BAB 18
Ardita menggeliat, setengah sadar dia memicingkan matanya, terasa berbeda dengan kamarnya, ketika akan bangun dia kaget dirinya dalam keadaan telanjang, lalu melirik ke sebelahnya, ternyata ada laki-laki yang tidak dikenal sama-sama telanjang sedang tidur.
“Aaarrrgghhh.” Ardita menjerit, pelan-pelan kesadarannya datang, telah memberi obat tidur pada Ardan, tapi kenapa dirinya yang tidur kemana Ardan ?
“Hei bangun.. kenapa kamu ada disini ?” Hardik Ardita panik.
“Looh bukannya kamu yang ngajak kesini.” Laki-laki itu menggeliat pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Hei jawab yang benar.” Ardita mulai emosi.
“Kamu fikir aku jawab bohong, kita sudah menikmatinya, masa kamu nggak ingat.”
“Ini nggak mungkin, nggak mungkin. Sialan. Jahan*m.” Ardita teriak-teriak, mending laki-laki itu ganteng, yang disuruh Ardan untuk menemani tidurnya laki-laki yang jelek buntet perutnya buncit.
“Aduuh gimana kalau aku hamil, kurang ajar sekali kamu berani-beraninya tidur denganku.”
“Ya kalau hamil kan tinggal nikah saja, beruntung sekali aku mendapatkanmu yang cantik jelita.” Laki-laki itu menyeringai senang.
“Sialan Ardan, akan kubalas perlakuanmu ini, pasti laki-laki itu suruhanmu Ardan, bersiaplah aku akan membalasmu lebih menyakitkan. Aku akan membunuh diantara kalian salah satunya, aku nggak akan membunuh keduanya, supaya salah satu menderita, kalian telah bermain api denganku.” Ardita berpakaian dan langsung pergi keluar dari hotel yang telah dibookingnya sendiri.
Drrrttt… drrrt… pesan masuk pada gawai Ardita.
Ardan : Bagaimana permainanmu dengannya Ardita ?
Ardita : Aku akan membalasmu Ardan, jangan senang dulu.
Ardan : Sudahlah Dita, jangan berbuat busuk gitu lagi, ikhlaskan aku nggak akan membalas perbuatanmu bagaimanapun aku pernah menyayangimu. Laki-laki itu tidak berbuat macam-macam kok itu hanya shock therapy saja, biar kamu tahu perbuatanmu itu sudah terbaca.
Ardita : lihat saja nanti.
Ardita tidak mengenal apa itu mengalah, apapun akan dilakukan untuk segala keinginannya, walaupun akan banyak korban.
= = = =
Seperti biasa Hendra datang setiap jumat sore ke rumah Arumi. Terlihat di luar pagar mobil Ardan, dia berusaha untuk legowo walau tetap hati kecilnya nggak terima.
“Assalamualaikum.” Hendra membuka pintu depan.
“Waalaikum salam.” Ardan dan Arumi menjawab dari ruang tengah.
“Ayo masuk Hendra, ada yang mau diobrolkan denganmu.” Ardan memintanya untuk duduk.
Arumi ke belakang untuk mengambil minum untuk Hendra.
“Aku akan menikah bulan depan, kuharap kamu bisa menghadiri pernikahanku.” Ardan to the point.
“Insya Allah.” Hati Hendra perih sudah cape ingin istirahat, baru sampai malah disuguhi berita yang menyakitkan.
“Kalau begitu aku akan ke kamar Rasya dulu ya. Selamat semoga kalian bahagia.”
“Terima kasih,” balas Ardan .
Setelah Hendra masuk, Arumi protes pada Ardan, ”Orang baru duduk kamu sudah bicara soal kita. Kasihan masih cape.”
“Kamu masih cinta ya, sampai memperhatikan sebegitunya.” Ardan cemburu.
“Jangan gitu dong, aku sudah memilihmu, tapi bukan berarti seenaknya nyakitin orang lain.” Arumi cemberut.
“Iya… iya… Maaf aku hanya ingin secepatnya memberitahu.”
“Aku ngerti tapi kamu pun harus jaga perasaannya dia masih cape dari perjalanan.”
“Oke sayang.” Ardan memeluk Arumi, disaat Rasya dan Hendra keluar kamar.
“Jadi kamu seperti itu didepan Rasya setiap saat.” Hendra menatap horor.
Mereka berdua saling melepaskan.
“Nggak juga sih Dra.” Ardan sedikit bergeser. Hendra melangkah ke dapur sambil gendong Rasya, kesal melihat kemesraan mereka, “Kenapa harus dipertontonkan di depanku, apa emang sengaja mau manasin.” Batinnya.
Hendra mengambil air dingin dari kulkas berharap bisa mendinginkan hatinya yang panas.
Pagi-pagi, Ardita datang ke kediaman Arumi, tanpa sopan santun langsung teriak-teriak, Hendra yang keluar, “Ada apa kamu ke sini pake teriak-teriak segala. Pantesan Ardan meninggalkanmu ternyata akhlakmu minus.”
“Kau jangan ikut campur urusanku. Istrimu juga ninggalin kamu berarti akhlakmu minus juga. Kalian hebat yaa, mau menikah dengan Ardan masih serumah dengan laki-laki lain, ckckckck” Ardita menunjuk Hendra.
“Aneh kamu kenapa ikut campur urusan orang. Ngapain lagi ke sini sudah nggak ada urusan toh kamu putus sebelum Arumi masuk.” Bagaimanapun nyeseknya hubungan Ardan dengan Arumi, Hendra berusaha waras dan objektif tidak mau tersulut emosi. Liat kelakuan Ardita bikin enek gitu, masa dia seperti Dita, nggak banget deh.
“Kamu yang aneh kamu ingin balik lagi sama istrimu tapi diam saja istrimu mau menikah dengan orang lain tanpa memperjuangkan cintamu.” Ardita mendelik.
“Untuk apa berjuang kalau orangnya sudah menentukan pilihannya, kita harus berbesar hati menerima pilihan mereka.” Hendra pura-pura legowo sebenarnya hatinya sangat pedih.
“Dasar pecundang, nggak punya nyali, cinta itu harus diperjuangkan, bukan ditonton.” Ardita kesal coba kalau Hendra ikut berkolaborasi memperjuangkan cintanya tugas dia sedikit lebih ringan dan kemungkinan Arumi dan Ardan putus lebih besar, karena godaannya dari kedua belah pihak tidak seperti sekarang hanya dirinya yang berjuang, sedangkan Hendra sangat pasif.
“Aku masih waras Ardita, aku mencintainya, aku ingin dia bahagia. Kalau kamu mennyakiti Ardan, berarti kamu bukan mencintainya.” Hendra berusaha memberi pengertian.
“Memberikan kebahagiaan pada orang lain tetapi diri kita menderita tersakiti itu bukan cinta tapi bodoh, tol*l.” Ejek Ardita.
“Kamu salah mengartikan perjuangan Dita.” Hendra pusing dengan kelakuan Ardita yang sebenarnya cantik sekali, kalau orang belum tahu sifatnya pasti akan tergiur. Pertama lihat juga Hendra cukup kaget kenapa Ardan memilih Arumi dibanding Ardita, ternyata kesininya baru mengerti siapapun yang dekat dengan Ardita lama-lama nggak akan nyaman, tapi apapun yang dekat Arumi tidak perlu lama pasti akan menyukainya.
“Sudahlah Kang nggak usah diladeni berdebat dengan orang seperti itu buang-buang energi.” Arumi yang baru datang dari belanja sayur mengingatkan Hendra, dia merasa beruntung laki-laki yang dinikahinya dulu masih cukup waras tidak membabi buta seperti mantan dari pacarnya.
Ardita melengos.
“Ada apa kamu ke sini, sudah gagal mau jebak mas Ardan masih punya nyali datang kesini?” Arumi mencibir.
“Arumi, aku peringatkan yaa, kalau sampai kamu menikah dengan Ardan, seumur hidup kamu akan menyesalinya. Aku akan menjadi bayang-bayang kalian selamanya.” Ardita langsung pergi dengan langkah yang lebar.
“Ardita aku tidak merebut mas Ardan darimu, apalagi jadi yang pelakor dalam hidup kalian. Kenapa kamu nggak mau menerimanya sih.” Teriak Arumi karena Ardita mulai menjauh.
“Aku jadi takut dengan ulahnya. Kemarin mau menjebak mas Ardan di hotel, untungnya mas Ardan waspada.” Isak Arumi.
“Aku curiga dengan kelakuan Ardita apa dia psikopat, kamu harus extra hati-hati Arumi, orang seperti itu nggak akan peduli dirinya masuk neraka yang penting dia puas telah menyakiti orang yang dibencinya. Aku jadi khawatir juga.” Hendra mengingatkan.
Arumi mengangguk.
“Sudahlah biarin dia pusing-pusing sendiri dengan dendamnya.” Arumi nggak mau dipusingkan dengan kelakuan Ardita.
“Kamu hari ini nggak keluar dengan Ardan ?” Hendra mengakhiri ngobrol tentang Ardita, dibahas juga bikin tambah mumet.
“Aku mau ke Cafénya mas Ardan, aku titip Rasya dulu yaa.”
“Senin kamu ikut aku ke Bandung, kamu urus KTP mu yang hilang dan minta KK ke orangtuamu, masa mau nikah kamu tidak punya KTP.” Hendra mengingatkan.
“ya ampuun, iya ya sampai nggak kepikiran begitu. Iya nanti aku numpang ya ke Bandung sekalian ketemu bapak ngobrolin pernikahan.”
“Arumi kamu yakin menikah dengan Ardan. Apa kamu benar-benar mencintainya ?” Hendra menatap Arumi, berulang kali pertanyaan ini lontarkan.
“Buatku bukan soal cinta lagi Kang, tapi buatku ada laki-laki yang mencintaiku dengan ikhlas menerima segala kekuranganku itu sudah cukup.” Berkali-kali pula Arumi menekankan hal ini.
“Maafkan aku Arumi, aku hanya takut Ardita akan menyakitimu.” Hendra merasa tersindir.
Arumi baru menyadari ucapannya yang menyindir, padahal bukan niat menyindir, “Sudah jangan bahas soal itu, aku sudah mantap pilih dia.”
“kamu minta ijin saja pada Ardan kalau Senin ikut aku ke Bandung untuk ngurus KTP, ke bank dan segala urusan pernikahan bagaimanapun itu akan sangat dibutuhkan nanti.”
“Iya Kang, makasih telah mengingatkan.”
Walaupun sangat kecewa dengan pernikahan ini tapi Hendra berusaha menjadi teman yang baik untuk Arumi, karena dia ibu dari anaknya, kalau Arumi bahagia tentu akan menular pada Rasya.
Sesederhana itu Hendra berpikir.
= = = =
Ketika Arumi pamit pada Ardan untuk ke Bandung dengan berat hati diijinkan, karena saat ini Ardan pun sedang banyak kerjaan.
Mereka pun pergi ke Bandung membawa Rasya, soal orderan kue Rena sudah mahir tanpa ada Arumi, sengaja Arumi membiasakan Rena bekerja dengan timnya tanpa bantuan Arumi karena kalau Arumi menikah akan sangat berkurang untuk membantu di workshopnya itu.
“Kak Rena aku tinggal dulu yaa.” Arumi memeluk Rena.
“Hati-hati di jalan, aku titip salam buat orangtua kalian yaa jangan lupa pulangnya bawa tape cisangkuy yang pernah dibawakan kang Hendra, aku suka sekali.”
“Oke.” Arumi mengacungkan jempolnya.
Mereka pun berangkat.
“Kang, kenapa begitu memperhatikanku walau aku sudah memilih mas Ardan ?” Arumi nggak enak hati.
“Rumi sudah aku katakan aku akan membayar kesalahanku sampai kamu menikah, kalau kamu tidak menikah aku akan mendampingimu walau kita nggak menikah., jadi jangan pikirkan hal lain, biarkan aku mengurangi rasa bersalahku dengan cara ini, walaupun harus seumur hidupku aku akan lakoni. Walau kamu sudah menikah dengan Ardan kalau kamu kesulitan akan dengan senang hati aku membantumu.”
“Makasih kang Hendra, beruntung wanita yang akan mendapatkanmu, semoga kamu akan mendapatkan wanita yang lebih dariku.”
"Arumi andai kamu tahu apa yang aku lakukan padanmu." Batin Hendra.
***TBC