Semua orang punya masa lalu yang mengantarkannya menuju masa depan. Jadikan masa lalu sebagai cermin untuk memperbaiki diri, bukan sebagai bayangan yang selalu mengikuti.
-
-
-
Rumah megah yang selalu terang benderang dengan cahaya lampu ratusan watt, kini terlihat gelap gulita dengan tirai tebal menutup tiap kaca jendela. Menghalangi pandangan untuk mengintip ke dalam rumah.
Di tengah kegelapan itulah Davin duduk dengan gelisah, menunggu kepulangan Erna yang sangat terlambat tiba di rumah. Seharusnya sejak kepulangan Erna dari rumah Vidya, ia sudah sampai sejak dari tadi, tapi nyatanya rumah ini kosong, dan Erna belum kembali.
Ada sebongkah kecemasan menggelayuti pikiran Davin, tentang keadaan mamanya yang terlalu banyak menyimpan rahasia. Apakah semua rahasia itu tentang Vidya? Apa yang seharusnya ia ketahui tetapi di simpan rapat oleh mamanya?
Mengingat tentang Vidya, Davin kembali bertanya-tanya siapa remaja laki-laki yang ada di rumah wanita sederhana itu?
Lampu ruang tamu menyala, memperlihatkan sosok Davin yang kaget karena terlalu asyik bermain dengan pikirannya sedari tadi. Erna yang menyalakan sakelar lampu juga tak kalah kaget melihat Davin duduk di dalam kegelapan seorang diri. Ia berjalan mendekati putranya dan duduk di salah satu kursi dengan kedua kaki saling menyilang.
“Belum tidur, Vin?” sapa Erna, mengajukan tanya. Sekedar basa basi untuk menutupi rasa terkejutnya.
“Belum, Mah,” jawab Davin, matanya menatap Erna tanpa kedip. “Mamah, dari mana? Kenapa jam segini baru sampai di rumah?”
Erna yang berusaha bersikap normal tampak kaget mendengar pertanyaan Davin. Dilihatnya perubahan yang sangat kentara pada raut wajah anak semata wayangnya itu. Apa Davin tahu dirinya pergi menemui Vidya sore tadi? atau apakah Davin membuntuti dirinya?
“Mama pergi ke makam papamu,” tukas Erna, “Mama merindukannya.” Mata Erna menerawang, menatap langit-langit ruang tamu. Dalam hati ia berdoa semoga Davin percaya dengan jawaban bohong yang ia berikan.
Davin melemparkan senyum kaku. Ia heran apa yang Erna coba sembunyikan dan siapa yang berusaha di bohongi olehnya? Wanita tua ini, yang sangat tidak pintar berpura-pura apalagi untuk berkata bohong, tidak sadarkah bahwa jawaban yang ia berikan terasa sangat tidak masuk akal? Siapa yang bersedia pergi ke kuburan di tengah malam buta seperti ini?
“Apa yang mamah coba sembunyikan dari Davin? Apakah tentang Vidya?” Davin meninggikan suara, kedua tangannya mencengkeram pinggiran kursi.
Berharap bisa bicara dengan baik pada sang mama hanya akan sia-sia. Ia sangat mengenal mamanya yang terlalu pandai dalam menjaga rahasia.
“Hentikan, Vin! Tidakkah kau lihat keadaan Vidya? Mama mohon, jangan bersikap egois!” bentak Erna dengan suara yang bergetar, menahan marah. Ia mengalihkan pandangan pada sebuah lukisan abstrak, tidak ingin terjebak dalam rasa iba saat melihat wajah anaknya yang menatap penuh kesedihan.
“Apa Mama membenciku karena Vidya? Aku sakit, Mah! Tiga belas tahun aku hidup terpisah dari wanita yang kucintai, menjalani hidup dengan perempuan yang sedikitpun tidak bisa kuberikan rasa kasih sayang untuknya!” Teriak Davin, napasnya terengah-engah, menahan emosi yang tak beraturan.
“Jalani hidupmu,Vin, belajarlah mencintai Alika! Kendalikan dirimu dan kembalilah menjadi Davin yang dulu!” tegas Erna. “Mama hanya ingin melihat kalian semua bahagia.”
Erna berlalu, meninggalkan Davin sendirian.
Pria tampan itu berdiri dan berusaha menahan Erna yang tetap saja tidak memperdulikan perasaannya sedikit pun.
Dengan suara yang sendu ia bicara, mencoba menarik perhatian Erna.
“Setidaknya, Mama harus jujur, siapa remaja laki-laki yang ada di rumah Vidya,” gumam Davin. Tubuhnya luruh, terduduk lemas di lantai, bersandar pada kursi yang tadi sempat ia duduki.
Erna hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkah menuju ke kamar atas. Erna harus membekukan hatinya agar Davin menghentikan semua kegilaan dan obsesinya pada Vidya.
“Asal, Mamah tau, aku juga sakit. Setiap hari dikejar-kejar rasa bersalah. Aku depresi, tetapi tidak ada yang mau peduli padaku,” lirih suara Davin.
Dirinya mengiba rasa belas kasihan dari sang mama yang telah masuk ke dalam kamar dan tidak lagi dapat mendengar suaranya.
Davin melangkah gontai menuju kamar tidurnya. Ia menangis dalam diam, hanya dua bulir bening mengalir di pipi, menandai kerapuhannya sebagai seorang laki-laki yang dulu terkenal gagah dan berwibawa. Ini adalah hukuman akibat semua perbuatannya dan harus ia terima.
Sementara itu di rumah Vidya, wanita itu juga sedang mengalami mimpi buruk. Di alam bawah sadarnya, terulang kembali rekaman kejadian empat belas tahun yang lalu. Vidya tidur dengan gelisah, keringat membasahi tubuhnya, meskipun AC di dalam kamar menyala dan membuat udara terasa sangat dingin.
Di dalam mimpinya, Vidya kembali merasakan kesakitan saat tubuhnya dijamah dengan kasar oleh Davin. Ia berusaha lari dan berteriak minta tolong, tetapi suaranya tak kunjung keluar, tertahan di tenggorokan.
Mimpi yang dialaminya sangat aneh, bagai pelari maraton yang berpindah alur dengan cepat. Sesaat ia memimpikan dirinya yang menjadi bahan gunjingan semua guru di sekolah, di hina semua teman-teman dan berakhir dengan bullyan yang harus ia terima.
Dalam tidurnya, Vidya menjerit sekuat tenaga, hingga membangunkan Bintang yang sedang tidur dengan lelap di kamar sebelah. Secepat kilat remaja laki-laki itu menerobos masuk ke kamar Vidya, membangunkan ibunya yang masih berjuang untuk tersadar dari semua mimpi buruk yang datang menyerang.
Bintang sudah terbiasa mendengar jeritan Vidya yang ia dengar hampir setiap malam. Tidak hanya jeritan, ia juga sudah terbiasa melihat sisi lain dari wanita yang sangat ia sayangi itu. Melihat perubahan kejiwaan Vidya yang sering tidak menentu. Marah, menjerit ketakutan, menangis tanpa henti, hingga tertawa dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan, seolah-olah jiwa ibunya sedang berada di dunia yang lain.
“Bu ... bangun, Bu,” panggil Bintang. Tangannya mengguncang pelan tubuh Vidya.
“Ibu mimpi buruk lagi. Bangun, Bu!” ia berusaha membangunkan Vidya yang masih terisak dalam tidurnya.
Vidya membuka mata perlahan, manik matanya menangkap bayangan Bintang yang duduk di pinggir ranjang, tetapi di detik berikutnya tatapan mata indah itu berubah hampa. Ia berlari ke sudut kamar, duduk meringkuk dengan kedua tangan memeluk lutut. Tubuhnya gemetar dan bibir indahnya berulangkali mengucapkan permintaan maaf serta memohon ampun. Kedua mata yang berkabut itu mengalirkan kesedihan dan ketakutan yang tak terbendung, membasahi wajahnya yang pucat. Seakan tidak mengenali anaknya sendiri. Vidya berteriak dengan kencang, wajahnya dipenuhi ketakutan bercampur amarah.
Bintang merasa terenyuh melihat keadaan ibunya. Entah kejadian apa yang pernah dialami oleh wanita itu, hingga membuat ia yang biasanya selalu terlihat ceria kini meringkuk ketakutan di sudut kamar. Perbedaan yang sangat kontras dilihat oleh Bintang, antara kepribadian Vidya saat ini dengan kepribadian Vidya tadi sore, ketika bermain bersamanya. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang.
Diraihnya botol obat yang tergeletak di meja rias, mengeluarkan isinya dan memberikannya pada Vidya, beserta segelas air putih. Setelah Vidya selesai meminum obat yang ia berikan, Bintang memapah wanita itu menuju ke tempat tidur, menyuruh ibunya untuk memejamkan mata agar bisa tidur kembali.
Bintang berbaring di samping Vidya, tangannya memeluk tubuh wanita yang kini tampak seperti boneka bernyawa. Diam dengan sorot mata kosong menatap langit-langi kamar. Bulir bening perlahan keluar dari kedua kelopak matanya, mengaburkan pandangan Bintang yang selalu merasa sedih setiap kali ia melihat sisi lain dari sang ibu.
“Cepat sembuh, Bu. Jangan takut dengan apa pun. Ada Bintang yang akan menjaga ibu,” ucap remaja itu lirih.
Hatinya tergores melihat orang yang paling ia sayangi menjadi lemah tak berdaya terperangkap kejahatan dari kenangan masa lalu, menjadikan ibunya hanya sekadar hidup. Bagai nyawa yang melekat pada jasad kosong tanpa raga.
Ia pernah bertanya pada Erna, orang yang ia anggap bagaikan oma, sekaligus sebagai orang yang sangat dekat dengan Vidya. Bintang yakin Erna mengetahui sesuatu yang selama ini dirahasiakan oleh ibunya, tetapi sayang Erna tidak bersedia menceritakan apa pun yang berhubungan dengan masa lalu Vidya, membuat Bintang harus mencari sendiri kebenaran apa yang telah mereka sembunyikan.
***
Vidya terbangun akibat suara bising yang terdengar dari arah dapur. Diliriknya jam yang tergantung di samping pintu kamar. Pukul tujuh pagi lebih seperempat. Tubuhnya menggeliat, menandakan kemalasan untuk beranjak dari kasur, ia tarik lagi selimut yang terjuntai di lantai, untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Pagi-pagi begini, bintang udah berisik aja di dapur. Gerutu Vidya dalam hati.
Ia kembali memejamkan mata sebelum ingatannya tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
Bintang nggak sekolah? Kenapa anak nakal itu tidak membangunkan aku?
Setengah berlari Vidya menuju dapur untuk memastikan apa yang sedang Bintang lakukan.
Di dapur seorang wanita yang seumuran dengan Vidya, terlihat kepayahan meracik bumbu masak. Berulang kali ia membuka kertas yang bertuliskan resep membuat bubur sederhana, berulang kali juga ia memperhatikan antara bumbu ketumbar dan lada. Sesekali keningnya mengkerut, kemudian mengembuskan napasnya dengan kasar.
Vidya yang awalnya bersembunyi di balik pintu, akhirnya keluar. Ia tertawa dengan keras, mengambil kertas yang dipegang oleh perempuan tersebut, membacanya sekilas kemudian meremas dan membuang kertas tersebut ke tempat sampah.
“Masak bubur aja liat resep, Ri?” ledek Vidya pada sosok perempuan berpakaian modis yang ada di hadapannya.
Kaget bercampur malu, wanita yang disapa dengan sebutan, Ri, itu melemparkan senyum hambar pada Vidya.
“Lu, ngeledek lagi, gua buang nih bubur!” gerutu Ariani, menanggapi ledekan Vidya yang membuat kupingnya terasa panas. Tangannya masih mengaduk bubur yang sudah mengental.
“Lagian kamu, udah segede gini masih nggak bisa masak. Gimana kalau udah nikah sama Bian, mau dikasih makan apa suamimu?” kembali Vidya meledek Ariani yang sukses memajukan bibirnya menjadi lima centi lebih mancung.
Vidya berjalan ke arah kulkas, mengeluarkan sebuah wortel, sebuah jagung, dua potong ayam bagian d**a, dan beberapa lembar daun bayam. Tangannya cekatan mencuci semua sayuran, mengupas wortel dan meracik semua bahan menjadi potongan kecil.
“Cari pembokatlah, ngapain ribet. Entar juga bisa belajar masak sambil jalan,” sungut Ariani. Dirinya paling malas jika dikomentari tentang kelemahannya sebagai perempuan yang tidak bisa masak.
“Gimana mau belajar masak, kalau bedain kunyit dan jahe aja nggak tau, ketumbar dan lada bentuknya seperti apa kamu masih ragu.” Gerutu Vidya kesal.
Tangannya sibuk menumis sayuran dan daging ayam dengan bumbu halus, kemudian mencampurkannya ke dalam bubur, mengaduknya sebentar, lalu mencicipi sedikit untuk mengkoreksi rasa bubur buatan Ariani.
“Jangan bahas tentang gue. Keadaan lu aja, gimana? Abis salat subuh, Bintang telepon gue, katanya lu sakit dari semalem. Dia minta gue temenin lu di rumah.” Ariani menjelaskan kedatangannya tanpa diminta oleh Vidya.
“Aku nggak apa-apa,” elak Vidya. “Pukul berapa kamu datang? Bintang kemana?” tanya Vidya, matanya sibuk mencari-cari bayangan anaknya yang tidak tampak sedikitpun.
“Aku datang tepat sebelum Bintang berangkat ke sekolah, dan ... saat ini dia pasti sedang belajar bersama teman-temannya,” Ariani menjelaskan dengan gaya sedikit lebay. Ia menyibukkan diri dengan mencuci beberapa piring kotor yang berserakan di wastafel.
“Kamu yang mengantarnya ke sekolah?” tanya Vidya lagi.
Ariani menggeleng cepat. “Bintang keburu dijemput babang-babang tua kumisan, berjaket ijo.”
Vidya tersenyum mendengar penjelasan Ariani yang sangat luar biasa lebay.
Tinggal bilang, Bintang naik ojek, kenapa harus ribet pake nambah kosa kata dengan babang-babang tua kumisan berjaket ijo, segala. Batin Vidya.
Ariani menyendokkan bubur ke dalam dua mangkok kaca, kemudian menyerahkannya salah satunya pada Vidya. Ia memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan sahabatnya itu, memperhatikan raut wajah Vidya yang tampak lebih tua dari hari-hari sebelumnya.
“Cerita sama gue, ada apa sebenernya?” todong Ariani lembut, ia sangat paham dengan watak Vidya, yang akan menyimpan semua dukanya sendiri jika tidak dipaksa untuk bicara.
“Davin pulan, dia sudah ada di Pontianak. Kemarin dia datang menemuiku di cafe.” Jelas Vidya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ariani terperangah mendengar kata-kata Vidya. Sendok bubur yang sudah siap mendarat di mulut, ia letakkan kembali ke dalam mangkok.
“Laki-laki iblis bermuka malaikat itu menemuimu?” tanyanya penuh rasa tak percaya.
Vidya mengangguk pelan. “Aku juga tidak menduga, orang yang mencariku di kafe, adalah Davin. Setelah tiga belas tahun akhirnya kami bertemu lagi dan tetap saja rasa takutku padanya tidak bisa hilang.”
Vidya tersenyum masam, menyadari kebodohannya yang masih terbelenggu dengan bayang-bayang kekejaman Davin.
“Itu bukan salahmu. Kenapa kau masih harus takut dengannya? Berjuanglah Vidya, berhentilah hidup dengan ketakutan. Tegakkan kepalamu!” sanggah Ariani.
“Bagaimana aku harus berani, Ri? Setiap mendengar namanya, setiap melihat bayangan dirinya yang terukir pada diri Bintang, sudah membuat tubuhku gemetar. Napasku tersekat seolah ingin menciptakan pemisah antara nyawa dan jasadku,” keluh Vidya. Dirinya menangis, air mata menggenang di kedua pipinya yang tirus.
Ariani terdiam, ia sadar tak bisa menyamakan Vidya dengan dirinya. Wanita sederhana yang penuh kelembutan itu, sedari dulu sudah tumbuh menjadi sosok yang rapuh. Sejak kecil, saat dirinya kehilangan kedua orang tua dan tumbuh dalam lingkungan yang berbeda.
Dibesarkan di sebuah panti asuhan, Vidya telah mengubah dirinya. Mengubah kepahitan yang ia terima menjadi sebuah berkah. Berpura-pura tertawa dalam ketidakbahagiaan. Dia yang seharusnya menangis, tetapi ditutupi dengan sebuah tawa yang palsu.
Ariani menyadari sahabatnya bukanlah seorang perempuan yang lemah. Namun sosok tangguh itu pernah hampir menjadi serpihan kecil setelah dirinya terhempas saat membentur batu karang yang dengan kejam telah mencabik-cabik kehormatan Vidya. Sahabatnya bisa bangkit kembali adalah sebuah berkah dan keajaiban. Jika yang diberikan cobaan itu adalah orang lain, Ariani berani bertaruh, tidak akan ada yang bisa setegar Vidya.