10
Mencintai itu hal yang menyenangkan, jika pada orang yang tepat.
;
Jam yang melingkar di pergelangan tangan gadis berambut sebahu itu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Namun gadis itu masih setia duduk di tepi pantai, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Ia masih mengenakan kaos olahraga kelas, ia juga masih membawa ransel dan memakai sepatu miliknya.
Sedaritadi ponselnya tak henti berdering, ibu, kakak bahkan ayahnya yang tengah berada di luar kota terus menghubungi dirinya bergantian.
Setelah menghadiri pemakaman Wati, Alesha memilih menyendiri di tepi pantai cukup jauh dari rumahnya.
Ia memang di antar oleh Riko hanya sampai depan gang komplek, Alesha memilih memesan ojek online enggan pulang ke rumahnya.
Setidaknya sudah hampir tiga jam gadis itu hanya duduk di sana, membiarkan tubuhnya kedinginan diterpa angin malam.
Air matanya sudah mengering, sesekali ia kembali terisak dengan kedua lutut yang ia peluk.
Suasana pantai cukup tenang, mungkin karena angin cukup kencang malam ini.
Tanpa Alesha sadari, sedari ia pulang ke rumah Wati, Alain terus mengikuti dirinya.
Ia juga duduk di tepi pantai tak jauh dari Alesha duduk.
Setelah mendengar kabar kalau sahabat Alesha, Wati meninggal dunia. Alain langsung bergegas bahkan tak memperdulikan jika ia tengah berlomba.
Cowok itu menghela nafasnya saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
Ia bangkit dari duduknya sembari menenteng jaket jeans miliknya, menghampiri Alesha lalu duduk di sebelahnya.
"Gue tau, Lo ngikutin gue." Ucap Alesha tanpa kaget sedikitpun.
Gadis itu menatap kosong laut lepas. Alain tersenyum kecil, ia juga tahu jika gadis yang duduk di sampingnya itu tak sebodoh yang ia kira.
Alain mengangguk lalu meraih jari Alesha "Sorry gue udah ngambil cincin lo." Ucapnya lalu memasangkan cincin milik Alesha ke jari manis gadis itu.
Alesha enggan membalas Alain, gadis itu tetap menatap laut lepas "Gue emang gak bisa nenangin lo, gue juga gak punya kata-kata yang buat elo sedikit tenang. Maaf."
"Gue duduk di belakang lo, Lo puasin disini. Kalo mau balik gue siap anter Lo."
Alain bangkit dari duduknya, baru saja ia hendak melangkah. Alesha memegang jarinya erat "Makasih." Ucapnya lalu melepaskan genggamannya.
Tanpa Alain sadari, cowok itu tersenyum tipis lalu menaruh jaketnya ke punggung Alesha "Pake, gue gak mau liat Lo sakit." Ucapnya.
Melihat Alesha menangis saja sudah sangat membuatnya sesak, bagian jika ia melihat gadis bertubuh mungil itu sakit nanti.
Alesha tak mengucapkan sepatah katapun, gadis itu diam. Sesekali ia meneteskan air matanya namun langsung ia hapus dengan cepat.
Seperti yang di ucapkan Alain, cowok itu tak meninggalkan Alesha. Ia duduk beberapa meter di belakang gadis itu.
Membiarkan angin malam menerpa tubuhnya yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna abu.
Ia menatap punggung Alesha yang berbalut jaket miliknya yang nampak ke besaran. Sekitar setengah jam, Alain bangkit dari duduknya saat ia melihat Alesha berdiri.
Berjalan kecil kearahnya sembari membawa jaket miliknya, mata sembab dengan wajah dan rambut yang berantakan.
"Makasih." Ucap Alesha menyodorkan jaket milik Alain tepat di depan sang pemilik.
"Mau pulang?" Tanya Alain menerima jaket miliknya.
Alesha mengangguk kecil lalu berjalan melewati Alain begitu saja. Cowok itu menahan lengan Alesha "Gue anter."
"Gak perlu, gue bisa naik ojol."
"Udah malem, Lo cewek."
Alesha membalikkan badannya lalu melepaskan tangan Alain dari lengannya "Gue udah pesen ojol."
Alain tersenyum lalu memakaikan jaketnya ke tubuh Alesha "Kita tungguin sampe ojol yang di pesen Lo sampe, gue bayar. Lo pulang sama gue, pake." Ucapnya cepat sembari memakaikan jaketnya ke tubuh Alesha.
Gadis itu tampak lemas, wajahnya juga nampak pucat "Lo belum makan?"
"Bukan urusan Lo." Ucapnya sembari mencoba melepaskan jaket milik Alain dari tubuhnya.
"Pake Al, gue gak suka penolakan."
Alesha menatap Alain "Lo siapa gue?."
"Gue peduli sama Lo."
Alesha tersenyum "Gue gak suka. But, makasih."
Alain mengambil jaket miliknya yang di jatuhkan Alesha, mengibaskannya karena banyak pasir yang menempel lalu berjalan cepat mengejar Alesha.
"Ojol gue udah sampe, makasih udah peduli sama gue. Gue harap ini kali terakhir gue sama elo berinteraksi." Ucap Alesha.
Alain tak menjawab, cowok itu memilih berjalan cepat kearah seorang laki-laki paruh baya yang memakai jaket khas ojek online.
Memberinya beberapa lembar uang kertas senilai seratus ribuan dari dompetnya. Alesha yang melihat ojol yang ia pesan pergi langsung berlari kecil kearah Alain "Kak! Maksud Lo apa?!"
Alain memasukkan kembali dompetnya ke saku celana abu yang ia pakai "Gue gak suka penolakan Al, udah malem gue gak mau Lo kenapa-kenapa."
Alesha menatap Alain tak percaya "Lo siapa?!"
"Gue suka sama lo!"
Seperti kesambar petir Alesha melongo tak percaya "Gu-"
"Gue gak mau denger jawaban dari elo, gue suka sama lo! Udah, sekarang ikut gue. Gue anter sampe rumah."
Alain mencoba mamakaikan jaketnya kembali ke tubuh Alesha "Kak! Kita aja baru kenal belom seminggu, dan Lo bilang suka sama gue bahkan di hari temen gue meninggal! Lo kira masuk akal?!".
"Gue tau, ini bukan waktu yang tepat. Gue juga gak mau denger jawaban dari elo karna gue yakin Lo molak gue. "
"Terus ngapain Lo tanya?!"
"Biar Lo tau gue suka sama lo!"
"Gila Lo!"
"Iya gue gila, seperti yang Lo denger dari gosip gue cowok gila tanpa aturan. Lo gak perlu nerima gue sekarang." Jelas Alain.
Alesha menggelengkan kepalanya tak percaya "Gak, gue harap apa yang terjadi hari ini cuma mimpi!" Ucapnya tak percaya.
Alesha memejamkan matanya, kepalanya terasa sangat pening. Gadis itu menarik rambutnya, Alain yang melihatnya langsung menahan Alesha agar rambutnya tak terlalu di tarik.
"Al, stop!"
"Gak kak! Ini cuma mimpi! Bangunin gue sekarang, bangunin gue!" Ucapnya mulai histeris.
Alain tampak kualahan menenangkan Alesha, ia memeluknya erat. Mereka berdua juga menjadi objek pemandangan beberapa pengunjung yang kebanyakan anak muda.
Beberapa dari mereka juga merekamnya menggunakan kamera ponsel milik mereka.
"Alesha gue mohon berhenti!" Ucapnya tegas.
Alesha terdiam, ia memukul d**a bidang Alain "Gue masih belum bisa terima sahabat gue pulang, gue gak ikhlas harus lepasin dia. Gue belum buat dia bahagia!" Ucapnya.
Gadis itu menangis sesenggukan kembali, Alain memeluknya semakin erat, Alesha juga nampak semakin tenang.
Sekitar sepuluh menit, Alesha sudah tampak tenang. Alain memakaikan jaket miliknya ke tubuh gadis di depannya secara perlahan.
"Pulang, gue anter." Ucap Alain lalu menggendeng lengan Alesha lembut. Membawa gadis itu kearah motor miliknya.
Alain memakaikan helm full face miliknya ke Alesha. Gadis itu diam, Alain menaiki motornya lalu menurunkan pijakan kaki agar Alesha mudah untuk menaiki motornya yang memang cukup tinggi.
"Al, ayo." Perintah Alain menjulurkan lengannya agar menjadi tompangan Alesha naik.
Gadis itu menurut, ia duduk di boncengan motor Alain. Cowok itu mulai menyalakan motornya "Pegangan Al." Titahnya lembut.
Alesha langsung berpegangan ke pundak Alain, membut cowok itu terkekeh. Ia mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.
Membelah jalanan kota Jakarta tanpa mengenakan helm, mungkin beberapa kali ia terkena tilang elektronik. Alain tak peduli.
Ia memang hanya memiliki satu helm saja yang dipakai Alesha adalah helm satu-satunya milik Alain.
Alain juga hanya mengenakan kaos polos dengan jaket yang dipakai Alesha. Ternyata benar, cinta dapat membuat seseorang menjadi bodoh.
;
see you next part
Salman
sellaselly12