BAB 17

1466 Words
BAB 17 “Belum tentu Tante, buktinya Arumi, dia tipe yang ngalah ke laki-laki kelihatannya, nyatanya suaminya menceraikannya.” Ardita tidak menyadari adanya istilah inner beauty yang bisa mengalahkan kecantikan fisik, inner beauty yang akan membuat laki-laki untuk tetap disisi seorang wanita, laki-laki yang akan merasa nyaman dan merasa kehilangan ketika pasangan tidak ada di sisinya. Yang membuat laki-laki memujanya. “Soal cerai Arumi biarin urusannya, sekarang kamu fokus memisahkan Ardan dan Arumi. Kelihatannya Ardan ingin cepat menikahi dia.” “Aku pacaran dengan Ardan 2 tahun boro-boro mengungkit pernikahan, dengan Arumi baru satu bulan akrab sudah ke jenjang serius, aku kan jadi iri. Makin sakit hati.” “Kenapa kamu tidak bisa mengajak Ardan menikah ketika lagi dekat, Arumi saja bisa membuat Ardan mengajak menikah.” “Iya tante kita harus menyusun rencana untuk menggagalkan perkawinan mereka.” “Itu urusanmu karena yang akan menikah kan kamu.” “Ya tante kalau aku kerja sendirian, kurang kuat, aku butuh tante juga yang membantuku.” Ardita menyusun teror untuk Arumi = = = “Bu kok aku sulit menerima pernikahan Arumi dan Ardan ya.” Hendra curhat pada Zaenab ibunya. “Kamu harus ikhlas.” “Bu apa aku berdosa andai minta Ardan melepaskan Arumi dan meminta Arumi kembali padaku.” “Husshhhh… kamu ngomong apa ? Hendra, itu tidak masuk akal.” Zaenab kaget. Zaenab memelototi anaknya yang sedang patah hati. “Ibu tidak mau kamu melakukan kesalahan ketiga kalinya. Nanti bukan hanya kehilangan Arumi, malah akan kehilangan Rasya. Itu makin menyakitkanmu nantinya.” Zaenab menghela napas, bingung dengan jalan fikiran anaknya. “Coba belajar berdamai dengan keadaan. Belajar melepas bayang-bayang Arumi, kalau menggenggamnya terus jadi akal sehatmu nggak jalan, tidak sadar diri sendiri yang menyebabkan beban masalahmu senndiri.” “Diotakmu hanya memikirkan kesalahan masa lalu, padahal Arumi sendiri sudah tidak memikirkannya.” “Kita saja tidak tahu, apa yang difikirkan Arumi.” Hendra ngeyel. “Biarkan Arumi bahagia dengan siapapun yang mencintainya. Biarkan Arumi membangun kebahagiannya sendiri. Biarkan hidup dengan pilihannya. Pasti masa lalu akan membelenggu kalian, Arumi menderita karena ulahmu, kamu menderita karena menyesali kelakuanmu. Tapi kalian harus berusaha rasional hidup tetap berlanjut, kamu akan hancur kalau terbelenggu masa lalu.” Zaenab kecewa dengan sikap Hendra. “Lepaskan belenggu masa lalumu, supaya Arumi bahagia tidak merasa terbebani dengan sikapmu.” “Aku tidak bisa melepaskan Arumi Bu. Tolonglah !” Hendra menghiba. “Kamu jangan keras kepala dengan alibi ingin membahagiakan Arumi sebenarnya kamu hanya ingin mengurangi beban penyesalanmu dengan memberikan kebahagiaan pada Arumi, tapi Arimi sendiri sudah punya .kebahagiaannya, jadi kebahagian mana yang akan kamu berikan padanya ?” Zaenab menjitak kepala anak kesayangan satu-satunya, siapa tahu kalau dijitak jadi sadar. Sebenarnya Zaenab mengerti keinginan anaknya. Hendra sangat menderita disaat mendapati dirinya menodai wanita, makin menderita ketika melakukan kesalahan kedua pada Arumi. “Kalau kamu ingin membayar kesalahan masa lalu, curahkan kasih sayang pada Rasya sepenuhnya.” “Tapi Bu, aku akan selalu melihat Arumi bareng Ardan, apa aku akan kuat menonton mereka berdua setiap bertemu Rasya ?” “Sudahlah Hendra, ibu cape bicara sama kamu.” = = = = “Ma, Ardan mau nikah bulan depan, Arumi tidak mau rame-rame, akad dulu saja, pestanya nggak terburu-buru.” Ardan menghadap Mamanya. “Ardan kenapa secepat itu, dulu kamu yang selalu mengulur-ulur pernikahan dengan Ardita. Bagaimana bisa dengan Arumi terburu gini ?” Sita nggak terima. Rencananya bisa gagal memisahkan mereka. “Ma kenapa harus ditunda kalau kita sudah merasa cocok. Lagian dengan ada mantan suami Arumi, Aku takut ada godaan padanya, dia terus-terusan ngajak Arumi kembali. Aku nggak bisa keadaan seperti ini Ma.” Ardan merasa insecure setiap Hendra menemui Rasya. “Nggak perlu secepat itulah Ar.” Sita berusaha negosiasi. “Terima atau tidak aku akan melaksanakan akad bulan depan. Ardan sudah yakin dengan Arumi. Aku memberitahu Mama, terserah Mama mau menghadiri pernikahanku atau tidak, itu pilihan Mama." Ardan sudah kesal menghadapi mamanya. Ardan sekalian pamit untuk pulang ke rumahnya. Sepulangnya Ardan, Sita langsung telpon Ardita. “Dita, barusan Ardan ngabarin mau nikah bulan depan.” “Kok bisa gitu sih Tan ?” Ardita nggak terima. “Tante hanya ngasih tahu kamu, bertindaklah secepatnya.” “Ok Tante, aku akan memikirkan apa yang harus aku lakukan.” Kepala Ardita langsung nyut-nyutan. Dia berfikir keras untuk menjebak Ardan. Ardita langsung nelpon Ardan. “Ya ada apa Dita ?” Ardan berusaha bersikap baik, telpon Dita sempat diblokir karena teror telpon dan pesan, tetapi setelah berjanji nggak akan neror lagi Ardan membukanya kembali. “Ardan benar kamu mau nikah dengan Arumi. Selamat yaa. Aku nyerah deh untuk mendapatkan kamu kembali.” Ardita mengubah strategi. “Syukurlah kamu sekarang mengerti, aku senang mendengarnya.” Ardan tersenyum. “Aku mau ngajak kamu minum-minum, anggap saja ucapan selamat untukmu.” Ardita mulai melancarkan akal busuknya. “Nggak bisa Dita, aku tidak mau keluar dengan wanita lain selain Arumi.” “Ayolah pasti Arumi ngerti kok, apa perlu aku yang minta ijin padanya ?” “Oke kalau gitu.” Ardan heran dengan sikap Ardita yang tiba-tiba baik, dia hapal banget dengan mantannya itu yang pantang mengalah untuk sesuatu yang dia inginkan. Ardan langsung kirim pesan ke Arumi untuk menghindari fitnah. Ardan : Yang, Dita ngajak minum katanya untuk ngucapin selamat padaku, boleh pergi ? Arumi : pergi saja Sayang, hanya hati-hati saja aku nggak yakin dia akan ikhlas melepasmu. Ardan : Makasih pengertianmu, aku akan hati hati. Love you so much. Arumi mengirim emot love tiga buah. Ardan tidak mau menyembunyikan apapun, karena dia pun menuntut Arumi jujur dalam segala hal, Ardan menginginkan pernikahan yang berkah tanpa kebohongan, segala sesuatunya dibicarakan. Dia pun bercermin dari pernikahan Arumi sebelumnya yang berakibat ketidakpercayaan, perpisahan terkadang bukan dari suatu kesalahan fatal, tetapi bisa juga dari kesalahpahaman, ketidakterbukaan antar pasangan. Segalanya sudah dibicarakan dengan Arumi untuk meminimalisir pergesekan kelak dalam perkawinan. Ardita melambaikan tangan dari jauh ketika melihat Ardan masuk ke pub. Ardan melihat sekeliling, terhenti