Tanpa permisi, tanpa memberi salam apapun, Galen memasuki ruang rawat inap Angkasa. Berdiri berhadapan dengan Angkasa yang baru saja berbalik setelah membuang bunga yang Galen tahu bunga itu adalah berian Sakura, di keranjang sampah. “Kenapa cuma sehari?” tanya Galen, menatap Angkasa begitu serius. “Sehari apa?” Sejenak Galen mengambil kembali bunga itu, lalu dipegangnya erat menyatu dengan cengkraman tangannya yang seharusnya mengepal. “Kenapa cuma sehari lo bahagiain dia, dan habis itu lo sakitin dia?” Angkasa tampak tak acuh. Sehingga Galen kian kesal dibuatnya. Daripada menjawab, Angkasa hanya memilih diam, membalas tatapan tajam Galen dengan sorot mata yang tak mampu terbaca oleh siapapun. “Siapa perempuan yang lo cium? Sakura bilang, dia liat lo cium perempuan lain?” Lalu ta

