Aku hanya mengangguk mendengar kata-kata Althan. Ya, mau bagaimana lagi? Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Walaupun aku tahu kalau papanya Althan bersikap seperti itu ya karena memang tak suka padaku. Aku mendesah pelan.
“Nanti pasti ramah, kok. Papa memang begitu orangnya, kalau belum kenal banget terkesan kaku. Tapi lama-lama nggak, kok.” Althan menoleh ke arahku, lalu kembali fokus ke jalanan.
Aku tahu Althan pasti hanya menghibur saja. Dia tentu sudah tahu kalau papanya tidak merestui hubungan kami. Lalu, kenapa dia tak bilang padaku?
Perjalanan terasa begitu lambat. Suasana pun terasa canggung. Aku lebih banyak diam. Menanggapi omongan Althan hanya dengan senyuman.
“Althan ....” Aku menatap wajah Althan. “Apa kamu memang benar-benar nggak tahu kalau Beyza diundang makan malam bersama kita?”
Althan menoleh. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya gitu?” Ekspresi wajahnya tampak kaget.
“Hanya tanya aja, masak nggak boleh.” Aku tersenyum.
“Aku nggak tahu. Beneran.” Althan menatapku dalam.
Aku melihat perubahan pada raut muka Althan. Aku yakin kalau dia memang menyembunyikan sesuatu.
“Kamu nggak bohong, kan?” tanyaku sambil menatap dalam Althan.
“Nggak, Sayang. Udah deh, nggak usah bahas Beyza lagi.” Althan mengacak rambutku dengan tangan kirinya.
Aku hanya tersenyum, tapi dalam hati menangis. Rasanya bagai tertusuk jarum.
Tanpa terasa kami telah sampai di depan gerbang kos. Aku sengaja tidak menyuruh Althan mampir, karena hari sudah malam. Selain itu aku ingin sendiri, untuk saat ini.
Setelah mobil Althan berlalu, runtuh sudah pertahananku. Air mata yang sedari tadi kutahan, jebol juga. Menetes tiada henti. Aku langsung masuk ke kamar kos, agar tak ada yang melihat ataupun mendengar.
Aku mengempaskan tubuh ke kasur secara kasar. Memeluk guling dengan terisak. Kenapa harus seperti ini, takdir cintaku? Aku terus merutuki nasibku. Aku terus saja menangis hingga akhirnya lama-lama aku mengantuk dan memutuskan untuk tidur. Berharap setelah bangun ternyata semua ini hanya mimpi.
***
Aku mengerjapkan mata. Silau. Cahaya matahari menembus jendela kamar. Aku bangun kesiangan, karena semalaman hanya menangis tiada henti. Namun, tak masalah karena hari ini Minggu.
Aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Tak ingin diganggu siapa pun. Meskipun itu Althan. Akhirnya, data ponsel pun kumatikan. Kalau dia memang menyayangiku pastilah sibuk mencariku.
Ah, kenapa nasib dan takdir cintaku seperti ini? Aku menarik napas panjang. Akankah aku gagal lagi dalam menjalin sebuah percintaan? Apakah hubunganku dengan Althan akan berakhir sampai di sini? Haruskah aku bertanya padanya? Tidak! Aku tak akan pernah menanyakan padanya. Biarlah dia sendiri yang bercerita.
Hampir setengah hari, aku hanya berdiam diri di kamar. Karena perutku terasa sangat lapar, akhirnya aku memutuskan untuk keluar. Pergi mencari makan. Lalu, berganti pakaian dan memoles wajah dengan sedikit bedak. Agar tak kelihatan pucat dan untuk menutupi mata sembapku.
Aku berjalan di trotoar. Membeli makan di pedagang kaki lima. Sambil menikmati pemandangan jalanan kota yang sedikit lengang. Mungkin karena sekarang hari libur.
Setelah perut terisi, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan, menenangkan pikiran. Menyusuri sepanjang trotoar. Hingga tak terasa sampai di taman kota. Taman yang jauh dari keramaian Ibu kota. Setidaknya bisa membuat hatiku sedikit fresh.
Berada di taman yang dipenuhi aneka macam jenis pohon dan bunga ini, aku merasa tidak sedang berada di kota Jakarta. Suasananya yang sejuk dan teduh, juga dipercantik dengan aneka patung karya para seniman Asia Tenggara.
Hatiku yang sedang gundah gulana sedikit terobati. Aku menghidupkan ponsel, banyak notif WA dan aplikasi sosmed lainnya. Aku lebih tertarik membuka WA. Ada puluhan chat dari Althan. Ah, ternyata dia sangat mengkhawatirkanku. Namun, aku tak membalasnya.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Panggilan suara dari Althan. Aku memencet tombol warna hijau.
“Ah, akhirnya kamu angkat teleponku.” Terdengar suara Althan begitu khawatir dari seberang.
Aku tetap bergeming.
“Citya! Kamu masih di situ, kan?”
“Iya, ada apa?” tanyaku dengan malas.
“Kamu kenapa, sih? Ada apa? Kenapa ponsel dimatikan? Kalau ada apa-apa itu bilang!”
“Aku nggak kenapa-napa.”
“Kamu di mana sekarang?”
“Di kos.”
Sengaja aku berbohong agar dia tak menyusulku. Aku tak ingin bertemu dengannya untuk saat ini.
“Ya udah, kamu istirahat aja, ya.”
“Iya.” Aku langsung mematikan sambungan telepon.
Aku menarik napas panjang. Entah, kenapa hatiku terasa sangat sakit. Seperti tertusuk jarum yang sangat besar. Aku ingin Althan jujur tentang perjodohan itu tanpa ditanya. Kenapa dia tak mau berkata jujur?
***
Menjelang malam aku sampai di kosan. Aku terperanjat ketika melihat ada seseorang menunggu di depan kamar kos. Seorang wanita. Setelah dekat, ternyata dia, Beyza. Kenapa wanita itu ke sini?
“Hai.” Dia menyapa ketika aku sudah dekat.
“Hai, juga. Kamu tahu dari mana tempat kosku?”
“Althan.”
Mataku membulat sempurna. Apa Althan juga yang menyuruhnya ke sini? Lalu, untuk apa?
Aku mengajaknya masuk. Setidaknya ingin membicarakan hal privasi, agar tidak ada yang mendengarnya. Karena pasti dia akan menyampaikan hal yang penting.
“Maaf, ya, kamarnya berantakan. Belum sempat beres-beres.”
“Nggak masalah. Aku juga cuma sebentar.” Nada suaranya terdengar ketus.
Aku tersenyum kecut.
“Langsung aja, ya. Apa Althan sudah bicara kamu soal perjodohan kami?” Dia menatapku sinis.
Doarrr!
Seperti tersambar petir di siang bolong rasanya ketika mendengar perkataan Beyza. Dengan santainya dia bilang soal perjodohan. Apa tak memikirkan bagaimana perasaanku sebagai pacar Althan? Apa Althan yang menyuruh Beyza ke sini?
“Pasti belum, ya? Sekarang udah tahu, kan? Jadi aku rasa kamu mengerti harus gimana.” Beyza menatapku lekat.
“Maksudmu apa? Apa kamu pikir aku akan meninggalkan Althan?”
“Iya. Tentunya itu yang harus kamu lakukan. Orang tua Althan nggak akan pernah menyetujui hubungan kalian, jadi percuma aja bertahan.” Beyza bersedekap d**a.
Aku tersenyum. “Aku nggak akan pernah ninggalin Althan. Kami saling mencintai satu sama lain.” Aku mencoba setenang mungkin, walau segenggam daging dalam d**a terasa perih.
“Hei! Apa kamu nggak pernah tahu, kalau aku dan Althan udah kenal sejak dulu. Bahkan dari kecil. Jadi sebelum kamu hadir dalam hidup Althan, aku udah dulu ada di hatinya. Kamu perusak hubungan kami!” Beyza mendorongku higga aku nyaris terjungkal.
Apa? Ini tidak mungkin. Althan selalu terbuka padaku. Beyza hanya berbohong, agar aku menjauhi Althan.
“Udahlah nggak usah ngarang! Sekarang kamu pergi dari sini! Ingat, aku nggak bakal ninggalin Althan!” Aku melotot pada Beyza.
“Dasar keras kepala! Percuma bertahan, orang tua Althan udah membicarakan hari pernikahan kami.” Dia menatapku sinis, lalu meninggalkanku yang tengah terpuruk.
Aku segera menutup pintu. Cairan bening langsung berlomba-lomba keluar dari sudut mata. Hati ini sangat sakit. Kenapa Althan tega padaku? Mengapa tak pernah bicara soal perjodohan ini?
***
Bersambung