Aku gelisah menunggu kabar Mas Evin. Di dalam ruang UGD dia sedang ditangani. Tolong Tuhan … selamatkanlah Mas Evin. Jika memang Kau ada dan sayang pada makhluk-Mu. Jangan Kau ambil nyawanya secepat ini. Dia masih sangat muda.
“Citya! Bagaimana keadaan Evin?” tanya Mama yang baru tiba.
Aku langsung menghambur memeluk Mama. “Nggak tahu, Ma. Masih ditangani dokter di dalam.” Aku menahan isak.
Mama mengusap pundakku. “Sudah jangan nangis. Lebih baik kita berdoa, semoga Evin baik-baik saja,” ucap Mama menenangkanku.
Entahlah, hatiku sangat sakit. Kenapa ujian datang bertubi-tubi? Masalah yang satu belum selesai, datang lagi masalah lain.
“Maafkan aku Mas. Aku selalu saja merepotkanmu. Harusnya aku yang berada di posisi ini. Kenapa kamu harus melindungiku?” Aku bergumam sendiri.
“Semua salah Citya, Ma. Kalau bukan karena melindungi Citya, Mas Evin nggak mungkin berada di dalam sana.” Aku kembali memeluk Mama.
“Semua ini takdir, Nak. Jangan salahkan dirimu sendiri. Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Evin.” Mama mengusap pundakku dengan lembut.
Tak lama kemudian, dokter laki-laki yang memakai jas putih keluar dari ruang UGD. Aku langsung menghampirinya.
“Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?” tanyaku menahan isak tangis.
“Kondisinya sangat kritis. Karena terjadi benturan yang sangat hebat di kepala yang mengakibatkan darah keluar cukup banyak melalui telinga dan hidung. Mungkin karena benturan hebat pada bagian otak depan ataupun belakang kepala. Satu-satunya jalan, pasien harus segera dioperasi.” Dokter laki-laki itu menatap kami bergantian.
“Lakukan yang terbaik demi keselamatannya, Dok.” Aku mengiba.
“Tapi, operasi juga tidak bisa menjamin keselamatannya. Namun, tetap kami tim medis akan berusaha yang terbaik, mohon bantuan doanya. Kami hanya berusaha, semua keputusan hanya Allah yang berkehendak. Pasien akan segera dipindah ke ruang operasi.”
Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Mungkin karena kecapean dan mungkin juga karena tensiku menurun lagi.
“Kamu kenapa, Cit?” tanya Mama dengan khawatir.
“Citya tiba-tiba pusing, Ma.” Aku memegang pelipis sambil mata sedikit terpejam.
“Kamu istirahat saja dulu. Duduk sini.” Aku mengangguk. Akan tetapi, tiba-tiba saja aku limbung dan pandangan gelap.
Saat tersadar aku sudah berada di sebuah ruangan. Aku melihat ke sekililing. Ruangan berdinding putih dan berbau obat. Lalu, tampak Mama masuk ke ruangan.
“Bagaimana keadaan Mas Evin, Ma?” tanyaku ketika Mama sudah di dekatku.
“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan kondisinya sudah stabil. Tapi, belum sadarkan diri, masih dirawat di ruang ICU.” Mama berucap dengan menatapku sendu.
“Aku mau melihat Mas Evin, Ma.” Aku berkata sambil mencoba untuk duduk.
Namun, rasanya masih pusing. Aku pun berbaring kembali.
“Belum boleh melihat kondisinya, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu. Muka kamu pucat sekali. Ini juga sudah lewat tengah malam, sudah dini hari.”
Benar juga kata Mama, lebih baik sekarang aku istirahat dulu. Lagi pula Mas Evin belum boleh dijenguk. Tak lama kemudian aku pun tertidur.
***
Aku menggeliat. Membuka mata dan terasa silau. Aku melihat ke sekeliling, terasa sangat asing. Aku menepuk dahi, ini kan ruangan rumah sakit. Aku sekarang sudah merasa sedikit segar, rasa pusing juga sudah hilang. Aku segera beranjak menuju ruang ICU di mana Mas Evin dirawat.
“Mama, gimana kondisi Mas Evin?” tanyaku ketika sudah berada di samping Mama.
Mama menoleh. “Kamu sudah nggak pusing lagi?”
Aku menggeleng. “Gimana kondisi Mas Evin, Ma?”
“Belum sadar, Nak.”
“Mama lebih baik sekarang pulang. Istirahat, biar Citya yang jaga Mas Evin. Mama capek banget itu.” Aku memegang tangan Mama sambil tersenyum.
Mama mengangguk. “Kamu baik-baik, ya, kalau ada apa-apa kabari Mama,” ucap Mama sambil mencium pipiku.
Aku mengangguk dan mencium tangan Mama. Setelah kepergian Mama, aku gelisah menanti kabar dari dokter. Ingin rasanya aku masuk ke ruang ICU, melihat kondisi Mas Evin. Pasti sangat sakit rasanya.
Beberapa jam kemudian tampak dokter keluar dari ruang ICU.
“Bagaimana kondisi kakak saya, Dok? Bolehkah saya melihat keadaannya?” tanyaku khawatir.
“Silakan. Tapi, pasien masih belum sadar.” Dokter kemudian berlalu meninggalkanku.
Saat masuk ke ruangan, aku sangat kaget karena baru kali ini aku merasa begitu takut melihat kondisi Mas Evin. Aku khawatir akan kehilangan dia. Keadaannya benar-benar membuatku tidak mampu lagi menahan air mata, membayangkan betapa sakit kepalanya. Segala macam selang dimasukkan lewat kepalanya, hanya Mas Evin yang tahu bagaimana rasanya.
Hatiku terenyuh dan aku menangis tergugu di sampingnya.
Aku menggenggam erat tangan Mas Evin. Aku memandang wajah Mas Evin yang terlihat sangat pucat.
“Maafkan Citya, Mas. Semua ini gara-gara Citya. Kalau nggak untuk melindungiku, Mas Evin nggak mungkin merasakan sakit.”
Aku menangis tergugu. Berharap Mas Evin bisa sembuh. Semoga dia cepat sadar dan baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.
Aku semakin gelisah, karena hingga malam menjelang Mas Evin belum juga sadarkan diri. Aku dan Mama menunggu di luar. Sebenarnya Mama menyuruhku pulang. Namun, aku menolaknya, ingin selalu menemani Mas Evin. Tidak ingin melewatkan perkembangan Mas Evin. Akhirnya, aku pun tertidur di kursi tunggu.
Aku menggeliat dan mengerjapkan mata, ternyata hari sudah pagi. Mama datang membawakan minuman untukku.
“Sudah bangun? Ini minum dulu.” Mama menyerahkan sebotol minuman.
Saat sudah tiba waktu jam besuk ICU, aku pun segera masuk. Ingin segera melihat kondisi Mas Evin. Berharap dia sadar hari ini. Aku duduk di samping Mas Evin. Memegang erat tangannya. Sambil membisikkan kata-kata motivasi.
“Mas Evin yang kuat, ini aku Citya. Cepat sembuh ya, Mas. Citya kangen candaan dan jahilan Mas Evin.” Aku menangis tergugu, mencium tangannya.
Tiba-tiba aku merasakan tangan Mas Evin bergerak. Segera aku hapus air mata yang menetes. Aku bersyukur karena Mas Evin sudah bisa membuka matanya. Aku tersenyum. Terlihat Mas Evin mengerjapkan matanya. Tanda dia merespons senyumanku.
Aku segera memberi tahu Mama dan dokter. Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa keadaannya. Dokter bilang kalau kondisinya semakin membaik besok sudah bisa dipindah ke ruang perawatan. Aku sangat lega mendengarnya.
Aku pun mengajak Mas Evin berkomunikasi. Walau hanya dijawab dengan isyarat mata, tapi aku tetap senang karena Mas Evin masih bisa merespons. Berarti tidak terjadi hal yang serius.
Saat-saat berkomunikasi tanpa tersadar air mataku terjatuh. Aku sudah berusaha agar tidak menangis di depan Mas Evin, tapi apa daya aku tak bisa mencegahnya. Saat seperti inilah aku langsung keluar ruang ICU, tak sanggup berada terus di dalam.
“Mas Evin istirahat aja supaya cepat sembuh, agar bisa cepat pulang dan beraktivitas seperti biasa. Citya ada di luar kok, nggak ke mana-mana. Sekarang waktu besuk sudah habis. Mas Evin baik-baik, ya.” Aku berkata sambil mencium tangannya lalu beranjak meninggalkan Mas Evin. Beruntungnya dia mengerti dan segera mengerjapkan matanya.
***
Bersambung