Aku semakin terisak setelah mendengar kata-kata Beyza tadi. Bahuku berguncang hebat. Dadaku terasa menyempit sehingga napas menjadi sesak. Terdengar ponselku bergetar. Panggilan dari Althan. Aku mengabaikannya dan membanting dengan kasar ke kasur. Aku sangat membenci Althan. Dia sudah membohongiku.
Setelah sedikit tenang, lalu meraih ponsel kembali dan mengirimkan pesan pada Althan.
[Besok sore sepulang kerja, temui aku di taman.] Pesan terkirim dan langsung dibaca.
[Kenapa teleponku nggak diangkat?] tanya Althan.
[Besok kita bicarakan secara langsung. Ada banyak hal yang perlu dibahas.] Aku membalas dengan sedikit kesal.
[Citya, ada apa, sih?] tanya Althan lagi.
[Besok aja kita bicara. Aku capek mau tidur!] balasku pada Althan.
Tanpa menunggu balasan, langsung kumatikan ponsel. Aku berbaring menatap langit-langit kamar. Air mata masih saja menetes tiada henti.
Aku menelan ludah. Kenapa harus seperti ini? Apa sebenarnya rencana langit untukku? Kenapa selalu merenggut kebahagiaanku? Apa mungkin ini bentuk teguran Yang Mahakuasa agar aku kembali pada-Nya. Ah, entahlah. Aku mengusap wajah kasar. Napas terhela dengan berat. Aku pun mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Berharap semua ini hanya mimpi. Walaupun harapanku mungkin sia-sia.
***
Keesokan harinya selepas pulang kerja, aku menuju taman kota dan duduk di bangku taman, menanti kehadiran Althan. Sebentar lagi senja, tapi kenapa Althan tak kunjung tiba? Bahkan tak ada telepon ataupun WA darinya. Aku menarik napas dalam. Hari ini semuanya harus diselesaikan. Agar aku bisa bernapas lega. Apa pun yang terjadi nanti, aku harus siap menerima.
Pandanganku kosong menatap lurus ke depan. Aku mencoba menahan supaya cairan bening tidak keluar. Namun, ternyata sulit, buliran bening terus saja meronta hendak keluar dari sudut mataku.
“Citya!” Terdengar suara Althan memanggil, tapi aku tetap bergeming.
“Kamu kenapa, sih?” Althan mendekat meraih tanganku, tapi aku segera menepisnya dengan kasar.
“Kamu kenapa nggak bilang ke aku?” tanyaku dengan suara serak.
“Bilang apa, sih? Ngomong yang jelas.” Althan mengernyitkan dahinya menatapku.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu! Siapa sebenarnya Beyza?” tanyaku sambil mengepal tangan, menahan amarah.
Rasanya ingin sekali, aku menghancurkan apa saja yang ada di hadapanku. Kenapa Althan masih bertele-tele? Mengapa tidak langsung bilang yang sebenarnya?
“Apa Beyza menemuimu? Apa yang dia katakan?” Akhirnya, Althan membuka suara.
“Althan, kenapa kamu nggak pernah cerita soal perjodohanmu dengan Beyza? Mengapa nggak jujur sama aku?” Aku memukul d**a Althan. Dadaku terasa sangat sempit, napas menjadi sesak.
Althan merengkuhku ke dalam pelukannya, tapi aku menolaknya.
“Aku sayang kamu, Cit. Nggak mau kehilangan dan menyakitimu,” ucap Althan sambil menangkup kedua pipiku.
Hatiku semakin teriris, mata terasa perih. Jiwa masygul dirundung duka. Nestapa selalu merajai atma.
“Harusnya kamu tetap bilang sama aku. Mendengar berita perjodohanmu dari orang lain itu lebih menyakitkan.” Aku menatap lurus ke depan. Kosong.
“Sikap papamu waktu itu sudah menjadi bukti bahwa hubungan kita nggak dapat restu. Kenapa kamu menyembunyikannya? Mengapa nggak jujur? Kamu juga pasti tahu, kan kalau Beyza memang sengaja diundang datang malam itu? Agar aku sadar diri, tak pantas bersanding denganmu! Aku memang sangat berbeda dengan Beyza!” Aku menekan jemari dengan sangat kuat. Aku kecewa pada Althan. Aku kecewa karena Althan tidak berkata yang jujur padaku.
“Maaf. Maafkan aku. Jangan nangis, Sayang, aku semakin tersiksa melihatmu menangis.” Dia berkata sambil mengusap sudut mataku yang sudah penuh air mata. “Apa ini yang membuatmu beberapa hari ini menghindar dariku?” tanya Althan lagi.
Aku mengangguk. “Aku mendengar percakapan asistenmu waktu itu, ketika kamu mengambil air minum untukku,” ucapku pelan.
“Sudah aku duga sebelumnya. Dengar, apa pun yang terjadi aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kalau perlu aku akan membawamu pergi jauh dari Jakarta, hingga nggak ada orang yang bisa menemukan kita.” Althan menatapku dalam.
Aku menggeleng. “Nggak Althan. Hubungan tanpa restu orang tua nggak akan pernah berakhir bahagia. Mungkin saat ini kamu bisa bilang seperti itu karena masih sangat mencintaiku, lalu bagaimana jika suatu hari nanti cintamu hilang?” tanyaku.
“Citya. Kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Cinta ini nggak akan pernah hilang sampai kapan pun.” Althan meletakkan tanganku di d**a bidangnya.
“Althan. Pilihan orang tuamu sangat tepat. Kalian pasangan yang serasi. Coba buka mata kamu, lihatlah perbedaan antara aku dengan Beyza. Sangat jauh.” Aku menggigit bibir bawah.
“Citya … aku sangat mencintaimu, apa pun yang terjadi tidak akan pernah meninggalkanmu. Bagiku kamu yang terbaik dan tercantik. Nggak ada siapa pun di hati selain dirimu.” Sorot matanya tajam menatapku.
Aku semakin tergugu. Menangisi takdir langit yang menimpa diri ini. Aku tidak boleh egois. Mencintai tidak harus memiliki, bukan? Aku tidak mau hubungan orang tua dan anak rusak. Harus ada yang mengalah salah satu. Aku memantapkan pilihan. Meski berat harus tetap dijalani.
“Althan … sebaiknya memang kita nggak perlu bersama lagi. Cukup sampai di sini saja hubungan ini.” Aku mengalihkan pandangan ke arah lain.
Althan mengernyitkan dahi, menatapku tidak percaya.
“Apa kamu menyerah? Apa nggak mau berjuang demi cinta kita?” tanya Althan.
“Maaf Althan.” Aku menunduk dan menarik napas dalam. “Terimalah Beyza sebagai istrimu. Dia sangat cocok untukmu. Sepertinya dia sangat mencintaimu.” Aku menatap Althan lamat-lamat.
Althan menggeleng. “Nggak! Aku nggak mungkin menikah dengan orang yang tidak aku cinta. Kami tidak saling mencintai.”
Aku tersenyum miring. “Kamu jangan bohong Althan. Tolonglah jujur sama aku!” kataku kesal.
“Aku nggak bohong, Sayang. Kami nggak saling mencintai.” Althan berkata sambil memegang kedua pipiku.
“Lalu kenapa Beyza bilang akulah perusak hubungan kalian! Aku yang telah merebutmu darinya!” teriakku.
“Memang apa yang dikatakan Beyza?” tanya Althan.
“Kalian sudah saling kenal dari dulu, bahkan dari kecil. Sebelum aku hadir dalam hidupmu. Jadi, akulah yang sebenarnya telah merusak hubunganmu dengan Beyza!” sentakku dengan gemas.
Althan memegang kedua bahuku. “Memang kami sudah kenal sejak dulu. Dari kecil. Dia anak sahabat papa. Tapi aku tidak pernah mencintainya. Hanya menganggap adik, tidak lebih. Kamu harus percaya.”
Aku hanya terdiam, tak menyahut perkataan Althan. Memang harus ada yang mengalah. Aku tak mau hubungan papa dan anak rusak.
***
Bersambung