“Kak Angkasa kenapa?” tanya Sakura, pelan. “Jangan sakit lagi. Saya khawatir.” Dalih Angkasa kali ini tidak sepenuhnya benar. Tidak pula sepenuhnya salah. Akhir-akhir ini memang ada banyak sekali hal yang Angkasa khawatirkan, namun tidak semua dapat ia utarakan pada Sakura secara gamblang. Bahkan sesuatu yang sebetulnya sudah berakhir, kepergian Raya, tetap saja membuatnya khawatir sampai saat ini. Perlahan Sakura bergerak, membuat Angkasa otomatis melonggarkan rengkuhannya. Sakura menyentuh kedua pipi Angkasa dengan satu tangkupan dua telapak tangannya. Lalu gadis itu berucap hanya dengan menatap mata Angkasa sekilas, “Iya, aku janji nggak sakit-sakit lagi.” Sakura tersenyum, tetapi kali ini Angkasa sama sekali tidak bisa memalingkan wajahnya karena tertahan oleh tangkupan tangan Saku

