Cemburu Seorang Istri.

1993 Words
Cinta dan terobsesi pada seseorang, bagaikan sehelai benang tipis yang sulit untuk dibedakan, selain dengan ketulusan. Apakah dirimu mencintai atau hanya egois ingin memiliki, hanya tulus hatimu yang mengerti. - - - Cuaca panas Kota Pontianak terasa seperti memanggang kulit. Terangnya sinar matahari tepat di atas kepala, memberikan sensasi rasa gerah yang sempurna. Siapa saja yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota ini, pasti akan mengeluhkan udara panas yang menyerap cepat ke dalam. Menjadikan warna kulit dengan cepat menjadi gelap. Seorang wanita jelang empat puluh tahunan menggerutu panjang pendek dengan cuaca yang tidak bersahabat padanya. Keringat menggulir pelan di pelipis wanita yang masih tampak memikat di usianya yang tidak lagi muda. Kulit putih, dengan tubuh langsing, menambah nilai plus untuk wanita cantik tersebut, walaupun kacamata hitam yang bertengger di wajah berusaha menutupi parasnya yang jelita. Seorang pria tua membukakan pintu belakang mobil untuk wanita itu, kemudian memasukkan koper dan beberapa barang bawaannya ke dalam bagasi. Sebelum mengemudikan mobil membawa mereka berdua meninggalkan parkiran Bandara Supadio. “Mas Davin ke mana, Pur? Kenapa nggak jemput saya?” tanya wanita itu pada sopir yang menjemputnya. Keanggunan sikap yang terlihat alami tidak bisa menutupi riak kecewa di mata wanita itu. Meskipun tertutup oleh kacamata hitam yang ia gunakan. “Maaf, Mbak, saya kurang tau mas Davin ke mana." Sopir yang dipanggil Pur menjawab sambil melirik sekilas melalui kaca spion depan. Keluarga Purnomo sudah bekerja menjadi sopir pada keluarga Prayoga sejak dirinya masih kecil. Pria paruh baya itu, dulunya adalah teman bermain Davin, saat orang tuanya masih bekerja pada Erna. Namun, sejak Prayoga meninggal sebelas tahun yang lalu, mereka dirumahkan oleh Erna, kecuali ibu dan istrinya yang masih bekerja di rumah besar itu. Sedikit banyak Purnomo mengetahui penyebab majikannya, Prayoga, meninggal dunia. Beliau menghembuskan napas terakhir karena tidak kuat menanggung beban malu akibat kelakuan putranya. “Dari dulu Davin memang nggak pernah berubah,” keluh Alika, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, melihat ke sepanjang jalan. Tanaman lidah buaya tumbuh subur di sepanjang sisi kiri jalan. Sering kali juga Alika disuguhkan pemandangan khas pedesaan. Tanaman padi yang menguning, terhampar sepanjang sisi kanan jalan. Ini adalah kali ketiga kedatangan Alika ke Pontianak. pemandangan di sepanjang jalan Bandara Supadio menuju Pontianak Kota, tidak banyak berubah sejak terakhir kedatangannya sebelas tahun lalu, saat ayah mertuanya meninggal dunia. Aku pikir hanya kotanya yang tidak berubah, ternyata semua penghuninya juga tidak berubah. Batin Alika. Wanita cantik itu juga memikirkan Vidya, bagaimana kabar wanita yang sudah membuat suaminya terobsesi, hingga tidak bisa mencintainya dengan tulus. seorang remaja putri yang dulu menjadi puncak kecemburuan Alika bahkan hingga sekarang. “Pur, Kamu tau bagaimana keadaan Vidya sekarang?” tanya Alika tiba-tiba. Purnomo hanyalah seorang sopir. Membicarakan sesuatu yang sangat sensitif di dalam lingkungan keluarga majikan, merupakan hal yang tabu dan terlarang, membuatnya merasa serba salah harus menjawab apa. “hemb, itu— Mbak, saya sudah lama nggak ketemu, Mbak Vidya.” Bias, Purnomo memberikan jawaban pada Alika. Tidak ikut campur dan berpura-pura tidak tahu, jelas lebih baik untuk Purnomo. Alika melepaskan kacamatanya, melihat dengan putus asa pada Purnomo, kemudian kembali memandang keluar jendela mobil dengan pikiran yang berkelana entah ke mana. Kembali ke Pontianak bukan pilihan terbaik untuk rumah tangga Alika dan Davin, tetapi sebagai seorang menantu dan istri yang baik, dirinya tidak mungkin menolak permintaan mama mertua juga suaminya. Alika hanya seorang istri yang berharap dicintai sepenuh hati oleh Davin. Bermimpi jadi seorang wanita yang paling beruntung, menjadi ratu di dalam rumah tangga mereka. Namun, selama dua belas tahun pernikahan, yang diterima Alika hanya sikap dingin sang suami. Di kota ini, ada cinta pertama Davin. Lebih membuat miris, wanita itu juga sangat disayang oleh mertuanya. Bagaimana Alika bisa bersaing dengan seorang wanita yang mendapatkan cinta dari semua anggota keluarga Prayoga, selain dirinya? Aaah ... sudahlah, semakin dipikirkan, semakin membuat sakit hati. Alika menarik napas panjang, mengalah dengan pikirannya sendiri. “Toko kue yang enak di mana, Pur? Saya mau beli kue untuk Mama. Kalau ada toko kue, mampir sebentar!” perintah Alika. Purnomo mengangguk, menuruti perintah Alika, meski wanita itu tidak melihatnya. Laki-laki yang sedang sibuk dengan setirnya itu, teringat cafe yang sering dikunjungi Erna. Rumah Cake, itulah tempat yang sering didatangi majikannya jika sedang berkumpul bersama teman-teman. Wanita itu mengatakan, satu-satunya toko yang menjual cake paling enak hanya di Rumah Cake. *** Suara tawa Bintang memenuhi ruangan begitu ia membuka pintu kafe dan masuk bersama Davin. Beberapa pengunjung serentak menoleh, melihat sosok yang baru saja memecah keheningan kafe dengan suara tawa besarnya. Mona dan Dio serentak keluar dari kitchen, mengira terjadi keributan antar pelanggan, tetapi ketika mengetahui siapa yang membuat kehebohan, kedua orang itu segera masuk melanjutkan pekerjaannya setelah sempat meledek remaja tanggung yang baru saja tiba. “Kak Anis, mau brownies coklat donk. Bintang udah lamaaa banget nggak makan kue bikinan Kak Anis,” goda Bintang pada salah satu karyawan Rumah Cake. “Idiihh, kemarin bilangnya cake bikinan Kak Anis nggak enak, sekarang malah minta!” Anis balik meledek Bintang. “Rayu, dulu, nanti Kak Anis kasih kuenya.” Karyawan rumah cake itu sangat senang menggoda anak bos yang sudah beranjak remaja. Dirinya sangat suka melihat Bintang tertawa, kedua lesung pipi anak itu akan membuat wajahnya semakin terlihat tampan. Bintang hanya tertawa geli. “Kak Anis, yang manis, Bintang minta kue Brownies. Kalau nggak dikasih, Bintang mau nangis!” Davin terbahak mendengar rayuan Bintang pada Anis. Ternyata anaknya masih sangat polos, merayu seorang wanita dengan kata-kata bagaikan rangkaian sebuah pantun. Sementara Bintang hanya memberikan cengiran yang semakin lebar. “Tolong satu cappucino panas, ice cream coklat, cake coklat, dan keju.” Ucap Davin pada Anis di meja kasir. Ia menambahkan dua botol teh kemasan yang ada di soft case dan membayar semua pesanannya. Davin membawa semua pesanan ke salah satu bangku yang sudah dipilih Bintang untuk tempat duduk mereka. Ternyata selera anak dan ayah memang tidak berbeda. Mereka memiliki kesamaan selera dalam beberapa hal yang tidak bisa dikompromikan, bahkan dalam memilih tempat duduk. Suasana tenang di pojok ruangan yang menghadap langsung ke jalan jadi tempat duduk favorit mereka, ketika berada di Rumah cake. Mereka berdua sengaja memilih menghabiskan sore dengan menikmati cake di kafe milik Vidya, walaupun tanpa kehadiran wanita yang berpenampilan sederhana itu, karena harus menghadiri seminar dan demo baking di salah satu hotel. “Banyak banget, Om pesennya? Ini kafe punya ibu ngapain pesen? Tinggal ambil aja,” seloroh Bintang menertawakan Davin. “Om ingin traktir Bintang, kalau cuma ambil tanpa bayar, sama aja bohong.” Davin menghapus coklat yang belepotan di sekitar mulut Bintang dengan tissue yang sudah tersedia di tiap meja. Satu lagi kesamaan kami, makan yang tidak pernah bisa rapi. batin Davin Ia memperhatikan setiap gerak-gerik putra tunggalnya dengan seksama, menghitung berapa banyak kesamaan yang mereka berdua miliki. Tidak pernah merasakan memiliki seorang anak selama hidupnya, tetapi langsung dipercaya Tuhan menjadi ayah dari seorang anak yang sudah beranjak remaja, membuat Davin merasa memiliki banyak hutang pada Bintang. Tiga belas tahun sejak anak itu lahir, Davin tidak pernah mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Membiarkan anak itu terlantar tanpa kehadiran dirinya sebagai sosok ayah yang menjaga dan melindungi, membuatnya merasa harus menebus kesalahan itu dengan mencurahkan kasih sayang berlimpah pada Bintang. “Bener juga, ya. Kalau kaya gitu, ibu yang traktir kita berdua.” kembali tawa anak itu terurai. “Om ada sesuatu untuk, Bintang. Semoga suka.” Davin menyerahkan sebuah paper bag pada anaknya. “Apaan nih, Om?” “Coba, Bintang buka.” Remaja tanggung itu membuka kotak yang terbungkus kertas kado, kedua tangannya spontan menutup mulut yang hampir menjerit kegirangan. Matanya berbinar melihat hadiah yang diberikan oleh Davin. “Aaaahhh ... makasih, Om. HP ini buat Bintang? Ini HP mahal, Om!” ucap anak itu tidak percaya. “Suka?” tanya Davin, sambil menyesap cappucino panas pesanannya. “suka pake banget, banget, banget, dan banget!” jawab Bintang. “Mau pindahin kartu dan nomor telepon yang di HP lama ini, gimana Om?” Anak itu terlihat agak kesulitan mengoperasikan hp baru miliknya. “Di rumah aja tuker kartunya, oke?” saran Davin. Bintang mengangguk, menyimpan hp pemberian Davin ke dalam kotak dan memasukkannya kembali dalam paper bag. Davin mengelus pucuk kepala Bintang, tidak ada kata terlambat untuk seorang ayah memanjakan anak. Memberikan Bintang sebuah HP dengan harga sedikit lebih mahal dari milik teman-temannya, tidak akan menjadi kesalahan besar. Namun, Vidya sering kali menolak dan marah dengan cara Davin yang terlalu menuruti semua keinginan Bintang. Alasannya selalu sama, anak akan menjadi manja, egois, dan tidak bisa diajak hidup prihatin. Dirinya hanya ingin membayar tiga belas tahun waktu yang terbuang sia-sia, apakah itu salah? Alika mendengar suara tawa yang familiar, mengedarkan pandangan mencari asal suara yang ternyata berasal dari pengunjung cafe. Posisi duduk yang memunggungi pintu dan kasir, membuat dirinya tidak bisa melihat siapa orang yang memiliki tawa seperti suaminya. Senyum Alika melebar, melihat seorang anak remaja yang melompat-lompat kegirangan, bahkan remaja laki-laki itu menutup mulut agar teriakan histerisnya tidak mengganggu pengunjung yang lain. Akan tetapi senyum itu tidak bertahan lama di bibir Alika, ketika ia menyadari laki-laki yang sedang bersama anak remaja itu adalah Davin. Inikah yang suaminya katakan dengan sibuk? Tidak punya waktu menjemput dirinya di bandara, tetapi bisa menghabiskan waktu untuk seorang bocah? Selama dua bulan kepulangan Davin di Pontianak, tidak pernah sekali pun dirinya mendengar laki-laki itu bercerita tentang seorang anak dari mulutnya. “Mbak, saya mau satu coffee latte, bisa tolong diantar ke meja yang di pojok sana?” tanya Alika sambil menunjuk ke arah Davin dan Bintang yang sedang asik bercanda. “Bisa, Bu, diantar ke meja nomor lima belas, ya? Tempat yang sama dengan pak Davin dan Bintang?” tanya Anis. “Ehm, mereka berdua pelanggan tetap, Mbak? Bisa hapal nama-nama pelanggan.” Alika tertawa kecil, memancing jawaban dari pelayan kafe. “Bukan, Bu. Pak Davin itu, teman dari pemilik kafe, kalau Bintang, dia anak dari pemilik kafe, bu Vidya.” Anis memberikan penjelasan yang dibutuhkan Alika, tanpa diminta. Wanita cantik itu memberikan senyum palsu untuk menutupi hatinya yang mulai terasa sesak karena cemburu. Vidya, nama itu ternyata tidak pernah hilang dari ingatan Davin. Belasan tahun menikah, ternyata dirinya masih tidak sanggup menggeser wanita itu dari hati suaminya. Ia berjalan mendekati Davin dan Bintang, menyentuh pundak laki-laki itu dan memberikan senyuman hangat untuk mereka berdua. “Anak yang cakep, benerkan, Mas!” sapa Alika tiba-tiba, membuat Davin dan Bintang menoleh serentak. Bintang tersenyum membalas sapaan Alika, mengunjukkan salam, dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim. Rasa heran dengan sosok wanita yang tiba-tiba menyapa dirinya dan Davin, dia abaikan. Sapaan lembut Alika tidak hanya membuat Bintang heran, tetapi juga membuat kaget pria dewasa yang ada di sampingnya. Davin tidak menyangka bisa bertemu Alika saat ini di Rumah Cake ketika sedang bersama Bintang. “Kamu, sudah pulang ke rumah?” tanya Davin datar. “Belum, dari bandara langsung diantar Purnomo ke sini, ingin membelikan beberapa potong cake, untuk mama.” jelas Alika “Ternyata yang dikatakan Purnomo benar. Rumah Cake adalah toko kue terbaik di kota ini!” Ada sindiran halus yang diberikan Wanita anggun itu untuk Davin, membuat dirinya merasa jengah. “Bintang, perkenalkan istri, Om. Baru datang dari surabaya!” ucap Davin. Sekali lagi Alika merasa masygul mendengar ucapan Davin, kenapa laki-laki itu harus memperkenalkan Alika pada Bintang dan bukan sebaliknya? Apakah sebegitu buruk dirinya, hingga berhadapan dengan anak Vidya pun, dirinya seperti tidak memiliki harga diri? Sementara itu, bintang yang memang tidak mengerti apa-apa, hanya memamerkan senyum yang semakin lebar, membuat kedua lesung pipinya tercetak jelas. Senyum yang kembali membuat Alika semakin merasa tidak berharga. Senyum anak remaja yang ada di depannya, menunjukkan kemiripan wajah dengan Davin yang tidak bercela. Membentuk dugaan baru di hati wanita itu, menghadirkan banyak pertanyaan yang seketika berpesta pora di otaknya. Haruskah hatinya terluka di hari pertama ketibaannya di kota ini? Bintang, anak dari teman lama kita ... Vidya.” Davin mencoba memberikan penjelasan perlahan pada istrinya. Sebagai suami Alika, ia sangat mengetahui perubahan riak wajah pada wanita itu. Ada raut sedih, kecewa, dan marah yang terbaca jelas di wajah Alika. Namun, seperti biasa, dia adalah wanita hebat yang sangat pintar menyembunyikan perasaan. Walapun harus berulang kali mengucap kata sabar sebagai mantera keihklasan dirinya menerima semua rasa kecewa di hati wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD