Terpuruk Lagi

1042 Words
Kemudian, aku teringat janji tadi pagi kepada mamanya Althan. Ya, tadi pagi mamanya Althan menemuiku di kampus tempatku mengajar. Aku kaget saat tiba-tiba ada yang mengatakan kalau ada yang mencariku. Mamanya Althan menunggu di kantin kampus. Sungguh aku deg-degan saat menemuinya. Karena aku yakin pasti ada sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan. Dan ternyata dugaanku benar.   Mamanya Althan memintaku untuk menjauhi Althan. Mamanya Althan bilang, kalau Althan dan papanya bertengkar hebat hanya karena aku. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Mereka selalu akur. Papanya dan Althan sama-sama keras kepala. Tak ada yang bisa mengalah.   “Citya. Tante percaya kamu gadis baik. Jadi tolong tinggalkan Althan. Tante nggak mau hubungan Althan dengan papanya memburuk. Athan menolak untuk meninggalkanmu, dia akan pergi jauh membawamu, jika papanya nggak memberi kalian restu. Mereka berdua sama kerasnya. Jadi, tolong tinggalkan Althan. Dan Beyza sudah menemuimu, bukan? Dia sudah bilang kalau dia sangat mencintai Althan, jauh sebelum kamu datang. Jadi, Tante rasa kamu mengerti apa yang harus dilakukan.” Ucapan mamanya  tadi pagi terus terngiang di kepalaku. Aku menghela napas panjang. Ya, aku memang berjanji pada mamanya Althan untuk menjauhi Althan.   “Citya … kita harus berjuang.” Ucapan Althan mengejutkanku.   “Maaf Althan. Aku nggak bisa. Lebih baik cukup sampai di sini hubungan kita. Aku pamit.” Aku berkata sambil berlalu meninggalkan Althan.   “Citya! Citya!” teriak Althan.   Aku tak menghiraukan teriakan Althan. Aku terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang. Tekadku sudah bulat untuk meninggalkan Althan.   “Maafkan aku, Althan. Aku harus pergi meninggalkanmu.” Suaraku serak menahan tangis.   Masih terdengar samar-samar teriakan Althan. Sementara aku, menangis, meratap seorang diri. Berjalan dengan pikiran melayang. Raga dan jiwaku telah pergi. Separuh hati masih tertinggal. Aku berjalan terseok-seok. Dulu aku pernah sendiri, dan sekarang pun tetap sendiri. Sunyi. Senyap. Itulah yang kurasakan. Entah, apalagi yang direncanakan langit. Aku menangis di keheningan malam. Meratapi nasib. Jika memang kami berjodoh, pastilah bisa bersatu. Jika bukan sekarang, semoga nanti kami bisa bersama.   ***   Sudah lima bulan aku tak pernah bertemu Althan. Memang aku sengaja selalu menghindar darinya. Berkali-kali dia datang menemuiku, tapi aku tak pernah menjumpainya. Aku memang berusaha untuk melupakan bayangan Althan.   Selesai wisuda, aku memutuskan untuk resign dari kampus. Meninggalkan Ibu kota. Menenangkan diri. Kembali ke kota kelahiran. Sebuah kota kecil di Malang. Mungkin terlalu lebay, rela meninggalkan pekerjaan demi melupakan seseorang yang kucintai. Namun, inilah satu-satunya cara untuk bisa melupakan Althan. Di sini terlalu banyak kenangan. Di setiap sudut kota selalu ada memori bersama Althan. Akan sulit melupakannya jika aku masih di sini. Aku sengaja tidak memberi tahu Althan. Karena pasti dia akan mencegahku pergi.   Aku yakin di Malang nanti pasti akan mendapat pekerjaan yang sama baiknya dengan di sini.   Aku segera ke Stasiun Gambir. Memilih naik kereta malam, sepertinya perjalanan kereta malam sangat mengasyikkan. Berjalan menyusuri emperan stasiun. Orang-orang berlalu lalang memenuhi emperan. Hendak pulang pergi. Menyatu dengan tukang asongan, penjaja koran, dan penjual makanan serta minuman. Ah, sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di stasiun.   