Ketakutan Baru

2100 Words
Rumah Cake tidak pernah sepi dari pelanggan. kafe yang beroperasi dari jam sepuluh pagi hingga sebelas malam itu, tidak hanya dikunjungi oleh anak remaja ataupun orang dewasa, beberapa orang tua juga sering mampir ke kafe milik Vidya. mereka menyukai keramahan karyawan dan pemilik kafe yang tak segan melayani tamu walau hanya memesan sepotong kecil cake. Seperti siang ini, pengunjung yang datang memenuhi kafe adalah para manula yang merayakan ulang tahun perkumpulan mereka. Walaupun rata-rata pengunjung kafe adalah nenek-nenek cerewet, Vidya tetap tersenyum ramah, bahkan sesekali ikut bercanda dengan pelanggan. “Vidya,” seorang wanita yang sudah sepuh memanggil dirinya, ketika ia melintas dari arah dapur menuju kantor, di bagian atas ruko. Sigap ia hentikan langkah, berbalik menghampiri wanita tua yang memanggil dirinya. Vidya menyapa wanita tua itu dengan senyum lebar bagaikan bunga yang mekar di pagi hari. “Sore, Oma Lika. Apa kabar? Wuidih, Oma, makin cantik aja,” puji Vidya tulus. “Cucu Oma baru pulang dari Bandung, bawain Oma oleh-oleh banyak banget. Ini buat kamu.” Oma Lika menyerahkan paper bag pada Vidya, “Waahhh ... Makasih, Oma!” Vidya menerima pemberian oma Lika dengan mata berbinar. Ia mengintip sedikit ke dalam paper bag, ada satu buah kaos berwarna putih dan satu wadah peuyeum, makanan kesukaan Vidya. “Kamu kapan mau bertemu dengan cucu Oma?” tanya Oma Lika. Nada suaranya terdengar sedikit memaksa. “Kapan ya, Oma? Vidya masih sibuk banget, apalagi sekarang Bintang mulai aktif lagi di club bela diri sekolah Makin susah Vidya atur waktunya,” jawab Vidya. Sudah berapa kali Oma Lika meminta dirinya untuk bertemu dengan cucu kesayangan beliau, tapi Vidya selalu berusaha menolak dengan halus. Ada rasa enggan jika harus menuruti keinginan Oma Lika, yang ia tau punya tujuan khusus menjodohkan dirinya dengan cucu kesayangan beliau. “Kamu selalu sibuk, kapan sih nggak sibuknya?” gerutu Oma Lika. Bibirnya mengerucut, berusaha untuk menunjukkan kekesalannya pada Vidya. “Kalau ada waktu, secepatnya Vidya hubungi Oma.” Janji Vidya. dirinya tidak tega kalau harus menghampakan keinginan wanita yang sudah sepuh itu. Oma Lika tersenyum sumringah. “Janji, ya!” ucapnya, meminta kepastian. Vidya mengangguk, berbasa basi sebentar sebelum meninggalkan Oma Lika menuju ke ruang kerjanya. Di kantornya, Vidya hanya duduk termenung. Janjinya pada Oma Lika ternyata membebani pikiran wanita sederhana itu. Tidak mudah bagi dirinya jika harus berkenalan dengan laki-laki asing, yang jelas perkenalan itu akan membawanya pada arah yang bernama perjodohan. Ia tidak siap membuka lembaran baru di hidupnya dengan menerima kehadiran orang lain untuk ikut masuk ke dalamnya. Selama ini Vidya sudah cukup bahagia dengan hidup bersama Bintang dan dia tidak pernah berniat memberikan Bintang sosok ayah baru dalam hidup anak itu. Bintang memiliki seorang ayah yang sempurna, walau anak itu belum mengetahui siapa dan di mana keberadaan ayahnya. Meski Davin bukan laki-laki yang baik, tapi Vidya tau, dia bisa menjadi ayah yang baik. Tiba-tiba Vidya tersadar dengan pikirannya sendiri. Dirinya mengingat Davin? Padahal dalam beberapa hari ini, laki-laki itu telah sukses membuat hidupnya dinaungi awan mendung. Vidya menyadari, kehidupan Davin pasti tidak jauh lebih baik dari dirinya. Mereka berdua sama-sama menyimpan perih akibat kejadian masa lalu. Suara berisik dan saling adu mulut terdengar di balik pintu ruang kerja Vidya, sebelum beberapa detik berikutnya pintu tersebut dibuka paksa oleh orang yang baru saja melintas di pikiran nya. “Maaf, Mbak, kami ....” “Nggak apa-apa, Do. Kamu bisa keluar!” ujar Vidya cepat. Tidak tega melihat wajah Aldo yang penuh rasah bersalah. “Terima kasih, Mbak. Saya pamit, balik ke kitchen.” ucap Aldo parau. Davin memberikan senyum permohonan maaf pada Aldo yang dibalas dengan anggukan dan senyum ramah dari pemuda itu. Vidya memandang mereka berdua dengan tatapan heran. Dirinya berpikir begitu mudahnya para laki-laki berkomunikasi, meminta maaf tanpa kata. Cukup tersenyum dan anggukkan kepala. “Vidya, jangan menghindar lagi, kita harus bicara.” Davin memohon. Dirinya sudah lelah mencari kebenaran tentang Vidya. “Apa lagi yang ingin, Mas bicarakan?” tanya Vidya. Sekujur tubuhnya gemetar. Ada rasa takut yang melekat setiap ia melihat laki-laki itu. “Banyak yang harus dibicarakan!” jawab Davin lugas. Vidya iba melihat pria yang terlihat tampan dengan kulitnya yang putih bersih, sesekali membetulkan letak kaca mata yang ia gunakan, untuk menutupi kegugupan. “Duduklah, mas!.” ajak Vidya. Ia menyerahkan sekaleng cola pada Davin, yang disambut dengan ucapan terima kasih oleh pria itu. Davin memandang Vidya dengan tatapan sendu, ada rindu di mata pria itu. Selama ini dirinya tidak pernah bisa melupakan wajah wanita yang ia cintai. Wanita yang dulunya hanya seorang gadis lugu, tetapi sekarang sudah menjelma menjadi wanita yang cantik sempurna. “Aku merindukanmu, Vidya.” ucap Davin. “Empat belas tahun berpisah tidak ada yang berubah darimu. Hanya sikapmu yang berbeda, ada apa?” Getar ragu terdengar dari suara Davin, mengungkapkan rasa rindu yang ia simpan selama empat belas tahun. Rindu yang tidak bisa ia ungkapkan kepada sang pujaan hati. Terhalang rasa bersalah dan statusnya yang sudah menjadi suami dari wanita lain. “A-aku terlihat berbeda? Aku ... ma-sih Vidya yang sama.” Suara Vidya terdengar gugup. Wanita itu mendapati Davin menatapnya tanpa berkedip, bulu kuduknya meremang. Dirabanya tengkuk yang basah oleh keringat dingin, suasana benar-benar mendukung rasa takut Vidya untuk berkembang menjadi delusi yang harus ia tekan sekuat tenaga. Dirinya menjadi teringat dengan tatapan mengerikan Davin empat belas tahun silam. Tatapan yang hampir sama. Bedanya tatapan yang dulu seperti memiliki kekuatan magis, membuat pemiliknya menggila dalam nafsu tak terkendali. “Kamu berbeda, Vidya! Ada yang kamu sembunyikan dariku. Kamu dan mama, menyimpan rahasia!” ujar Davin. Wajahnya berubah murung, apalagi ketika melihat kegelisahan Vidya saat berbicara dengannya. Ada rasa sakit tak kasat mata di hati pria itu. Sakit yang menghunjam jantung, hingga membuat kedua matanya berembun. Vidya mencoba bersikap wajar, ia tarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menata hatinya agar bisa bicara dengan tenang. “Kita memang harus bicara, Mas. Setelah pembicaraan ini, aku harap, Mas mau mengerti keadaanku.” Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kedua mata terpejam sebelum ia melanjutkan kata-katanya. “Aku memaafkan semua yang telah terjadi pada kita, tetapi sedikitpun aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Berulang kali aku mencoba untuk membuang ingatan tentang hal itu, berulang kali juga ia datang menghantui dengan mimpi-mimpi buruk!” Kedua tangan Vidya terkepal, ada nyeri yang ia tahan ketika harus menguar kembali cerita lama. Kisah kelam yang sudah ia kubur, kini terekam dengan jelas dan memutar kembali lembaran demi lembaran tiap adegan. Bagaikan lembaran rol film yang berputar berulang-ulang kali. Vidya mengingat dengan jelas tiap hembusan napas Davin yang ia dengar saat itu, dan kini telinganya seolah mendengar kembali tiap tarikan napas Davin. Sentuhan kasar yang