Mulut Riska tak berhenti mengumpati kakak sepupunya. Ia kira, Revan sudah berubah menjadi lebih dewasa. Namun kenyataannya, tidak. Revan masih menyebalkan seperti dulu.
"Dasar orgil, lo, Bang!" umpat Riska kesekian kalinya.
"Assalamu'alaikum." ucap seseorang membuat tubuh Riska menegang. Suaranya sangat tidak asing baginya. Riska pun mendongak. Manik matanya bertemu dengan manik mata seorang lelaki tampan. Tetapi, lelaki itu segera memutuskan kontak mata dengannya.
"Ustadz Rifki!" pekik Riska kegirangan.
"Ustadz Rifki ngapain kesini? Mau ketemu Riska, ya?" tanyanya dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Ustadz Rifki memberikan sebuah undangan pernikahan padanya. Riska membelalak, ia harap undangan itu bukanlah undangan pernikahan lelaki dihadapannya.
"Undangan pernikahan? Bukan Ustadz Rifki 'kan yang nikah?"
"Baca." ucapnya dingin.
Riska pun membaca undangan tersebut. Untungnya, bukan Ustadz Rifki yang menikah. Melainkan anak kepala desa. Sekarang, ia bisa bernapas lega.
"Em... Ustadz Rifki, kenapa sih, Ustadz kok nunduk terus? Riska kurang cantik ya? Ata--"
"Rifki lagi jaga pandangan, Riska. Lo sih, pake pakaian pendek kek gitu. Bikin biang dosa aja, lo!!" sambar Revan yang muncul dengan sebuah buku di tangannya.
Riska mengenyitkan keningnya, bingung. Sejak kapan, dirinya menjadi biang dosa?. Padahal, ia tak melakukan apapun.
"Maksudnya, apa?" tanyanya dengan wajah polos. Maklum, wawasan agama yang dimiliki Riska itu sangat minim.
"Aelah, nih, bocah. Gitu aja nggak ngerti." gerutu Revan yang malas memberi penjelasan kepadanya.
"Emang Riska nggak ngerti. Makanya Riska nanya!"
Revan menghela napas. Kemudian, meletakkan buku di atas meja. Tangannya melepas sarung yang disampirkan di punggungnya. Lalu, dililitkan di pinggang Riska untuk menutupi kaki mulus adik sepupunya. Riska mengenakan hoodie dan celana pendek di atas lutut. Karena hoodie yang dipakainya kebesaran, itu membuat dirinya terlihat seperti tak memakai celana.
"Nih, semua bagian tubuh wanita itu adalah aurat dan wajib untuk ditutupi. Kecuali wajah dan telapak tangan." jelas Revan yang memiliki maksud agar adik sepupunya memakai pakaian yang sesuai dengan syariat agama Islam. "Dan juga, memakai jilbab. Karena rambut termasuk aurat." ucapnya lagi.
"Oh, ngerti. Jadi, maksudnya Riska harus pake gamis gitu, kayak Bi Arum?"
Revan mengangguk mantap.
"Nantinya, Riska keliatan kayak ibu-ibu, dong?"
"Ck, nantinya juga lo bakal jadi ibu-ibu, Ris! Nih, asal lo tau, karena lo yang nggak tutup aurat, itu bisa buat bokap lo masuk neraka."
"Tapi, akhlak Riska belum bener. Riska belum siap pake jilbab"
"Akhlak dan jilbab adalah sesuatu yang berbeda. Jika seseorang berbuat salah, yang disalahkan itu orangnya. Bukan jilbabnya. Lalu, jika semua wanita menunggu akhlaknya benar atau baik, maka tidak akan ada lagi wanita yang berjilbab dan menutup aurat. Dengan kita berhijrah, sedikit demi sedikit kita memperbaiki akhlak. In syaa allaah, jika kita istiqamah, maka Allah akan mempermudah." ujar Ustadz Rifki menyadarkan seorang gadis yang termenung.
Revan mengedikkan bahu melihat adik sepupunya yang terdiam. Sepertinya, ucapan dirinya dan Ustadz Rifki mulai memberi reaksi.
"Riska, gue sama Rifki pergi dulu. Assalamu'alaikum." pamit Revan melenggang pergi bersama sahabatnya.
"Tunggu!" teriak Riska memberhentikan langkah mereka.
"Ada apa lagi, Ris?" tanya Revan kesal. Karena jam belajarnya akan segera di mulai.
"Mau ikut." cicitnya.
"Nggak, nggak boleh. Gue nggak mau dapet dosa karena nantinya banyak pasang mata yang liat kemolekan tubuh lo, Ris!" tolak Revan mentah-mentah.
Riska mengerucutkan bibirnya. Ia ingin sekali ikut dengan mereka. Berdiam diri di rumah, hanya membuatnya jenuh.
"Riska bakal ganti baju, kok. Kalian tunggu di sini." ucap Riska berlari ke dalam rumah.
Setibanya di dalam, ia langsung mencari keberadaan Bi Arum.
"Bi Arum..." teriaknya.
"Ada di dapur. Kamu nggak usah teriak-teriak. Ganggu Kakek nonton tv aja!" omel Kakek menatapnya tajam.
Riska melangkah menuju dapur. Senyumnya mengembang melihat Bi Arum yang tengah mencuci piring. Seingatnya, Bi Arum tinggal di rumah belakang bersama keluarganya. Kakek memang orang yang baik. Ia sengaja membangun rumah untuk Bi Arum, agar tidak bolak-balik untuk bekerja di rumahnya.
"Bi Arum... Tolongin, Riska dong, Bi!" seru Riska membuat wanita paruh baya itu terperanjat.
"Astaghfirullah... Neng Riska!"
Riska tercengir watados.
"Bi Arum punya gamis atau baju yang nutup aurat nggak, Bi? Kalo punya, Riska mau pinjem." tuturnya.
Revan tak bisa tenang. Adik sepupunya begitu lama. Ia sudah telat mengikuti kegiatan belajar agamanya. Meskipun yang mengajar tengah bersamanya, tetap saja dirinya merasa tak enak dengan teman-teman lain yang sudah menunggu lama.
"Riska kemana sih? Ganti baju aja, lama bener!" dumelnya sambil jalan mondar-mandir.
Riska keluar kamar dengan balutan gamis dan jilbab syar'i milik anaknya Bi Arum. Ia sedikit kesusahan saat berjalan, karena dirinya pertama kali memakai pakaian seperti itu. Saat dirinya melewati Kakek, ia pura-pura tidak melihat. Namun, Kakek lebih dulu menyadari keberadaan cucunya yang telah berganti style pakaiannya.
"Riska!!" pekik Kakek terkejut.
Riska menampilkan deretan giginya. Ia bingung harus berkata apa. Dirinya terpaksa memakai pakaian syar'i agar bisa ikut pergi bersama Ustadz Rifki dan kakak sepupunya.
"Ini beneran, Riska? Cucu Kakek?"
Riska mengangguk dan saat itu juga, Kakek langsung memeluknya. Ia bisa melihat rasa bahagia yang terpancar dari wajah Kakeknya.
"Gue pake ginian aja, Kakek bahagianya minta ampun. Kayak orang dapat undian janda! Eh, emang ada ya, undian janda?!" ucap Riska di dalam hatinya.
"Udah belum, Kek? Mandangin wajah Riska yang cantik cetar membahana ini?" tanyanya risih karena Kakek terus memandanginya. Ia tahu, dirinya cantik.
"Udah-udah. Teruslah seperti ini, Ris. Kakek senang, kamu berpakaian syar'i." ucap Kakek sambil menepuk pundak cucu perempuannya.
Riska memutar bola matanya jengah. Kakeknya tak tahu apa, jika pakaian yang dikenakannya sekarang adalah milik anaknya Bi Arum. Mana mungkin, dirinya memiliki pakaian seperti itu.
"Ya beliin dong, Kek! Riska nggak punya pakaian kayak gini!!"
Kakek menjentikkan jarinya. Itu adalah hal mudah. Bahkan, ia mampu membeli toko pakaiannya sekalian.
"Nanti siang, kita beli."
"Oke. Kalo gitu, Riska mau pergi dulu. Riska ikut Bang Revan sama Ustadz Rifki, Kek!" pamitnya.
Kakek menyodorkan tangannya dan Riska segera menyalaminya. Setelah itu, keluar rumah menemui mereka yang sudah lama menunggu.
"Tadaaa...." teriak Riska dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ri-Riska? Ini, lo, Ris?"
Revan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adik sepupunya sangat berbeda jika memakai pakaian syar'i seperti itu. Ia melakukan hal sama seperti Kakek, yaitu memandang wajahnya dalam durasi yang cukup lama. Bahkan, dirinya sampai ternganga.
"Bang Revan!" Riska melambaikan tangan di depan wajahnya.
Revan terkesiap. Ia menelan salivanya. Kecantikan Riska lebih terpancar. Ia yakin, lelaki mana saja pasti akan jatuh hati padanya. Termasuk dirinya. Jika bukan saudara sepupu Riska, ia pasti sudah menyatakan perasaan padanya.
"Ustadz Rifki kok nggak ada, Bang?" tanya Riska mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari lelaki pujaan hatinya.
"Udah duluan, dia! Lo sih, kelamaan!" sahut Revan yang merasa kesal.
Riska mencebik. Ia mengaku, dirinya sangat lama karena memilih pakaian syar'i yang cocok untuknya. Riska mengenakan gamis berwarna cokelat dengan jilbab yang senada.
"Yuk berangkat, gue udah telat nih!"
Revan berjalan lebih dulu. Meninggalkan Riska yang masih mematung di teras rumah. Tersadar adik sepupunya tak mengikuti, Revan pun membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Riska! Ayo cepetan!!" teriaknya.
"Malu, Bang." cicit Riska membuat kakak sepupunya melepas tawa.
Revan berjalan menghampirinya, kemudian merangkul bahunya.
"Biasanya juga, lo itu malu-maluin, Ris." cibir Revan disela tawanya dan langsung mendapat tatapan tajam dari gadis yang ia rangkul.