Dia Anak Mu

2164 Words
Semenjak Davin dan Bintang bertemu, mereka berdua semakin akrab. Hampir setiap hari Davin menghubungi Vidya hanya untuk menanyakan kabar anak itu. Sebagian hati Vidya gembira melihat keakraban mereka berdua, tetapi di sisi lain, dirinya juga khawatir jika keduanya curiga tentang hubungan mereka berdua. Vidya belum siap untuk jujur, apalagi pada Bintang. Anak itu masih belum cukup dewasa untuk mengerti keadaan yang sesungguhnya, walau Vidya mengakui Bintang sangat pengertian dan sigap dalam merawat dirinya. Dilema, itu yang Vidya rasakan. Tidak mungkin ia akan menyimpan rahasia ini selamanya dari Bintang. Tiga belas tahun kehidupan anak itu, hanya dua kali ia bertanya tentang siapa ayahnya, dan setiap pertanyaan itu diajukan oleh Bintang, Vidya hanya bisa mengelus rambut anaknya dengan memberikan senyum terpaksa. Membiarkan Bintang hidup dalam ketidak tahuan tentang siapa ayah kandungnya, tidak pernah menjadi niat Vidya, tetapi jika harus jujur sekarang, hati anaknya pasti akan terluka. Dirinya tidak akan sanggup melihat kesedihan Bintang. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau menurutmu mereka berdua harus tau, jujurlah.” Saran Ariani. “Awas, masih panas!” Ia menyerahkan secangkir teh panas pada Vidya. Wangi teh bercampur aroma melati memenuhi ruangan. Vidya menyesap teh nya perlahan. Setidaknya teh yang memiliki aroma khas yang disuguhkan oleh sahabatnya bisa membuat pikiran Vidya sedikit tenang. “Apa aku harus bicara pada Bintang sekarang? Tapi aku khawatir, dia tidak bisa menerimanya dengan mudah.” Wajah Vidya terlihat kusut, semangatnya menguap ketika membayangkan kesedihan Bintang. Ariani meletakkan sepiring pisang goreng yang penuh dengan taburan keju, kemudian menoyor kepala Vidya dari belakang. “Kamu tuh, ya. Pinter belum nyampe, bego udah disebar kemana-mana!” gerutu Ariani. “Bicarakan dulu dengan Davin, minta bantuannya untuk menjelaskan secara perlahan pada Bintang, sementara mereka saling mendekatkan diri.” Vidya memandang Arinai penuh dengan rasa takjub. Terkadang sahabatnya yang terkenal tengil, bisa berubah menjadi sangat bijak dan logis. “Tumben pinter, biasanya, kamu lola,” ledek Vidya. “Apa gara-gara makan pisang goreng gosong, kamu jadi pinter?” Sengiran wanita itu merekah menjadi tawa, melihat Ariani yang memajukan bibirnya kesal. Sementara di dalam hati, Vidya membenarkan saran dari Ariani. “Tidak mau, jangan dimakan! Aku habiskan sendiri,” rungut Ariani. “Bian aja suka makan ini. Di kasih taburan keju dan susu.” Gadis itu memperhatikan pisang goreng buatannya yang berwarna kecoklatan mendekati gosong, mendengkus kesal karena usahanya dalam belajar memasak hampir selalu gagal. "Jiaaah, ngambek. Udah ketuaan, Ri, mau ngambek,” seloroh Vidya yang disambut tawa masam Ariani. Usia sudah mendekati kepala tiga, tetapi pelajaran dasar seorang wanita, ia tidak bisa melakukannya. Terselip perasaan malu di hati Ariani, bagaimana dirinya bisa melayani Bian dengan baik, jika kepandaian memasaknya saja Nol besar. Vidya merasa sedikit tenang setelah berbicara dengan Ariani. Sahabatnya memang agak konyol, tetapi cukup dewasa ketika diajak bicara serius. Saran yang diberikan oleh Ariani cukup untuk membuat Vidya bisa berpikir dengan jernih. Vidya dan Davin harus membicarakan banyak hal tentang mereka bertiga, atau ... setidaknya tentang mereka berdua, Davin dan Bintang. “Menurutmu, aku harus hubungi Davin sekarang?” Vidya mengajukan pertanyaan. Dirinya berharap Ariani memberikan jawaban yang menguatkan keinginannya untuk menghubungi Davin. “Kamu siap? Kalau kau merasa baik-baik saja, hubungi sekarang! Semakin cepat, semakin baik,” ucap Ariani, menepuk pelan, punggung tangan Vidya. Ariani mengetahui yang dibutuhkan Vidya saat ini bukanlah jawaban dari pertanyaannya, tetapi sebuah dukungan yang menguatkan, agar ia berani mengambil sebuah keputusan. Wanita sederhana yang saat ini berada di hadapannya, bukanlah manusia yang memiliki pemikiran normal layaknya orang lain. Dia membutuhkan lebih dari sekedar didengarkan. Vidya sangat berbeda dari sebagian perempuan, yang lebih memilih mengeluarkan emosinya agar terbebas dari rasa tertekan. Diia akan memilih diam hingga tidak kuat menyimpannya sendiri dan akhirnya akan menjadi semakin berbeda dengan waham yang selalu mengintainya setiap saat. Beruntunglah Vidya memiliki seorang anak yang hebat, bisa menjaga ibunya dengan baik, meskipun dengan keterbatasan pengetahuan tentang kejiwaan. Bintang, bocah tiga belas tahun itu bagai sosok malaikat penjaga untuk Vidya. Suara Vidya terdengar gemetar dan terbata, saat ia menghubungi Davin dan mengatakan ingin bertemu dengan pria itu. Setakut apa pun dirinya, dia tetap harus menghubungi Davin, demi anak mereka, Bintang. “Aku pamit ya, Ri. Mas Davin dan Mama, menunggu di rumahnya,” jelas Vidya diiringi anggukan kepala Riani. Vidya berdiri, memeluk, dan mencium kedua pipi Ariani, sebelum beranjak pergi meninggalkan rumah sahabatnya. Sepanjang jalan ia menguatkan hati yang berulang kali bimbang. Terlalu banyak yang dipikirkan membuat wanita itu sedikit gamang memegang setir mobil. Beberapa kali dirinya hampir masuk ke jalur pejalan kaki, membuat beberapa pengendara melayangkan sumpah serapah untuknya. Fokus Vidya, Fokus. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Berulang kali Vidya merapalkan kalimat itu di dalam hati, bagaikan mantera penenang yang bisa membuat dirinya merasa lebih baik. *** Kedatangan Vidya disambut oleh kedua ibu dan anak itu dengan perasaan yang sulit di ungkapkan. Davin yang menunggu kedatangan Vidya sejak tadi dengan tidak sabar, mengulum senyum melihat wanita yamg dicintainya keluar dari mobil. Sementara itu, Erna melihat kedatangan Vidya dan senyum yang mekar di wajah Davin, merasakan kecemasan yang sangat. Pikiran kedua orang itu di penuhi dengan berbagai dugaan yang muncul, membuat ekspresi yang mereka tampilkan terlihat berbeda. Davin yang menduga Vidya akan menerima kehadirannya, tak henti mengulas senyum. Ia berpikir, kedekatannya dengan Bintang bagaikan seorang anak kepada ayah, akhirnya bisa meluluhkan hati wanita yang penuh dengan kesederhanaan itu. Sementara Erna menduga, Vidya akan meminta Davin sekali lagi untuk menjauh, dan pergi meninggalkan Kota Pontianak. Mereka bertiga duduk di satu ruangan yang sama tetapi saling mengunci mulut. Enggan untuk bicara, menciptakan keheningan yang semakin membuat pikiran menggila dengan dugaan-dugaan tak beralasan. “Sebelumnya aku ingin minta maaf pada Mama dan Mas Davin. Aku memberanikan datang kemari untuk membicarakan banyak hal, tetapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh Mama untuk membantuku.” Vidya berbicara panjang lebar dengan kepala tertunduk. Tidak berani menatap kedua orang yang menjadi lawan bicaranya. Kedua jari tangan Vidya salin memilin, kebiasaan yang ia lakukan untuk meredakan rasa gugup. “Ada apa, Vid? Bicaralah!” Erna membelai lembut punggung tangan Vidya yang telah basah oleh keringat, berusaha menenangkannya yang semakin terlihat gelisah. Melalui ujung matanya, Erna memberi isyarat pada Davin agar menuangkan air, dan menyerahkannya pada Vidya. “Minum dulu, Nak!” “Aku ingin bicara tentang Bintang, sudah waktunya kita harus membicarakan ini semua, Mah,” ucap Vidya pelan, kemudian meminum perlahan air yang diberikan oleh Erna padanya. Davin yang sejak tadi diam, mulai bisa meraba arah pembicaraan vidya dan Erna, tapi ia memilih tetap diam, tidak ingin merusak suasana dengan menambah kekalutan Vidya. Biarlah sang mama yang berbicara, akan ada waktu untuk dirinya mendapatkan titik terang tentang apa yang akan mereka bicarakan. Erna mengangkat dagu Vidya, menatap lembut jauh ke dalam manik mata wanita itu, dan memberikannya seulas senyum yang menenangkan. Dirinya mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Vidya, tetapi wanita yang sudah sepuh itu merasa tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Ia ingin Vidya dan Davin bersikap dewasa dengan saling bicara dan mendengarkan. Memaafkan adalah pilihan terbaik untuk kedua anak yang sangat ia sayangi. Erna ingin mereka berdua belajar untuk memaafkan dan mencintai diri sendiri. Luka yang menoreh sangat dalam di hati mereka tidak akan pernah sembuh, jika keduanya enggan untuk berdamai dan bersahabat dengan masa lalu. “Sayang, dengarkan Mama! Kamu tidak perlu minta maaf, dan memang sudah seharusnya kalian berdua bicara.” Nasehat Erna. “Kalian pasti bisa menyelesaikan semua persoalan tanpa campur tangan Mama. Jika kalian membutuhkan Mama, naiklah ke kamar atas.” Perlahan Erna melepaskan genggaman tangan Vidya, meski wanita itu memberikan tatapan memohon agar dirinya tetap berada di sana. Sorot mata Vidya yang biasa terlihat tegar, kini tampak rapuh dipoles keraguan dan ketakutan yang sejak tadi membayang. Erna mengangguk memberikan dukungannya pada Vidya, kemudian mencium pucuk kepala wanita malang itu dan Davin bergantian, sebelum meninggalkan mereka berdua, naik ke atas menuju kamar tidurnya. Suara TV yang terdengar samar tidak mampu menetralkan suasana yang terasa menegangkan, setelah ditinggalkan Erna. Keduanya sama-sama nyaris membeku, terdiam tanpa tahu harus berbicara apa untuk mencairkan suasana. “Bintang sering menanyakan, Mas,” ucap Vidya, memulai pembicaraan. “Ehm ... ya, kami cukup dekat. Bintang anak yang cerdas dan sangat menyenangkan. Kau beruntung memiliki anak seperti dia.” Davin menoleh, memberikan senyum tulus pada Vidya yang masih tampak gugup. “benar, Aku sangat beruntung memiliki Bintang. Dia anak yang sangat pengertian,” Vidya membenarkan ucapan Davin. Senyumnya terkembang ketika mengingat Bintang, anak yang sangat ia sayang. “Ada yang ingin aku bicarakan tentang Bintang,” lanjut Vidya. Ia mengubah posisi duduk agar bisa melihat dengan jelas reaksi Davin, tentang apa yang ia bicarakan. Davin memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Vidya, memberikan respon seperti yang diharapkan wanita itu. “Ada apa dengan anak itu? Ada yang mengusiknya?” tanya Davin. Entah kenapa di hati laki-laki itu ada rasa tidak nyaman ketika membayangkan ada yang mengusik anak dari wanita yang dicintainya. Vidya tersenyum kaku, sebelah tangannya meraba tengkuk yang tiba-tiba menjadi merinding tanpa sebab. “Ehm— tidak, anak itu tidak akan mudah untuk dibully. Dia anak yang hebat,” jelas Vidya. Kedua jari tangannya kembali saling memilin. Davin menyentuh tangan Vidya sekilas. “Berhenti memilin jari seperti itu, bicaralah!” ucap Pria itu penuh kelembutan, membuat Vidya menjadi sedikit lebih tenang. “Bintang, ehm ... dia— dia anak kita," lirih Vidya. Wajahnya tertunduk dalam seperti seorang terhukum di dalam persidangan. Davin tersenyum, berjalan mendekati Vidya, dan berdiri di samping wanita itu. “Aku sudah menduganya, walaupun selama ini kau tidak pernah menjelaskan hal itu.” Kata-kata Davin membuat Vidya terperangah. Ia mendongakkan kepala, melihat laki-laki yang berdiri tepat di sampingnya. “Mas, sudah tau?” “Tidak, aku hanya menduga.” “Karena itu, Mas mendekati Bintang?” “Tidak! Walaupun dia bukan anakku, tetapi aku sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu.” Davin menggeleng, ia duduk di samping Vidya dan menyentuh lembut pundak wanita itu. “Sejak pertama melihat Bintang, aku seperti melihat bayangan wajahku sendiri. Makanan kesukaan, minuman favorit, dan alergi yang kami derita, semua sama,” jelas Davin. “Bagaimana aku bisa menolak fakta, dengan begitu banyaknya kemiripan di antara kami berdua?” Selama ini kedekatan Davin dan Bintang, murni karena rasa kasih sayang yang tumbuh di hatinya. Andaipun ada tujuan lain, dirinya hanya berharap Vidya bisa menerima kehadirannya. Takdirlah yang berpihak pada Davin, ternyata anak yang mencuri hatinya, tidak lain adalah anak kandungnya sendiri. Kebahagiaan pria itu membuncah, dua belas tahun pernikahannya dengan Alika tidak ada benih yang mampu bertahan di rahim wanita malang itu. Mungkin ini bagian dari rencana tuhan atau takdir yang sedang bermain-main dengan mereka. wanita yang sah menjadi istrinya tidak bisa memberikan keturunan, sementara wanita yang menjadi kebiadaban s*x nya di masa lalu, justru melahirkan seorang putra yang tampan dan cerdas. Seorang putra yang akan menjadi penerus keturunannya. “Bintang belum mengetahui hal ini. Aku, belum berani bicara jujur padanya.” Jelas Vidya. “Aku harap, mas tidak keberatan ...." “Tidak apa-apa, biarkan Bintang mengetahuinya dengan perlahan. Jangan membuat hati anak kita terluka,” Davin memotong penjelasan Vidya. Jari telunjuknya menempel di mulut wanita yang terlalu banyak memberikannya kebahagiaan dan bersabar meski hatinya telah dilukai oleh Davin. Pria itu mengerti apa yang ingin dikatakan Vidya, dirinya juga mengerti selama ini Vidya membesarkan Bintang seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Jika anak itu gagal mengenalinya sebagai ayah, Davin tidak apa-apa. Ia sudah cukup bahagia dengan kasih sayang yang Bintang berikan. Davin tidak mau memaksa Bintang mengakui dirinya sebagai ayah jika harus melukai hati anak itu. Bagaimana dirinya bisa egois menuntut sebuah pengakuan, jika selama ini ia tidak pernah hadir sebagai sosok seorang ayah yang bertanggung jawab di saat Bintang sangat membutuhkan kehadirannya. Vidya tersenyum lega, wajah yang sedari tadi penuh keraguan dan ketakutan perlahan terkikis dengan sikap lembut dan pengertian yang Davin berikan. "Terima kasih, Mas. Aku tidak bermaksud menutupinya dari Bintang, aku hanya belum bisa jujur untuk saat ini.” Kembali wanita itu mengulas senyum, membalas sentuhan Davin dengan menggenggam erat tangan pria itu. Kebahagiaan karena Davin mau mengerti keadaanya, membuat Vidya melupakan rasa takutnya pada davin. Pria yang selalu dianggap monster oleh Vidya, hari ini berubah menjadi seorang malaikat walau hanya untuk sesaat, Ketika dirinya tersadar, wanita itu cepat menarik tangannya kembali. “Kita lupakan kekhawatiranmu tentang Bintang,” sela Davin. “Aku hanya butuh izin darimu untuk bertemu dengan anak kita, apakah boleh?” Davin berjongkok di hadapan Vidya. Di balik kacamata putihnya, ia melihat ada binar bahagia yang ditahan oleh wanita itu, tetapi sejurus kemudian tawa bahagia diberikan wanita itu dengan lelehan air mata yang mengurai. Vidya mengangguk cepat, untuk pertama kalinya ia merasa tidak takut disentuh Davin, dan tidak khawatir dengan kedekatan mereka. Untuk pertama kalinya juga, Vidya merasa baik-baik saja ketika berbicara tentang masa lalu dan Bintang. “Boleh bertemu setiap hari? boleh bertemu sesering mungkin?” Kembali Davin mengajukan tanya, bibirnya tak lepas melukis senyum melihat Vidya memberikan anggukan cepat. “terima kasih, sudah jujur padaku. Terima kasih telah melahirkan seorang anak yang hebat, dan terima kasih telah merawat anak kita dengan baik.” Davin duduk bersimpuh di hadapan Vidya, menggenggam erat tangan wanita itu dan menciumnya berulang kali. Dirinya sangat bahagia, hingga tanpa sadar ia mengeluarkan tangis penuh rasa haru. Berulang kali mereka mengucapkan terima kasih, saling memberikan senyum penuh ketulusan. Satu masalah sudah berhasil mereka atasi. Bintang adalah anugerah dalam kehidupan mereka berdua yang sangat rumit. Tawa bahagia mereka yang hampir pupus, kembali hadir dengan adanya Bintang. Mereka yang saling menyalahkan, bisa berdamai semua karena Kehadiran Bintang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD