“Eh?” Mendapati suara Angkasa, Sakura segera membasuh kedua pipi dan matanya. “Kenapa cuma dua buburnya? Buat Kak Angkasa mana?” “Saya nggak biasa sarapan,” kilah Angkasa. Saat Angkasa ingin mengambilkan salah satu bubur itu untuk Sakura, sesuatu yang tergeletak tepat bersebelahan dengan lampu tidur, tiba-tiba saja berhasil menarik perhatian matanya. Sesuatu berbentuk gulungan kertas usang, yang diikat pita berwarna merah. Tangan Angkasa terjulur semakin dekat untuk mengambilnya. Tok tok tok “Permisi.” Tetapi seketika, suara ketukan pintu yang diiringi seruan seseorang mengalihkan segalanya. Sakura sudah hendak berdiri, namun Angkasa segera menahannya. “Biar saya yang buka.” *** Tok tok tok “Permi―” Cklek Pintu terbuka. Baik Angkasa maupun seseorang yang bertamu itu, keduanya

