Ustadz Rifki terbatuk. Ia syok dengan pengakuan palsu darinya. Selama ini, semua orang mengetahui status jomblonya dan tiba-tiba gadis itu mengatakan bahwa ia adalah calon suaminya. Siapa yang akan percaya?!. Seketika, ia merasa jika gadis itu memang tidak waras. Benar sekali, ucapan Kakek Tomo waktu itu.
"Ustadz Rifki, kenapa mukanya merah gitu? Ustadz Rifki malu, yah?" tanya Riska mengerlingkan matanya ke arah Ustadz Rifki.
Apa Riska tak bisa membedakan ekspresi wajah yang tengah malu dan menahan amarah?. Ustadz Rifki memijit pelipisnya. Kehidupan damainya telah terganggu dengan kehadiran gadis kota itu. Sejenak, Ustadz Rifki berharap jika Riska tak akan tinggal lama di desa. Karena ia tak mau mendapat masalah karena ulahnya.
"Saya bukan calon suami kamu! Kamu jangan mengada-ngada!!" tegas Ustadz Rifki.
Riska mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya tidak akan menimbulkan suatu perkara nantinya. Karena ia melakukan hal tersebut demi mendapatkan Ustadz Rifki dan menjadikannya sebagai calon suami agar dapat menghindari perjodohan konyol itu. "Riska nggak mengada-ngada kok. Ustadz lupa ya, waktu pertama kali kita ketemu, Riska 'kan udah bilang, kalo Ustadz Rifki itu calon suami Riska." kekehnya.
Semua orang menatap mereka bingung. Riska mengatakan jika Ustadz Rifki adalah calon suaminya dan Ustadz Rifki menentangnya. Lalu, siapa yang benar, sebenarnya?. Para pemuda menatap ke arah Revan, seolah mereka meminta penjelasan. Tetapi diabaikan oleh kakak sepupu Riska dengan pura-pura tidak menyadarinya.
"Ini yang benernya, yang mana?" tanya Affan mewakili semuanya.
"Saya bukan calon suaminya, dan saya juga baru bertemunya pagi tadi." jelasnya membuat Riska memanyunkan bibir ranumnya. Tampak begitu menggemaskan. Tetapi, tidak bagi Ustadz Rifki yang sama sekali tak menyukainya.
Satu persatu dari mereka mulai berpamitan. Desas-desus mulai terdengar. Mereka menyayangkan sikap Ustadz Rifki yang menolaknya. Karena bagi mereka, keduanya sangatlah cocok. Namun, tidak bagi para kaum hawa yang bersyukur sebab Ustadz Rifki masih mempertahankan status jomblonya.
"Oh, jadi si Riska yang meluk kamu waktu pagi, Rif?" tanya Revan memastikan.
Ustadz Rifki tak menjawab. Ia mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan berpamitan.
"Saya duluan, assalamu'alaikum." pamitnya.
"Wa'alaikumussalam." jawab Revan memandang punggung sahabatnya yang semakin menjauh.
"Ris, lo beneran cinta sama Rifki?" tanyanya dengan tatapan ke depan. "Riska?" Revan menolah ke kanan dan kiri. Tetapi, Riska tidak ada. Ia gelagapan mencari keberadaan adik sepupunya yang tiba-tiba menghilang.
"Riska! Lo kemana, Ris?!!" teriaknya, tetapi tak ada sahutan.
Revan berlari ke arah Rifki yang tengah mengobrol bersama beberapa warga. Untungnya, lelaki itu belum jauh, jadi dirinya masih bisa bertanya keberadaan Riska padanya. Mungkin saja, sahabatnya mengetahui keberadaan gadis yang baru menginjakkan kaki di desa ini.
"Rifki, kamu liat Riska nggak?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal.
Ustadz Rifki menggeleng.
"Riska hilang!! Kamu bantu saya cari Riska!" ucapnya beranjak mencari adik sepupunya lagi.
Kini, Riska tengah memandang tanaman padi yang masih hijau. Rasanya begitu tentram. Ia sengaja pergi tanpa bilang-bilang. Biarlah, Abang sepupunya kelabakan mencarinya. Hatinya merasa tak terima saat Ustadz Rifki menolaknya dihadapan semua orang. Ia sadar, mereka belum genap satu hari berkenalan. Tetapi, tak bisakah, lelaki itu bersikap baik padanya?. Selama ini, Riska selalu dihargai oleh lelaki manapun karena kesempurnaan fisik dan lainnya. Namun, itu tak berlaku dihadapan Ustadz Rifki yang telah ditetapkannya sebagai kandidat calon suaminya.
"Selama enam minggu, gue harus dapetin Ustadz Rifki. Gue nggak mau nikah tanpa cinta." lirihnya.
Ustadz Rifki menepuk bahu sahabatnya dan menunjuk ke arah gadis yang tengah duduk menghadap ke arah sawah. Tanpa berkata, keduanya langsung berjalan mendekatinya. Revan bernapas lega, ia kira adik sepupunya diculik karena paras cantik yang dimilikinya. Karena di desa tak ada gadis yang sesempurna Riska.
Riska masih fokus memandangi sawah-sawah yang menghijau. Ia tak menyadari keberadaan dua lelaki yang sudah duduk berjarak di sebelah kirinya.
"Bisa nggak sih, kalo lo pergi, bilang dulu ke gue?! Dari tadi gue sama Rifki cari-cari, tau-taunya lo ada di sini!!" omel Revan yang tak ditanggapi olehnya.
Riska menoleh. Tatapannya langsung tertuju pada lelaki yang duduk bersila di samping kakak sepupunya. Ia menyunggingkan senyum. Dari samping saja, Ustadz Rifki tampak begitu tampan. Dirinya tak salah memilih lelaki itu sebagai calon suaminya. Ia telah bertekad untuk mengejar cintanya. Meski ditolak berkali-kali, ia tak akan menyerah. Jika bukan waktu yang menyuruhnya.
"Bang, lo tau nggak, selama ini gue nggak pernah sholat lagi." ujarnya penuh penyesalan. Ia sadar, jika selama ini telah meninggalkan Allah. Tetapi sekarang, dirinya ingin kembali dekat. Meski tak tahu, bagaimana caranya.
"Gue juga gitu, Ris. Tapi, setelah tinggal di desa, gue ngelakuin sholat dan ibadah lainnya lagi." Revan menepuk pundak adik sepupunya.
Riska menghela napas. Ia ingin kembali melaksanakan sholat. "Gue mau sholat lagi. Sejak gue di desa, hati gue jauh lebih terasa tenang." tuturnya menatap ke sekitar dengan tatapan penuh arti.
Revan merebahkan tubuhnya di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan. Mereka tidak merasakan panas karena bayangan pohon besar di sebelah kanan Riska. Sedangkan disebelah kirinya, ada Revan dan Ustadz Rifki.
"Ya tinggal sholat aja, apa susahnya." cetus Revan sambil meletakkan tangan dibawah kepalanya, sebagai bantalan.
Riska mendecak. Seandainya, ia bisa pun tak akan mencurahkan isi hatinya. Dengan harapan, jika Revan dapat membantunya.
"Masalahnya gue lupa tatacara sholat dan bacaannya!"
Revan segera bangkit dari rebahannya. Sungguh, ia tak percaya. Dulu, saat dirinya masih tinggal di kota, memang jarang sekali melaksanakan sholat. Tetapi, bukan berarti tak mengingatnya. Lain halnya dengan Riska yang sudah ambyar tentang agama.
"Astaghfirullahal adzim, Riska!! Lo parah banget, gila!! Terus, lo bisa baca Al-Qur'an nggak?" Revan berharap jika adik sepupunya masih bisa membaca Al-Qur'an. Meskipun, dirinya tak yakin. Pasalnya, kehidupan keluarga Riska amat jauh dari agama. Jadi, ia tak sepenuhnya menyalahkan adik sepupunya itu.
"Sayangnya, nggak. Gue mau belajar sholat lagi. Gue nggak mau masuk neraka. Gue mau berubah jadi lebih baik." ucap Riska yang sudah terisak.
Revan merengkuh tubuhnya yang bergetar hebat. Ia masih bersyukur, karena adik sepupunya memiliki keinginan untuk berubah lebih baik.
"Setiap orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik." tutur Ustadz Rifki meliriknya sekilas.
Riska menyeka air matanya. Ia menatap lamat-lamat wajah lelaki yang membuatnya ingin berubah. Melihat Ustadz Rifki yang begitu pandai agama, membuat hatinya terketuk. Jika dirinya menginginkan Ustadz Rifki sebagai calon suaminya, maka dirinya harus bisa sepertinya. Meskipun tidak seratus persen, setidaknya ia bisa menjadi gadis yang salihah.
"Ris, lo kok jadi cengeng sih?" ejek Revan yang pertama kali melihatnya menangis.
"Hwaaa... Bang Revan, gue nggak mau masuk neraka! Dosa gue banyak, Bang! Gue sering bohongin Mama dan Papa. Gue sering buat Mama marah-marah. Gue juga suka hambur-hamburin duit mereka!!" Tangis Riska pecah. Gadis itu tak berhenti meracau mengingat segala dosanya.
Revan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak tahu cara menenangkannya. Namun, sebelum orang-orang yang berada di sawah mendatangi mereka, Riska harus menghentikan tangisnya. Jangan sampai, orang-orang mengira ia dan Ustadz Rifki telah melakukan hal yang tidak-tidak.
"Ris, tenang. Istighfar. Astaghfirullahal adzim." ucap Revan menuntunnya untuk beristighfar, agar hatinya sedikit tenang. Riska pun menurut, perlahan tangisnya mereda.
Ustadz Rifki membuka resleting tasnya dan mengambil sebuah buku dari dalamnya. Sejenak, ia menatap buku ditangannya. Ada rasa ragu yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. Tetapi, dirinya bermaksud baik. Setelah berpikir, ia memutuskan untuk memberikan buku itu padanya.
Ustadz Rifki bangkit dari duduk dan berdiri tepat di belakang Riska. Ia menyodorkan sebuah buku. Buku yang akan membantu Riska untuk bisa melaksanakan sholat lagi, yang tak lain adalah buku tata cara sholat. Sebenarnya, buku itu adalah salah satu buku yang dipesan oleh muridnya. Tetapi, karena Riska membutuhkannya dan ia juga masih memilikinya lagi, jadi dirinya memutuskan untuk memberikan padanya saja.
"Buku apa?" tanya Riska menatap sekilas buku tersebut dan beralih menatap lelaki yang menundukkan pandangannya.
"Baca." ucapnya datar.
Riska menerima buku itu dan membaca judul yang terpampang di cover bukunya.
"Kenapa buku tata cara sholat, Ustadz? Kenapa, nggak kasih Riska BPKB aja?"
Pikiran Ustadz Rifki melayang-layang. Apakah, BPKB yang dimaksud Riska adalah BPKB motor?. Tetapi, bukankah seharusnya Riska membutuhkan buku tata cara sholat? Karena dirinya ingin bisa sholat, bukan?.
"Maksud kamu?" Ustadz Rifki menautkan kedua alisnya.
"BPKB yang Riska maksud itu, Buku Pernikahan Kita Berdua." jelas Riska cekikikan.