Tepat pukul 21.00 , Kereta Api Bima mulai berangkat. Suasana malam yang indah. Tidak panas. Aku memilih duduk di pinggir jendela, agar bisa menikmati pemandangan malam di luar. Memandang keluar sambil melamun, merenung, memikirkan akan nasib dan takdir cintaku. Kereta malam memang sangat nyaman, suasananya sangat tenang dan damai.   Entah, mengapa kisah cintaku selalu berakhir tragis. Ketika sudah menemukan kembali cinta yang hilang, di saat itu pula aku kehilangan kembali. Ini sangat menyesakkan sekali. Kapankah aku menemukan cinta sejati?   Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, akhirnya aku sampai juga di stasiun kota baru. Aku melihat ke sekeliling. Masih sama seperti stasiun lama. Bedanya stasiun kota baru ini jaraknya lumayan dekat dengan rumahku. Tidak perlu naik kendaraan, cukup dengan berjalan kaki saja. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit.   Aku berdiri tepat di depan rumah yang sangat damai ini. Sebuah rumah di kota kecil tepatnya di Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Malang kota. Tidak ada yang berubah di sini. Masih sama seperti dulu. Aku rindu Mama dan Mas Evin. Ah, apa kabarnya Mas Evin?   Meski hari sudah siang, tapi cuacanya tidak begitu terik. Nyaman dan sejuk. Sangat berbeda dengan Ibu kota.   “Mama ….”   Mama terlihat melayani pembeli, kedai kuenya masih sangat ramai pembeli. Aku rindu pie pisang Mama.   “Mama … Citya pulang,” ucapku.   Mama menoleh. “Citya, Ya Allah … kenapa nggak memberi kabar kalau mau pulang, Nak?” Mama langsung memelukku.   “Citya ingin memberi kejutan buat, Mama.” Aku menangis di pelukan Mama.   “Citya. Kenapa menangis?” tanya Mama heran.   “Citya, kangen Mama.” Aku kembali memeluk Mama.   “Kamu masuk dulu, istirahat. Capek banget kelihatannya.”   Aku mengangguk. Lalu, melangkah menuju kamar.   Kamar ini masih sangat rapi dan bersih. Sungguh Mama sangat menjaga kamarku ini. Dulu dan sekarang masih saja sama, tak ada yang berubah. Aku langsung membuang tubuh dengan asal ke atas ranjang. Hati dan pikiran capek. Butuh ketenangan.   Ah, kenapa nasib cintaku seperti ini? Apakah Mas Hamdan tidak pernah ikhlas aku berhubungan dengan siapa pun?   “Ah! Aku benci dengan takdir. Hidup ini tidak adil!” Aku mengacak kasar rambutku.   “Althan! Aku benci kamu! Mengapa harus ada pertemuan, jika pada akhirnya berpisah?”   Aku menangis merutuki nasib hidupku ini. Aku membenamkan kepala di bantal. Lalu, tak lama terdengar pintu diketuk.   “Citya! Mama boleh masuk?” tanya Mama dari luar.   Aku segera mengusap air mata yang membasahi pipi. Kemudian, menetralkan keadaan.   “Iya, Ma! Tentu saja boleh. Pintunya nggak Citya kunci, kok!” teriakku.   Lalu, terdengar pintu dibuka. Kemudian, Mama melangkah menuju arahku. Dia tersenyum dan duduk di tepi ranjang.   “Citya, kamu beneran nggak apa-apa, kan?” tanya Mama menatapku dengan curiga. Mimik wajahnya tampak khawatir.   “Nggak Ma, Citya nggak apa-apa.” Aku tersenyum, lalu menggenggam tangan Mama.   “Syukurlah, Mama takut kamu kenapa-napa.”   “Nggak, kok. Oh iya, Ma. Citya mau pergi ke alun-alun kota boleh?” tanyaku menatap Mama.   Mama tertawa kecil, lalu menoel hidungku dengan gemas.   “Kamu ini masih saja seperti dulu. Manja kalau ke Mama. Kalau mau pergi ya pergi aja, nggak usah tanya boleh apa nggak.” Mama tersenyum.   Aku hanya bergeming dan tersipu malu. Entahlah, jika ada Mama memang jiwa manjaku muncul lagi. Berbeda jika tak ada Mama. Lalu, aku pun bersiap-siap untuk pergi ke alun-alun kota. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD