Pertemuan Dengan Althan

1045 Words
Mas Evin menghela napas dalam dan menatapku tajam. “Ya untuk Althan. Kamu nggak mau menemuinya?” tanya Mas Evin. “Nggak, Mas. Kalau Althan memang sayang dan cinta sama Citya, pasti dia akan datang ke sini.” Aku menatap lurus ke depan. Lalu, napas kuhela dengan panjang. Ya, kalau Althan memang sayang sama aku, pasti dia akan datang menemuiku. Aku tak berharap lebih. Kalau saja memang Althan tak menemui dan mencariku ke sini, aku bisa apa? Mungkin memang Althan berjodoh dengan Beyza. Bukan denganku. Aku harus pasrah menerima semua ini. Ya, takdir memang tak pernah berpihak padaku. Aku sungguh membenci takdir. “Ya udah kalau itu keputusan kamu. Jangan sedih lagi, ya. Serahkan semua sama Yang Mahakuasa.” Mas Evin tersenyum padaku. “Halah, aku nggak percaya sama Yang diatas. Dia terlalu jahat smaa aku.”  Lalu, aku pun melangkah keluar sambil menarik tangan Mas Evin. “Eh mau ke mana? Main tarik-tarik aja,” protes Mas Evin. Aku meletakkan jari telunjuk di bibirku. Mas Evin mengernyit memandangku, seolah-olah minta penjelasan. “Sudah ikut aja. Nggak usah protes,” kataku. Tiba di halaman belakang aku pun berhenti. “Lihat, Mas. Cantik, kan, taman buatanku?” Aku berkata sambil tersenyum menunjukkan taman bunga. “Kamu yang buat taman ini?” tanya Mas Evin heran. Aku mengangguk. “Iya, Mas. Udah hampir satu bulan taman ini. Ya, semua kulakukan untuk mengisi kekosongan hariku, jadi, ya buat taman ini. Gimana, indah nggak?” tanyaku. Mas Evin mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum. Aku berjalan mengelilingi taman bunga yang tidak begitu luas ini. Ada berbagai macam jenis. Harum semerbak baunya, sehingga banyak kumbang yang beterbangan berlomba menghisap madunya. Ah, bunga yang indah dan cantik selalu diperebutkan oleh banyak kumbang. Ketika menikmati indahnya taman, tiba-tiba Mama datang tergesa. “Ada apa, Ma?” Kedua alisku bertaut. “Ada Althan. Dia ingin bertemu denganmu,” ucap Mama. Aku mengernyit heran. “Althan?” gumamku. Mama mengangguk. “Ayo sana temui.” Aku menatap Mas Evin meminta pendapat. Kulihat dia mengangguk. Aku pun melangkah menuju ruang tamu dan Mas Evin mengikuti. Hatiku berbunga-bunga rasanya ternyata Althan menemuiku. Namun, hatiku kembali hancur dan rasanya bumi berhenti berputar. Aku berdiri kaku saat melihat Althan datang tidak sendiri. Dia bersama Beyza. Untuk apa dia ke sini? Apa hanya ingin memberitahukan hari pernikahan mereka? Althan kenapa kamu setega itu? Aku hendak kembali ke belakang, tapi Mas Evin menghadang. Menyuruhku untuk menemui Althan. “Mau ke mana? Temui dulu Althan!” perintah Mas Evin. “Nggak, Mas. Dia datang bersama Beyza. Sudah pasti dia mau memberitahukan hari pernikahannya.” Aku berkata sambil menahan tangis. Mas Evin menggeleng. “Temui dulu. Jangan langsung suudzon, nggak baik. Ayo, Mas temani.” Mas Evin menarikku. Dengan terpaksa aku pun menuju ruang tamu untuk menemui Althan. Padahal aku malas sekali bertemu dengan Althan dan Beyza. Aku sangat membenci mereka. Ketika aku sudah di ruang tamu, Althan langsung mendongak memandangku. Dia tersenyum. Aku muak melihat wajahnya. Kenapa harus datang bersama Beyza? Apa belum cukup puas menyakiti hatiku? Ah … aku benci semua ini! Althan tersenyum melihatku datang. Dia seolah-olah tidak merasa bersalah. Semudah itukah dia melupakanku? Sedang di sini aku tersiksa memikirkannya. “Citya … aku kangen banget sama kamu,” ucap Althan ketika aku sudah di depannya. Masih bilang kangen dan sok manis di depanku? Tidak sadarkah dia bahwa telah menyakitiku? “Mau apa kamu ke sini? Mau ngasih tahu hari pernikahan kalian?” Aku menatapnya sinis. “Citya … jangan gitu, dong. Biarkan Althan bicara dulu.” Mas Evin menasehatiku. Aku memandang wajah Mas Evin. “Apanya lagi sih Mas yang perlu dibicarakan? Sudah jelas, kan, dia datang ke sini bersama Beyza! Sudah jelas tujuannya, kan?!” Aku geram dan berlari menuju kamar. Terdengar Althan berteriak memanggil. “Citya! Citya! Dengarkan penjelasanku dulu.” Aku tak menghiraukan teriakan Althan. Terdengar samar-samar suara Mas Evin. “Kamu tenang dulu, biar aku bujuk Citya. Dia lagi emosi. Tunggu di sini bentar, ya.” Aku tak peduli lagi dengan teriakan Mas Evin dan Althan. Aku sangat benci dengan situasi ini. Apalagi tadi melihat wajah Beyza yang sama sekali tak merasa berdosa. Dia tersenyum ketika melihatku. Aku muak dengan senyum sok manis Beyza. Setiba di kamar, aku langsung mengunci pintu dan membenamkan kepala di bantal. Aku menangis tergugu. Lalu, tak lama kemudian, terdengar Mas Evin mengetuk pintu kamar. “Citya! Citya! Buka pintunya. Mas mau masuk!” panggil Mas Evin. “Nggak! Kalau Mas mau membela Althan, sebaiknya pergi dari sini. Citya mau sendiri!” teriakku. “Citya. Jangan keras kepala, deh. Buka pintunya! Kalau nggak dibuka, Mas dobrak pintunya.” Mas Evin mengancamku. Terpaksa aku membuka pintu dengan malas. “Citya … temui Althan. Jangan emosi dulu, beri kesempatan dia untuk menjelaskan semuanya. Kenapa dan apa mau dia datang ke sini.” Mas Evin menasehatiku. “Penjelasan apalagi Mas? Semua sudah jelas! Dia datang bersama Beyza dan tentunya ingin memberi tahu tanggal pernikahan mereka!” teriakku. “Hey, jangan langsung menghakimi kayak gitu. Nggak baik tahu. Udah sana temui Althan dulu!” perintah Mas Evin. Aku masih bergeming. Mas Evin terus menenangkanku. Mencoba membuatku mengerti. “Sudah jangan nangis lagi. Semoga semua baik-baik saja. Serahkan semua sama Yang Mahakuasa.” Mas Evin mengusap kepalaku lembut. Ah, Mas Evin ... dia begitu tulus dan perhatian sama aku. Padahal aku sudah sering menyakitinya. “Kenapa Mas peduli sama Citya? Padahal sudah sering Citya sakiti.” Aku mendongak menatap Mas Evin. Mas Evin menatap lurus ke depan, memandang keluar jendela. “Karena Mas sayang sama kamu, Mas nggak mau melihat kamu tersiksa seperti ini.” Lagi-lagi kata-kata Mas Evin membuatku terharu. “Kenapa nggak biarkan aja hubungan Citya dan Althan berantakan?” tanyaku. “Cinta itu nggak harus memiliki, kan? Melihat orang yang dicinta bahagia itu sudah cukup. Mas nggak mau jadi orang yang egois.” Mas Evin tersenyum. “Ayo temui Althan,” lanjutnya. Aku mengangguk. “Tapi ... Citya ragu Mas. Citya takut sakit hati denger kenyataan yang akan Althan ungkap,” ucapku. “Serahkan semua sama Allah. Apa pun yang terjadi kamu harus menerimanya.” Mas Evin memegang kedua bahuku. Aku pun melangkah dengan mantap menuju ruang tamu menemui Althan. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku benar-benar tidak sanggup mendengar kenyataan pahit yang bakal terjadi. Ah, kenapa semua ini harus terjadi padaku? *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD