Seorang Perempuan

977 Words
Ye Xuan mati-matian berusaha alirkan Qi-nya agar darah berhenti. Sebagai kultivator peringkat Glory, tentu bukan hal susah baginya untuk urusan begini. Namun, ia masih merasa energinya belum sepenuhnya pulih.   Meski keahlian dia dibidang kultivasi beladiri tidak setinggi alkemia, namun dia masih bisa mengatasi keadaan yang terjadi di tubuhnya.   Rasa sakit menyengat di lukanya membuat Ye Xuan berkeringat dingin. Ia segera menotok salah satu titik meridiannya agar bisa hentikan rasa sakitnya.   Tak sampai sepuluh menit, Ye Xuan akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya. Darah terhenti dan kini ia mencari kain apapun di dekatnya untuk membebat luka. Karena tak menemukan, ia melirik baju yang ia kenakan, dan ia robek ujung bawahnya tanpa ragu. Kain berwarna putih itu segera berhiaskan darah.   Setidaknya, sudah tidak terasa sakit dan tidak senyeri tadi.   Setelah tenang, Ye Xuan bergerak ke sebuah tempat tidur berbentuk aneh yang berbeda dengan desain tempat tidur di kotanya. Ataukah ini tempat tidur bangsawan? Kenapa begini empuk? Ah sudahlah! Ia tak mau repot memikirkan sang penyelamatnya yang memiliki ruangan aneh.   Ye Xuan memilih untuk duduk bersila dan mulai bermeditasi. Ia butuh memasok energi Qi kembali setelah terkuras habis dalam pertarungan sebelumnya.   Beruntung di luar jendela merupakan sebuah taman kecil dimana ia mudah mendapatkan energi alam untuk memasuki tubuhnya dan ia bisa bebas berkultivasi sejenak.   Tak terasa sudah satu jam lebih ia bermeditasi. Tubuhnya mulai terasa enakan dan sudah cukup banyak Qi yang ia dapatkan. Ia tak mau tergesa-gesa karena itu bisa membahayakan jika dilakukan secara ceroboh.   Ye Xuan pun mulai meneliti ruangan penyelamat hidupnya. Seperti apakah orang itu? Apakah pria? Dari kalangan bangsawan? Tapi jika menilik ruangan kamar kecil begini, mungkin bukan keturunan bangsawan. Rakyat jelata? Tapi kenapa tata ruang dan interiornya berbeda dengan apa yang dia tau?   Ia bangkit berdiri dan berjalan. Kamar kecil itu berwarna merah muda. Ye Xuan heran, kenapa bisa berwarna begitu seluruhnya? Apakah kayu bisa diwarnai? Atau kertas apa yang bisa sampai berwarna begitu?   Tangan Ye Xuan meraba dinding kamar. Ia terkejut dan tarik kembali tangannya. Dingin sekali! Dan keras. Padat bagai batu. Dinding apaan ini?! Ye Xuan kaget, merasa asing dengan ruangan aneh begini.   Memberanikan diri, ia raba dinding. Tak ada celah atau patahan seperti kayu atau bambu. Bagai batu tanpa celah, lurus semua rata. Apakah batu bisa diratakan sebegini besar dan luas? Tenaga kultivator hebat mana yang bisa memungkinkan hal demikian? Apakah kultivator peringkat Emperor level 5?   Sebenarnya ini di mana?!   Ye Xuan kembali menyusuri kamar kecil itu. Matanya menyipit heran  ketika mendapati sebuah foto berukuran kecil tertempel di dinding bagian lain.   "Hah?!" Ia mundur tiga langkah sembari membelalakkan mata tak percaya. "Kenapa... kenapa ada orang di sana?" Ia sangat bingung mendapati gambar orang yang terlihat nyata ada di foto itu.   Bagaimana dia tidak kaget jika dia mendapati ada figur manusia tertempel di dinding, namun berukuran lebih kecil dari manusia asli, dan bahkan ini diam tak bergerak, tetap saja tersenyum menatap Ye Xuan.   Matanya memicing heran penuh antisipasi bila misalkan manusia di dalam gambar itu tiba-tiba bisa bergerak atau menyerang dia. Ye Xuan tak sadar lengkungkan kedua ujung bibirnya ke atas seolah membalas senyum orang di foto itu, siapa tau itu benar-benar manusia asli yang terjebak di sana.   "Halo, apa kabar? Apakah kau manusia?" tanya Ye Xuan sesopan mungkin di depan foto yang tersenyum padanya. "Kenapa kau bisa di sana?"   Tidak ada jawaban. Manusia di dalam foto itu masih saja tersenyum tanpa bergerak sama sekali, membuat Ye Xuan kebingungan. Apakah manusia di dalam sana sudah diawetkan menggunakan seni iblis?   Kening Ye Xuan berkerut makin heran. Apakah bukan merupakan seni iblis? Lalu apa?   Ye Xuan mulai memikirkan bilamana sebuah kemungkinan bahwa itu adalah formasi prasasti tingkat tinggi. Apakah kamar ini milik ahli prasasti?   Ia bertanya-tanya, apakah kertas aneh itu sudah menangkap jiwa orang di dalam gambar tadi?   Tentu itu bukan lukisan karena saat Ye Xuan memandangnya, gambarnya terasa nyata bagai orang sungguhan. Dia tak pernah melihat foto sebelum ini.   Namun, setelah mencoba membalas senyum orang di foto itu, bahkan menyapa lagi untuk sekedar basa-basi, sosok itu tetap diam membisu.   Ini pasti ilmu penangkap jiwa! Tidak, ini bukan prasasti! Master Prasasti tidak akan mampu memenjarakan manusia hingga orang itu menjadi kaku tak bisa bergerak dan kehilangan jiwa.   'Apakah... aku diselamatkan oleh Iblis Perebut Jiwa?' Ye Xuan meneguk salivanya, membayangkan kengerian jika benar dia telah diselamatkan Iblis yang bisa memerangkap jiwa seseorang dan disegel dalam sebuah lukisan.   Kembali, dia berpikir bahwa foto itu merupakan seni iblis tingkat tinggi.   Menggeleng ketakutan, ia bergerak mundur hingga pantatnya tersudut di tepi meja. Ia menoleh ke belakang. Masih ada noda lumuran darah di atas meja yang juga membasahi sebuah buku. Ye Xuan mengamati buku itu. Desainnya sangat berbeda dengan buku yang ia ketahui.   Ini sebenarnya di mana?!   Tangannya segera meneliti semua benda yang ada di atas meja. Buku, alat tulis, jam weker, bahkan ponsel. Ia termangu-mangu melihat jam weker. Seumur-umur dia belum pernah melihat benda seaneh itu. Bahkan jarum yang ada di dalamnya bergerak sendiri.   Brakk!   Ye Xuan membanting jam itu ke lantai saking takutnya itu adalah alat Iblis. Tapi jarum itu masih saja bergerak meski mulai melambat dan isinya berhamburan.   Bersyukurlah bagian tubuh jam itu seluruhnya terbuat dari plastik, bukan kaca atau Ye Xuan bisa celaka menginjak pecahannya.   Jarinya tak sengaja menyentuh layar ponsel dan layar itu menyala sebentar. Ye Xuan kaget sekali sampai mundur dan terduduk pucat di tepi ranjang.   Benda apalagi itu?   Kenapa dirinya dikelilingi benda-benda aneh?   Apakah ini istana Iblis?   Apakah dia saat ini sedang diculik Iblis?   Mungkin saja, karena semua benda di ruangan ini sungguh berbeda dengan benda-benda yang ada di negerinya. Sudah jelas ini pasti sarang Iblis.   Apakah dasar Jurang Tanpa Batas merupakan istana Iblis, makanya orang meyakini bahwa siapapun yang terjatuh ke jurang takkan bisa ditemukan jasadnya?   Ye Xuan berusaha menenangkan diri sambil memutar otak bagaimana cara menyelamatkan diri dari sini, ia menarik dan membuang napas sebanyak tiga kali secara beruntun.   Setelah merasa tenang terkendali, ia pun bangkit kembali dan perhatiannya tertuju pada sebuah benda aneh. Seperti kaca di dunianya tapi ini sangat jelas. Kaca cermin di dunia Ye Xuan biasanya berwarna kuning. Apakah cermin Iblis seperti begini?   Begitu dia berdiri di depan cermin sebadan penuh yang menempel di dinding, matanya tidak bisa tidak... membola penuh.   Dia berwujud perempuan!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD