011 kembali ke rutinitas

1013 Words
11 Kita akan menjadi diri sendiri ketika sendirian; ____ "Al, makannya di habisin dulu." Alesha tersenyum simpul kearah Ayu "Alesha udah kenyang Bu. Al berangkat dulu ya." Ayu menatap buah hatinya sayu, ini hari ketiga setelah kepergian Wati. Ia yakin, Alesha belum merelakan kepergian sahabatnya itu. Bahkan setiap sore Alesha ke makan Wati hanya sekedar menabur bunga dan membacakan do'a baik untuk Wati. "Al, kamu bener udah bisa naik motor? Atau mau ibu bangunin bang Arka?" Tanya ayu berjalan mendekat kearah Alesha yang tengah memakai sepatunya. Wajah cantik tanpa polesan sedikit pun milik Alesha kini terlihat sedikit pucat "Gak perlu buk, Al bisa ko. Percaya sama Alesha." Ucap Alesha lalu bangkit dari duduknya. Menggendong ransel miliknya lalu menyalami sang ibu, ayu tersenyum lalu mencium kening Alesha penuh kasih sayang. Padahal ia masih mengenakan clemek. "Naik motornya hati-hati Al, gak usah ngebut masih pagi juga. Kalo udah sampe kabarin ibu ya." Alesha mengangguk lalu berjalan santai menuju motornya yang masih berada di dalam garasi. Setelah membuka pintu garasi, Alesha langsung menyalakan motor matic miliknya. Seperti yang dikatakan Ayu tadi, ini masih sedikit pagi dari biasanya Alesha berangkat. Jam di pergelangan tangan gadis itu masih menunjukkan pukul enam lewat, ia mengendarai sepeda motornya sedikit cepat karena ia akan mampir sebentar ke suatu tempat. Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, Alesha berhenti tepat di depan pintu masuk pemakaman. Ia memarkirkan sepeda motornya lalu menaruh helm yang ia pakai di spion motornya. Ia tersenyum kecil sembari memasuki area pemakaman. Alesha sudah tak lagi menangis, hanya saja ia masih belum benar-benar merelakan kepergian Wati. Tak jauh dari pintu masuk, Alesha menatap bati nisan dimana terukir jelas nama sahabatnya, lengkap dengan tanggal lahir dan meninggal gadis ceria itu. "Assalamualaikum sahabat gue, jangan bosen kalo gue kesini tiap hari ya." Ucap Alesha lalu duduk tepat di samping makam. "Ti, semalem hujan ya. Lo gak kedinginan kan? Ini hari Senin, gak nyangka Lo udah pergi tiga hari. Gue gak bakal bosen buat jengukin elo, gue gak bakal biarin Lo ngerasa kesepian." Gadis itu membuka ranselnya dimana ia membawa sebuah buket bunga asli yang ia beli semalam. "Hari ini pake buket dulu ya, besok gue bawain bunga tabur. Ti gue disini sehat, Adel juga sehat, semalem gue habis jalan sama dia. Dia masih sering nangis kalo inget sama elo." Alesha menghela nafasnya lalu menaruh buket bunga yang ia beli tepat di samping nisan "Maaf gue gak bisa lama-lama. Lo tenang aja, nama Lo akan terus gue sebut di segala doa yang gue ucapin tiap hari." Gadis yang memakai pita rambut berwarna hitam itu bangkit dari duduknya setelah mengelus beberapa kali batu nisan milik Wati. "Gue berangkat dulu ya Ti, nanti sore gue kesini lagi. Assalamualaikum sahabat gue. Tungguin gue ya, nanti kita main bareng lagi." Ucapnya lalu berjalan meninggalkan makam Wati. Alesha mulai meninggalkan pemakaman, jalanan nampak masih basah. Terlebih jalanan menuju makam masih belum di aspal. Tanpa Alesha sadar, dari kemarin Alain selalu mengikutinya dari jauh. Alain melihat semuanya, saat Alesha menangis sesenggukan di atas makan Wati, Saat Alesha selalu membeli bunga tabur di seorang ibu-ibu yang memang pedagang bunga tabur. Bahkan semalam ia juga mengikuti gadis itu saat pergi bersama Adel. Alesha memang jarang sekali keluar rumahnya jika tidak ada keperluan. Alain juga baru menyadari jika gadis bertubuh mungil itu tak sekuat yang di tampakkan. Selain terlahir dari keluarga harmonis, hidup Alesha juga jauh dari hal-hal negatif dan tentu saja selalu di kelilingi orang-orang baik. Bukan seperti dirinya yang terlahir dari keluarga yang porak poranda, selain memiliki dua ibu. Alain juga memiliki dua ayah sekaligus. Ya, ayah dan ibunya sudah bercerai dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Alain tak peduli dengan kehidupan kedua orang tuanya. Sungguh tidak peduli! Banyak hal negatif yang mengelilinginya, selain ketua geng motor, Alain juga sering keluar masih club' malam. Tapi jangan berfikir ia gila perempuan seperti ayahnya. Alain berani bersumpah ia tak berani bermain perempuan. Ia hanya memiliki satu masa lalu, itupun sudah ia lupakan. Setelah memastikan Alesha sampai gerbang SMA Garuda dengan selamat, Alain langsung bergegas pergi dengan kecepatan tinggi menggunakan motor kesayangannya. Hari Senin adalah hari yang merepotkan, Alain ikut upacara di hari Senin adalah hal yang sangat mustahil untuk di lihat. Alesha memarkirkan motornya di jejeran motor lainnya. Ia berjalan pelan menuju kelasnya. Banyak siswa siswi yang langsung berbisik saat melihat kedatangan Alesha. Gadis itu tak peduli, niatnya datang hanya untuk menuntut ilmu. Setelah berjalan lima menit lebih, Alesha sampai di dalam kelasnya. Tampak Adel sudah ada di tempatnya tengah menatap ponselnya tampak serius. Alesha duduk tepat di samping Adel "Al, Lo udah buka Ig gosip SMA Garuda?" Gadis berambut sebahu itu tampak bingung "Gue belum buka ig dari kemaren, kenapa Del?" Adel, menyerahkan ponselnya kearah Alesha "Ada yang upload vidio Lo lagi pelukan sama Alain. Gue tau ini bukan yang sebenernya, Lo gk perlu cerita sama gue karna gue tau siapa elo." Ucap Adel menatap Alesha lalu tersenyum tipis. Alesha membalas senyuman Adel "Makasih Del, gue gak peduli seberapa banyak yang ngomongin gue, seberapa banyak yang ngehina gua, yang penting bukan Lo, Del." Alesha sudah melihat vidio dirinya saat di peluk Alain, vidio yang di ambil saat dirinya berada di pantai. Hari dimana Wati meninggal, yang di tampilkan hanya saat dirinya tengah berpelukan tidak ada saat dirinya duduk di pantai sendirian sembari menangis sesenggukan. Jadi wajar jika banyak yang salah paham. "Del, Al, ayo ke lapangan bentar lagi upacara." Ucap Vanessa sembari meraih tangan Alesha. "Van, Lo udah liat vidio gue sam-" "Udah, gue gak terlalu percaya sama gosip. Lagian itu kehidupan pribadi Lo, Lo gak perlu jelasin apapun." Potong Vanessa. "Kalo kalian mau ke UKS gue ijinin, hari ini gue jaga UKS." Ucap Risma yang berdiri tepat di belakang Vanessa. Vanessa dan Risma memang cukup dekat, mereka bahkan satu bangku. "Gue gak sakit Ris, tapi makasih bantuan Lo." Ucap Alesha. Adel bangkit dari duduk"Gue juga gak selemah itu." Timpal Adel. Mereka berjalan meninggalkan kelas bersamaan dengan kedatangan Ferdi yang terlihat tertawa terbahak sembari memainkan ponselnya sambil berjalan. Tak ada yang peduli dengan cowok itu, selain enggan membuat masalah juga karena upacara sudah akan dimulai. ; See you next time Salman @sellaselly12
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD