tangannya. “Untung saja kita sudah makan, kalau belum pasti nggak mood untuk makan.” Sahut Arumi, Hendra dan Rena mengamini. Mereka pun menuju permainan anak-anak. “Kang Hendra, Arumi kalian duduk saja di sana, biar aku yang ngajak bermain Rasya.” Rena menunjuk kursi kosong di sudut sekitar arena bermain. “Nanti gantian saja ya, kalau Kakak cape, aku yang ganti.” Hendra memberikan beberapa lembar uang untuk membeli koin. Arumi dan Hendra berjalan menuju tempat duduk. “Arumi, betapa bahagianya aku kalau kebersamaan kita ini sebuah keluarga.” Hendra melirik Arumi yang duduk di sebelahnya. Arumi hanya bisa menunduk. “Bisakah kita bersama kembali ? mungkin Ardan akan mengerti Rum.” Hendra sangat berharap. “Saat ini aku tidak memikirkan diriku sendiri, ada yang mencintaiku dan menerima segala kekuranganku itu sudah cukup.” Walau bahasanya halus tapi itu cukup menohok hati Hendra. “Aku tahu, kesalahanku saat itu Rum, aku akan menyesalinya seumur hidupku.” Setelah sekian lama duduk. “Kang kita pulang, Rasya jangan terlalu cape.” Mereka pun mencari Rasya dan pulang. Diperjalanan Rasya tertidur di pangkuan Rena. Tak ada yang dibicarakan. = = = = = Ardita sangat kesal melihat Arumi. “Tante aku heran yaa, Arumi kan cantik nggak seberapa, yang ada miskin gitu, tapi kenapa yaa laki-laki pada suka, tadi liat mantan suaminya ganteng dan kelihatan bukan orang biasa-biasa saja.” “Nah itu yang harus kamu cari Dita, mungkin Arumi punya kelebihan yang membuat laki-laki jatuh hati.” Sita sebenernya mengingatkan Ardita harusnya introspeksi diri ketika banyak laki-laki yang mencampakan seorang wanita. “Laki-laki lihat wanita cantik juga pastinya tergoda, mungkin mantannya Arumi itu juga tergoda wanita cantik, makanya menceraikannya.” “Ardita, awalnya mungkin seorang laki-laki akan tertarik pada wanita adalah fisiknya, tapi ada hal lain yang membuat laki-laki betah dengan wanita, yaitu kenyamanan. Nyatanya kamu nyaris sempurna cantik badan ideal kaya, kenapa Ardan milih Aisya ? Itu yang harus kamu renungkan." Sita memberi pengertian. ***TBC karena mengganti nama Aisya menjadi Arumi kalau ada kesalahan mohon maaf
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD