Revan menggelengkan kepalanya tak percaya. Sedangkan, Ustadz Rifki hanya memasang wajah datarnya. Gadis itu benar-benar tidak waras. Tadi saja, dia ingin melaksanakan sholat lagi. Saat dirinya memberikan buku yang bisa membantunya, dia malah meminta yang lain.
"Kamu nggak usah berharap lebih!" ketus Ustadz Rifki meraih tasnya dan hendak pergi, tetapi dicekal oleh Riska.
"Ustadz mau kemana?"
Ustadz Rifki menarik tangannya dan sedikit menjauhkan diri darinya. Setelah itu, melangkah meninggalkan Riska dan Revan. Gadis bergamis cokelat dengan jilbab senada itu memandang sendu kepergiannya.
"Bang, emang kalo gue ngarep nggak boleh ya? Padahal, gue udah jatuh cinta beneran sama Ustadz Rifki." tuturnya yang tak ditanggapi oleh Revan. Masalah percintaan itu terlalu rumit. Revan tak mau menyusahkan dirinya hanya demi mengurusi percintaan adik sepupunya.
Revan mengulurkan tangan padanya. "Cepetan pulang, katanya lo mau beli baju sama Kakek." ucapnya mengingat Riska yang hampir terlupa.
Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju rumah. Di setiap perjalanan, selalu saja ada orang-orang desa yang menyapa mereka. Tentu saja, karena mayoritas warga desa bekerja di perkebunan milik Kakek.
"Kakek! Ayo kita shopping, Kek!!" teriak Risya yang baru tiba dipekarangan rumah.
Revan menggelengkan kepalanya. Kelakuan adik sepupunya tak pernah berubah.
"Gue duluan." ucapnya meninggalkan Riska yang bersandar pada mobil kesayangannya.
Tak lama, Kakek keluar. Riska mengulum senyum menyambut kedatangannya. Ia berniat untuk menguras habis uang Kakek. Karena sudah lama sekali, ia tak dibelanjakan olehnya.
"Silahkan, Kek." Riska membukakan pintu mobil untuk Kakeknya.
"Kalau sudah ada maunya, ya seperti ini." cibir Kakek memandang cucunya yang berjalan menuju pintu mobil di seberang.
Riska mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak mungkin, jika dirinya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Itu sama saja, ia mendekatkan sang Kakek pada kematian.
"Kek, di sini ada mall?"
"Nggak ada."
"Lah, terus, kita belanja dimana?"
"Pasar."
Riska mendesah. Selama hidupnya, ia tak pernah menginjakkan kaki di pasar. Lalu sekarang? Kakek mengajak dirinya berbelanja di pasar. Riska sudah membayangkan kondisi pasar yang kotor dan kumuh, membuatnya enggan untuk menapakkan kakinya. Namun, saat tiba di pasar, ia terperangah. Karena kondisi pasar yang begitu bersih. Tak ada sampah-sampah yang berserakan. Riska terus menjelajah setiap pedagang yang ada di pasar. Mulai dari jajanan hingga pakaian. Ia menghabiskan waktu hingga sore berkeliling pasar. Padahal, Kakek sudah kelelahan. Namun, cucunya tetap menjelajahi setiap sudut pasar.
"Riska, sudah sore ini. Ayo pulang, Kakek sudah capek." keluh Kakek sembari mengelap peluh di pelipisnya.
"Iya Kek." Riska berjalan menuju parkiran pasar. Ia memasukkan belasan kantong kresek hitam yang dijinjingnya dan seorang pemuda yang membantu membawa belanjaannya ke dalam bagasi. Sedangkan Kakek, sudah masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih ya, Mas." ucap Riska, kemudian masuk ke dalam mobil.
Setibanya di rumah, Riska langsung masuk ke dalam kamar. Ia membongkar hasil belanjaannya hari ini. Entah, berapa rupiah yang Kakek keluarkan demi menuruti keinginan sang cucu. Namun, itu tak akan membuatnya bangkrut. Karena kekayaan yang dimiliki Kakek sangat melimpah ruah.
"Gila, ini gamis bagus-bagus banget!" serunya sambil melihat-lihat gamis yang dibelinya. Kemudian, beralih pada baju dan celana panjang, serta jilbab.
"Oke, mulai sekarang, gue bakal biasakan pake pakaian panjang kayak gini. Untuk menyamakan dengan gadis-gadis yang ada di sini. Jangan sampe Ustadz Rifki nggak lirik gue, karena pakaian pendek yang biasa gue pake."
Setelah puas melihat hasil belanjaannya, Riska pun membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, ia pun memilih gamis berwarna navy yang akan dikenakannya.
Tok tok tok
"Riska, lo mau ikut gue nggak?" tanya Revan yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kemana, Bang?" Riska membuka pintu kamarnya dan mendapati Revan yang telah siap dengan sarung, peci, dan baju kokonya. Terlihat begitu tampan, namun Ustadz Rifki jauh lebih tampan darinya.
"Sholawat bersama di balai desa."
"Ck, males ah, kalo sholawatan gitu." tolak Riska yang langsung menutup pintu kamarnya.
"Ada Rifki, Ris! Dia yang jadi vokalisnya." teriak Revan sengaja.
Riska kembali membuka pintu kamarnya dengan mata berbinar. Kemudian, ia menggandeng lengan kakak sepupunya. Dirinya tak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya. Ah, Riska terlalu yakin akan hal itu.
"Kalo Rifki aja cepet!" cibir Revan yang diabaikan olehnya.
"Revan, Riska, cepet jalannya! Keburu nggak dapet tempat nantinya!" teriak Kakek yang telah menunggu cucu-cucunya di jalan depan rumah.
"Tenang aja Kek, pasti panitia udah sediakan tempat untuk Kakek." jawab Revan santai.
Riska merasa merinding melihat sawah-sawah yang tampak gelap. Mereka melewati jalan yang di samping kanan dan kirinya adalah sawah. Pengalaman pertama Riska berjalan menembus gelapnya malam. Meskipun, ada cahaya lampu yang menerangi ditambah dengan sang rembulan, tetap saja Riska merasa takut.
"Bang, kok gue merinding ya? Kenapa sih, lewatnya jalan ditengah sawah gini. Serem tau nggak?" gerutu Riska.
Kakek mempercepat langkahnya mendekati kerumunan warga yang berada di depan mereka. Riska pun menyeret kakak sepupunya untuk menyusul. Sekarang, dirinya tak merasa takut lagi, karena ramainya orang. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di balai desa. Riska mengikuti Revan yang menghampiri anak-anak Hadroh.
"Assalamu'alaikum." ucap Revan, kemudian bersalaman dengan teman-temannya.
"Wa'alaikumussalam." jawab semuanya serempak.
Riska mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Senyumnya mengembang saat melihat sosok lelaki yang memakai kemeja putih dan sarung, disertai peci hitam berjalan mendekatinya. Ia kira, Ustadz Rifki akan datang padanya. Namun dugaannya salah, Ustadz Rifki malah menghampiri seorang gadis yang berada di belakangnya. Sakit? Tentu saja. Apalagi, saat lelaki yang dicintainya bercanda tawa dengan gadis itu, membuat hatinya terasa panas.
"Ustadz Rifki!" teriaknya membuat si empunya nama berbalik badan.
"Ustadz, kenapa samperin dia? Harusnya, Ustadz Rifki itu samperin Riska dulu! Karena Ustadz Rifki 'kan calon suaminya Riska, berarti Riska itu adalah calon istrinya Ustadz!!" teriaknya yang berhasil mengambil atensi orang-orang.
Seketika, suasana menjadi hening. Semuanya masih menerka-nerka kebenarannya. Lain halnya dengan Riska yang menatap tajam ke arah gadis bergamis hitam itu. Ia akui, gadis itu memang cantik. Namun, lebih cantik dirinya. Walaupun mereka tidak berduaan, tetap saja Riska merasa hatinya terbakar.
"Berhenti mengatakan, jika saya adalah calon suamimu!" tegasnya menatap dingin ke arah Riska.
"Kenapa Ustadz? Apa karena, Riska kurang cantik? Kurang baik? Kurang seksi? Kurang aduhai? Tapi, Riska itu cewek yang paling sempurna, Ustadz. Riska cantik, baik, pinter, suka nolong orang, tapi kadang-kadang sih. Terus juga, Riska itu kaya raya, jago masak, punya suara merdu, anak satu-satunya Papa Reno dan Mama Rini. Jadi kemungkinan besar, harta kekayaan mereka bakal diturunkan ke Riska, Ustadz. Terus juga ya—ah pokoknya Riska itu sempurna dalam segala hal!" celoteh Riska membuat semua orang melongo mendengarnya.
"Tapi, tidak dalam perihal agama."
Bukannya murung, Riska malah tersenyum lebar. Ia berjingkrak-jingkrak. "Berarti, Ustadz mengakui kesempurnaan Riska, dong?!" pekiknya kegirangan. Setelah itu, ia berlari untuk memeluknya di tengah keramaian di balai desa. Namun sebelum itu, Revan lebih dulu berdiri di depan sahabatnya. Sehingga Riska tidak memeluk Ustadz Rifki, melainkan kakak sepupunya sendiri. Riska tak menyadari, karena sewaktu ia berlari, dirinya menutup mata.
"Ya ampun... Ustadz Rifki... Riska cinta banget sama Ustadz! Em, tapi kok, bau parfum yang dipake Ustadz kayak Riska kenal ya?" ucapnya segera membuka matanya dan mendapati Revan yang tercengir kuda.
Refleks, Riska mendorong tubuhnya, hingga membuat kakak sepupunya terdorong ke belakang dengan gelak tawanya. Diam-diam, semua orang menahan tawa. Riska merasa jadi malu sendiri. Apalagi saat Ustadz Rifki menundukkan kepala untuk menutupi tawanya.
Riska berkacak pinggang dan menatap sengit ke arahnya. "BANG REVAN!! SINI, LO!! GARA-GARA LO, GUE GAGAL PELUK USTADZ RIFKI!!" teriaknya pada kakak sepupunya yang sudah berlari menghindari amukannya.