pandangan ketika melihat lambaian tangan gadis cantik yang sangat dikenalnya, dan tempat dudukpun sangat hapal tempat mereka berdua menghabiskan waktu saat pacaran. Ardan berjalan mendekati Ardita. “Hai Ardan, kamu masih ingat tempat duduk favorit kita ?” Ardita tersenyum merekah. “Tentu saja Dita nggak mungkinlah lupa, aku kan tidak amnesia.” Ardan terkekeh. “Kamu amnesia tentang cinta kita.” Ardita tersenyum. “Sudahlah kita tidak perlu bernostalgia, malah seharusnya saling melupakan kenangan tentang kita.” Ardan menghentikan kekehannya. “Ceritakanlah rencana pernikahan kalian.” Ardita mulai serius. “Kita hanya menikah akad saja kok, Arumi tidak mau ada resepsi katanya malu sudah Janda.” “Ya kamu aneh lagi gadis banyak yang ngejar kamu malah milih janda punya anak lagi.” Ardita menyayangkan pilihan Ardan. “Cinta itu kita tidak tahu jatuhnya pada siapa. Saat ketemu pertama sama sekali aku tidak tergugah sedikitpun. Tiba-tiba saja aku kagum pada perjuangan hidupnya.” “Aku sudah pesankan minum kesukaanmu Ardan.” Ardita mengambilkan minum dinampan pelayan yang baru saja datang. “Makasih Dita, makasih traktirannya.” Ardan tersenyum misterius. Dita tersenyum penuh kemenangan. “Ayo kita bersulang.” Ardita menyodorkan gelasnya. Selesai minum Ardita pelan-pelan hilang ingatan. “Ardita kamu mau mencurangiku, kamu fikir aku nggak ngerti akal busukmu.” Ardan menggendong Ardita membawa ke hotel yang sudah dibooking Ardita. Ternyata Ardan sudah memata-matai Ardita ketika masuk Pub, menyuruh pelayan menyiapkan minuman yang diberi sesuatu yang membuat orang tidur. Mata-mata Ardan menyuruh pelayan suruhan Ardita menukar minumannya, jadi yang diberi sesuatu dikasihkan pada Ardita. Kalau sampai berani menentang, akan dilaporkan pada boss di pub supaya dipecat. Mau tidak mau pelayan nurut pada kemauan mata-mata Ardan walau sudah diberi uang lumayan besar oleh Ardita. Setelah Ardita tertidur, Ardan membuka gawai Ardita untuk melihat kamar hotel yang dibooking Ardita. Akhirnya Ardan nyuruh seseorang masuk kamar hotel untuk tidur dengan mantan pacarnya. Ardan langsung ke rumah Arumi dan menceritakan kejadian yang hampir saja merusak hidupnya. “Aku pun nggak yakin Ardita ikhlas, karena setiap ketemu selalu mengancamku.” Arumi kecewa dengan kelakuan Ardita yang hampir mencelakai calon suaminya. “Sayang, kalau kedepan ada hal-hal yang diluar masuk akal, jangan langsung memvonis, pasti Ardita akan terus membuat masalah, aku yakin dengan kejadian ini dia nggak akan berhenti disini.” Arumi mengangguk. “Aku takut kamu yang akan disakitinya, masih mending kalau melancarkan terornya padaku, kalau sampai kamu yang celaka aku akan merasa besalah banget.” Ardan memeluk Arumi erat, dia yakin Ardita akan terus menganggunya, sepertinya Ardita punya kelainan jiwa semacam psikopat walau kadarnya masih ringan tetapi tetap membahayakan. Ardan ingat harus nelpon ibunya. “Ma tolong kasih tahu Ardita sudahi teror nya jangan ganggu kami.” “Memang ada apa dengan Dita ?” Sita pura-pura tidak tahu. “Katakan saja sudahi jangan berulah lagi.” Ardan kesal. “Iya nanti Mama bilangin.” Sita tahu pasti kerjaan Ardita gagal. ***TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD