Kecelakaan

1013 Words
Aku berjalan dengan gontai. Aku sangat kehilangan semangat hidup. Aku pun melangkah menuju Alun-alun kota. Aku ingin mencari ketenangan dan kedamaian hati. Keadaanku yang seperti ini memang butuh ketenangan hati.   Suasana yang santai dan nyaman cocok untukku yang sedang ingin bersantai dan menghilangkan penat. Menikmati gemerlapnya kota yang telah lama kutinggalkan. Kemudian, aku melangkah pelan ke tengah Alun-alun, untuk melihat air mancur yang warna-warni, sungguh suasana sangat keren. Cukup lama aku berdiam di alun-alun kota. Rasanya tak ingin pulang. Aku masih saja menikmati tempat ini. Hatiku benar-benar hancur. Jiwa bergejolak tak keruan. Di hatiku ada nama Mas Hamdan, Althan, dan semuanya membuatku bersedih. Mungkinkah Mas Hamdan tak rela jika aku berhubungan dengan Althan? Ah, tapi kenapa? Aku juga berhak bahagia, bukan? Aku manusia biasa yang butuh kebahagiaan.  “Hei.” Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berjingkat kaget.   Aku menoleh, “Mas Evin?” gumamku. “Kok tahu kalau Citya di sini?”   “Tanya Tante, dong. Kamu pulang nggak bilang.” Mas Evin mencubit pipiku pelan.   “Sakit, Mas,” kataku sambil memegang pipi.   “Yang sakit hati kamu, kan?” Mas Evin bertanya sambil menatapku lekat-lekat.   Aku mengernyit heran. “Sok tahu.” Aku memalingkan wajah.   “Nggak usah bohong sama Mas. Mas tahu kok, nggak mungkin juga kamu pulang dadakan kalau nggak ada apa-apa.” Mas Evin menatapku.   Aku langsung menghambur ke pelukan Mas Evin. Semakin terisak di pelukannya. Aku hanya butuh sandaran dan tempat untuk mencurahkan kesedihan di hati. Mas Evin selalu saja ada di saat kubutuhkan. Padahal aku sudah sering menyakitinya.   “Althan menyakitimu? Cerita sama aku.” Mas Evin mengusap kepalaku lembut.   “Orang tua Althan nggak merestui hubungan kami. Althan sudah dijodohkan dengan anak sahabat papanya,” jawabku sambil terisak.   “Lalu Althan bagaimana? Dia menyetujui perjodohannya?”   Aku menggeleng.   “Lalu? Kalau gitu kamu harus berjuang, berusaha supaya cinta kalian direstui. Tunjukkan kalau kamu itu terbaik buat Althan.” Mas Evin menasehatiku.   “Nggak, Mas. Ini berat. Papanya Althan orang yang keras kepala, mereka berdua sama kerasnya. Kami nggak akan bisa meyakinkan papanya Althan.” Aku memandang lurus ke depan.   “Belum berjuang udah nyerah, mana Acitya yang kuat.” Mas Evin menangkup kedua pipiku dan menatapku dalam.   “Entahlah, Mas. Aku masih ragu. Untuk saat ini hanya butuh ketenangan. Kalau memang Althan jodohku pastilah kami akan bersatu.” Aku mencoba untuk tersenyum.   “Kalau memang itu keputusanmu, ya, sudah. Jangan nangis lagi, lihat tuh mukanya kusut banget, jelek.” Mas Evin terbahak.   Aku mencubit pinggang Mas Evin.   “Aduh! Sakit.” Mas Evin memegang pinggangnya yang kucubit. Lalu, menoleh padaku.   Aku tertawa melihat ekspresi Mas Evin.   “Citya … ingat kamu harus bahagia. Apa pun yang terjadi jangan pernah menyerah, perjuangkan cinta kalian.” Mas Evin menatapku.   Aku mengangguk. Aku menikmati pemandangan kota dari Alun-alun kota yang sungguh menyenangkan. Bintang-bintang gemerlap di atas langit, cahayanya tampak memesona. Kami berjalan berkeliling Alun-alun kota. Mengobrol banyak hal. Mas Evin masih saja sama seperti dulu, tidak ada yang berubah dari sifatnya.   Kami sudah berada di luar kawasan Alun-alun, jalan raya sangat padat. Ketika kami menyeberang, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dengan cepat. Aku kaget dan tak bisa menghindar, lalu merasakan tubuh didorong dengan keras hingga jatuh terpental jauh dari jalanan. Saat aku bangun tampak di depan sana, banyak orang berkerumun. Aku terheran-heran dan segera melangkah ke arah yang banyak dikerumuni orang.   Saat tiba di tempat, aku terkaget saat melihat Mas Evin tergolek lemah, kepalanya berlumuran darah. Keluar dari hidung dan telinganya.   “Mas Evin!” Aku berteriak dan langsung menghambur memeluk Mas Evin.     “Mas, bangun. Buka matamu. Ini aku Citya.” Aku menangis menepuk-nepuk pipinya.   Astaga … rencana apalagi ini?   “Cepat panggil Ambulan!” teriakku histeris.   “Mas Evin!” Aku memeluk tubuh tak berdaya Mas Evin.   Kulihat matanya terbuka dan tersenyum menatapku.   Berkata dengan terbata, “Cit-citya.” Lalu, dia kembali tak sadarkan diri.   “Mas Evin!” teriakku histeris.   Ambulan lama sekali. Siapa pun itu … tolong selamatkan Mas Evin, jangan ambil nyawanya. Cukup lama ambulans yang datang menolong Mas Evin. Aku terus menangis terisak melihat tubuh tak berdaya Mas Evin. Sungguh tak tega rasanya. Darah terus mengalir dari telinga dan hidung.   Mas Evin seperti ini karena menolongku. Astaga ... Mas Evin kenapa dia harus berkorban nyawa demi menyelamatkan aku? Mas Evin sungguh orang baik. Meskipun aku tak percaya pada Allah, tapi tak ada salahnya aku mendoakan keselamatan Mas Evin. Bukannya katanya Tuhan itu Maha Mendengar? Ya, walaupun Tuhan tak pernah mendengar doa-doaku. Terbukti Dia mengambil Papa dan calon suamiku secara paksa. Lalu, sekarang apakah mungkin juga Dia akan mengambil Mas Evin dariku? Ah, semoga saja hal buruk itu tidak terjadi. Mas Evin pasti selamat, dia orang baik.  Tuhan ... jika memang Engkau baik, maka tolong selamatkan Mas Evin. Aku terus memohon dalam hati. Meskipun aku tak percaya pada Allah, tapi pasti Tuhan akan mendengar doaku. Semoga. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku terus mengusap pipi Mas Evin, berharap Mas Evin bisa sadar. Namun, sampai ambulans datang. Mas Evin tidak juga cepat sadar. Mas Evin dibawa masuk ke dalam ambulans. Lalu, aku pun ikut masuk dengan mengatakan kalau aku pihak keluarganya. Di dalam ambulans aku segera menghubungi Mama.   Tak perlu waktu lama, telepon pun langsung diangkat oleh Mama.   “Citya, kenapa lama sekali nggak pulang? Evin tadi jemput kamu?” tanya Mama dengan panik.   Aku menarik napas dalam, mencoba menetralkan suara.   “Ma, maafin, Citya,” ucapku dengan suara bergetar.   “Kenapa, Cit?” tanya Mama.   “Citya belum bisa pulang," ucapku pada Mama.   “Kenapa? Ini udah malam, nggak baik cewek dan cowok pulang malam-malam.” Suara Mama terdengar agak jengkel.   “Tapi, Ma, Citya harus ke rumah sakit dulu. Nganter Mas Evin,” jawabku sambil terisak.   “Citya, kalau ngomong yang benar. Kenapa memangnya dengan Evin?” Mama terdengar begitu panik.   “Mas Evin ketabrak mobil, Ma. Mas Evin seperti ini karena nyelamatin Citya.” Aku terisak.   “Apa?” tanya Mama tak percaya.   Aku hanya bergeming. Sedih karena keadaan Mas Evin. "Iya, Ma. Nanti jangan lupa Mama cepet ke sini, ya?" Aku memohon pada Mama dengan penuh harapan.   **** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD