Tidur bukanlah sebuah peristirahatan, melainkan sebuah siksaan dangkal yang diisi oleh mimpi-mimpi buruk yang kabur. Bayangan Kwon Jin-hyuk yang menyeringai, gema tawa Nyonya Adiwijaya, dan ranjang rumah sakit Bima yang kosong berkelebat silih berganti di benaknya. Saskia terbangun bukan karena alarm, tetapi karena tubuhnya sendiri yang menolak untuk beristirahat lebih lama. Ia tersentak bangun dengan jantung berdebar kencang, keringat dingin membasahi tengkuknya. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 05:30 pagi. Di luar jendela, langit Jakarta yang tadinya hitam pekat kini mulai diwarnai sapuan nila dan jingga. Fajar. Sebuah awal yang baru bagi dunia, namun bagi Saskia, rasanya seperti tirai yang terbuka untuk babak penderitaan berikutnya. Kelelahan yang luar biasa masih membebani setiap se

