Fajar di Jakarta menyingsing dengan warna oranye dan ungu yang lembut, namun di dalam presidential suite Hotel Four Seasons, udaranya terasa dingin seperti musim dingin di Seoul. Kwon Jin-hyuk tidak tidur. Ia telah menghabiskan malamnya berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap kota yang tidak ia pedulikan, sementara pikirannya memutar ulang satu adegan berulang-ulang: konfrontasi di taman galeri. Ia melihatnya lagi dan lagi. Kilatan panik di mata Saskia saat pertama kali melihatnya. Transformasinya menjadi wanita yang dingin dan menantang. Tawa getirnya yang meremehkan. Dan yang paling membakar, kilatan rasa sakit yang murni saat ia menyinggung soal adiknya. Ia telah memenangkan pertarungan itu, merobek topeng ketenangan Saskia. Namun, rasa kemenangan itu terasa seperti abu di mulut

