Seorang gadis terus memandang sesosok lelaki yang duduk di bagian tengah, di atas panggung yang disediakan. Lelaki itu adalah Ustadz Rifki yang siap menggemakan sholawat. Setiap sebulan sekali, selalu dilakukan rutinan sholawat bersama di balai desa. Banyak para warga yang menghadiri. Apalagi para gadis, yang membuat Riska merasa risih. Karena mereka terus membicarakan calon suaminya, bukan, maksudnya Ustadz Rifki.
"Itu cewek ngapain ikut naik ke panggung?" tanya Riska yang entah tertuju pada siapa.
"Oh itu, Mbak Fatma. Dia pasangan vokalisnya Ustadz Rifki." jawab salah satu dari gadis yang duduk sejajar dengannya.
"ANJIR!!" teriak Riska refleks karena tak terima jika ada gadis lain yang menjadi pasangan dari lelaki yang dicintainya.
Sontak, semua orang mencari asal suara itu. Riska yang merasa telah membuat kegaduhan langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Tak lama, acara sholawat pun dimulai. Ustadz Rifki mulai menyenandungkan sholawat yang membuat kaum hawa berteriak hebat. Riska yang tak mengerti maksud dari syair-syair sholawat pun hanya bisa menatap tajam ke arah gadis-gadis yang berusaha mengambil perhatian lelaki pujaan hatinya.
Riska memutar bola matanya jengah saat melihat gadis yang duduk berjarak dengan Ustadz Rifki mulai mengangkat mikrofon. Ia yakin jika suara Fatma tak semerdu suaranya. Oleh karena itu, dirinya akan mulai mendengarkannya untuk membuktikan.
"Gilak! Suara kayak kaleng rombeng aja bangga!" cibirnya saat menangkap basah gadis bernama Fatma itu tersenyum pada lelaki yang telah dinyatakan sebagai calon suaminya oleh dirinya sendiri.
Riska mengeluarkan ponsel untuk memvideokan Ustadz Rifki yang tengah bersholawat. Senyumnya terus terpatri membayangkan bila setelah ini, dirinya akan dipuaskan dengan menonton video Ustadz Rifki. Seketika, ia teringat pada orang tuanya. Mungkin, sedikit memberikan kabar baik pada mereka itu tak akan jadi masalah.
Riska memutar balik kamera menghadap wajahnya. Kemudian mulai memvideokan dirinya, setelah itu akan beralih pada Ustadz Rifki.
"Assalamu'alaikum, Ma... Pa... Riska udah nemu lelaki yang sesuai dengan kriteria Mama. Nih, liat nih."
Setelah kamera ponselnya berhasil menyorot Ustadz Rifki, Riska pun mengakhiri videonya dan mengirim video tersebut kepada orang tuanya. Biarlah, ia membuat kehebohan karena penampilannya yang berubah menjadi lebih muslimah dari sebelumnya.
Riska menengok kanan-kiri bingung, karena tiba-tiba, semua orang berdiri dan menengadah tangannya. Ia pun mengikuti mereka dengan sorot mata yang tertuju pada Ustadz Rifki yang menitikkan air mata dari sudut matanya. Setelah itu, dirinya mulai terhanyut dalam suasana hingga membuat hatinya terketuk. Pertama kalinya ia menangis disebabkan mendengar lantunan sholawat. Apalagi saat mendengar suara Ustadz Rifki yang sedikit serak karena tangis, membuatnya semakin terbawa suasana.
"Hiks... Hiks..." Riska menyeka air matanya yang terus mendesak keluar. Ia tak mau ketahuan menangis di tempat umum. Sebab, dirinya tak ingin dikatakan cengeng.
Setelah mahalul qiyam selesai, mereka kembali duduk. Kemudian, Riska menengadah tangannya saat semua orang mengucapkan kata 'aamiin' setelah salah seorang pria paruh baya membaca do'a. Riska pikir, itu adalah akhir acara. Jujur saja, ia ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di pulau kapuk.
"Aamiin, aamiin yaa rabbal a'laamiin." Riska mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.
Mata Riska membelalak saat para pemuda membagikan sebuah nampan yang berisikan makanan pada beberapa orang. Ia duga, semua orang akan makan bersama. Riska merasa jijik, jika harus makan dalam satu nampan dengan beberapa orang. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak makan.
"Mereka kok keliatannya enak-enak aja makan makanannya ya?." gumam Riska yang mulai penasaran dengan makanan tersebut.
"Hey, Riska." teriak seseorang membuat Riska menoleh pada sumber teriakan itu berasal.
"Kakek?" Riska bangkit dari duduk bersilanya dan segera menghampiri Kakek yang duduk di deretan kursi yang berhadapan dengan panggung.
"Apa Kek?" tanyanya berdiri di depan Kakek.
Kakek menyuruh cucu perempuannya untuk duduk disebelahnya dan memintanya untuk makan bersamanya dalam nampan yang sama. Tanpa menolak, Riska langsung duduk di kursi kosong sebelah Kakeknya dan mulai menikmati makanan tersebut. Sesekali, ia tersenyum dan melambaikan tangan pada Ustadz Rifki yang tengah makan juga di teras balai desa. Tetapi, Ustadz Rifki sama sekali tak meladeninya.
"Kek, Riska udah kenyang. Kalo mau cuci tangan dimana?" tanya Riska sambil mencari-cari keberadaan Ustadz Rifki yang hilang dari pandangannya. Sudut bibirnya terangkat saat menemukan sosok lelaki yang berdiri di samping punggung, menunggu teman-temannya siap dan setelah itu akan pulang bersama.
"Revan! Sini!!" teriak Kakek pada cucu laki-lakinya yang tengah mengedarkan pandangan ke sekitar. Suasana seperti inilah yang Revan sukai. Di mana para warga masih bersemangat menuntut pahala untuk di akhirat kelak.
Revan berlari menuju Kakeknya. Ia meninggalkan teman-temannya yang masih mengemasi alat-alat Hadroh.
"Kenapa, Kek?"
"Antar Riska cuci tangan." suruh Kakek padanya.
Riska bangkit dari duduknya dan mengikuti kakak sepupunya menuju wastafel terdekat.
"Ris, gue bantu yang lain beberes ya?" Revan langsung mengibrit menuju panggung, padahal Riska belum mengiyakan.
Seketika, pandangan Riska teralih pada gadis yang tampak berbondong-bondong berjalan ke arah Ustad Rifki yang tengah membantu teman-temannya. Seolah mampu membaca keadaan, Riska pun berlari menghadang mereka semua. Ia menatap satu persatu wajah mereka. Salah satunya Fatma yang menatapnya sinis. Namun, dirinya tak mempermasalahkan hal itu.
"Gue mau tanya sama kalian." ujarnya sambil berkacak pinggang. Menatap keadaan sekitar yang mulai sepi. Ia meyakinkan untuk menjalankan rencana yang terlintas begitu saja di otak pintarnya.
Riska tersenyum menyeringai, membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri. Seperti para gadis yang mulai saling menggenggam tangan, karena tak kuasa menahan aura mencekam yang muncul disekitar tubuh gadis di depan mereka. Berbeda dengan Fatma yang berani menatap manik mata cokelatnya.
"Siapa aja dari kalian yang ayah ataupun ibunya kerja di perkebunan Kakek gue?" tanyanya sambil berjalan mengelilingi mereka.
"ANGKAT TANGANNYA!!" bentaknya membuat gadis-gadis itu terlonjak kaget. Mereka semua memegangi dadaa masing-masing, jantung mereka berdegup kencang akibat dari keterkejutan bentakan Riska.
Satu persatu, para gadis mulai mengangkat tangannya. Cukup banyak hingga membuat Riska tersenyum puas. Fatma tak termasuk dalam gadis yang mengangkat tangannya. Membuat Riska perlu waspada terhadapnya karena bisa saja gadis itu merebut Ustadz Rifki darinya.
"Gue mau lo semua jauhin Ustadz Rifki. Kalo nggak, gue bakal pecat orang tua kalian yang kerja di perkebunan Kakek gue." ancamnya membuat mereka menciut.
"Perkebunan itu punya Kakek Tomo, bukan punya kamu!" cetus Fatma yang tak mengenali lawan mainnya.
Riska tersenyum sinis padanya. Ia berjalan mendekati Fatma yang terlihat memundurkan langkah saat dirinya semakin mendekat. Jika merasa takut, tak perlu mencari masalah, bukan?!. Riska mengibaskan tangan pada bahu Fatma sebanyak tiga kali, lalu mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke tanah. Membuat para gadis berteriak saking terkejut akan perilakunya.
"Gue itu cucu cewek satu-satunya Kakek! Otomatis, semua keinginan gue bakal Kakek kabulin. Kalo masalah pecat orang tua kalian yang karena anaknya nggak mau nurutin kemauan gue, itu mah urusan gampang. Bisalah, gue buat drama dikit, sampe Kakek gue sendiri yang pecat mereka dengan sesuatu yang nggak pernah mereka lakuin."
Para gadis yang mereka orang tuanya berkerja di perkebunan Kakek, dengan bersusah payah menelan salivanya. Gadis dihadapan mereka terlalu mengerikan untuk dilawan. Oleh karena itu, mereka akan menurutinya. Berbeda dengan Fatma yang menatapnya nyalang. Hingga membuat Riska menemukan sebuah fakta, yaitu kita tak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan atau luarnya saja. Tetapi, lihatlah hatinya. Karena yang terlihat baik, belum tentu baik. Begitu juga, sebaliknya.