dilakukan Davin padanya seolah meresap dalam tiap pori-pori kulit, membuat bulu tubuhnya kembali meremang. Ia hampir berdelusi akan kejadian empat belas tahun lalu. “Aku minta maaf ... aku juga menderita dengan kejadian itu. Mama dan papa mengusirku, mereka bahkan tidak hadir di hari pernikahanku,” sesal Davin. Pria gagah itu mengusap kedua pipinyam Embun di matanya telah berubah menjadi bulir bening yang menganak sungai. Dirinya benar-benar menyesali kejadian empat belas tahun yang lalu. Ia berjalan ke arah jendela, mengintip dari balik kaca memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat, mengalihkan perhatian agar sabak di d**a tidak terasa begitu menyakitkan. “Hukuman yang kuterima sangat menyiksa. Aku hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah! Aku depresi dan selalu menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku tidak mati saja saat itu, atau kembali memohon maaf dan bertanggung jawab atas semua dosa-dosaku!" Davin bicara dengan pandangan tetap mengarah keluar jendela. Ia takut jika Vidya melihat keadaan dirinya yang sangat mengenaskan. Pria gagah menangis di hadapan seorang wanita. Ia malu dengan keadaannya yang sekarang. Vidya membuka mata, ujung telinganya mendengar suara isak tertahan yang keluar dari mulut Davin. Dirinya tidak pernah menduga ternyata pria itu menderita, sama seperti dirinya. Selama ini Vidya berpikir jika davin pria egois dan penakut, tertawa puas setelah berhasil menodai dirinya kemudian lari dari tanggung jawab. “Jangan merasa bersalah, Mas. Semua sudah lama terjadi dan aku sudah memaafkanmu,” suara Vidya terdengar lirih. “tetapi, tolong menjauhlah dariku. Bantu diriku untuk tetap waras dengan tidak muncul di hadapanku!” Davin tersentak mendengar permintaan Vidya, tetapi ia menyadari luka yang ia torehkan pada wanita itu sangat dalam. Pria tampan itu melepas kaca matanya, mengelap embun yang memburamkan kacamata tersebut dengan ujung kemeja putih yang ia pakai. Dirinya mendekati Vidya, memberikan senyum terbaik yang ia miliki seolah beban yang menggantung di pundaknya terlepas, setelah mendengar kata maaf dari Vidya. “terima kasih. Tapi maaf, aku tidak bisa menghindarimu. Aku akan selalu datang untuk melihat wanita yang selalu aku cintai!” tegas Davin. Vidya terperangah, tidak menyangka pria yang baru saja mengeluarkan air mata penyesalan sudah berubah kembali menjadi sosok egois yang menyebalkan. Dirinya merasa menyesal sedikit bersimpati pada Davin. “Aku akan mengantarmu ke bawah,” ucap Vidya, mengakhiri pembicaraan sebelum emosinya kembali menjadi tidak stabil. Dirinya tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Davin lebih lama lagi. Belum sempat Vidya membuka pintu, tiba-tiba Bintang sudah masuk ke ruang kerjanya. Memeluk dan mencium kedua pipi wanita itu dengan manja. Remaja kencur itu tidak menyadari kehadiran orang ketiga di ruangan tersebut, hingga Vidya memberikan isyarat mata kepadanya. Bintang mengangguk takzim pada Davin, mengulurkan salam dan mencium tangan pria yang wajahnya seiras dengan dirinya. Pendidikan tatakrama yang diberikan oleh Vidya telah mengakar pada remaja itu. Dada Davin menghangat, ia merasakan sesuatu yang sulit dijabarkan ketika remaja bertubuh jangkung itu mencium tangannya penuh rasa hormat. Ada kebanggaan yang tiba-tiba menyeruak, tanpa ia ketahui penyebabnya. “Berapa usiamu, Nak?” tanya Davin. Ia memperhatikan tiap garis wajah Bintang. Ada sesuatu di sana yang membuatnya merasa yakin jika remaja itu adalah anak kandungnya. “Tiga belas tahun, Om. Udah kelas satu SMP dan sebentar lagi akan segera menjadi lelaki gagah, rebutan para wanita.” Bintang menyapu rambutnya kebelakang meniru gerakan salah satu iklan minyak rambut. Vidya dan Davin saling pandang sebelum akhirnya tertawa melihat tingkah Bintang. Kehadiran remaja laki-laki itu mencairkan suasana kaku dan kelam yang sedari tadi memenuhi ruangan. Mereka berdua akhirnya bisa tertawa lepas tanpa beban. “Sudah punya pacar?” tanya Davin lagi, sambil membetulkan letak kacamatanya. “Belum punya, Om. Tapi teman-teman bilang, wajah Bintang cakep dan banyak cewe yang antri pengen kenalan dengan Bintang,” jawabnya penuh percaya diri. Davin merangkul pundak Bintang mengajaknya berjalan berdampingan keluar ruangan, layaknya dua orang sahabat yang sudah kenal lama. Vidya membuntuti dari belakang, membiarkan ayah dan anak itu saling bicara akrab walaupun keduanya belum mengetahui hubungan darah yang terikat di antara mereka. Ikatan batin tidak akan pernah menipu, bagaimanapun darah selalu lebih kental dari air. Kalian berdua adalah ayah dan anak, sekali bertemu langsung menjadi akrab. Batin Vidya. Mereka mengantar kepulangan Davin hingga ke parkiran. Bintang melambaikan tangan dengan penuh semangat ketika mobil yang membawa Pria tampan itu meluncur pergi. “Temen Ibu yang tadi keren. Kapan ya, bisa ketemu lagi!” ujar Bintang bersemangat. Tidak pernah dirinya sebahagia ini bertemu dengan orang yang baru ia kenal. “Bintang, suka dengan om yang tadi?” vidya merangkul Bintang, membawa anak remaja itu masuk menuju ruang kantornya. “Suka, Om Davin cakep, sih,” jawab Bintang. “ Sama cakepnya kaya Bintang.” “Idih ... pede banget anak Ibu,” ledek Vidya. “dapet dari mana pedenya?” “Aaahh, Ibu nggak seru, nih. Nggak bisa lihat Bintang senang,” Gerutu anak itu. Bibirnya mengerucut membuat wajah tampan, titisan sang ayah semakin terlihat menggemaskan, hal itu membuat Vidya menjadi teringat sesuatu. Ingatan tentang wajah Bintang yang dulu sempat ia lupakan, sesuatu yang sangat familiar. Iya ... remaja bertubuh jangkung dengan kulitnya yang putih bersih adalah salinan dari fisik Davin yang sempurna. Dulu ia melupakan tentang kemiripan fisik mereka berdua dan sekarang saat kedua ayah dan anak itu bertemu, Vidya menyadari bahwa mereka terlihat sangat serupa. Vidya menjadi cemas, bagaimana jika Davin melihat kemiripan fisik mereka berdua, dan mempertanyakan soal Bintang? Seandainya pria itu tahu Bintang adalah anaknya, apa yang harus Vidya lakukan? Wanita itu menjadi gelisah, pikiran buruk kembali menyerang dirinya. Tidak hanya khawatir tentang Davin yang mungkin saja berniat membawa Bintang jika mengetahui hubungan darah antara mereka berdua. Vidya juga mengkhawatirkan tentang psikologis Bintang jika anak itu mengetahui ayahnya masih hidup. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Bintang tentang siapa Davin serta bagaimana reaksi anak itu nantinya. Apakah akan bahagia seperti hari ini, saat mereka bertemu atau justru marah karena ia menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya? Tuhaaan ... apa yang harus aku lakukan? Semua ini tidak pernah terlitas di pikiranku yang sempit! Jerit Vidya dalam hati. Ia kembali memperhatikan Bintang, anak itu tampak asik dengan ponsel di tangannya. Tidak menyadari keadaan Vidya yang terlihat serba salah. Ada sedikit kelegaan sesaat, ketika melihat anak itu sibuk dengan kegiatan menyusuri dunia maya. Vidya berharap semoga saja Bintang dan Davin belum menyadari kemiripan fisik antara mereka berdua. Dirinya belum sanggup mendapat pertanyaan tentang hubungan kedua ayah dan anak itu, walaupun lambat laun ia harus menceritakan dan berkata jujur kepada Bintang juga Davin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD