Selama perjalanan, Riska terus menunduk. Ia merasa malu. Untuk pertama kalinya, ia memakai pakaian syar'i seperti ini. Memang tidak mengurangi kecantikannya, justru malah menambah. Namun, tetap saja dirinya merasa malu. Apalagi saat ia mengedarkan pandangan ke sekitar, warga desa tak henti menatapnya.
"Bang, kok mereka pada liatin gue terus, sih? Gue tau, gue cantik, tapi biasa aja dong ya, liatin gue-nya!"
Tak!
Revan menyentil keningnya. Gadis itu terlalu percaya diri. "Nggak usah kepedean! Mereka itu liatin gue yang ganteng kayak artis Korea!" ucapnya sambil menyugar rambut.
"Hilih, ginting kiyik irtis kiri'i!" cibir Riska yang tak mau mengakui kegantengan kakak sepupunya.
Sejenak, Riska terhanyut dalam menikmati hamparan sawah yang menghijau. Sudah lama sekali, dirinya tidak mencuci mata dengan keindahan alam. Biasanya, ia mencuci mata dengan melihat para lelaki tampan disekitarnya. Tetapi tak masalah, di desa masih ada lelaki tampan, yaitu Ustadz Rifki yang telah menjadi tambatan hatinya. Riska pun tak menyangka bisa jatuh cinta pada pandangan pertama pada lelaki itu.
"Mas Revan, éta téh saha?" tanya seorang pria tani yang menghentikan kegiatan menanam padi saat melihat cucu juragan di desa berjalan dengan seorang gadis yang belum pernah dilihatnya selama ini. Dia duga, gadis itu adalah kekasih Revan—pemuda yang dikenal dengan keramahannya. Namun, dugaannya salah saat Revan menjawab jika Riska adalah cucu dari Kakek juga.
"Ini Riska, Kang. Cucunya Kakek, dia baru ke desa, Mang. Tadi pagi baru sampe." jelas Revan menunjuk adik sepupunya yang tersenyum kikuk.
"Aih, meni geulis pisan!" pujinya tersenyum cerah.
Riska hanya tersenyum. Karena tak mengerti arti dari kalimat yang dikatakannya.
"Kalau begitu, kita duluan ya, Kang. Udah ditunggu sama yang lain." pamit Revan sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Riska menatap jalan setapak di depannya. Tanpa banyak bertanya, ia mengikuti Revan dari belakang. Sebenarnya, Riska sudah merasa lelah. Sedari tadi mereka berjalan, namun tak kunjung sampai di tempat tujuan. Oleh karena itu, ia tetap mengikuti langkah kakak sepupunya dengan harapan, mereka bisa segera sampai..
Riska sedikit kesusahan melangkah, hingga membuat dirinya harus mengangkat gamisnya sedikit ke atas agar memudahkan langkahnya. Untungnya, ia memakai celana panjang. Jika tidak, mungkin kakinya akan terasa gatal-gatal karena rumput-rumput yang mulai meninggi. Sayup-sayup terdengar suara lelaki yang sepertinya tengah ceramah. Riska pun menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar lebih jelas lagi. Di detik berikutnya, ia mengulum senyum melihat lelaki yang sejak tadi menggandrungi pikirannya.
"Dari Anas RA, Nabi SAW bersabda: 'Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika sholatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya.'"
Riska mematung. Ia masih mencerna apa yang didengarnya. Sejenak, ia berpikir jika hal itu benar, maka dirinya akan celaka. Selama ini, ia tak pernah sholat. Bahkan, dirinya terlupa akan gerakan dan bacaannya. Riska tersadar, bahwa dirinya sudah sangat jauh dari agama. Seketika, ia miris terhadap dirinya sendiri.
"Riska! Cepetan!!" teriak Revan yang sudah sampai di depan sebuah gubug.
Riska mempercepat langkahnya. Matanya terus menelisik sekelompok gadis-gadis yang duduk di atas tikar sebelah kanan. Sedangkan, tikar sebelah kiri ditempati para pemuda. Semua pandangan teralih padanya. Namun, diabaikan oleh Riska yang tatapannya tertuju pada seorang lelaki yang berdiri di depan mereka semua.
"Kenapa? Kalian semua mau kenalan sama saya?" ketusnya menatap nyalang satu persatu gadis yang menatapnya penasaran.
Ustadz Rifki menggelengkan kepala. Kehadiran gadis itu pasti akan menghancurkan jam mengajarnya. Setiap hari kamis, dirinya akan memberi sedikit nasehat pada teman-teman sebayanya tentang agama. Dan, itu sudah berjalan sekitar satu tahun lamanya.
"Baiklah, kawan-kawan, cukup sampai di sini pertemuan kita. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." ucap Ustadz Rifki seraya melirik gadis yang terus mengamati teman-teman perempuannya.
Satu persatu dari mereka mulai bangkit dari duduknya dan berdiri di samping karpet yang masih terbentang. Ustadz Rifki berjalan menghampiri para sahabatnya yang terdiri dari lima orang yaitu, Revan, Asep, Affan, Galih, dan Fatur.
"Van, kenapa kamu lewat dari sawah? Itu lebih jauh dari jalan yang biasa kita lewati." tanya Ustadz Rifki yang bingung saat melihat kedatangan sahabatnya dan gadis itu dari arah sawah. Padahal, ada jalan pintas yang bisa membuat mereka tiba lebih cepat.
Amarah Riska memburu. Ia menatap tajam ke arah kakak sepupunya. Ternyata, Revan sengaja mengambil jalan yang jauh agar warga desa bisa mengenal cucu lain dari Kakeknya. Tetapi, Riska tak mempedulikannya. Ia tak masalah jika warga desa tak mengenal dirinya sebagai cucu orang yang terpandang di desa ini. Selama hidupnya, Riska jarang sekali berjalan kaki. Ia selalu menggunakan kendaraan beroda dua atau beroda empat kemanapun dirinya pergi. Namun, Revan telah memberikan kelelahan yang tak berarti baginya.
"BANG REVAN!!" teriaknya mengeluarkan aura mencekam di sekitarnya.
Semua orang beringsut mundur saat Riska mendekati kakak sepupunya yang berusaha sembunyi di balik tubuh sahabat-sahabatnya. Melihat Riska yang semakin mendekat, Revan pun segera berlari. Tetapi terlambat, Riska lebih dulu menarik kerah bajunya.
"Kalo ada jalan pintas, kenapa harus lewat jalan yang jauh, Bang Revan!! Lo tau nggak sih, betis gue pada sakit, gara-gara jalan sejauh itu! Udah lagi, segala lewat jalan setapak yang ada di sawah lagi!! Lo itu nggak mikir ya? Gue pake gamis gini, malah pilih jalan yang bikin gue tersiksa!" cerocos Rika membuat semua orang melongo melihatnya. Saat tiba, Riska tampak seperti gadis kalem. Tetapi sekarang, mereka melihat sisi lain dari gadis itu.
"Sorry, Ris. Gue itu cuma mau lo lebih menikmati keindahan desa ini, Ris."
Riska mengembuskan napas gusarnya. Ia benar-benar lelah. Dengan menahan rasa kesal, Riska berjalan menuju bale yang terbuat dari bambu dan duduk di atasnya. Semua orang memandangnya bingung. Karena gadis itu, tiba-tiba berubah menjadi diam.
"Apa?" ketus Riska pada mereka yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ustadz Rifki menatap datar gadis yang terus mendumel. Kemudian, menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan gadis kota itu, yang sangat cepat berubah moodnya.
"Mereka semua ingin berkenalan dengan kamu." ucap Ustadz Rifki tanpa menatapnya.
Riska menoleh. Ia mendecak sebal. Tak bisakah, lelaki itu menatapnya saat mengajak berbicara?.
"Ris, cepetan kenalin diri lo! Mereka udah pada penasaran." seru Revan yang tak mau jika nanti teman-temannya akan menyerbu dirinya untuk menanyakan tentang gadis yang datang bersamanya.
Riska mengangguk. Lalu berjalan mendekati Ustadz Rifki. Ia berdiri disebelahnya, namun lelaki itu malah bergeser ke samping kanan. Memberikan jarak diantara mereka berdua.
"Ustadz Rifki kenapa sih, geser ke sana? Ustadz Rifki mau membuat jarak diantara kita?"
Semua mata terbelalak. Segala terkaan mulai bermunculan di hati masing-masing. Ada yang menerka, gadis itu adalah calon istri dari ustadz muda yang selama ini banyak dikagumi oleh para gadis desa. Ada juga yang tidak menyukai keberadaannya, karena dapat menjadi saingan terberat dalam mendapatkan cinta sang ustadz. Selama ini, para gadis desa atau desa lain hanya bisa memendam perasaan. Tak seperti Riska yang terang-terangan. Rasa malu Riska sudah menghilangkan, demi mengejar cinta seorang Ustadz. Karena hanya Ustadz Rifki yang bisa menyelamatkannya dari perjodohan itu. Tidak, mungkin, jika ada lelaki yang sholeh, tampan, mapan, dan berbudi pekerti baik selain Ustadz Rifki, ia bisa memilih untuk siapa yang akan menjadi calon suaminya. Sejenak, Riska meneliti wajah tampannya dari samping. Rasa ingin memiliki lelaki itu semakin menjadi. Entah, cinta atau obsesi yang dirasakan oleh Riska. Yang pasti ia ingin Ustadz Rifki menjadi calon suaminya.
"Halo, nama saya Riska. Untuk kalian yang cowok, nggak boleh jatuh cinta sama Riska ya? Karena Riska udah punya calon suami." ucap Riska melirik Ustadz Rifki sekilas.
Pemuda-pemuda di sana mengeluarkan ekspresi kecewanya. Baru juga, mereka ingin melabuhkan hati, namun harus menabahkan hati setelah Riska mewanti-wanti.
Revan mengerjapkan matanya. Ia tak percaya, jika adik sepupunya telah memiliki calon suami. Bisa-bisa, dirinya keduluan nikah olehnya. Jangan sampai itu terjadi. Ia tak boleh dilangkahi oleh Riska.
"Siapa, Ris?" tanya Revan dengan sejuta rasa penasaran.
Riska tersenyum menyeringai. Ia menunjuk lelaki yang berdiri sedikit jauh darinya. "Ustadz Rifki." jawabnya dengan senyum lebar.
Uhhuukk... Uhhuukk...