Angkasa menabur bunga segar di atas sebuah makam yang sudah mulai usang terkotori oleh tanah merah, pada nisan yang tertuliskan sebuah nama; Laraina Nessafa Raya. Selain nama, tertera pula tanggal lahir dan tanggal kepergian gadis itu. Tanggal lahir yang tahunnya sama dengan tahun Angkasa dilahirkan. Sementara tanggal kepergiannya, sama persis dengan tanggal saat ini, namun hanya berbeda tahun. Oleh sebab itu, Angkasa putuskan untuk hari ini ia tidak kuliah. Tadi ia hanya datang ke kampus untuk mengantar Sakura yang sudah mulai masuk kuliah kembali karena memang kondisinya yang sudah membaik. Usai selesai menabur bunga, Angkasa mengusap nama Raya yang terukir pada nisan keramik di hadapannya. Memandangi nisan itu yang sorot mata yang sarat akan emosi. Angkasa menunduk, penuh penyesal

