Kegalauan Acitya

1079 Words
Esok paginya Mas Evin dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya sudah stabil dan semakin baik. Alhamdulillah ya Allah, Engkau kabulkan doa-doa panjangku. Aku menyuruh mama untuk pulang dan istirahat, kasihan mama pasti sangat capek. Aku tetap di sini menjaga Mas Evin. Alhamdulillah kondisi Mas Evin semakin hari semakin baik dan perlahan segala peralatan yang ada di kepalanya dilepas satu persatu. Tepat satu minggu selang infus yang menancap di tangannya sudah dilepas. Alhamdulillah jadi bisa bergerak dengan bebas. Kami melalui hari dengan santai, di warnai canda tawa walau terkadang Mas Evin masih suka berteriak pusing atau sakit. Namun, menurut dokter itu hal yang wajar pasca operasi. Apalagi operasi di kepala yang merupakan daerah yang vital. “Citya ….” Mas Evin memanggil dengan pelan. “Iya Mas, ada apa? Butuh sesuatu?” tanyaku. Mas Evin tersenyum menatapku. “Terima kasih, ya, kamu sudah merawat dan menjagaku selama di sini.” “Udah kewajiban aku merawat Mas. Jangan banyak bicara dulu. Istirahat yang cukup, biar cepat sembuh dan segera pulang. Kangen rumah, kan pastinya?” Aku mengajak bercanda Mas Evin. Mas Evin mengangguk dan tersenyum. Tangannya menggenggam erat tanganku. Tiba-tiba aku merasa sangat pusing dan memijat pelipis. “Citya … kamu kenapa?” tanya Mas Evin khawatir. Aku menggeleng lemah dan tersenyum. “Aku baik-baik aja, kok, Mas. Cuma sedikit pusing. Mungkin karena kurang tidur.” “Tapi wajah kamu pucat sekali. Kamu yakin nggak apa-apa?” “Nggak kok.” Aku tersenyum. Mas Evin mengernyit heran dan menatapku meminta penjelasan. Wajah Mas Evin terlihat panik. “Kalau kamu pusing? Sebaiknya istirahat, pulang dulu.” “Aku baik-baik saja kok,” ucapku sambil tersenyum. “Cuma sedikit pusing aja, kalau aku pulang siapa yang menjaga Mas,” lanjutku. Mas Evin pun menatapku tajam. Aku hanya menunduk, sesekali melirik Mas Evin. Kami sama-sama terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Setiap hari aku selalu menjaga Mas Evin. Sesekali bergantian dengan mama, itu pun karena dipaksa Mas Evin untuk pulang istirahat di rumah. Sebenarnya enggan untuk meninggalkannya. Ingin selalu di sampingnya, mendampingi dan tahu perkembangannya. Aku merasa bersalah, sebab menjadi penyebab Mas Evin bisa seperti ini. Hampir setiap hari selalu saja ada rekan-rekan kerja Mas Evin yang menjenguk. Ternyata Mas Evin banyak yang peduli dan menyayanginya. Orang sebaik dia pastilah semua menyukai. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Mas Evin. “Siapa yang senyum sendiri, sih?” ketusku. Mas Evin tergelak. “Gimana hubungan kamu dengan Althan?” tanyanya. Aku mengangkat bahu. “Entah, aku sendiri bingung. Sampai sekarang nggak pernah menghubunginya.” “Althan nggak menghubungimu?” “Dia hampir setiap hari, sih telpon, Cuma selalu aku reject. Chat-nya juga nggak aku balas.” “Kenapa? Kamu nggak mau perjuangkan cinta kalian?” Mas Evin bertanya sambil menatapku lekat. Aku membuang napas kasar. “Sudahlah Mas. Nggak usah bahas ini, yang penting Mas Evin sehat dulu. Ayo makan dulu, aku suap,” kataku mengalihkan pembicaraan. Aku sendiri bingung bagaimana kelanjutan hubungan dengan Althan. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ingin sekali melanjutkan hubungan ini. Namun, hati kecil berkata kalau lebih baik cukup sampai di sini. Tepat 10 hari pasca operasi akhirnya jahitan di kepala Mas Evin dilepas. Aku membayangkan kalau jahitan di kepalanya adalah seutas benang yang di rekatkan di kepala. Ternyata dugaanku salah, jahitannya sejenis streples yang menjepit kulit luar kepala bekas luka nya. Waktu dokter melepas satu persatu streplesannya, badanku serasa lemas, seolah merasakan sakit yang dirasakan Mas Evin. Besoknya Mas Evin melakukan pemeriksaan MRS, hasilnya bagus dan kondisinya sudah stabil. Akhirnya diizinkan pulang. Lega rasanya Mas Evin bisa kembali ke rumah dan kondisinya sehat. “Mas lebih baik untuk sementara tinggal di rumah Citya dulu. Sampai benar-benar sehat betul.” Aku memberi saran. “Mas udah sehat, kok. Bisa mengurus diri sendiri, kamu percaya sama aku.” “Nanti kalau ada apa-apa gimana? Mas kan di rumah sendiri, nggak ada siapa-siapa.” “Selama ini Mas juga semua sendiri. Nggak masalah, baik-baik aja.” Mas Evin tersenyum. Mas Evin memang tidak mau merepotkan orang lain dari dulu. Dia sangat mandiri. Aku kagum pada sosok Mas Evin. Dari kecil sudah terbiasa hidup sendiri. Meski tanpa orang tua, dia sanggup menjalani kehidupan. *** Sudah hampir satu bulan aku berada di sini, tanpa kabar dari Althan. Kenapa rasanya sesakit ini? Mengapa Althan tidak mencoba mencari? Atau memang dia telah lupa dan menikah dengan Beyza? Ah … aku mengusap wajah secara kasar. Mengapa harus menyesal dengan keputusan ini? Bukankah ini memang keinginanku. Pergi jauh dan meninggalkan Althan. Oh, Allah … kenapa mencintai harus sesakit ini? Berharap bisa melupakan Althan, tapi semakin berusaha melupakannya hati semakin sesak. Bayangannya masih saja terlintas di pikiran. Aku menangis pilu. “Althan tak tahukah bahwa aku sangat mencintaimu? Tak ingin berpisah, tapi bisa apa? Cinta kita terhalang restu.” Aku bergumam sendiri. Mengapa mencintai harus sesakit ini? Cinta ini sungguh menyakitkan, hati bagai teriris sembilu. Apa kamu tak mengerti betapa hancur dan sakitnya hatiku? Nyenyat. Sunyi dan senyap. Dulu sendiri dan sekarang pun sama. “Melamun aja kerjaannya. Awas kesambet.” Mas Evin tiba-tiba sudah ada di dalam kamar. “Apa, sih. Kebiasaan masuk tanpa permisi!” ketusku. “Dari tadi juga udah ketuk pintu, nggak ada respon.” Mas Evin membela diri. Aku membuang napas kasar, kembali menatap keluar jendela. “Hari minggu gini, lebih baik jalan yuk. Biar nggak suntuk. Mukamu biar nggak kusut gitu,” ucap Mas Evin. Aku bergeming, masih tetap memandang keluar jendela. “Hei! Malah melamun.” Mas Evin menepuk pundakku. “Aku males keluar, Mas. Di rumah aja.” Aku melangkah menuju jendela. “Hhmmm … ya udah terserah kamu. Cuma ngasih saran aja, biar nggak melamun terus gitu,” ucap Mas Evin. “Atau kamu hubungi Althan, daripada galau terus. Wajahmu sampai kusut gitu.” Aku menggeleng. Mas Evin menghela napas. “Sampai kapan kamu akan terus bermalas-malasan begini? Mana Acitya yang kuat dan tegar? Aku rindu Acitya yang dulu.” Mas Evin mengelus lembut kepalaku. “Kamu masih mencintai Althan?” tanya Mas Evin. Aku menghela napas. “Citya masih sangat mencintai Althan.” Aku kembali terisak. “Perjuangkan cinta kamu. Yakinkan pada orang tua Althan kalau kamu terbaik dan pantas untuk anaknya,” nasehat mama. “Tapi ini sulit. Orang tua Althan tidak akan pernah setuju.” “Kamu jangan menyerah sebelum berjuang. Nggak kembali ke Jakarta lagi?” tanya Mas Evin. Aku menggeleng. “Untuk apa? Aku sudah resign dari kampus. Ingin kembali ke sini, menemani Mama. Siapa yang akan menjaga Mama nanti?” tanyaku. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD