25

2991 Words

Galen meneguk sebuah minuman soda yang dikemas dalam kaleng, sembari memerhatikan apapun yang terlihat dari jembatan Kota Intan tempatnya berdiri. Dengan ditemani angin malam yang berembus, apa yang dilihatnya seketika saja memudar, ketika bayang-bayang Angkasa dan Sakura terus saja menghantui isi kepalanya. “Ada apa, nih, kampus kita bisa sampai rame wartawan begini?” Dengan ekspresi bingung yang tak bisa terhindarkan dari wajahnya, Galen bertanya pada Doni saat hendak menuju parkiran. Doni menggedikkan bahu acuh tak acuh. “Katanya, sih, di kampus kita ada yang anaknya pembunuh gitu.” “Siapa?” tanggap Galen, cepat. “Nggak tau gue. Tadi baru denger-denger aja. Katanya dari Fakultas Sastra?” Sesaat Galen terdiam. Langkahnya berhenti bersamaan dengan suara para wartawan yang masuk di te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD